
Di suatu tempat.
Tidak jauh dari tempat Ariel dan juga yang lainnya berada.
Seseorang sedang mengawasi semuanya dari kejauhan.
Dia terbang sambil menyembunyikan hawa keberadaannya dengan ekspresi penuh minat tertulis di wajahnya.
Dialah Ronand. Terus menonton pertarungan Ariel dari awal. hingga sekarang ini.
Dia telah menyelesaikan pembersihan mata-mata dari wilayah yang telah disepakati bersama Anastasius.
Karena menganggur, dia langsung ke tempat Ariel berada Dan mengawasinya dari kejauhan.
“Hm~ Situasinya menjadi lebih menarik!” Ronand mengelus dagunya sambil menyeringai.“Haruskah aku membantu dia? ... Tidak! Aku ingin lihat, seberapa jauh anak itu telah menjadi lebih kuat ....”
Ronand merasakannya selama ini. Saat dirinya latihan bersama muridnya, yaitu Ariel. Dia selalu tidak pernah menunjukkan kekuatan aslinya.
Ariel selalu menolak, walaupun itu adalah permintaan Ronand sekalipun.
Saat latihan bersama Ronand, dia hanya menggunakan kemampuan yang telah diajarkan Ronand kepadanya dan hanya memakai beberapa senjata yang menurut Ronand aneh.
Dan kali ini, Ronand mendapatkan kesempatan untuk mengetahui seberapa dalam kekuatan Ariel sebenarnya. Dan hal itu, mana mungkin dia lewatkan.
Akan tetapi. Ada satu hal yang Ronand cemaskan. Dan hal itu adalah tentang kehadirannya Leopold Graham yang menyamar sebagai manusia.
Meskipun dia lebih lemah dari Ronand. Akan tapi, kekuatannya tidak bisa disepelekan. Dan juga, tentang orang-orang yang Ronand lihat yang entah darimana muncul dan berkumpul bersama Leopold yang sekarang menjadi Leon sambil mewaspadai Ariel dan juga Felix.
Yah ... ada Felix bersamanya. Mungkin akan baik-baik saja .... iya, mungkin ....
Begitulah pikir Ronand. Dia pun kini memutuskan untuk hanya menonton dari kejauhan dengan santai, sementara orang lain kini tengah dalam pertempuran yang menentukan hidup dan mati mereka.
“Akan terapi ... mengapa Anastasius lama sekali? Sepertinya aku harus melatihnya kembali setelah sekian lama. Mengurus para cecunguk saja membutuhkan begitu banyak waktu ....” Ronand menggerutu sendirian.
Ya ... sudahlah. Sayang sekali dia ketinggalan pertunjukan yang menarik ini.
Ronand menyeringai sambil merenung.
***
Ariel yang saat ini menatap Akihiro dengan dingin. Dia membuka mulutnya untuk berbicara, “Apakah kau yakin, ingin menangkap ku?”
__ADS_1
Meskipun tangannya sedikit gemetar, dia menjawabnya dengan yakin. “Tentu saja! Selama aku menangkapmu, peperangan ini akan berakhir!”
“Hah?”
Ariel yang mendengar hal itu, tak bisa mengerti apa yang di maksud Akihiro dan membuat ekspresi keheranan.
Melihat Ariel yang bingung. Akihiro mengemukakan pikirannya, “Tenang saja. Aku hanya akan menangkapmu saja untuk bernegosiasi. Aku tidak akan menyakitimu, jika kamu menurut dengan tenang, tentunya.”
Ariel yang bertanya-tanya, segera menoleh ke arah Chizuru. Akan tetapi, Chizuru segera membuang mukanya seolah dia mengatakan 'Jangan tanyakan padaku! '
“....”
Ariel tak tahu apa yang harus dirinya katakan. Hingga beberapa saat kemudian, Ariel memberitahu Akihiro dengan malas.
“Emmm ... Kau tahu? Meskipun kau menangkap ku sekarang. Itu tak akan mengubah apapun. Lagipula, orang bodoh mana yang membiarkan dirinya tertangkap? Kau perlu bekerja keras untuk menangkapku!”
Segera setelah itu, Ariel mengangkat pedangnya sambil tersenyum. Menantang Akihiro untuk maju.
Biar aku lihat, seberapa kuat pahlawan lainnya selain Chizuru ....
Ariel tersenyum tanpa rasa takut. Membayangkan dirinya melawan para pahlawan dan juga Leon dengan hanya mengandalkan dua orang saja, yaitu dirinya dan juga Felix.
Hehe ... mungkin aku juga tanpa sadar terpengaruh oleh kebiasaannya orang itu ....
Meskipun dulunya Ariel begitu hati-hati dan juga penuh pertimbangan. Akan tetapi, sekarang dia begitu bersemangat menghadapi Leon yang sudah jelas lebih kuat daripada dirinya dan juga para pahlawan yang yang masih belum dia ketahui kekuatannya selain Chizuru.
Akan terapi, Ariel melupakan sesuatu yang penting. Saking bersemangat nya, Dia hampir melupakan tentang Aria yang seorang adik kandung di kehidupan masa lalu nya.
Hmm ... bagaimana ini ....
Ariel menatap Aria penuh kerinduan untuk sesaat. Akan tetapi, dia tak berniat mengungkapkan kebenarannya saat ini.
Yang Ariel inginkan hanyalah adiknya ini menjalani kehidupan yang baik di wilayah manusia.
Lagipula, apa yang akan dia katakan? Jika saat dirinya mengetahui bahwa kakak laki-lakinya yang dulu, kini berubah menjadi seorang perempuan?
Memikirkan itu saja sudah membuat Ariel pusing. Dan dia memutuskan untuk memberitahukannya jika ada kesempatan dan juga mentalnya siap, jika Aria berkata sepeti ini: 'Kakaku adalah laki-laki yang keren! Bukan seorang perempuan yang bahkan lebih kecil dari ku! Aku tak mau lagi mempunyai kakak sepertimu! '
Ariel membayangkan akan terkejut seperti tersambar petir, jika mendengar hal itu. Meskipun Ariel tahu, dengan sifat Aria, tidak mungkin dia mengucapkan perkataan seprti itu.
Dan akhirnya dia memutuskan untuk memberitahunya jika ada kesempatan di masa depan. Setidaknya ketika Ariel tumbuh lebih besar.
__ADS_1
Ketika Ariel memikirkan sesuatu yang konyol itu, dia segera terbangun dari fantasy nya yang luar biasa. Dan dia saat ini melihat Aria sendiri mengangkat tangan.
Setelah semua orang melihat ke arahnya, dia membuka mulutnya untuk berbicara, “Aku tak mau ikut campur dalam hal ini. Kalian boleh lanjutkan!”
Setelah mengatakan hal itu, dia segera berjalan mendekati Arsya yang kini tengah meringkuk di dekat Ariel.
“....”
“....”
Mereka bertatapan untuk beberapa saat, dan beberapa saat kemudian, Aria memegang kaki Arsya dan segera menyeretnya menjauh dari tempat mereka berkumpul degan kasar.
Sereesaaaakkk ... Duk ... Duk ....
“Aduh! ... Aduh! ... Aduh! A-Aria? ... Aduh! Hentikan! Itu menyakitkan .... ”
Berkat kepalanya yang selalu terbentur dengan bebatuan dan bongkahan es, Arsya kembali tersadar. Dan hal yang dia rasakan ketika dia terbangun adalah dirinya yang diseret dengan kasar.
Meskipun Aria mendengar orang yang di bawanya meminta di hentikan, Akan tetapi dia tak mendengarkannya dan terus berjalan menjauh dari tempat pertempuran yang akan datang.
Duk!
“Arrrgh! Setidaknya jangan kakiku yang kau pegaaaang .... !”
Melihat kejadian yang tragis seperti itu, semua orang yang melihat kejadian itu, hanya terdiam dan tak mengatakan apa-apa.
“....”
Dengan kejadian yang terasa singkat itu, mereka semua tidak tahu apa yang harus mereka katakan.
Dan dalam kesunyian itu, Ariel merenung dalam diam.
Mengapa dia tidak mau ikut campur? ... Apakah dia telah mengetahui identitas ku yang sebenarnya ...?
Ariel mengerutkan keningnya untuk berpikir.
Tidak! Sepertinya aku terlalu banyak berpikir ....
Setelah merenungkan hal itu, Ariel pun segera meningkatkan kewaspadaan nya kembali sambil melirik ke arah sekitar.
Dia tidak menyadari. Di tengah pemberontakan Arsya yang meminta kakinya dilepaskan, Aria berhenti berjalan dan menatap Ariel untuk sesaat, hingga dia melanjutkan langkah kakinya kembali berjalan menjauh dari tempat mereka berada dan menuju tempat yang lebih aman, agar tak terkena dampak dari pertarungan mereka.
__ADS_1
Bersambung ....