Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 70 _ Tarikan Gravitasi


__ADS_3

Waktu mundur beberapa saat ke belakang.


Di atas langit.


Sebuah kotak berhenti tepat di atas para pasukan yang kini sedang bertempur.


Kotak itu melayang di udara dan beberapa saat kemudian, kotak itu mengeluarkan aura yang aneh.


Berkat modifikasi Ariel. Energi sihir yang terlalu besar di dalam kotak itu berhasil di tekan dan membuat kotak itu sulit untuk di temukan oleh orang-orang yang mempunyai indra persepsi yang cukup tajam.


Dan hal itu didukung dengan ukurannya yang cukup kecil dan ketinggian terbang kotak itu, sehingga jika di lihat dari bawah, itu hanya terlihat seperti kilauan kecil. Atau juga seperti bintang yang bersinar di siang hari.


Hingga beberapa saat kemudian. Aura yang aneh keluar dari kotak itu. Dan ketika pada saat itu, terdapat seekor burung yang tengah lewat di atas kotak itu segera tersedot dengan kecepatan yang luar biasa menuju kotak itu.


Cratch ... !


Seketika itu juga, burung itu mati dalam sekejap, setelah burung itu membentur kotak itu dengan keras dan tertekan oleh gaya gravitasi yang di hasilkan nya.



Untung saja, aura gravitasi itu di arahkan ke langit. Jika hal itu di arahkan menuju ke arah bawah, mungkin kini beberapa para pasukan akan mengambang dan tersedot ke arah kotak itu.


Meskipun dapat menimbulkan kerusakan yang cukup besar, tetapi Ariel tahu, pasti kebanyakan dari mereka akan selamat, dikarenakan durasi yang dibutuhkan kotak itu untuk mengaktifkan kekuatan gravitasi nya cukup singkat, dikarenakan pengeluaran energi sihir yang boros dan juga pasti ada dari mereka yang mampu untuk melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri mereka.


Dan juga. Ariel dapat merasakan ada beberapa orang dari pasukan musuh yang cukup kuat. Akan sangat tidak lucu, jika seseorang menyerang inti dari tarikan gravitasi itu, yaitu kotak itu dan menghancurkannya saat benda itu aktif.


Jadi ariel memilih pilihan yang aman, dengan menyamarkan kotak itu di udara dan menarik Meteorid yang melayang di luar angkasa sana menggunakan kekuatan gravitasi.


Tentu saja, sebelum Ariel merencanakan ini, Ariel terlebih dahulu meminjam alat yang di miliki Chizuru untuk melihat asteroid yang paling dekat dengan lokasi perang.


Dan hasilnya ini.


Burung itu yang kini remuk di atas kotak itu. Akan tetapi, kotak itu masih terus mengeluarkan kekuatan tarikan gravitasi.


Hingga beberapa saat kemudian. Sebuah sinar kecil terlihat di atas langit. Kini tugas kotak itu hampir selesai. Hanya tinggal menunggu Ariel untuk menghentikan nya dari jarak jauh.


.


.

__ADS_1


.


Ariel yang saat ini menyeruput teh dengan nyaman. Sambil di temani oleh Daisy dan juga Felix yang sedang duduk untuk menemaninya.


Walaupun seharusnya seorang pelayan dan juga kesatria biasanya tidak duduk bersamaan sambil minum teh dengan majikannya, akan tetapi, ini perintah langsung dari Ariel, dan merekapun mengikuti perintah itu tanpa ragu.


Meskipun semenjak Ariel menerbangkan kotak itu ke suatu tempat. Sebelah matanya selalu tertutup.Dan hal itu selalu membuat Felix penasaran dan ingin menanyakan nya.


Akan tetapi, sesaat Felix akan berbicara, Ariel segera menghentikan felix dengan sebelah tangannya.


Ariel menatap ke arah langit dan tersenyum dengan puas.


“Untung saja berhasil. Aku sempat cemas barusan .... ” gumam Ariel sambil menghela napas lega. Karena cemas, bahwa rencananya akan gagal.


Daisy dan juga Felix yang penasaran. Merekapun mengikuti ke araha Ariel menatap. Dan mereka menemukan sebuah titik yang bersinar dari atas langit.


“... ,Bintang? ” gumama Felix, sambil menatap dengan fokus, hingga beberapa saat kemudian, “Tidak! Itu bergerak! ”


“Apakah itu kunang-kunang?” ucap Daisy dengan polosnya.


Ariel pun menjawab, sambil dalam suasana hati yang baik, “Itu bukan bintang, apalagi kunang-kunang. Mana ada kunang-kunang bersinar di langit seperti itu. Apalagi di siang hari yang terik ini.”


“Lalu apa itu, Putri? ” Felix bertanya. Dapat di lihat bahwa dia sangat penasaran.


“Itu hanya sebuah batu meteorid yang aku tarik ke atmosfer planet ini menggunakan kotak yang ku terbangkan beberapa waktu yang lalu. ” Ariel menjelaskan. Akan tetapi, Felix menunjukkan ekspresi kebingungan di wajahnya. Dapat dilihat bahwa dirinya hanya mengerti beberapa kata yang diucapkan Ariel.


Daisy pun menunjukan ekspresi yang sama.


“Yaah ... singkatnya aku menarik bebatuan ke tempat pertempuran itu berada. ”


“Jadi begitu.” Felix mengangguk seolah mengerti apa yang di ucapkan oleh Ariel, “Jadi selama ini putri mengurung diri di dalam tenda adalah untuk mengisi benda itu dengan energi sihir?”


Ariel mengangguk dengan pertanyaan Felix, “Tentu saja, kau pikir aku di dalam tempat itu sedang melakukan apa? ”


“... ”


Felix tak menjawab, dia hanya menoleh ke arah Daisy. Merasakan tatapan itu, Daisy segera malingkan pandangannya sambil menggosok lehernya dengan wajahnya yang memerah.


Ariel tahu apa yang di maksud Felix, dan segera berdehem untuk mengubah topik pembicaraan.

__ADS_1


Ekhem ... !


“Yah ... daripada itu. Sepertinya benda itu sudah hampir kehabisan kekuatan energi sihirnya. Aku harus mengambilnya kembali. Lagipula tugas benda itu sudah selesai. ”ucap Ariel.


Hingga beberapa saat kemudian, Sebuah benda kecil terbang menuju arah mereka dengan kecepatan yang luar biasa.


Ariel pun segera menangkap benda itu dan mengerutkan alisnya, “Hm? Apa ini, Darah? Dan juga ada beberapa bulu .... ”


Pada saat itu juga. Ariel dapat menebak apa yang sudah terjadi.


Sepertinya tadi ada seekor burung yang melintas di dalam area tarikan gravitasi itu. Yah ... biarlah! Daripada itu ....


Ariel segera berhenti merenung untuk dirinya sendiri. dan segera memasukkan kotak itu ke dalam tas dimensinya.


“Sekarang kita hanya perlu menunggu dan biarkan alam untuk bekerja dengan sendirinya. Aku tidak dapat lagi mengendalikan situasi setelah ini. ” Ariel bergumam dan menyimpan kembali tas dimensinya yang selalu dia bawa.


Meskipun kotak itu masih berlumuran dengan darah. Dia hanya memasukkannya ke dalam tas dimensinya itu. Karena saat ini, bukan waktunya untuk membersihkan peralatan.


Karena saat dia menatap ke arah langit. Meteor itu melesat di atmosfer planet itu dengan kecepatan yang luar biasa dan perlahan mulai terlihat semakin membesar dan terus membesar. Dari tempat dia melihat.


Hingga beberapa saat waktu telah berlalu. Kini wajah Ariel semakin cemas dan juga semakin khawatir.


Eh! ... bukankah itu tidak terlalu besar?


Ariel yang sebelumnya dalam suasana hati yang baik, kini senyum di wajahnya digantikan dengan rasa cemas.


Ariel segera menoleh ke arah mereka berdua, dengan senyuman yang dipaksakan, “Hey! ... apakah kalian merasa benda itu semakin membesar ...?”


Mereka berdua tidak menjawab. Mereka hanya mengangguk, sambil menatap ke arah langit dalam diam.


Gawat, gawat, gawat, gawat ....


Ariel panik.


Meskipun itu mengarah ke tempat pertempuran itu berada, ukuran itu terlalu besar hingga dampaknya bisa sampai ke tempat ini.


“Bagaimana ini .... ” Secara tidak sadar. Ariel bergumam sambil menumpahkan teh yang saat ini dia pegang.


Dan saat ini dia berkeringat dingin dengan raut wajahnya yang panik.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2