
Setelah menyelesaikan rapat dengan para Bangsawan dan mencapai kesepakatan untuk sementara, Ariel juga melakukan hal yang sama kepada para tentara yang belum mengetahui hal ini.
Dan hasilnya, seperti dugaan Ariel. Sepertiga memilih untuk mendukung, Duke Oscar.
Mereka juga melakukan hal yang sama. Merendahkan Ariel, yang saat ini sebagai Louise Albion. Sebagai putri ke empat yang masih belum berpengalaman.
Orang-orang yang mengikuti Oscar, adalah mereka yang mengincar posisi dan ketenaran. Setelah perang ini selesai, mereka yakin bahwa jika unjuk gigi saat ini, status mereka akan di pandang terhormat oleh bangsawan lain yang iri.
Ariel tak merasa bahwa tindakan mereka itu salah. Karena dia juga bahwa tindakannya ini tidak benar.
Dia hanya tak ingin ada yang mengganggu apa yang telah dia persiapkan.
Lagipula Ariel dari awal sudah curiga. Para Bangsawan yang telah di tugaskan oleh Anastasius, sebagian besar adalah para Bangsawan yang korup dan juga mereka yang membuat aksi-aksi yang merugikan Negara.
Dan Ariel mengerti apa di maksud Anastasius. Meskipun dirinya telah memberi tahu Ariel untuk tidak membuat kerugian sedikitpun.
Akan tetapi, di mata Ariel. Sudah jelas, apa yang di maksud Anastasius.
Ariel meringis dengan kesal tentang pesan yang tersirat dari Anastasius. Mau tidak mau, dia harus melakukannya.
Meskipun Ariel juga setuju, apa yang telah di rencanakan oleh Anastasius. Dia hanya tidak suka bahwa dirinya lah yang harus melakukan itu.
Sepertiga tentara mengikuti Oscar. Sisanya hanya terdiam dengan gugup. Entah apa mereka menyetujui Ariel sebagai pemimpin, ataukah mereka hanya takut dengan apa yang akan Felix sampaikan kepada Anastasius.
Merka hanya mengambil pilhan yang aman. Lagipula perintah dari Ariel adalah untuk bersantai dan tidak usah bergerak saat perang datang.
Meskipun ada beberapa orang yang ragu dan memutuskan untuk mengikuti Oscar.
.
.
.
Setelah melakukan pidato yang melelahkan. Ariel segera bergumam, "Sudah waktunya .... "
Hingga setelah itu, dia memanggil Daisy dan segera membawanya ke sebuah tenda yang tidak boleh untuk di dekati oleh siapapun.
Daisy melihat-lihat ke arah sekeliling yang tidak ada apa-apa. Dia hanya melihat ada sebuah tikar yang terbentang di tengah ruangan.
"N-nona! Apakah kita akan melakukannya sekarang? " tanya Daisy dengan gugup.
Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan merasa malu dan wajahnya memerah.
"Iya ... baiklah! Kamu bisa duduk terlebih dahulu di sana! " ujar Ariel, sambil menunjuk ke arah tikar.
__ADS_1
Daisy pun mengangguk dan berjalan ke arah tikar dengan pelan.
Setelah beberapa saat berlalu. Ariel kemudian membawa barang yang dia butuhkan dan mengangguk dengan puas, sambil menghampiri Daisy.
"Buka! "
Setelah mendengar hal itu, Daisy segera mengangguk dengan wajahnya yang memerah. Kumudian dia melepas kancing bajunya dan membuka pakaiannya secara perlahan.
Hanya bagian atas yang terlihat. Bagian dada, hingga ke bawah semuanya masih tertutupi oleh pakaiannya.
Melihat penampilan Daisy yang begitu menggoda, Ariel secara tidak sadar menelan ludahnya dan segera menghampiri Daisy.
Kemudian Ariel memeluk Daisy dari belakang dengan lembut.
Daisy hanya bisa gemetaran dan berkata dengan gugup, "Mo-mohon untuk memperlakukan saya dengan lembut .... "
"Jika Daisy berkata seperti itu, maka aku akan berbuat seperti yang kamu katakan dan dengan lembut merasakan setiap bagian dari dirimu. " bisik Ariel, langsung ke telinga Daisy yang memerah. Kemudian dia meniup telinganya dengan lembut.
"Haaahhh~ ... ! N-n, n, n, nona! Apa yang Anda lakukan! " Daisy kaget dan segera berbalik dengan cepat.
Sehingga dia tidak sadar, bahwa lengannya yang sebelumnya menutupi bagian dadanya telah terlepas. Dan membuat pandangan Ariel segera tertuju padanya.
"A ... ! "
"Sungguh sesuatu yang indah untuk di lihat. " gumam Ariel.
Mendengar nya seperti itu, wajah Daisy semakin memerah dengan malu, lebih dari sebelumnya.
"S-s, s, sudahlah Nona! Bukankah kita akan segera memulai nya? " ujar Daisy, tidak tahan dengan rasa malu ini dan memutuskan untuk mengubah topik.
Ariel yang merasakan hal itu, dia berhenti untuk menggoda Daisy dan segera ke urusan utama.
"... , Baiklah! Kita akan memulai. Kuatkanlah dirimu! " ucap Ariel.
"B-baik! " Daisy mengangguk.Dan kini, raut wajahnya menjadi lebih serius.
Ariel pun kembali memeluk Daisy dari belakang. Kemudian, dia menggigit bagian leher Daisy dengan perlahan. Untuk membuat Daisy tidak merasa kesakitan.
"Aaaaaaahhhhhhh ... ! " Secara tidak sadar, Daisy mendesah, dan segera menutup mulutnya sendiri, agar suaranya yang memalukan itu tidak terdengar ke luar tenda.
Ariel tak mempedulikan hal lain dan terus menghisap darah Daisy secara perlahan. Untuk beberapa saat kemudian, dia akhirnya melepaskan gigitan nya sambil mengambil kain untuk menutupi bekas luka di leher Daisy.
"Sudah selesai! Hm? Apakah kau tidak apa-apa? " ucap Ariel yang kini melihat Daisy yang kini bernapas berat.
Wajah yang memerah dan napas beratnya mengeluarkan uap putih saat dirinya bernapas. Bahkan keringatnya kini membasahi bajunya.
__ADS_1
Ariel segera melepas mantelnya dan menutupi tubuh Daisy dengan itu.
"Kamu beristirahat lah terlebih dahulu! Setelah setengah hari, kamu bisa kembali ke tempat ini. " ujar Ariel.
Daisy tak banyak bicara dan segera mengangguk dengan setuju.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah Daisy keluar, akhirnya Ariel kini sendirian di dalam tenda itu.
Kemudian dia mengambil benda yang sebelumnya di simpan dan kemudian duduk sambil memegang benda itu.
Benda itu adalah salah satu dari 47 senjata buatan Ariel yang telah Ariel tanamkan kekuatan gravitasi dari sill Pride (Kesombongan) .
Benda itu berbentuk kotak seperti dadu. Meskipun ukurannya yang sedikit lebih besar dan mempunyai satu lubang di setiap sisi-Nya.
Ariel kemudian mengalirkan energi sihirnya ke dalam benda itu terus menerus.
Berkat bantuan Daisy beberapa saat sebelumnya, kini Ariel dapat memulihkan energi sihirnya kembali.
Setelah tidak tidur, karena mengisi benda itu mengunakan energi sihirnya semalaman, Ariel tak punya pilihan lain, selain mengisi energi sihirnya dengan cara ini.
Ariel terus mengisi benda itu dengan energi sihir yang cukup banyak. Karena inilah alasan mengapa Ariel menyuruh para pasukan untuk tidak berbuat apa-apa.
Dia akan melawan pasukan musuh menggunakan hal itu.
Karena seperti yang di inginkan oleh Anastasius dan juga Ronand, yang ingin melihat kekuatan Ariel saat dia serius.
Maka Ariel akan kabulkan hal itu.
Berharap hal ini bisa membungkam mulut mereka berdua.
Hingga beberapa jam telah berlalu, Ariel membuka matanya dengan lelah.
"Belum cukup, Kah .... " gumam Ariel.
Kali ini dia juga kehabisan energi sihirnya kembali.
Kemudian dia kembali memasukan benda itu ke dalam Tas ruang dimensinya dan segera berbaring dengan lelah.
"Ngantuk.Mau tidur sebentar .... "
Dalam sekejap, dia segera tertidur dengan lelap. Dapat di lihat, bahwa, hanya mengisi benda itu saja menggunakan hampir seluruh energi sihirnya, membuat dirinya kelelahan.
Dia tidur pulas, layaknya seorang anak remaja yang polos dan lucu.
Bersambung ....
__ADS_1