
“Fufufu~”
“Ha ....”
“Fufufu~”
“... Sepertinya kau dalam suasana hati yang baik. Tapi bisakah kau berhenti menatapku sambil tersenyum seperti itu? Itu menyeramkan!” ucap Ariel dengan rasa tidak nyaman.
Beberapa saat yang lalu. Ketika hari mulai gelap, Ariel memutuskan untuk segera tertidur dan hal yang dia dapatkan ketika dia sadarkan diri dan terbangun ialah dia sudah berada di ruangan serba putih yang familiar.
Tidak ada tempat lain yang menyerupai tempat seperti itu. Dan setiap dia datang ke tempat itu, pasti sesuatu yang menyebalkan akan terjadi.
Mau bagaimana lagi. Itu adalah tempat Dewa Jahat 'V' berada. Dan dia saat ini sedang duduk di hadapan Ariel sambil tersenyum kepadanya dengan lembut dan ramah.
Baru pertama kali ini Ariel melihat Dewa Jahat 'V' tersenyum seperti itu.
“Jadi? Apa alasan kau membawaku ke tempat ini lagi?” Ariel bertanya seperti itu. Meskipun dia tahu apa alasannya, dia bertanya kembali seolah berpura-pura polos.
“Oohh, ayolah~ Kau tak perlu berpura-pura gak tahu seperti itu. Baru pertama kali ini aku merasa tak sesenang seperti ini setelah beribu-ribu tahun~”
“Apa yang kau maksud?”
“Hamm~ kau cukup keras kepala rupanya,” ucap Dewa Jahat 'V' sambil melihat ekspresi Ariel yang datar, “Jika memang tak tahu, aku akan memeberi tahumu.”
“Tidak.Tidak per-”
“Beberapa waktu yang lalu, Terjadi suatu peristiwa yang membuatku terkejut setelah sekian lama.”
“Sudah kubilang tak per-”
“Apakah kau tahu apa itu?”
“Tak tahu dan tak pedul-”
“Ada beberapa orang-orang di seluruh dunia mengalami perubahan takdir yang cukup signifikan. Terutama orang-orang yang berada di sekelilingmu, tentu saja.”
“... Memangnya apa hubungannya denganku?”
“Hmm~Masih berpura-pura tak tahu?” Dewa Jahat 'V' menyeringai, “Kalau begitu ... 'Lydia Scarlet' kau tahu siapa dia, kan?”
“....”
Setelah mendengar hal itu, Ariel hanya terdiam sebagai tanggapan.
“Dan tidak hanya itu, sekarang aku tak bisa membaca pikiranmu. Pasti ada sesuatu yang telah terjadi tanpa sepengetahuanku, bukan? Dan dari melihat dari takdir orang-orang yang berada di sekelilingmu, sepertinya kau telah merencanakan sesuatu yang menarik.” ucap Dewa Jahat 'V' sambil menyeringai.
“... Kalau tidak salah ... kau tidak bisa membaca takdir orang dari dunia lain, kan? Jadi, sejauh mana kau bisa membaca takdir orang-orang dari dunia ini?” Ariel bertanya dengan hati-hati.
Dengan secara tidak langsung dia mengakui bahwa dia sedang merencanakan sesuatu. Karena disembunyikan juga sepertinya tak ada gunanya jika melibatkan Dewa Jahat 'V'. Jadi akhirnya Ariel memutuskan mengakuinya secara terbuka daripada menyembunyikan rahasia yang sudah diketahui seperti orang bodoh.
__ADS_1
“Oh?! Apakah kau panik?” Dewa Jahat 'V' menyeringai, “Tapi tak perlu khawatir, justru dengan kehadiran orang-orang dari dunia lain sepertimu membuat takdir dari orang-orang dari dunia ini menjadi tidak pasti. Jika membandingkannya, aku hanya bisa melihat takdir seseorang seperti akar pohon. Tetapi dengan kehadiran orang-orang sepertimu, takdir orang-orang dari dunia ini menjadi semakin buram dan rumit untuk dilihat.”
“Hmm ....”
Melihat Ariel yang sedikit lega, Dewa Jahat 'V' menambahkan, “Tetapi ada satu hal yang pasti aku ketahui. Kau! Apakah kau berniat untuk melawan ku? ”
“....”
Mendengar hal itu, Ariel berusaha bersikap setenang mungkin. Tetapi sebaik-baiknya Ariel menyembunyikan emosinya, Dewa Jahat 'V' dapat mengetahui bahwa Ariel sedang gugup.
“Oh! Kau tak perlu bersikap seperti itu. Justru aku merasa senang kau melakukan hal itu. Aku tidak tahu apa yang kau rencanakan, tetapi justru itulah yang membuat semua itu menjadi lebih menarik. Bukankah kau juga berpikir seperti itu?” ucap Dewa Jahat 'V' dalam suasana hati yang baik. Seolah dirinya adalah seorang anak-anak yang telah mendapatkan mainan baru setelah sekian lama.
“Tidak! Tidak sama sekali.” Ariel menyangkalnya dengan cepat.
“Yah. Apapaun itu. Aku memanggilmu ke sini hanya untuk berterima kasih dan menyemangatimu dalam jalan barumu itu. Jadi sampai jumpa~”
“Eh!? Tung-”
Dewa Jahat 'V' menjentikkan jari dan pada detik itu juga Ariel menghilang dari ruangan itu. Dia mengusir Ariel setalah dia mengatakan apa yang ingin dia katakan.
Dewa Jahat 'V' sendirian di tempat itu sambil tersenyum.
“Tetapi, siapa yang telah memasang penghalang di tubuhnya untuk menghalangi pembacaan pikiranku? Aku tidak yakin dia melakukannya sendiri. Siapa yang telah membantunya?”
Dewa Jahat 'V' merenung. Dia merasakan ada beberapa jenis energi sihir dalam penghalang itu.
“Siapapun itu, aku berterima kasih padanya.” ucap Dewa Jahat 'V' sambil menyeringai.
Karena akan jauh lebih menarik membiarkannya seperti itu. Sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan seperti ini setelah sekian lama.
“Jangan mengecewakan aku ....”
.
.
.
Sementara itu.
Ariel saat ini sedang berlari dengan terburu-buru sambil mengigit sebuah roti untuk sarapan.
“Sialuuuaaunnnnn! Akwu akwan menghwajarmu suwatu hwari nuanti!” Ariel berteriak dengan kesal, meskipun sebuah roti masih tersumpal penuh di mulutnya.
Setelah pertemuannya dengan Dewa Jahat 'V', setelah dia bangun dari tidurnya, dia hanya menemukan Daisy menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan keras untuk membangunkannya.
Daisy sedikit menangis, karena dibangunkan dengan cara apapun, Ariel tak kunjung bangun meskipun hari sudah mulai terik.
Tetapi bukan itu yang menjadi masalahnya. Hari seleksi untuk memasuki Akademi akan dilakukan hari ini.
__ADS_1
Tetapi Ariel bangun cukup terhambat dan segera berganti baju dan mengambil sesuatu untuk dimakan dan langsung pergi berlari.
Sudah satu jam telah berlalu semenjak jadwal yang ditentukan. Ariel hanya berharap dia masih sempat.
“Aku telat! Aku telat! ... eh?!”
Ketika Ariel berlari seperti itu, ketika di persimpangan jalan, dia bertabrakan dengan seorang pria dan terjatuh.
“Kya!”
Eh?! Aku berteriak seperti itu ... ?
Tanpa sadar, Ariel membuat suara yang lucu ketika dirinya jatuh.
Tidak! Bukan itu saat ini yang terpenting. Siapa pria itu? Aku bahkan tak merasakan kehadirannya sama sekali sebelumnya ....
“Apakah anda tidak apa-apa, Lady?” Laki-laki itu datang dan menjulurkan tangannya untuk membantu Ariel bangkit.
Dengan rambut pirang keemasan dan wajah yang cukup tampan, dia tersenyum sambil berniat membantu Ariel.
Tapi entah mengapa hal itu membuat Ariel sedikit kesal.
Tanpa menahan diri, dia meninju tepat di wajah pria itu dengan tepat sasaran di tengah-tengah hidungnya hingga membuat pria itu terpental jauh ke belakang.
“Aku sedang buru-buru, bodoh!” Setelah mengatakan hal itu, Ariel dengan cepat berlari kembali.
.
.
.
Sementara itu, pria itu bangun kembali sambil menutupi hidungnya yang berdarah menggunakan saputangan nya.
“Yaampun ... setelah kita tabrakan dan aku menolongnya, bukankan dia akan terpesona dengan ketampananku dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama?”
“Kau terlalu banyak membaca buku, bodoh!” Seorang gadis muncul dari suatu tempat, “Mau berapa banyak gadis yang akan kau tabrak di persimpangan ini? Ini sudah yang ke lima kalinya.”
“Sampai ada yang menarik perhatianku.”
“Sudahlah! Ayo kita pergi! kita bisa terlambat untuk mengikuti ujian masuk Akademi.”
“Eh!”
“Hm?!”
“Ini sudah terlewat satu jam ....”
“Hah?!” gadis itu kaget dan langsung meninju wajah lelaki itu tepat di hidungnya'lagi' dengan keras, “Mengapa kau tidak memberitahuku, bodoooohhhh!!”
__ADS_1
Gadis itu berlari dengan cepat dan meninggalkan pria itu yang terkapar di jalanan.
Bersambung ....