
Usia kehamilan ku kini telah mencapai kurang lebih empat bulan.
Dan perutku kini sudah muali bengkak.
Jadi seperti ini rasanya ketika seseorang sedang mengandung? Sedikit sulit, tetapi aku bisa menahannya.
Dan juga. Semenjak beberapa hari yang lalu, aku dapat merasakan bahwa ada tanda-tanda kehidupan di dalam janinku.
Apakah itu Jiwa? Mungkin aku dapat mengetahuinya jika Lydia ada di sini.
Tetapi yang aku tahu dengan pasti, bahwa anakku kini telah tumbuh dengan baik dan sehat.
“Hehe. Tumbuhlah menjadi anak yang hebat, Nak~”
Aku selalu berkata seperti itu hampir setiap hari sambil bersenandung.
Aku tidak tahu kebenarannya dengan pasti. Tetapi kata para dayang di istana, bernyanyi ataupun bersenandung seperti itu dan menjaga suasana hatiku tetap dalam keadaan baik dapat membuat bayiku tumbuh sehat.
Waktu terus berjalan, dan hari-hariku kebanyakan dihabiskan dengan istirahat dan berjaln-jalan di taman dengan tenang.
Para dayang begitu perhatian terhadapku dan Dokter Istana terkadang datang untuk melakukan pemeriksaan.
Sementara Anastasius ... yah, aku tidak berharap banyak padanya.
Terkadang dia datang sebulan sekali untuk menayakan kabarku dan langsung pergi begitu saja.
Sungguh. Apa yang salah dengan pria itu?
Yah, aku tidak terlalu mempermasalahkan nya sih.
Lagipula ketika dia datang, justru suasana hatiku menjadi lebih buruk.
Lebih baik menjaga keadaan mentalku agar tetap terkendali sambil bersantai dengan tenang.
Menjalani hidup seperti ini juga tidak buruk.
Hingga akhirnya tiba, ketika kandungan ku berusia tujuh bulan.
Aku tidak bisa makan apapun.
“Akhhh... !”
Perutku sakit ....
Rasanya sakit sekali.
Padahal tidaka ada yang salah dengan tubuhku. Tetapi mengapa rasanya sakit sekali?
Ada apa denganmu, Nak?
Hari itu, para dayang berkumpul.
Dokter Istana dengan cepat datang menemuiku. Dapat dilihat dari wajahnya bahwa dia terburu-buru.
Tetapi setelah beberapa saat menjalani pemeriksaan, Dokter berkata bahwa itu adalah masa Fluktuasi energi sihir.
Apa itu? baru pertama kali aku mendengar hal itu.
Aku yang tidak tahu hal itu, Dokter Istana itu segera menjelaskan, “Itu adalah situasi ketika janin di dalam tubuh Nyonya sedang membentuk saluran eneri sihir di dalam tubuh dan menyesuaikan diri dengan alirannya. Anda tidak perlu khawatir.”
“Tetapi ini rasanya menyakitkan!”
“... Terkadang ada kedaan khusus seperti itu. Sebenarnya tidak terlalu menyakitkan bagi rakyat kalangan menengah ke bawah. Tetapi berbeda dengan Nyonya, Anak ini adalah keturunan dari salah satu dari Vampre Kuno dan Raja Albion. Saya cukup yakin bahwa tubuh anak yang ada di dalam janin akan mempunyai tubuh yang kuat dan kapasitas energi sihir yang jauh di atas rata-rata ....”
“Cukup dengan penjelasannya! Lebih penting lagi, bagaimana untuk mengurangi rasa sakitnya? Apakah anakku tidak apa-apa?”
Rasa sakit ini bagiku saja sangat menyiksa, Bagaimana dengan keadaan anakku?
Aku takut terjadi hal yang buruk terhadap anakku.
Dan aku cemas, entah mengapa perasaan buruk selalu menghantuiku.
__ADS_1
Dan benar saja.
Aku kaget dengan jawaban dari Dokter itu.
“Sebenarnya saya tidak berniat akan mengatakan ini. Bagi rakyat menengah ke bawah sudah dipastikan anak yang lahir akan selamat. Tetapi ... bagi anak yang mempunyai darah Dragonoid dan juga Vampire Kuno, saya tidak yakin ....maafkan saya, Nyonya.” Dokter itu membungkuk kepadaku sambil meminta maaf.
Tidak!
Aku yakin anakku bakal selamat.
“Justru Nyonya yang harus lebih dikahwatirka ....”
“Tidak! Hwaaaaa ....”
Ketika Dokter itu berbicara, Aku tidak terlalu memperhatikan.
Karena aku menangis saat itu juga dengan kencang.
Dengan perutku yang masih sakit, suara tangisanku menjadi lebih pelan digantikan dengan rintihan kesakitan.
Perutku bahkan lebih sakit dari sebelumnya.
“Tolong tenangkan diri anda Nyonya! Itu bukan berarti Anda dan juga anak yang ada di dalam kandungan tidak bisa diselamatkan.”
“Bagaimana .... ”
Tanpa aku sadari sebelumnya, Dokter itu telah memegang sebuah bulu emas yang terlihat indah.
Dan bulu itu diberikan kepadaku.
“Tolong selalu pegang bulu ini Nyonya! Itu adalah bulu dari burung Phoenix. Bulu itu dapat menyembuhkan Nyonya dari luka, jika sesuatu terjadi. Dan juga, itu dikabarkan dapat membawa keberuntungan bagi orang yang memilikinya.”
Aku pernah mendengar hal itu. Dan aku cukup yaikin itu benar.
“Dalam Fase ini, anda diharapkan bertahan sedikit lagi di dalam kamar. Dan juga, diharapkan semua orang dapat meninggalkan Nyonya sendirian.Terlalu banyak orang justru akan membahayakan Nyonya dan bayinya. karena mengganggu aliran energi sihir di sekitar. Saya harap Nyonya akan mengerti ....”
“Nggghh! B-baiklah. Kalian semua bisa keluar.”
Beberapa Dayang ada yang keberatan aku ditinggal sendirian.
Aku senang akan hal itu.
Tetapi, demi keselamatan bayiku aku tidak ingin mengambil resiko.
“Pergi!”
“... Baik.”
Orang-orang perlahan mulai pergi. dan hanya Dokter itu yang sedang meletakkan obat di sampingku.
“Ini adalah obat pereda rasa sakit.” ucapnya, “Kalau begitu saya pamit juga. Anda bisa panggil kami jika ada sesuatu hal yang mendesak.”
“... Iya. ”
Dan setelah itu aku sendirian.
Menahan rasa sakit yang amat menyakitkan.
Kapan ini akan selesai?
Bahkan bulu burung Phoenix tidak bekerja sama sekali.
Dan juga, obat yang katanya untuk pereda rasa sakit pun telah habis pada hari pertama.
Saat aku meminta obat itu lagi, Dokter berkata bahwa dirinya sedang menyuruh bawahannya untuk mencari bahan-bahan obatnya lagi karena sepertinya mendapatkannya cukup sulit karena menggunakan bahan-bahan yang cukup langka.
Apa gunanya. Aku membutuhkan obat itu sekarang.
Waktu terus berjalan.
Tiga hari?
__ADS_1
Empat hari?
Entahlah. Aku terlalu tersiksa untuk memikirkannya.
Dalam sehari, terkadang seorang Dayang membawakan makanan untuk beberapa kali.
Tetapi dalam keadaan ini, siapa yang mau makan?
Rasanya melelahkan ....
Dan aku bahkan mulai berdarah.
Hiks ... hiks ....
SAKIT.
Dan aku ... berdarah lagi ....
Sampai kapan semua ini akan berakhir?
Sakit rasanya.
Aku ingin mati.
Aku tidak berpikir rasional pada saat itu. Hingga aku mengucapkan sesuatu yang tidak termaafkan bagi diriku sendiri.
Jika saja aku tidak hamil.
Anak ini ... Aku berharap dia tidak pernah ada.
Aku pingsan selama 3 hari.
Bahkan Dokter dan orang-orang lainnya mulai panik.
Aku merindukan ketika aku masih bisa bergerak bebas.
Ini sangat menyakitkan.
Hingga pada suatu saat.
Aku merasakan seolah sebuah benang terputus.
Sebuah rasa yang begitu terasa pahit di dalam hatiku.
“... Tidak! Tidak mungkin!”
Hingga saat itu juga aku berteriak memanggil dokter dengan sekuat tenaga.
Melihat aku yang menangis, dokter yang masuk sendirian segera memeriksa ku dan beberapa saat kemudian ... dia menggelengkan kepalanya.
“Maaf saya Nyonya .... ”
Dokter tidak melanjutkan perkataannya.
Tetapi aku dapat mengerti apa yang dia maksud.
Karena aku juga merasakannya.
Anak di dalam kandunganku terasa kosong.
Aku tidak merasakan apapun darinya.
“... Sudah tidak dapat diselamatkan.”
Aku mendengar Dokter bergumam.
Dan apa yang terjadi setelahnya, jantungku berdetak dengan hebat, aku kesulitan untuk bernapas.
Hingga akhirnya, aku terkulai lemah dan jatuh ke tempat tidur dan pandanganku seketika menjadi gelap.
Bersambung ....
__ADS_1