
Chizuru beserta teman temannya kini sedang menatap ke arah langit dengan perasaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
Mereka hanya secara tidak sadar membuka mulut mereka yang menganga dengan terkejut.
“Oy, oy, oy. Apa-apa ini .... ” Arsya yang petama kali sadar dan membuat ekspresi getir di wajahnya.
“A-apakah ini ilusi?” Akihiro bertanya dengan perasaan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“... ,Sepertinya bukan.” Aria menjawab pertanyaan Akihiro. Akan tetapi, anehnya saat ini Aria sangatlah tenang. Seolah tak terpengaruh dengan apa yang saat ini mereka lihat.
Sebuah Meteor yang berukuran sangat besar ini. Kini sedang mengarah ketempat mereka saat ini berada.
“Sepertinya ini yang dia maksud .... ” Chizuru bergumam. Dan wajah Ariel yang sedang menyeringai dengan berpose jarinya yang berbentuk v, dapat terbayang di dalam kepala Chizuru.
Aria yang mendengar gumaman Chizuru, dia menyipitkan matanya dan menatap Chizuru dengan tajam. Tetapi dia mengabaikannya untuk saat ini. Lebih penting lagi ....
“Hey! Chizuru bukankah sudah saatnya kita pergi dari tempat ini? Pindahkan lah kami ke tempat yang cukup jauh dari tempat ini! ” Aria berkata. Mengungkit tentang kekuatan Chizuru yang dapat berteleportasi.
Akan tetapi, bukan Chizuru yang menjawab, Akihiro Yuu segera berbalik dan menatap Aria, “Apa! Kita akan pergi? Bagaimana dengan para pasukan yang saat ini bertarung di garis depan?”
Akihiro Yuu saat ini dalam suasana hati yang buruk. Dia tidak tahan dari semenjak dirinya mengikuti perang ini, situasinya selalu berjalan tidak sesuai dengan apa yang dikehendaknya.
Pertama saat Leon untuk menjebak pasukan musuh. Akihiro Yuu sangat menentang keras tentang hal itu.Tujuan awalnya adalah untuk menghentikan perang ini dengan cara yang damai dan membuat pasukan musuh untuk menyerah dengan sukarela, setelah menunjukkan kekuatan pahlawannya.
Tetapi, para bangsawan lebih memilih rencana Leon dan mengurangi kekuatan tempur dari pihak musih.
Dan bahkan ketiga temannya yang ikut bersamanya menyetujui rencana Leon dan dirinya di hiraukan dan tak bisa berbuat apa-apa setelah tiga pahlawan menyetujui rencana Leon.
Bukankah tujuan para pahlawan adalah untuk menyebarkan kedamaian sebanyak mungkin di dunia ini? Bagaimana bisa mereka menyetujui usulan orang itu? Bagaimana jika hal itu menimbulkan banyak korban?
Itulah yang dipikiran Akihiro Yuu.
Dan kini. Dia sedang menatap Sebuah Meteor yang sangat besar. Dan hal ini tidak di ragukan lagi dapat menimbulkan korban yang tidak sedikit.
Jika hal ini adalah perbuatan seseorang. Dia yakin bahwa orang itu adalah orang yang sangat bengis. Menyepelekan nyawa orang lain seperti itu.
“Aku tidak punya kekuatan untuk memindahkan semua orang dalam keadaan yang kacau ini. Aku hanya bisa memindahkan orang-orang yang di baris belakang, sebelum Meteor itu semakin dekat.” Chizuru menjawab dengan jujur.
“Jika di biarkan, mereka akan mati, loh! ” Akihiro Yuu menggertakkan giginya dengan kesal.
“Ya, mau bagaiaman lagi .... ” Chizuru menghela napas dengan ekspresi sedih. Dia dapat mengerti. Ini adalah sebuah perang, kematian pasti akan terjadi.
Jika mereka tidak ingin mati. Seharusnya mereka tidak mengikuti perang ini sejak awal. Meskipun cara kematian mereka saat ini akan terjadi dengan cara yang di luar imajinasi Chizuru.
Tanpa mempedulikan ocehan Akihiro Yuu, Chizuru segera membuka portal yang terlihat seperti sebuah gerbang yang cukup besar dan segera membuat pengumuman.
__ADS_1
“Dengar semuanya! Jika ingin selamat, masuklah ke dalam portal ini!”
Dia berteriak dengan kata-kata singkat. Akan tetapi, setelah mendengar hal itu, para prajurit yang kini tengah membeku ketakutan, segera berbondong-bondong menuju portal itu.
Mereka saling dorong sambil berteriak. Dan bahkan ada orang yang terjatuh dan terinjak-injak hingga nyawanya tidak terselamatkan.
Mereka hanya fokus untuk menyelamatkan nyawa mereka sendiri tanpa mempedulikan hal lain.
Akihiro Yuu mengernyitkan dahinya, setelah melihat pemandangan ini. Bukan hanya dia, Bahkan Arsya dan Chizuru juga melakukan hal yang sama. Hanya Aria yang begitu tenang dalam kelompok itu.
Karena mereka tidak mempunyai skill yang dapat menyematkan orang banyak selain Chizuru seorang. Merka semua hanya mempunyai skill yang berguna dalam pertarungan, bukan penyelamatan.
Meskipun Aria selama ini terus menyembunyikan kekuatan skillnya. Tetapi jika dia tidak mengusulkan untuk menyelamatkan mereka, berati dia juga tidak punya cara lainnya.
“Kita juga harus pergi!” ujar Aria.
“Tetapi .... ”
Akihiro ingin mengeluh. Akan tatapi, mereka berdua telah memegang pundak Chizuru untuk segera berteleportasi. Dan dia pun tidak punya pilihan lain, selain melakukan hal yang sama.
Mereka dapat melihat, dalam diskusi mereka yang singkat itu, kini Meteor itu sudah hampir menabrak ke permukaan tanah.
Portal yang Chizuru buat sebelumnya pun menghilang. Dan sebagai gantinya, teriakan dari para prajurit yang putus asa, segera tedengar dengan ribut.
Dan sebelum Chizuru melakukan teleportasi. Dia mengucapkan kata terakhirnya. “... , Semoga beruntung.”
***
Beberapa waktu sebelum itu.
Ariel yang melihat Meteor itu. Dia hanya bengong. Karena rencananya agak sedikit meleset dari perkiraan.
Batu meteorid yang dia tarik ke atmosfer dunia itu ukuran nya terlalu besar. Meskipun terkikis dan ukuran nya perlahan mengecil, akibat dari terbakar panasnya benda itu. Tetapi masih terlalu besar.
Ariel yang bengong, segera di sadarkan oleh Daisy.
“.... ,Nona! ”
“Hah!”
“Akhirnya sadar juga. Apa yang harus kita lakukan,Nona? ” ucap Daisy dengan cemas dan juga panik. Dapat di lihat, bahwa dirinya sedang gemetar ketakutan.
Ariel hanya tersenyum dan mengelus kepala Daisy dengan lembut. Bertujuan untuk menenangkan dirinya. “Tenang saja. ”
“Nona .... ” Daisy tersenyum dengan itu dan wajahnya sedikit merah merona.
__ADS_1
Untuk beberapa saat, mereka seperti itu, seolah terjebak oleh dunia mereka sendiri. Hingga Felix berdehem.
Ehem .... !
“Ah! ”
Ariel pun tersadar kembali dan segera memanggil Felix dengan sedikit malu.
“Felix! Kamu segera perintahkan pasukan untuk membuat pertahanan apapun yang mereka bisa. Sepertinya kita juga akan terkena dampak oleh benda itu. Cepatlah!”
“Baik!” Tanpa mempertanyakan apapun lagi, Felix segera berlari dengan cepat dan meninggalkan mereka berdua.
Hingga beberapa saat kemudian, Daisy berkata, “Emm ... Nona, bukankah kita harus mengikutinya dan ikut berlindung .... ”
“Kamu tenang saja, bukankah kamu bisa membuat sebuah lubang dengan sihir bumimu itu?” tanya Ariel.
“Lubang?”
Hingga beberapa saat Daisy bingung, diapun mengerti, lubang itu untuk merekan pakai untuk berlindung.
Daisy pun segera mengangguk dan merapalkan matra sihir bumi yang telah dirinya pelajari selama ini bersama Yukina.
Selama Daisy merapal sihir nya. Ariel kembali menatap Meteor itu sambil merenung.
Hmm ... terakhir kali ku melihat asteroid menggunakan alat yang dipinjam dari Chizuru, seharusnya tidak sebesar ini ....
Ariel merenung untuk beberapa saat, hingga sebuah panggilan terdengar dari belakangnya.
“Nona. Saya telah selesai.”Daisy mengumunkan dengan bangga.
“Kerja bagus!” ucap Ariel, sambil melihat lubang yang sebelumnya Daisy buat. “Tetapi ... mengapa ukurannya sangat kecil? Apakah muat untuk kita berdua? ”
“Saya hanya memprioritaskan kedalamannya, bukan ke lebaran .... ” ucap Daisy sambil memalingkan mukanya dengan malu.
“Yah ... biarlah.Ayo kita segera berlindung!”
Setelah mengatakan hal itu, Ariel segera memeluk Daisy dan segera melopat ke dalam lubang itu. Dan sebelum dia memasuki lubang itu, dari sudut pandangannya, dia melihat beberapa dinding batu, dinding es, dan beberapa yang lainnya berdiri kokoh, tidak jauh dari tampat mereka berada.
Dapat di lihat, bahwa itu adalah perbuatan Felix yang telah memerintah para prajurit dalam situasi yang kacau ini.
Seperti yang di harapkan dari Felix.
Ariel tersenyum dengan puas.
“Wah! ... Kya~ .... ”
__ADS_1
Mereka terjun bebas ke dalam sebuah lubang kecil yang cukup sempit, dengan teriakan Daisy yang terus terdengar.
Bersambung ....