
Di ruangan itu, August yang saat ini tersenyum dengan canggung atas permintaan tidak masuk akalnya Anastasius yang terlalu kelewatan.
Bagaimana bisa sangat pahlawan sebagai utusan Dewa yang sangat di hormati di wilayah manusia bisa di perlakukan seperti itu.
Kalaupun ada, itu bisa menimbulkan kegemparan seperti kejadian beberapa belas tahun yang lalu, tentang pahlawan yang ke 7 telah menghilang.
Orang-orang yang di wilayah manusia menganggap itu sebagai murka Dewa dan sebagai nya, mereka terus mengemukakan hipotesis tentang hilangnya sang pahlawan ke tujuh.
Dan sampai sekarang pun, orang-orang di wilayah manusia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dan sekarang! Anastasius meminta Chizuru yaitu sebagai salah satu pahlawan sendiri, ingin meminta dia untuk melayani Albion.
Tentu saja itu akan menimbulkan kegemparan lain di wilayah manusia. Bahkan, mungkin itu akan menimbulkan perang lain yang skalanya bahkan lebih luas.
August pun menjelaskannya dengan lembut dan tidak menyinggung perasaan Anastasius. Dan akhirnya Anastasius pun menyerah dan sebagai gantinya menggunakan Harta Nasional wilayah manusia.
Meskipun berkat August yang memohon, Anastasius menyetujui bahwa jumlahnya bisa di kurangi supaya tidak menimbulkan pemberontakan lain di wilayah manusia.
Dapat di lihat bahwa Chizuru yang saat ini duduk pun menghela napas dengan lega.
Setelah beberapa saat mereka terus berdiskusi, akhirnya Anastasius pun mulai bosan dan berniat mengakhiri pertemuan mereka.
"Yah ... kau tenang saja, aku tidak akan meminta hal lebih dari kalian. Akan tetapi, kalian tidak keberatan jika aku akan melakukan apapun yang ku suka tentang orang-orang yang terlibat dalam peperangan,Bukan? "Anastasius memperingatkan.
Setelah menatap Anastasius yang begitu menyeramkan, August segera mengangguk dan menjawabnya dengan tergagap, " Te-tentu saja, Yang Mulia. Karena mereka juga telah di anggap mengkhianati Kekaisaran. Saya tidak akan berbicara lebih untuk membela mereka .... "
Meskipun August berbicara seperti itu, akan tetapi dia merasa bersalah dan juga kesal dengan mereka yang ingin memulai perang kembali dengan wilayah iblis.
Tidak mengukur kemampuan sendiri dan terbutakan dengan ketamakan dan kesombongan mereka sendiri.
Hal terakhir dan yang paling dia tidak inginkan adalah memulai peperangan kembali.
Tidak peduli bahwa dirinya di kenal sebagai Kaisar bodoh atau apapun itu. Selama dirinya mampu mempertahankan wilayah manusia. Apapun itu, dia akan lakukan.
Meskipun mengorbankan beberapa Negara sebagai gantinya.
Karena menurutnya, tidak akan mendapatkan perdamaian abadi tanpa adanya pengorbanan setimpal.
Meskipun dirinya seorang Kaisar, tetapi dirinya masihlah seorang manusia yang tidak berdaya dan lemah. Dia bukanlah Dewa yang mampu melakukan segalanya.
Itulah mengapa. Bahkan jika keadaan memaksa, dia akan menjilat sepatu Anastasius sekalipun demi kedamaian wilayah manusia.
"Apakah ada hal lain? " tanya Anastasius.
__ADS_1
"Tidak ... untuk saat ini .... " jawab August dengan ragu.
"Kalau begitu kalian boleh pergi! Kau bisa datang kapanpun jika ada informasi tambahan. " ucap Anastasius sambil melambai-lambai kan tangannya dengan bosan.
Meskipun Anastasius bersikap seperti itu kepadanya, akan tetapi August tidak memasukannya ke dalam hati.
Karena dia tahu, meskipun dengan sikapnya yang seperti itu, ada kebaikan hati di dalam dirinya.
Meskipun dia kadang bersikap kejam dan tanpa belas kasihan. Akan tetapi, menurut August, Raja seprti itulah yang wilayah manusia perlukan.
Tidak tumpul ke atas dan runcing ke bawah.
Selama itu dapat merugikan negaranya, dia akan bersikap adil dan menghukum siapa saja yang menentang.
Karena August pun tahu, Anastasius juga menginginkan kedamaian dan kemajuan negaranya.
Itulah mengapa, August meminta bantuan Anastasius dan mempercayakan nasib seluruh wilayah manusia di tangannya.
"Baiklah! Kami akan undur diri untuk saat ini. Terima kasih kepada Yang Mulia, karena telah meluangkan waktu anda yang sibuk ini kepada kami. "ucap August sambil menunduk. Dan Chizuru pun melakukan hal yang sama.
Setelah Anastasius mendengar hal itu, dia mengangguk dan melihat mereka menunduk dengan hormat dan pergi. Meninggalkan dirinya sendirian di ruangan yang sepi.
Hingga beberapa saat kemudian.
Anastasius yang saat ini tengah bersantai sambil menikmati teh nya dengan tenang.
Brak ...!
Meskipun Anastasius tidak melihat siapa yang telah melakukan hal itu, akan tetapi dia tahu siapa yang telah membuka pintu dengan keras seperti itu.
Dalam pikirannya hanya satu orang yang selalu melakukan hal itu.
Siapa lagi kalau bukan ayahnya, Ronand.
Dia berdiri di depan pintu dengan seringai nya seperti biasa. Kemudian dia masuk dan menyapa Anastasius dengan ceria.
"Apa kabar! Anakku. Sepertinya barusan kau kedatangan tamu yang menarik! "ucap Ronand, sambil mengambil tempat duduk di depannya dengan santai.
"..., Bisakah jika kau datang dengan cara yang lebih tenang sedikit? Setiap kali kau datang, selalu membuat keributan. Itu membuatku sedikit jengkel jika terus mengalaminya setiap hari. " keluh Anastasius dengan menggerutu.
"Ayolah~ Hal sekecil itu jangan terlalu di permasalahkan. " bantah Ronand, "Daripada itu ... apa yang telah kau bahas dengan mereka? " tanya Ronand dengan penasaran.
Anastasius pun menghela napas dan menjawab dengan lelah, "Bukan sesuatu yang penting, aku hanya perlu mengutus beberapa orang untuk membereskan hama. "
__ADS_1
"Bicara yang benar! Aku tidak mengerti apa yang kau maksud! " keluh Ronand.
"Aish ... singkat nya akan ada perang yang melibatkan para manusia yang bodoh. Aku sedang berpikir tentang bagaimana aku akan menanganinya. " Anastasius menjelaskan dengan malas.
"Maukah Ayah membantu dan menangani nya untukku? Lagipula kau suka dengan pertarungan yang seperti ini, Bukan? " tanya Anastasius, "Ini akan memudahkanku untuk tidak membuang sumber daya secara percuma. "
Dengan hanya partisipasinya Ronand seorang, itu dapat menjungkir balikkan hasil sebuah perang dengan kehadiran seorang yang begitu kuat.
"Hmm ... mungkin aku sedikit tertarik, tetapi .... " Ronand merenung sambil memikirkan sesuatu.
"Tetapi? " tanya Anastasius dengan penasaran.
"Aku memiliki seorang kandidat yang cocok untuk peran itu. Mungkin disayangkan bagiku, akan tetapi, aku hanya akan menonton untuk kali ini. " ucap Ronand.
"Kandidat yang cocok? Siapa? " tanya Anastasius dengan penasaran.
Ronand hanya menyeringai seolah merencanakan sesuatu yang jahat. "Hehehe .... "
***
Di suatu tempat.
Ariel yang saat ini bersantai di halaman dengan tenang setelah menjalani penyembuhan setelah pelatihannya dengan Ronand.
Dia menyeruput tehnya dengan anggun dan kemudian bersandar di kursi dengan santai.
"Ahhhh ... inilah hidup.... "gumam Ariel dengan puas.
Hingga beberapa saat kemudian, hidung Ariel terasa gatal dan segera bersin dengan keras.
Haccchu ... !
Daisy yang melihat hal itu, segera mengambilkan sapu tangan dan segera menyeka wajah Ariel dengan lembut.
" Apakah anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Daisy dengan khawatir, "Mohon untuk menjaga kesehatan anda. Belakangan ini, hari mulai semakin dingin. "ucap Daisy.
Setelah Daisy membersihkan wajahnya, Ariel segera mengangguk dan menjawab dengan senyuman, " Hmm ... mungkin kamu benar. Aku akan memakai pakaian yang lebih tebal mulai sekarang. "
Hmmm ... suhu dingin sebenarnya bukan masalah bagiku. Mungkin aku alergi serbuk sari atau apapun itu.
Pikir Ariel dalam hati.
Yah ... selama ini, aku juga tidak pernah sakit. Selama aku menjalani hidup dengan tenang, itu sudah bagus untukku.
__ADS_1
Ariel merenung sambil bersantai dengan menikmati suasana yang damai ini.
Bersambung ....