
Anastasius yang saat ini mengerjakan dokumen-dokumennya yang menumpuk, dia segera menghentikan tangannya yang sedang menulis ketika mendengar suara ketukan di pintu.
Tok, tok, tok.
“Permisi,Yang Mulia! Tuan Putri telah tiba. Ap-”
“Biarkan dia masuk!” Sebelum penjaga itu menyelesaikan perkataannya, Anastasius segera memotong dengan cepat. Dia tak mau membuang-buang waktu dengan hal-hal yang merepotkan seperti itu.
“B-baik ....”
Hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan seorang gadis cantik datang dengan anggun sambil memberi salam.
“Hormat saya menghadap matahari kerajaan. Senang rasanya saat melihat Yang Mulia dalam keadaan sehat.”
Berlawanan dengan perkataannya. Wajah Anastasius terlihat pucat dan dia kelihatan kurus dan kurang tidur seperti Ronand. Tidak! Bahkan bisa dikatakan lebih buruk.
Dan wanita itu memujinya sambil menekukkan lututnya sedikit dan memposisikan kaki kanan di depan kaki kiri sambil sedikit mengangkat roknya di kedua sisi dengan anggun.
Entah itu pujian ataupun hinaan.
Dia menatap Anastasius sambil tersenyum lembut. Ditambah dengan pakaiannya yang begitu mewah, kecantikannya begitu mempesona dan membuat Anastasius sedikit kaget dengan kejadian yang tak di sangka itu.
“... apakah kepribadianmu memang seperti itu? Berhentilah main-main dan segera mendekat!” ucap Anastasius dan segera kembali memasang raut wajahnya yang dingin seperti biasa.
“Ck, tak seru ....” Wanita itu bergumam dan segera berjalan ke hadapannya dengan sedikit lambat.
Tentu saja, dialah Ariel. Dikarenakan tidur panjangnya, dia perlu menyesuaikan diri dengan otot-ototnya yang kaku dan sebelum datang ke hadapan Anastasius, Ariel sempat menjalani pemijatan dan peregangan otot-otot tubuh yang sedikit kaku.
Setidaknya. Hingga dia bisa berjalan dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan nyaman.
Meskipun begitu, Ariel yang sedang berdiri di hadapan meja Anastasius, kakinya mulai sedikit pegal dan melirik Anastasius sambil dengan tatapan memohon. Akan tetapi, sepertinya Anastasius tak mengerti apa yang dimaksud Ariel dan raut wajahnya memperlihatkan kebingungan.
“...?”
“Haishh~” Ariel menghela napas dengan lelah, “Ayah macam apa kau ini.”
Hingga setelah mengatakan hal itu. Ariel menjulurkan tangan kanannya ke samping dan detik itu juga, cahaya keemasan muncul dari telapak tangannya.
Anastasius yang tak tahu apa yang akan di lakukannya, dia menonton untuk beberapa saat dan kemudian dikejutkan dengan kemunculan kursi yang secara tiba-tiba.
Itu adalah hasil dari Skill Diligence miliknya yang telah di tingkatkan oleh Dewa Jahat 'V'.
Dia mampu membuat apapun selama dia mempunyai energi sihir dan objek yang akan dibuatnya terbayang dengan jelas di dalam pikirannya.
__ADS_1
Meskipun saat ini Ariel hanya mampu membuat benda sederhana secara instan seperti kursi, bola dan sebagainya.
Dia masih belum mampu membuat benda rumit secara instan seperti contohnya adalah mobil yang memerlukan banyak komponen untuk membuatnya.
Mungkin bisa, jika dia berlatih setiap saat dengan kekuatannya itu atau membuat bagian yang rumit satu-persatu dan merangkai nya menjadi sesuatu yang diinginkannya.
Karena saat ini Ariel baru saja mendapatkan kemampuan itu dan butuh beberapa waktu untuk terbiasa.
Tapi membuat kursi secara tiba-tiba, cukup untuk membuat Anastasius menjadi terkejut dengan hal itu.
“Hm?! ... Bagaimana cara kau melakukannya?”
“Setiap orang mempunyai rahasianya tersendiri. Aku tak mempunyai kebutuhan untuk memberitahukannya padamu.” Ariel menjawab, sambil menduduki kursi itu dengan perasaan lega.
“... Itu sangat tidak sopan ketika dirimu duduk tanpa orang yang derajatnya lebih tinggi darimu memberikan izin.”
“Justru sangat tidak sopan ketika orang yang mengundang seseorang tanpa memperhatikan kondisi tamunya sama sekali.” Ariel membantah pernyataan Anastasius dengan percaya diri.
Hingga akhirnya mereka saling pandang satu sama lain dan membuat suasana ruangan itu menjadi berat.
Dan hingga beberapa saat mereka seperti itu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba dan dibarengi dengan suara keras dan seseorang berteriak.
Brak!
Dia adalah Ronand. Dia menggaruk pipinya dengan ragu, “Emm ... apakah aku mengganggu?”
“... Tidak. Mungkin kehadiranmu bisa mencairkan suasana di ruangan ini.” ucap Anastasius sambil menghela napas lelah.
“Jadi. Apa maumu sampai memanggil ku ke tempat ini?” tanya Ariel dengan tidak sabar.
Meskipun tidak sopan. Anastasius membiarkan hal itu. Karena dia juga tidak suka bertele-tele.
Anastasius menghela napas dan segera membuka mulutnya, “Baiklah ... dalam seminggu lagi, aku ingin kau pergi ke Delyth untuk mengikuti ujian masuk Akademi Benedith”
“Hmmm ....”
Ariel hanya bisa berwajah datar setelah mendengar itu.
Entah mengapa, Ariel sudah terbiasa dengan permintaan tak masuk akal dari mereka. Mereka hanya bisa menyuruh tanpa mempertimbangkan perasaannya sama sekali.
Dan juga. Ariel tahu bahwa cepat atau lambat dia akan memasuki Akademi itu. Meskipun dia tak menyangka bahwa hal itu datang secepat ini.
__ADS_1
Yang jadi masalah adalah kondisi fisiknya saat ini. Dan juga ....
“Apa maksudnya ujian? Setahuku, semua anak bangsawan wajib memasuki Akademi itu dan langsung terdaftar sebagai siswa setelah cukup umur. Apa aku salah?”
Setelah mendengar hal itu, Anastasius tersenyum. Dia terkesan dengan pengetahuan Ariel yang dia tahu bahwa Ariel telah lama tertidur.
“ ... Apa yang kau katakan memang benar. Tapi ada satu titik yang telah kau lewatkan di sana.” ucap Anastasius.
“...?”
“Dikatakan cukup umur, Kau perlu melewati upacara kedewasaan ketika kau berumur Lima belas tahun di musim dingin. Dan saat itu, perwakilan dari Akademi datang ke setiap negara untuk memberikan tanda sekolah kepada anak yang mengikuti upacara kedewasaan tersebut.”
Setelah mendengar hal itu, Ariel dengan takut-takut bertanya. Dia sudah berumur Lima belas tahun dan saat ini sedang musim dingin di Albion.
“Ermm ... jadi ... kapan upacara kedewasaan itu?”
“Sebulan yang lalu.” jawab Anastasius dengan cepat.
“.... ”
Upacara kedewasaan sangat penting bagi anak yang cukup umur untuk memasuki dunia sosial.
Dan kini Ariel melewatkan hal itu. Itu menjadi aib bagi dirinya yang seorang dari anggota kerajaan. Meskipun Ariel melewatkan hal itu dengan adanya alasan.
Tetapi dia sedikit curiga, dengan situasi semua ini. Seperti itu semua telah direncanakan oleh seseorang dan Ariel membayangkan wajah menyeringai nya Dewa Jahat 'V'.
Yah ... meskipun aku menuduh dia, pasti dia hanya akan berkata, 'Sungguh kejam, sudah kebiasaanmu menuduh segala sesuatu yang menyulitkanmu selalu di salahkan kepadaku ... hiks~.' Dia menangis dengan air mata buaya. Em ... aku yakin bakal seperti itu.
Selama Ariel terus melamun seperti itu, Ronand memanggilnya dari belakang, “Hey, apa yang kau pikirkan?”
“Hem? Ah ... tidak ada apa-apa ....” ucap Ariel, sambil menggelengkan kepalanya.
“Apakah kau khawatir?” tanya Ronand, “Tenang saja~, Kau itu jenius. Kau mempunyai bakat di segala bidang, elegan, anggun, berwibawa, luwes, cantik dan aku juga tidak tahu sampai mana bakatmu akan berkembang, aku yakin kau dapat melewati semua itu dengan mudah.”
“Ya, aku juga sudah tahu.”
“....”
“....”
Ariel menjawab itu dengan lancar. Seolah air mengalir secara alami. Dan hal itu membuat ruangan itu menjadi hening seketika.
Ronand memasang muka masam. Dia menyesal telah memuji-muji Ariel untuk menenangkan dirinya. Sepertinya itu percuma saja telah mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Bersambung ....