
Saat ini. Di sebuah pinggiran kawah tempat Meteor itu mendarat.
Kini Ariel yang sedang menahan serangan dari Leon dengan menggunakan pedangnya, mulai perlahan bergerak mundur karena perbedaan kekuatan di antara mereka berdua.
Akan tetapi. Sebelum Ariel terdesak, dia segera membentuk kuda-kuda dalam pertahanannya dan bersiap untuk melancarkan serangan kepada Leon yang saat ini menyeringai dengan kemenangannya.
“Teknik petapa Naga. Gaya ke Sembilan. [ Dragon Roar! ]”
Hingga segera setelah itu, Hembusan angin yang begitu kuat, disertai dengan suara yang memekikkan telinga, bergemuruh di dalam kawah itu.
“Kuh!”
Leon yang tidak tahan, segera melompat dan menjauhi Ariel dengan tatapan kesal, sambil menyumbat telinganya.
Akan tetapi, Ariel tak melepaskan Leon. Dia segera menerjang Leon sebelum dirinya pulih kembali dan melancarkan serangan kedua.
“Teknik petepa Naga. Gaya ke Tujuh. [ Dragon Claw! ]”
Kini sebelah tangan kanan Ariel seolah terbungkus dengan aura yang berbentuk seperti cakar naga dan segera mengarahkan nya kepada Leon.
Leon yang menyadari akan bahaya yang sedang mendekat, dia dengan cepat melompat dan menghindari serangan itu.
Duarrrrrrrr ... !
Ledakan terjadi di tempat Leon beberapa saat yang lalu berada.
“Ck!” Ariel mendecakkan lidahnya dengan kesal. Berdiri di atas tanah yang berbentuk seperti bekas dari cakaran seekor naga yang sangat besar.
Leon yang memperhatikan selama ini mulai berbicara, “Jurus itu ... jadi kau juga muridnya Ronand?”
Mendengar hal itu, Ariel tak menjawabnya sama sekali. Dia hanya fokus pada pertarungannya sambil mencari cara untuk mengalahkan Leon.
“Kudengar Ronand melatih semua anaknya Anastasius. Jika hal itu benar. Maka ... apakah kau Titania? ... tidak! Melihat dari bentuk tubuhmu yang masih anak kecil, maka ... Louise?, Yukina?, Atau mungkin Ruby?” Leon menebak-nebak dengan santai.
Seolah dirinya tidak merasa waspada sama sekali. Mendengar hal itu, Ariel mendengus dengan senyuman mengejek.
“Hmph! Kau bahkan mengetahui sampai hal sepeti itu. Apakah kau adalah maniak seorang anak perempuan atau sesuatu? ”
Mendengar hal itu, Leon mengerutkan alisnya dengan kesal.
“Informasi adalah segalanya. Sesuatu seepeti itu sangat mudah untuk di dapat oleh orang sepertiku ....”
__ADS_1
Leon saat ini menggali ingatan yang telah didapat dari Oscar yang telah dia bunuh sebelumnya.
“Hm hm,” Leon mengangguk, “Jadi kau adalah Louise Albion. Putri ke empat dan juga anaknya Sharon ... Kebetulan sekali. Alasanku untuk segera membunuhmu semakin meningkat. Ahhh~ aku sangat membenci Vampire.”
Dengan dendamnya terhadap Lydia, setiap kali dia mendengar tentang Vampire, perasaan dia selalu menjadi begitu lebih buruk. Berharap dirinya dapat membasmi semua Vampire dari dunia ini.
Ariel yang mendengar hal itu, secara tidak sadar alisnya berkedut karena terkejut.
Bagaimana dia bisa mengetahui nya semudah itu? Seharusnya beberapa saat yg lalu dia masih belum mengenaliku ....
“Aku mengetahui sedikit informasi tentangmu,Loh~ Kau adalah murid kesayangannya Ronand. Pantas saja kau begitu kuat.” ungkap Leon. “Bagaimana reaksinya,yah~Jika aku membunuhmu saat ini Dan saat dia melihat mayatmu ... aku sangat menantikan hal itu. ”
Leon menyeringai dengan dalam. Menatap Ariel seperti seekor buruan yang bisa di mangsa kapan saja.
“Hmph! Coba saja jika kau mampu!” Ariel mendengaus dan menyiapkan padangnya untuk melanjutkan pertarungan.
“Hahaha ... akan sangat mudah membunuhmu kapan saja.” Leon tertawa terbahak-bahak dan segera mengepalkan tinjunya sambil mengumpulkan energi. “Contohnya seperti ini!”
Ariel merasakan bahaya yang akan mendekat. Dan segera menyiapkan diri dengan waspada.
“Percuma saja!”
Setelah mengatakan hal itu, tanpa di duga Ariel, Leon sudah berada di hadapannya dalam sekejap. Dan pada detik itu juga, Ariel merasakan sebuah pukulan yang sangat menyakitkan di bagian perutnya.
Blam! ....
“Guhok!” Ariel menyemburkan darah dengan ekspresi kesakitan dan segera terpental jauh ke belakang sambil bertabrakan dengan bebatuan dan juga tanah dengan kecepatan yang luar biasa.
Dan akhirnya dia berhenti. Dikarenakan dia telah menabrak sebuah batu meteorit yang ukurannya sangat besar di tengah-tengah kawah itu.
“Nghhh .... ” Dia mengerang kesakitan dan juga panas yang di hasilkan oleh batu meteorit itu sangat menyengat bagi Ariel.
Meskipun dalam keadaan yang terluka, dia segera melantunkan mantra Sihir dengan terburu-buru.
“Udara dingin menyapu dari surga, gunakanlah karuniamu dan tutupi dunia ini dengan es! [ Frost Nova ]”
Pada detik itu juga, udara dingin muncul dari telapak tangan Ariel dan segera menyapu bagian depan lingkungan tempat Ariel berada menjadi lapangan es dalam sekejap.
Meskipun itu seharusnya Sihir serangan yang membekukan dalam radius sekitar Seratus meter di hadapan Ariel. Akan tetapi, dia tidak menguasai Sihir yang lainnya untuk membantu dirinya dalam situasi seperti ini.
Yang terpenting, itu cukup untuk membuat Ariel merasa lebih baik dengan sengatan panas dari sisa meteorit yang terbakar.
__ADS_1
Ariel segera mengeluarkan diri dari bongkahan batu itu dengan tertatih-tatih.
“Ugh .... ” Ariel memegangi perutnya dengan ekspresi kesakitan yang terlihat di wajahnya. Untung saja dia telah melatih tubuhnya untuk lebih kuat beberapa tahun ini.
Jika tidak, mungkin dia telah mati di tempat dalam seketika menerima pukulan itu.
Pada saat yang sama ketika Ariel berusaha berdiri, beberapa orang muncul di tempat itu dalam seketika dan membuat Ariel tersentak karena terkejut.
“Hah! ”
Chizuru beserta tiga pahlawan lainnya tiba menggunakan teleportasi tepat di hadapan Ariel yang kini dalam keadaan tengah terluka parah.
Saking terkejutnya Ariel, dia bahkan hampir terjatuh ke belakang. Akan tetapi, seorang pria dengan cepat menahan Ariel kedalam pelukannya agar tidak terjatuh.
“Oh! Apakah anda tidak apa-apa, Nona cantik! ” ucap pria itu.
Dia merangkul pinggang Ariel sambil mendekatkan wajahnya dengan senyumannya yang mempesona.
Ariel hanya berwajah datar dengan keadaan itu dan segera menendang sesuatu di antara kedua kaki pria itu dengan keras.
Buk!
“Ah ~” Entah mengapa, pria itu mengerang dengan suara yang aneh.
Orang lain yang melihat hal itu hanya membuat ekspresi mengernyit dan terlihat seperti telah memakan sesuatu yang asam dengan ngilu.
Terlihat dari pria yang satunya lagi sedang menonton. Dia secara tidak sadar menyentuh sesuatu di bawah tubuhnya sambil merapatkan kedua kakinya dengan ekspresi yang sama.
***
Leon yang sedang mengintai Ariel dan juga para pahlawan dari kejauhan. Dia menatap mereka sambil menyembunyikan sosok dan hawa keberadaannya agar tak terlihat.
“Rupanya mereka juga datang ke tempat ini .... ” gumam Leon sambil menghela napas.
Akan tetapi, tak ku sangka dia masih hidup setelah menerima seranganku dengan sekuat tenaga ....
Leon merenung untuk beberapa saat.
Yah... biarlah! Aku hanya perlu menyerangnya kembali.
Hingga setelah itu, diapun keluar dari tempat persembunyiannya dan berjalan menuju arah tempat mereka berada sambil mengubah penampilannya kembali ke dalam bentuk manusia yang bernama Leon.
__ADS_1
Bersambung ....