
Di suatu tempat.
Sesuatu yang cukup besar keluar dari sebuah portal yang terbentuk di tempat itu.
Brank!
Banda itu terjatuh ke permukaan lantai dengan suara keras. Sudah pasti, benda itu cukup berat dan juga keras untuk membuat suara seprti itu.
Itu adalah Iron Maiden yang dipakai oleh Ariel sebelumnya. Dan hingga sesaat kemudian, Leopold pun menyusul keluar dari portal itu sambil membawa pedang dan juga Leonardo yang saat ini sedang pingsan di tangan kirinya.
Brug!
“Kuh. Sepertinya aku terlalu banyak menggunakan energi sihir ....” ucap Leopold sambil menjatuhkan Leonardo dengan kasar ke suatu tempat.
Setelah dia meninggalkan tempat pertarungan dirinya dengan Ariel, dia segera tiba di tempat Leonardo yang sedang pingsan.
Dan berkat hal itu pula, dia mengatahui cara kerja dari pedang penyatat ruang milik Ariel. Yang hanya perlu Leopold lakukan hanyalah memikirkan tempat yang akan di tuju sambil mengalirkan energi sihir padanya.
“Hah?! Tuan?”
Hingga tidak lama Leopold berada di sana, seorang anak lelaki sekitar usia dua belas tahun muncul dengan ekspresi terkejut.
Dengan pakaian yang lusuh dan terdapat sisa luka di beberapa tempat bagian tubuhnya. Dan yang paling mencolok dari semua itu adalah sebuah kalung yang terbuat dari besi yang menutupi sebagian dari lehernya.
Dan tentu saja. Itu adalah kalung perbudakan. Hal seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di wilayah iblis.
Meskipun dalam penampilan seperti itu, dia datang seolah itu adalah hal yang biasa baginya.
Setelah dia mendengar suara keras dari ruangan itu, dia segera lari dan mengecek keadaan dengan tergesa-gesa.
Leopold segera melirik ke arah suara itu, “Ah ... Alfons. Bawa Leonardo ke kamarnya dan rawat lukanya!”
“B-baik, Tuan!” Meskipun Alfons masih dalam kebingungan tentang situasi ini, tetapi di menurut dan segera mengangkat Leonardo yang pingsan dengan tubuh kecilnya itu.
Yang membuat Alfons penasaran adalah dia melihat Iron Maiden yang ukurannya cukup besar menempati hampir dari seperempat ruangan itu dan membuat ruangan itu terasa sesak.
Iron Maiden?! Bagaimana benda seperti itu berada di tempat ini?
Untuk sekilas, dia menatap Iron Maiden itu dengan tajam dan segera membawa Leonardo untuk perawatan.
.
.
__ADS_1
.
Hingga untuk beberapa saat telah berlalu.
Setelah Alfons membawa Leonardo dan memberikan perawatan pertama, dia segera kembali ke tempat sebelumnya dan masih melihat Leopold sedang menatap Iron Maiden itu sambil mengerutkan keningnya.
“Tuan. Saya telah melaksanakan apa yang telah diperintahkan.” Alfons memanggil, sambil menunduk, “Beliau tidak mengalami luka yang terlalu serius. Hanya tinggal menunggu waktu untuk beliau kembali sadarkan diri.”
“Ya ....” Leopold tak menoleh sedikitpun. Dari tadi, dia terus manatap Iron Maiden itu sambil berpikir.
Setelah itu, Alfons tak berani bertanya dan hanya menunggu di sisi ruangan.
Hingga beberapa saat kemudian, Leopold mendecakkan lidahnya sambil memukul Iron Maiden itu dengan kesal.
Bam!
“Ck! Sial! Bagaimana anak itu bisa membuat benda semacam ini?”
Saat ketika Alfons sedang merawat Leonardo. Leopold selama ini terus mencari cara untuk membuka Iron Maiden itu.
Akan tetapi, Semua cara yang telah di lakukan telah gagal dan pintu ganda yang ada di depannya itu masih tertutup rapat dan tidak ada bekas kerusakan sama sekali, meskipun Leopold pernah menyerangnya beberapa kali dengan sekuat tenaga untuk membukanya.
Alasan dia ingin segera membuka Iron Maiden itu, karena dia ingin segera bersatu kembali degan klon yang berada di dalam sana.
Hingga beberapa saat kemudian, dia akhirnya menyerah dan segera berbalik dan menatap Alfons.
“Aku hampir lupa. Kalau tidak salah, kau cukup pandai dalam hal meneliti,” ucap Leopold, sambil mengingat-ngingat kembali, “Coba kau periksa benda ini dan cari tahu cara untuk membukanya!”
Meskipun mendapat permintaan yang semena-mena darinya, Alfons hanya menurutinya dengan sabar sambil mendekati Iron Maiden itu.
Hingga setelah Alfons mencapai Iron Maiden itu, dia pun langsung menyentuhnya sambil memejamkan matanya untuk beberapa saat.
Ketika Alfons membuka matanya kembali, Leopold pun bertanya dengan tidak sabar, “Jadi? Apakah kau mengetahui sesuatu?”
Sungguh keterlaluan, jika seseorang yang meminta tolong berperilaku seperti itu. Akan tetapi, apa yang bisa dilakukan oleh Alfons? Dia tidak bisa berperilaku dengan bebas dan tak bisa melawannya berkat benda yang mengekang di lehernya itu.
Yang bisa Alfons lakukan hanyalah bersabar dan mengikuti apa yang di perintahkan nya.
“Sepertinya benda ini masih terdapat energi sihir di dalamnya.” ucap Alfons, “Kemungkinan, itulah masalah utama mengapa pintu ini tak bisa dibuka ....”
“Energi sihir, heeeh ...” gumam Leopold dan langsung menoleh ke arah Alfons, “Lalu, adakah cara lain untuk membukanya?”
Alfons pun menjawabnya dengan sedikit ragu, “Benda ini sedang berfungsi dan terus menguras cadangan energi sihir di dalamnya. Mungkin sekitar besok siang, energi sihirnya akan terkuras habis sepenuhnya dan mungkin pintu ini akan terbuka dengan lebih mudah setelahnya ....”
__ADS_1
“Besok siang, kah ... mungkin bisa menunggu ....” Leopold pun memutuskan.
Dia yakin, dirinya yang satunya lagi akan baik-baik saja di dalam sana. Dan itulah yang dia pikirkan. Dia tidak tahu, hal mengerikan apa yang dialami oleh dirinya yang satunya lagi.
“Baiklah!” Leopold menegakkan tubuhnya dengan lebih santai, “Kalau begitu, aku ingin melihat hasil jarahan yang di dapat dari anak itu ....”
Leopold mengambil sebuah tas penyimpanan ruang yang telah diambil dari Ariel dan segera merogoh isi dalam tas itu.
Dan hal pertama yang dia ambil adalah sebuah kain yang berbentuk seperti segitiga dengan berhiaskan bunga-bunga dengan warna merah muda.
“Hah?!”
Leopold terkejut. Karena hal pertama yang dia ambil dari tas itu adalah pakaian yang sering dipakai oleh para wanita di bagaian dalam bajunya.
Dan yang lebih penting lagi. Leopold ingat, bahwa tubuh Ariel masih terlalu kecil untuk menggunakan ukuran yang sebesar ini.
Leopold pun penasaran. Entah milik siapa. Tetapi, siapapun yang mempunyai ini, dia cukup berani untuk memilikinya.
Apakah orang yang mempunyai benda ini mau menggoda seseorang atau seperti itu ...? Yah ... biarlah.
Untuk beberapa saat Leopold memikirkan hal itu, dia segera membuang benda itu ke samping dan merogoh tas itu kembali untuk yang kedua kalinya.
Dan kali ini dia mendapatkan sebuah buku.
Leopold kesal dengan itu, “Mengapa benda-benda yang ku ambil selalu tidak berguna?”
Pada saat yang sama, ketika Leopold menggerutu seperti itu, energi sihirnya pun hampir habis dan dia saat ini dalam tengah kelelahan, setelah mengalami kejadian yang sangat panjang yang baru dia alami setalah sekian lama.
Akhirnya Leopold pun melempar buku dan tas itu ke tangan Alfons, “Kau! Keluarkan semua barang yang ada di dalam tas itu! Selagi aku beristirahat dan memulihkan diri.”
Mau bagaimana lagi. Untuk mengambil barang dari dalam tas penyimpanan itu memerlukan energi sihir yang cukup untuk menggunakannya.
Dan kini, Leopold menyerahkan semuanya kepada Alfons dan pergi.
Dan dia tidak tahu. Justru hal itu adalah hal yang terburuk bagi dirinya yang seharusnya tidak pernah dia lakukan.
Alfons melihat judul buku itu. Itu adalah sebuah buku harian dan di sampulnya terdapat nama yang sangat familiar bagi dirinya.
'Ariel'
“...?!”
Setalah melihat hal itu, Alfons memiringkan kepalanya sambil menatap buku itu dengan penasaran.
__ADS_1
Bersambung ....