Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 73 _ Kedatangan Anastasius dan Ronand


__ADS_3

Saat ini. Anastasius bersama Ronand sedang melayang di udara. Sepasang sayap naga mereka, tumbuh di belakang tubuh yang masih dalam bentuk humanoid mereka.


Dapat di lihat, bahwa pengendalian transformasi mereka dalam menggunakan bentuk naga sudah di tingkat yang berbeda.


“Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat .... ” gumam Ronand.


Saat ini, mereka menatap sebuah Meteor yang sangat besar dan menabrak permukaan bumi pada saat itu juga.


Duaaarrrrrr ... !


Ledakan yang dahsyat, terdengar sangat keras. Bahkan di tempat yang cukup jauh dengan lokasi Meteor itu terjatuh, mereka berdua merasakan dampaknya.


Hewan-hewan yang berlarian dan beterbangan dengan panik di sebuah hutan, tepat di bawah mereka, yang saat ini sedang terbang.


“Awas! Itu akan datang! ” Anastasius menatap ke sebuah hembusan angin yang berdebu datang ke arah mereka.


Wuuuussshhh ... !


Mereka tidak melakukan apa-apa. Selain menutupi pandangan mereka agar tidak kemasukan debu.


“Luar biasa ... bahkan dampaknya sampai ke tempat ini juga. ” Ronand bergumam kagum.


“Bukan saatnya untuk itu! Terlebih penting lagi, bagaimana dengan situasi di depan sana? ” Anastasius membentak Ronand, sedikit ada perasaan cemas di wajahnya.


“Oh! Apakah kau mengkhawatirkan anak itu?” ujar Ronand, menggoda.


“Hentikan omong kosongmu itu! Aku hanya tak ingin mengalami kerugian besar pada perang ini. ”


“Begitukah?” Ronand mengangkat alisnya,tak percaya. “Menurutku kau harus lebih jujur dengan perasaanmu sendiri.”


Setelah mendengar hal itu, Anastasius tak bisa berkata-kata lagi dan menghela napas dengan lelah.


“Terserah apa katamu. Daripada itu, ayo kita lebih mempercepat perjalanan kita. Aku ingin tahu, sebenarnya apa yang telah terjadi.” Anastasius merenung.


Ronand pun mengangguk setuju. Dia pikir fenomena seperti itu, bukanlah hal yang bisa di lakukan sembarang orang. Dan dia tidak percaya, jika hal itu hanyalah di sebabkan Oleh alam semata.


Semua itu terlalu kebetulan, untuk di sebut sebagai Benca alam. Pasti ada dalang di balik semua ini.


Secara perlahan, dia tersenyum dengan gembira. Seolah dia akan menemukan mainan barunya.


Anastasius menyipitkan matanya menatap Ronand. Setelah melihat dia mengeluarkan ekspresi seperti itu.


“Jangan melakukan sesuatu yang aneh. Aku tidak ingin masalahku bertambah.”


“Eh? Apa yang kau bicarakan?” Ronand memalingkan muka, Pura-pura tidak tahu.


Anastasius hanya menghela napas dengan lelah. “ Sepertinya kau tidak akan mendengarkan ku ... ” Anastasius bergumam.


“Terserah lah! Ayo kita pergi! ”


Setelah mengatakan hal itu, Anastasius segera melesat dengan cepat menuju tempat pasukan Albion berada.


“H-hey! Tunggu! ” Ronand memanggil. Akan tetapi, dia tidak mendengarkannya sama sekali dan terus terbang tanpa berbalik.

__ADS_1


“Aish~ dasar anak kurang ajar .... ”


Ronand pun bergumam dan segera menyusul Anastasius yang kini sudah mulai menjauh dari dirinya.


***


Di tempat lain.


Felix yang saat ini menjadi pemimpin sementara untuk mengatur para pasukan.


Dia saat ini dalam suasana hati yang cemas. Menatap para pasukan yang kini sedang riuh dan tidak teratur.


Gawat, gawat, gawat, ....


Felix menatap sekeliling dengan cemas.


Dia berhasil mengambil situasi dalam kepanikan ini sebelumnya dan segera memerintahkan para pasukan untuk membuat sihir pelindung. Meskipun itu hanyalah sebagian yang mendengarkan,


Akan tetapi, mereka kini berhasil lolos dari dampak terjatuh nya Meteor itu. Meskipun kini dia sedang kebingungan untuk mengatur semua ini.


Kebanyakan dari pasukan, kini kehilangan kewarasan mereka. Meskipun orang-orang yang telah membantu Felix untuk membuat sihir pelindung juga mengalami trauma yang cukup serius, meskipun merka dapat selamat dari situasi yang keterlaluan itu.


Felix pun memaklumi hal itu, karena dia juga salah satunya. Bahkan saat ini, tangan dia masih terasa gemetar.


Sebuah Meteor yang sangat besar menghantam tanah di depan mata kepala mereka sendiri. Menimbulkan Gempa yang sangat besar dan badai angin panas yang menyapu merka.


Meskipun tempat terjatuh nya cukup jauh dari tempat mereka saat ini. Akan tetapi, ada beberapa pasukan yang kehilangan nyawa mereka dan kebanyakan terkena luka bakar dan sejenisnya.


Mungkin semuanya binasa ....


Felix dapat melihat. Di tempat Meteor itu mendarat. Ada cahaya Oranye ke merahan yang menerangi tempat itu.


Felix tak melihat kemungkinan ada orang yang selamat dari tempat itu.


Hingga beberapa saat Felix merenung. Dia mendapat suatu panggilan dari belakang dirinya


“Felix! ”


“Uh!” Felix terkejut, dan menyiapkan posisi bertarung. Akan tetapi, di segera merilekskan tumbuhnya dan segera menunduk dengan hormat.


“Permintaan maaf saya, Yang Mulia. Saya tidak tahu bahwa anda akan datang. ”


“Terserahlah! Yang lebih penting lagi, cepat berdiri dan ceritakan situasinya kepadaku! ”


“Baik!”


Felix pun segera berdiri dengan pelan. Dan saat itu juga, Ronand pun datang dari udara dan mendapatkan dirinya di tempat mereka berada.


Melihat kedatangan Anastasius dan juga Ronand di tempat itu, membuat para kesatria di sana, kini seolah sorot mata mereka kembali hidup.


“Ohhhhh ... !”


Mereka bersorak dengan kedatangan mereka. Sekarang kini mereka dipastikan akan aman. Tidak khawatir lagi dengan Meteor susulan atau apapun lagi yang mengancam nyawa mereka.

__ADS_1


Akan tetapi, Anastasius membuat raut wajah tidak senang. Dia tidak suka dengan kebisingan yang gaduh.


Felix yang menyadari hal itu, segera memerintahkan para pasukan untuk diam. Dan hal itu manjur, setelah Anastasius menatap mereka dengan dingin.


Dalam sekejap, tempat itu kembali menjadi sunyi kembali.


“Anu ... sebelum itu, mari kita membicarakannya di tempat yang lebih nyaman .... ” Felix mengusulkan dengan senyuman.


“Mengapa?” Anastasius bertanya.


“Agar Yang Mulia dan Tuan Ronand bisa lebih santai. Dan juga ... ” Felix berhenti untuk sesaat. “Sepertinya ini akan menjadi pembicaraan yang rahasia .... ”


“Heehh! Rahasia, kah ...” ucap Ronand dengan tertarik. “Hey! Anastasius. Mari kita istirahat sebentar sambil mendengarkan cerita. Lagipula aku ingin sedikit bersantai setelah perjalanan panjang. ”


Anastasius tak menoleh kepada Ronand, seolah tak mendengarkan.


“Baiklah.Kita akan pindah tempat.” ucap Anastasius, sambil berjalan.


“Hey! Apakah kau mengabaikanku! Hey! Hey! Hey! ”


Ronand terus memanggil. Akan tetapi, Anastasius terus melanjutkan untuk berjalan tanpa menoleh kepadanya.


“Hey! Kau akan di kutuk menjadi batu jika tak mendengarkanku!” teriak Ronand. Kedua kalinya dirinya tinggalkan lagi.


.


.


.


Setelah beberapa saat waktu berlalu, Kini mereka tiba di sebuah tenda.


Meraka duduk saling berhadapan, untuk memudahkan mereka untuk berbicara.


“Jadi. Katakan informasi kepadaku, semenjak kau mengirimkan informasi itu yang terakhir kalinya.” ucap Anastasius.


Akan tetapi, sebelum Felix menjawab, Ronand menyela, “Hey! Daripada itu. Siapa yang telah menjatuhkan Meteor itu! Aku yakin, perbuatan itu dilakukan oleh seseorang. Apakah kau tahu sesuatu?”


Felix menoleh kepada Anastasius untuk untuk beberapa saat.


“Jawab saja! ”


Setelah mengatakan hal itu, Felix mengangguk dan merenung bentuk beberapa saat.


Hingga beberapa saat kemudian, dia mengatakan nya dengan ragu, “Orang yang telah menyebabkan semua kekacauan ini adalah Putri Louise ... beliaulah orang yang telah memanggil Meteor itu ke dalam medan perang ini .... ”


Setelah Felix mengatakan hal itu. Ekspresi mereka berdua sangat bertentangan.


Ronand yang menyeringai dengan lebar. Sementara Anastasius memijat keningnya sendiri dengan ekspresi lelah.


Tak mengira, bahwa keluarga mereka sendirilah biang keladinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2