
Dua hari telah berlalu semenjak Ariel dan juga Daisy memasuki wilayah Delyth.
Saat ini mereka telah menginap di penginapan yang jaraknya paling dekat dengan Akademi.
Tentu saja. Banyak orang yang bermaksud mendaftarkan diri untuk masuk ke Akademi. Pada awalnya, setiap penginapan yang mereka jumpai, selalu penuh dan tidak ada tempat tersisa untuk mereka meskipun mereka sudah berkeliling untuk mencari penginapan.
Ditambah dengan cuaca dingin yang masih terasa, mereka ingin segera cepat-cepat menemukan tempat untuk menghangatkan diri.
Ariel sebenarnya tidak keberatan untuk mencari penginapan yang sederhana dan juga agak jauh dari Akademi. Tetapi itu segera ditentang oleh Daisy. Menurutnya, Ariel adalah seorang Putri. Mana mungkin Daisy membiarkannya untuk tinggal di tempat seperti itu.
Ariel yang terus-menerus mendapatkan omelan dari Daisy, akhirnya dia menyerah dan segera menuju penginapan termewah yang paling dekat dengan Akademi.
Resepsionis mengatakan bahwa tidak ada kamar yang kosong. Tetapi setelah Ariel menunjukkan kepingan emas yang cukup banyak, mata resepsionis itu segera berbinar dan langsung menyuruh orang untuk mengantar mereka dan barang-barang bawaannya ke kamar.
Benar apa yang dikatakan oleh seseorang, 'Ada fulus, semua mulus~'. Itulah yang Ariel alami saat itu.
Dan pada keesokan pagi harinya. Ariel berencana untuk pergi ke tempat pendaftaran tes masuk Akademi.
Ariel pergi seorang diri. Dia menyuruh Daisy untuk melakukan sesuatu yang lain, sebenarnya itu hanyalah alasan agar Ariel bisa pergi sendirian.
Daisy begitu lengket sampai-sampai Ariel kesulitan untuk bisa berpisah dengannya. Dia memerlukan waktu untuk sendirian. Tujuannya karena ada sesuatu yang ingin dia coba tanpa sepengetahuan orang lain.
Tapi yang pertama-tama, dia perlu mendaftar terlebih dahulu sebelum pendaftarannya ditutup. Waktunya sangat mepet karena hari esok adalah hari terakhir pendaftarannya dibuka.
Ketika Ariel mendaftarkan dirinya. Dia perlu mengisi semua yang diperlukan di dalam sebuah formulir. Seperti nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, dan yang paling penting dari semua itu adalah tanda tangan bahwa orang yang mendaftar tidak akan pernah menuntut pihak Akademi apapun yang terjadi pada orang yang mendaftar.
Ariel sedikit curiga, tetapi dia tak peduli. Ketika Ariel menyerahkan formulir itu, orang itu kaget setelah melihat nama Louise Albion. Dia menatap bolak-balik antar Ariel dan juga formulir itu beberapa kali.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah penanggung jawab pendaftaran itu membaca semua formulirnya, Dia menghela napas dan memandang Ariel.
“Formulirnya diisi dengan baik. Tetapi ... saya akan memastikan untuk yang terakhir kalinya,” Setelah mengatakan hal itu, dia berbicara dengan ragu, “ ... apakah anda memang benar-benar, Louise Albion ... ?”
“Hm?” Ariel memiringkan kepalanya, “... Jika memang anda tidak percaya, anggap saja saya mempunyai nama yang sama dengan orang tersebut.” jawab Ariel, sambil tersenyum ramah.
Dia tak peduli jika dia dianggap palsu atau apapun itu. Tetapi, Ariel sedikit melepas auranya untuk beberapa detik dan membuat orang itu segera tersentak dengan ekspresi terkejut yang terlukis di wajahnya.
Dengan memberitahukan bahwa dirinya mempunyai aura sebesar itu, setidaknya itu menunjukkan bahwa dirinya bukanlah orang biasa, terlepas dari apakah dirinya Louse Albion asli ataupun palsu.
__ADS_1
“Baiklah. Jika memang tidak ada yang perlu lagi saya lakukan, kalau begitu saya pamit undur diri.”
Setelah mengatakan hal itu, Ariel keluar dari tempat pendaftaran itu dengan santai. Ketika dia akan keluar dari pintu, dari sudut matanya, dia melihat orang itu berlari ke suatu tempat dengan tergesa-gesa.
Hmm ... aku punya firasat buruk ....
Pikir Ariel dalam hati. Tetapi dia segera melanjutkan perjalanannya dan membiarkan pikirannya itu menghilang begitu saja. Dia tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak pasti dan membuat pikirannya terganggu dengan pikiran-pikiran yang tidak perlu.
Yang pasti, Ariel berpikir bahwa dirinya akan menjalani kehidupan ini sesuai apa yang dia inginkan dan mulus seperti air mengalir.
Meskipun itu tidak sesuai dengan apa yang di harapkan nya dan kehidupan mulus bagai air mengalir itu tanpa Ariel ketahui di masa depan akan berubah menjadi aliran air deras dan berliku-liku.
.
.
.
Beberapa waktu telah berlalu.
Ariel saat ini sedang berjalan-jalan di jalan Ibu Kota sambil memakan jajanan yang dia beli di toko-toko pinggir jalan sambil mencari informasi.
Tetapi Ariel mengetahui sesuatu setalah mengumpulkan informasi. Untung saja dia menyuruh Daisy untuk tidak terlalu sering untuk keluar dari kamar penginapan nya sebelum semuanya pasti bahwa Ibu kota ini aman ataukah tidak sesuai dengan rumor yang beredar.
Dan kini dia tahu harus bersikap seperti apa untuk menyesuaikan dengan Negara ini agar tidak terlibat dengan berbagai masalah.
Hingga Ariel memikirkan seperti itu, dia melihat keramaian di depan dengan banyak orang yang berkumpul seolah sedang melihat pertunjukkan.
“Hm? Apa yang terjadi ....” ucap Ariel dan berjalan mendekat keramaian itu dengan penasaran.
“Apa yang semua orang lihat, Tuan?” Ariel bertanya kepada seseorang dambil menarik bajunya.
“Oh?! Ahh ... itu hanya kejadian biasa saat orang yang tidak tahu apa-apa datang ke Ibu kota ini.”
“Apa maksudnya?” tanya Ariel kebingungan. Tetapi dia punya firasat bahwa itu adalah sesuatu yang ada dalam pikiran Ariel saat ini.
Karena penasaran, Ariel menyelinap melalui orang-orang dan berhasil sampai di barisan terdepan kerumunan.
__ADS_1
“Hm?!”
Ariel terkejut. Dia melihat orang yang Ariel kenal beberapa hari yang lalu ketika dia akan memasuki ibu kota Delyth.
Kalau tidak salah namanya ....
“Darren?”
“...?!”
Setelah Ariel menggumamkan nama itu, mereka saling bertatap muka satu sama lain.
Dan pada saat yang sama, dia mendengarkan percakapan orang-orang di sampingnya.
“Apakah kamu dengar? Dia kalah berjudi dan langsung kabur setelah memiliki banyak hutang.”
“Oh?! Yang aku dengar dia masuk ke salah satu rumah dan membunuh suami dan anak keluarga itu, dan bahkan mempermainkan istrinya hingga wanita itu dipenuhi banyak luka di sekujur tubuhnya.”
“Apakah itu benar? Ih~ menyeramkan ....”
Ariel yang sedang mendengarkan hal itu, Dia melihat Darren memberontak saat di tahan oleh para penjaga.
Dia berhasil melepaskan diri dan berlari ke arah Ariel dengan tergesa-gesa.
“Hah! Dia kabur!”
“Kyaaa~”
“Dia menuju ke sini!”
Orang-orang berteriak dan juga panik saat melihat Darren berlari mendekat.
Hanya Ariel yang tetap di tempat dengan tenang. Dia tak melakukan pergerakan untuk berlari. Dia hanya berdiam diri dengan raut wajah yang bosan seolah tidak merasakan takut sama sekali.
Sreeeettt!
Darren langsung berdiri di belakang Ariel sambil mengeluarkan belati dari balik bajunya dan mengarahkan belati itu ke leher Ariel dan berteriak.
__ADS_1
“Semuanya, jangan bergerak!!!”
Bersambung ....