Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 92 _ Sekarat


__ADS_3

Kita mundur beberapa waktu ke belakang.


Saat ketika Leopold berusaha keras untuk dapat melepaskan diri dari tarikan rantai itu. Dia mendapatkan kesimpulan, bahwa dirinya tak akan bisa meloloskan diri dari hal itu.


Tidak ada pilihan lain.


Leopold segera menyemburkan api ke arah depan hingga Ariel tak dapat melihat sosoknya. Dan pada saat itu, sosok Leopold kemudian seperti terbelah dan membentuk dua sosok yang sama persis.


Meskipun yang satunya masih terjerat dengan rantai itu.


Itu adalah kloning. Kemampuan dari orang yang telah dia bunuh sebelumnya dan mendapatkan kemampuan nya itu menggunakan Skill Greed(Ketamakan).


Sebenarnya Leopold tidak berniat menggunakan kemampuan ini. Karena setiap kali dia menggunakan kemampuan ini, kekuatan dirinya juga akan terbagi dua dan membuatnya semakin melemah.


Dan yang paling buruk, dirinya tak bisa membedakan mana yang asli. Dan bahkan di beberapa titik, kedua klona kadang berbeda pendapat, meskipun itu terbuat dari orang yang sama.


Oleh karena itu, dia hanya nggunakan kemampuan ini hanya dalam keadaan terdesak.


Karena sudah tidak mungkin untuk menyelamatkan Leopold yang masih terjerat. Leopol yang satunya lagi segera pergi dan bersembunyi sambil nghilangkan hawa keberadaannya dengan sempurna.


Menunggu kesempatan dirinya akan muncul dan membalikkan keadaan.


Pada saat semburan api Leopold telah tersedot ke dalam, dia pun menyusul dan masuk tanpa bisa melawan tarikan yang luar biasa itu.


Kriiieeeetttt ... Brank!


Iron Maiden itu tertutup sepenuhnya dan yang Leopold rasakan di dalam, hanyalah kegelapan yang mencekam.


Dan entah mengapa, dia saat ini melayang di udara kosong. Seperti dirinya sedang berada di luar angkasa yang dia rasakan sebelumnya.


“Tak terjadi apapun?” Dia tak bertanya kepada seseorang secara khusus.


Dia hanya heran. Setelah dirinya telah memasuki benda yang menyeramkan itu, tak ada sesuatu pun yang terjadi.


“... , Apakah ini hanyalah sebuah penjara biasa ... Huh!”


Saat dirinya bergumam pada dirinya sendiri, tiba-tiba Leopold merasalan tekanan yang luar biasa.


Seluruh tubuhnya seolah diremas oleh sesuatu dan tidak bisa bergerak sedikitpun.


Krak ... !


krak ... !


Kretak!


“Argh! ”


Rasa linu yang luar biasa dapat Leopold rasakan. Tulangnya satu-persatu patah. Seolah bergerak ke suatu tempat.


Tulang rusuk yang bergeser dan menuju tepat ke tengah tubuh Leopold. Bahkan tangannya kini tak bisa digerakkan dengan bebas dan menempel seolah tersedot ke dalam dadanya.


“Sebenarnya apa yang terjadi?!” Leopold berteriak. Ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi sambil mengerang kesakitan.

__ADS_1


Bahkan kulitnya kini seolah membentuk sebuah pusaran dan apa yang Leopold lihat sangat mengejutkan dirinya.


Sebuah titik hitam terlihat dengan jelas tepat di tengah-tengah dada Leopold.


Dan pada saat itu juga, Leopold ingat. Rantai yang berkepala naga itu mengigit nya tepat di tempat titik itu berada sekarang.


Dan pada saat yang sama ketika Leopold memikirkan hal itu. Duri-duri panjang muncul entah darimana dan menusuknya dari segala arah.


Syung syung syung! ....


Sleb!


Sleb


Sleb!


“Aaaaaarrrrrrggggghhhh ... ! ”


Leopold menjerit dengan keras. Rasa sakit yang luar biasa dia rasakan. Bahkan lebih sakit dari sebuah tikaman pedang.


Syyuung! ....


Sleb!


“Arrggh!”


Syyuung! ....


Sleb!


Satu demi satu, duri tajam itu terus berdatangan, seolah hal itu disengaja dibuat seperti itu


Hingga pada saat yang sama letika Leopold terus mengalami kesengsaraan, dari sudut matanya, Leopold melihat sebuah gumpalan api yang bergerak menuju tepat ke arah dirinya berada.


Dengan sinar yang di hasilkan oleh api itu, bukan hanya itu yang datang menuju ke arahnya. Bebatuan, pepohonan dan sebagainya datang seolah tersedot menuju arah Leopold.


Itu adalah benda-benda yang tersedot kedalam tempat itu bersamaan dengan Leopold sebelumnya.


“Ahhhhh-l! Akan ku bunuh kau!” teriak Leopold, “Aku tak akan pernah melepaskanmu sampai ujung dunia sekalipun ... !”


Dengan tubuhnya yang kini setengah berbentuk, dia berteriak dengan keras, sebelum benda-benda itu menghantam dirinya dengan keras.


Blam... !


***


Sementara itu.


Di tempat Ariel dan klon Leopold yang satunya lagi.


Kini Ariel yang terluka parah, sedang berusaha untuk mempertahankan kesadarannya selama mungkin.


Akan tetapi, dengan darahnya yang keluar cukup banyak, hanya tinggal menunggu waktu untuk Ariel tak sadarkan diri dan sekarat.

__ADS_1


“Heeeh~ Bahkan kau dapat bertahan selama ini. Harus ku akui kau adalah anak yang luar biasa.” puji Leopold, “Jika dibiarkan untuk beberapa tahun ke depan. Mungkin kau akan menjadi ancaman yang sangat berbahaya bagiku.”


Sambil mengatakan hal itu, Leopold mengambil pedang penyayat ruang dan juga tas penyimpanan dimensi milik Ariel.


“Aku akan ambil ini sebagai hadiah pemenang dari pertempuran ini,” ucap Leopold, “Apakah ada kata-kata terkahir? ”


“....”


Ariel tak menjawab. Sebagai gantinya, Leopold segera menebas ke arah Ariel menggunakan pedang yang sebelumnya adalah miliknya.


Sungguh ironi bahwa pedang yang seharusnya digunakan untuk melindungi nya, justru kini digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.


Swwwooosh! ... Trink!


Pedang yang hampir mengenai leher Ariel, dihalau oleh Anastasius dengan menatap ke arah Leopold dengan dingin.


Anastasius segera menendang Leopold dan merangkul Ariel dan membawanya menjauh dari Leopold saat ini berada.


Sejak kapan?


Leopold merenung dengan bingung. Seharusnya dirinya dapat merasakan kedatangan Anastasius. Akan tetapi, dia hanya merasakan sesaat ketika Anastasius cukup dekat dengannya hingga berhasil menghalangi dirinya untuk membunuh Ariel.


Leopold curiga, bahwa alasan dirinya tak bisa merasakan kedatangan Anastasius , diakibatkan karena berkat dirinya yang telah membagi dua dirinya dan kini, dia hanya memiliki kurang dari setengah kekuatan yang dia miliki saat ini.


Bahkan untuk merasakan kehadiran seseorang pun sudah sangat sulit baginya untuk saat ini.


Sambil membawa Ariel di pelukannya, Anastasius melihat sekeliling, “Ayah! Dimana kau! ”


Anastasius memanggil Ayah nya, yaitu Ronand. Dengan sedikit nada kesal.


Hingga beberapa saat kemudian, Ronand mulai menampakan dirinya dari atas langit. “Aku disini.”


Ronand datang secara perlahan. Dan entah mengapa, dia membuat ekspresi seolah dia merasa bersalah dan sedikit memalingkan wajahnya.


Anastasius memperhatikan ekspresi wajah Ayahnya, dia menatapnya dengan dingin. “... ,Sepertinya kau tahu, dimana letak kesalahanmu.”


Leopold yang merasa situasi ini kurang menguntungkan untuknya. Dia segera menyayat udara sperti yang Ariel lakukan sebelumnya.


Untung saja itu berhasil, kemampuan ruang Chizuru, sudah tertanam di dalam pedang. Yang berarti, siapapun dengan mudah untuk memakainya selama dia mengalirkan energi sihir padanya.


Dengan kondisinya yang sekarang ini sedang lemah. Melawan Anastasius pun akan sulit baginya, apalagi untuk melawan Ronand.


Dia memutuskan untuk mundur kali ini. Leopold segera mengangkat Iron Maiden itu dan melemparkannya ke dalam portal.


Anastasius yang saat ini membawa Ariel, dia melihat Leopold yang akan segera melarikan diri. Dan dia segera menatap Ronand yang saat ini tidak ada niatan untuk melakukan pergerakan dan menghentikan nya sedikitpun.


“Kenapa tak mengejar?” tanya Anastasius dengan kesal.


“... , Ada yang lebih penting lagi yang harus kita khawatirkan,” ucap Ronand sambil melirik Ariel yang sedang sekarat. “Lagipula ... aku tak tertarik untuk merebut mangsa orang lain.”


Ronand merujuk pada Lydia yang selama ini mengincar Leopold. Daripada merebut mangsa buruan orang lain, dia lebih memilih untuk melakukan sesuatu terhadap Ariel yang saat ini terkulai lemas di pelukan Anastasius sebelum semuanya terlambat.


Dan membiarkan Leopold pergi dari tempat itu tanpa gangguan sedikitpun.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2