
Di ruang aula yang begitu luas.
Terdapat beberapa orang yang sedang berkumpul.Akan tetapi, sama sekali tidak ada orang yang berbicara.
Ariel, Sharon, Anastasius, Ronand, Chizuru, Yukio beserta Yukina yang saat ini tenggelam dalam keheningan yang membekukan.
Ratu yang lainnya tak peduli antara pertengkaran antara Anastasius dan Sharon dan memutuskan untuk pergi bersama para bangsawan meninggalkan aula.
Meskipun Yukina enggan meninggalkan ruangan itu karena dia sangat mengkhawatirkan kakaknya.
Berharap kakaknya yang paling dia sayangi dapat kembali dengan selamat. Sehingga, mau tidak mau, Yukio pun tetap tinggal bersama anaknya.
Chizuru yang telah mengantarkan Ariel.Merasakan suasananya yang begitu aneh ,diapun berbisik kepada Ariel dengan pelan untuk berpamitan.
Tidak mau terlibat lebih jauh dengan urusan anggota kerajaan yang begitu merepotkan baginya.
"Aku akan menemuimu besok siang. "
"Eh? Tu-tung-"ucap Ariel, berusaha menghentikannya, tetapi sudah terlambat.
Setelah kata-kata itu di ucapkan, Chizuru dengan cepat menghilang, meninggalkan Ariel yang menjadi pusat perhatian seorang diri.
Ronand yang bersiap-siap akan menangkap sang pahlawan, dia mengurungkan kembali niatnya setelah pahlawan itu kembali menghilang.
"Cih... anggap saja kamu beruntung untuk hari ini.... "gumam Ronand, telat beraksi.
Suasana canggung memenuhi ruangan dalam diam. Ariel yang tak tahan, dia menghadap mereka semua dan mulai berbicara untuk memulai percakapan.
" Ha-halo.... "sapa Ariel dengan senyum canggung.
".... "
Namun sapaan Ariel tak ada yang menjawab. Mereka semua terdiam untuk beberapa saat sebelum Sharon melepaskan cengkraman dari baju Anastasius dan mulai berlari dengan cepat menuju Ariel.
"Anakku~.... "teriak Sharon sambil setengah menangis.
"Tu-tunggu, stop, stop, stop, st-... ump"ucap Ariel, berusaha menghentikan Sharon yang sedang berlari ke arahnya dengan cepat.
Namun sudah terlambat. Sharon mendekap Ariel dengan erat menggunakan kedua lengannya sampai Ariel tak mampu bernafas.
" Anakku, anakku, anakku.... "Sharon terus menerus mengulangi panggilan itu dengan lega.
Hingga beberapa saat mereka berpelukan, Orang-orang yang berada di ruangan itu pun segera mengerumuni Ariel dengan penasaran.
" Sudahlah Sharon... lihatlah Dik Louise, dia dalam kerepotan dipeluk olehmu.... "tegur Yukio , dengan melihat Ariel dengan kasihan.
__ADS_1
" Apa yang kamu bicarakan! Anakku sangat suka dipeluk oleh ibunya seperti ini... "gerutu Sharon, " kalau tidak percaya, kamu bisa tanyakan sendiri kepada anakku! "ucap Sharon dengan percaya diri.
Dari mana asal kepercayaan dirinya itu!?
Teriak Ariel dalam hati.
" Benarkah? "ucap Yukio dengan ragu, " Dik Louise, apa pendapatmu? "
Ariel pun menjawab dengan terus terang, "Sejujurnya... bisakah ibu melepaskan saya? "ucap Ariel dengan senyum masam.
Segera setelah Ariel berkata begitu, Sharon tertegun sambil melepaskan Ariel solah-olah dia baru saja tersambar petir.
" Ti-tidak mungkin! Pasti kalian berkonspirasi sebelumnya terlebih dahulu dan ingin merebut anakku yang manis ini, Kan? "ucap Sharon, sambil kembali memeluk Ariel. Tak mau dipisahkan.
" Darimana asal pemikiranmu yang seperti itu? "komentar Yukio dengan terkejut. Tak menyangka, Sharon akan balik menuduhnya seperti itu.
Anastasius yang selama ini terdiam, dia membuka mulut dan berkata.
" Hentikan omong kosong kalian! Aku mulai muak mendengarnya. "ucap Anastasius dengan kesal. Setelah mendengarkan percakapan antara kedua istrinya yang tak bermutu.
" Berhentilah berbicara! Setiap kau berbicara membuatku kesal saja... grrr.... "ucap Sharon,mengeluarkan aura permusuhan dengan jelas terhadap Anastasius.
"..., Kau masih saja menyalahkanku? Kau sudah lihat sendiri, Kan?Bukan aku pelaku yang membawa anakmu. "ucap Anastasius dengan kesal.
Sharon memerintahkan Anastasius untuk pergi sambil melambai-lambaikan tangannya dengan acuh tak acuh.
"Kau ini.... "geram Anastasius dengan kesal,sambil mundur beberapa langkah.
" Sudah, sudah. Unt-"
"Kau juga diam! "potong Sharon sambil melirik Ronand.
"..., Baik! " ucap Ronand kembali menunduk dengan muram.
"Wanitamu itu sangat menyeramkan yah! Sama persis seperti ibumu.... " bisik Ronand kepada Anastasius.
"Kau saja yang terlalu penakut. " komentar Anastasius dengan datar.
"Hmp.Kau sendiri juga selalu menurut kepadanya. " dengus Ronand, tak Terima diejek oleh anaknya yang sama-sama terlihat menyedihkan sepertinya.
"Aku berbeda denganmu. Kalau saja aku tak lengah dan tak membiarkan Sharon untuk menggigit ku pada malam itu, aku tak akan seperti ini sekarang. " ucap Anastasius, sambil mengingat masa lalu.
Pada saat malam pertamanya Anastasius dengan Sharon.
Keesokan paginya anastasius baru menyadari bahwa ada bekas gigitan di lehernya saat dia terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Meskipun bekas gigitan seorang vampire biasa bukan masalah bagi Anastasius, tetapi yang semalaman bersamanya adalah Sharon.
Tidak dapat dimungkiri bahwa yang talah menggigit nya adalah Sharon. Dan Anastasius tahu apa artinya itu.
Meskipun dirinya bertambah kuat, tetapi seumur hidupnya tak dapat menentang perintah Sharon.
Keesokan paginya Anastasius mencari Sharon dengan kesal dan yang di katakan Sharon adalah, "Kamu juga telah meminum darahku. Aku menggigitmu hanya untuk memastikan saja~. "
Bahkan memikirkannya saat ini, Anastasius masih selalu teringat dengan senyum penuh kemenangan Sharon pada saat itu.
"Hmp.Kalau saja aku pilih Rosalie pada saat itu. " dengus Anastasius yang masih kesal membayangkan masa lalu.
"Hahaha... apa yang kau tanam, itu yang akan kau tuai. Siapa suruh kau memiliki begitu banyak wanita, kau membuatku ir-... ma-maksudku. Rasakan itu. "ucap Ronand, mengomentari keluhan anaknya.
" Aku akan memberitahu kan nya kepada ibu nanti. "ucap Anastasius dengan dingin.
" Jangan lakukan itu! Jika aku kena marah, kau juga akan terkena getahnya. "
"Kau kan salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis. mengapa harus takut pada wanita?" tanya Anastasius dengan heran.
"Aku lebih memilih pertarungan dengan monster yang kejam daripada harus bertengkar dengan wanita seperti ibumu. "jawab Ronand dengan malu.
" Kau mempermalukan nama Tujuh kekuatan Wilayah Iblis.... "gumam Anastasius sambil mendesah dengan lelah.
Anastasius bersama Ronand saling berbisik satu sama lain yang agak jauh dari tempat Ariel berada.
Yukio yang melihat situasi ini berkata, " Entah apa aku harus kagum atau kasihan kepada mereka berdua.... "gumam Yukio sambil melirik Anastasius bersama Ronand yang masih berbisik-bisik di tempat yang agak jauh dari mereka.
" Jadi anakku .Apakah yang mereka (Anastasius&Ronand)katakan itu benar bahwa kamu telah dibawa oleh Pahlawan? "ucap Sharon dengan penasaran.
" Iya, yang telah membawa Louise pergi dari pesta ini adalah sang Pahlawan. "Jawab Ariel dengan jujur.
" Pahlawan kah... lalu mengapa Pahlawan itu membawa dan mengembalikanmu kembali ke sini? "tanya Yukio yang saat ini berada di sisinya bertanya dengan penasaran.
" Benar juga, mengapa sang Pahlawan mau membawamu pergi? "Anastasius yang saat ini berada lebih jauh dari Sharon juga bertanya dengan penasaran.
Hmm... bagaimana aku harus menjawabnya. Tidak mungkin kan kalau aku juga mengaku bahwa aku juga seorang pahlawan....
Pikir Ariel dalam hati.
" Sebenarnya.... "
Ariel pun membuka mulut untuk menjelaskan semuanya kepada orang-orang yang berada di sana.
Bersambung....
__ADS_1