Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 69 _ Mimpi Buruk Mendekat!


__ADS_3

Ariel yang saat ini sedang duduk dengan santai, dia mengangguk dengan puas, setelah menyelesaikan persiapan sebuah alat yang berada di genggamannya itu.


“Baiklah. Sepertinya ini bisa bekerja dengan baik. ”


Felix yang selama ini penasaran dengan sebuah kotak yang selalu di pegang oleh Ariel, dia mulai memberanikan diri untuk bertanya, “Sebenarnya benda apa yang selalu Putri pegang itu ...? ”


“Oh! Kamu ingin tahu? Kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?” Ariel menoleh kepada Felix.


“Iya ... jika putri tidak keberatan.” jawab Felix. Karena menurutnya, mungkin hal ini dapat di jadikan sebagai laporan kepada Anastasius.


Alasannya karena semenjak pertama kali Felix melihat benda yang dibawa oleh Ariel, dia merasakan energi sihir yang luar biasa banyak yang terkumpul di dalamnya.


Meskipun sekarang dia tidak merasakannya lagi, semenjak Ariel mengotak-atik benda itu beberapa saat yang lalu.


“Yah ... singkatnya ini adalah alat yang mempunyai kekuatan gravitasi yang aku buat.” jawab Ariel. Dan hal itu membuat Felix teringat kembali.


Bahwa orang yang berada di hadapannya saat ini adalah murid kesayangannya Ronand. Salah satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis.


Tidak aneh jika dia menggunakan Skill Pride, yang mampu mengendalikan Gravitasi. Berkat Ronand yang mewariskan skill itu kepadanya.


Akan tetapi, hal yang membuat Felix merasa aneh adalah bahwa Ariel berkata, kekuatan Gravitasi di tanamkan ke dalam sebuah benda?


Meskipun itu adalah Skill dari seri Tujuh Dosa Besar. Akan tetapi, seharusnya cara menggunakannya tidak seperti itu. Bahkan yang Felix tahu, Ronand pun tidak bisa melakukan hal yang seperti itu.


Kini Felix dalam keadaan kebingungan. Akan tetapi, meskipun dirinya bertanya, sepertinya Ariel tidak akan memberitahu nya. Dia pun menyerah untuk mencari tahu. Dia hanya harus fokus kepada situasi saat ini.


“Jadi ... apa yang akan putri lakukan dengan kotak itu?” tanya Felix dengan penasaran.


Setalah mendengar kata-kata itu, Ariel menyeringai dengan gembira, seolah-olah dia mengharapkan seseorang untuk bertanya seperti itu.


“Kau juga akan mengetahuinya nanti.” ujar Ariel dengan tersenyum nakal.


Felix agak sedikit kecewa, dengan jawaban Ariel yang seperti itu.


Menyadari Felix yang berekspresi seperti itu, Ariel bergumam, “Mungkin sekarang sudah saatnya .... ”


Ariel menatap langit, sambil merenung untuk beberapa saat, sebelum dia mengumumkan. “Baiklah! Saatnya kita memulai!”


Hingga, segera setelah mengatakan hal itu, Kotak yang Ariel pegang, kini melayang di udara.

__ADS_1


“Waaah ... !” Daisy yang selama ini hanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua, dia mendongak kagum setelah kotak itu melayang di atas mereka.


“Terlalu awal untuk kagum.” ucap Ariel, dan hingga beberapa satu kemudian, benda itu terbang melesat ke suatu tempat dengan cepat.


“Eh! Hanya itu?” komentar Felix dengan kecewa, “Dan kemana kotak itu terbang? ”


Felix menatap ke arah kotak itu terbang sebelumnya yang kini sudah tidak terlihat.


“Sudah ku bilang, terlalu awal untuk kagum. Pertunjukan baru saja di mulai! ” Ariel menyeringai dengan percaya diri. Dan dia pun menatap isi cangkir tehnya yang sudah kosong.


“Daisy.Tambah! ” ucap Ariel, dan segera Daisy pun dengan cekatan mengisi cangkir teh itu , seolah itu adalah hal yang biasa.


“Emm ... putri .... ” Felix memanggil.


“Aku tahu apa yang ingin kau bicarakan. Bukankah kau melihat kotak itu terbang ke arah mana? ” tanya Ariel.


Felix pun menoleh ke arah kotak itu terbang sebelum nya dan bergumam, “Tempat itu .... ”


“Benar sekali. Bukankah tempat itu adalah tempat Oscar dan juga tentara musuh yang saat ini sedang konflik? Untuk saat ini, tugasku sudah selesai. Kita hanya perlu menunggu. ” ungkap Ariel, dan dia menyeruput cangkir tehnya dengan santai.


“Apa yang akan kita tunggu, Putri?” tanya Felix, malah semakin bingung.


Damai apanya! Kita lagi di dalam tengah-tengah peperangan!


Felix tergoda untuk berteriak seperti itu. Akan tetapi, dia menahannya dan menuruti Ariel sambil duduk dan bersantai. Karena perintah Anastasius adalah untuk menemani dan mengikuti arahan Ariel apapun yang terjadi, di samping misi utamanya yaitu untuk melaporkan apapun yang terjadi dalam perang ini. Karena menurut nya, perintah Anastasius adalah mutlak.


***


Sementara itu, di medan pertempuran.


Uooooooo .... !


Trank ... !


Trink ... !


Oscar terus mengayunkan pedangnya dan menumbangkan satu-demi satu tentara dari pihak musuh.


Meskipun tentara dari pihak Albion mempunyai kemampuan yang cukup kuat, akan tetapi, dengan perbedaan jumlah yang terlalu jauh, mereka terus melawan seolah tentara musuh tidak ada habisnya.

__ADS_1


Di tambah, Oscar saat ini melihat komandan musuh, yaitu Leon yang sedang menatapnya dengan seringai mencela.


Sial! Sial! Sial! Aku tidak pernah di permalukan hingga seperti ini dalam hidupku.


Sambil terus bertarung, Oscar menggertakkan giginya dengan kesal.


Rencana yang selama ini dia susun dengan rapi, justru kini mereka malah terkepung oleh pihak musuh.


Mereka saat ini seolah gerombolan semut di atas daun yang mengambang di tengah genangan air yang luas. Tidak ada tempat untuk kabur. Hanya bisa menunggu mereka tenggelam.


“Semua ini karena putri brengsek itu! Jika aku yang memimpin, pasti saat ini aku mendapatkan kemuliaan besar. Sialan! Sialan! Sialan! ”


Oscar menggerutu dengan kesal. Tak bisa menerima bahwa rencananya sendiri malah diketahui oleh musuh dan inilah yang terjadi. Mereka semua dikepung dan tak bisa melarikan diri.


“Tuan Oscar! Apa yang harus kita lakukan! Jika terus seperti ini ....”


Seorang prajurit yang mengikuti pertempuran bersama Oscar mulai berkata dengan putus asa.


“Apakah kita harus menunggu dan berharap bahwa putri Louise akan mengirimkan bala bantuan untuk kita?” tanya prajurit itu.


Oscar mengerutkan dahinya. Akan indah, jika memikirkannya seperti itu. Akan tetapi, dia tahu bahwa keajaiban yang seperti itu mana mungkin terjadi.


Dia hanya berhenti berharap dan terus bertarung untuk mempertahankan hidupnya. Dia hanya terus bertarung dengan perasaan kesal di hatinya.


Hingga pada saat itu, seorang prajurit meneriakkan sesuatu. “Hay! Apa itu?”


Seorang prajurit menunjuk ke atas di dalam kegaduhan teriakan dan dentingan pedang yang saling beradu di dalam medan perang itu.


Akan tetapi, Oscar mendengarnya dan melihat ke arah langit.


Dan saat itu juga, Oscar melihat sesuatu titik merah yang bersinar dan perlahan membesar, menuju tempat mereka berada.


Dan hal pertama yang dia rasakan setelah melihat hal itu adalah perasaan buruk yang melanda hatinya.


“A-apa itu .... ” Lirih Oscar, dengan bibirnya yang gemetar.


Sebagian para prajurit yang dari Sekutu, maupun musuh. Berhenti untuk sementara waktu, dan sebagian menatap kearah yang sama, yaitu ke arah langit.


Saat ini. Mereka belum mengetahui, bahwa hal yang amat mengerikan, sebentar lagi akan mereka rasakan. Dan penentuan perang ini tergantung dari mereka yang akan selamat dari situasi ini.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2