Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita

Ke Dunia Lain Menjadi Seorang Wanita
Bab 52 _ Menatap Masa Depan


__ADS_3

Di sebuah ruangan . Lantai paling atas kamar istana.


Seorang wanita melihat ke luar jendela dengan tatapan khawatir.


Hingga beberapa saat kemudian, wanita itu berbalik sambil bertanya , "Hey! Anastasius. Apakah kamu yakin bahwa anakku akan baik-baik saja? "


"Sudah berapa kali kau bertanya seperti itu? Kau sendiri, Kan? Yang telah menyetujui bahwa anakmu akan berlatih bersamanya." sahut Anastasius dengan sedikit kesal.


"Memang benar bahwa aku menyetujuinya ... tetapi, apakah tidak berlebihan untuk berlatih sampai larut malam seperti ini? Aku sangat mencemaskan anakku .... " ujar Sharon sambil melihat ke luar jendela.


Yang kini dia lihat adalah cahaya yang kelap-kelip dari sebuah hutan yang tidak jauh dari Istana. Dan dia juga dapat merasakan ada suara ledakan demi ledakan yang datang dari tempat itu.


Dan itulah mengapa ,seorang Ibu dari Louise Albion merasa khawatir terhadap anaknya yang tengah berada di tempat itu.


"Kau tidak perlu mencemaskan nya. Setidaknya anakmu tidak akan mati. " ucap Anastasius.Meskipun raut wajahnya agak sedikit suram. Karena membayangkan masa lalu nya yang tidak ingin ia ingat kembali, kini muncul di dalam pikiran nya saat ini.


Mendengar akan hal itu, Sharon berteriak kepada Anastasius, "Apa yang kau maksud 'tidak akan mati? 'Apakah pelatihannya sangat berat? Kalau begitu aku harus menghentikan nya. "


Segera setelah mengatakan hal itu, Sharon segera bergegas menuju pintu keluar.Akan tetapi, segera dihentikan oleh Anastasius.


"Hentikanlah! Ini juga demi kebaikannya. Kau sendiri yang bilang, Kan? Bahwa anakmu perlu bertambah lebih kuat untuk melindungi dirinya sendiri jika ada kejadian yang berbahaya? " Anastasius berkata ,sambil memegang bahunya dari belakang.


Plak .... !


"Itu memang benar, tapi .... " ucap Sharon ,sambil menepuk tangan yang ada di bahunya dengan keras.


"Cih! Dasar wanita kasar! " Anastasius mengelus tangannya, "... ,Aku tidak tahu mengapa kau sangat ingin membuat anakmu menjadi lebih kuat. Tetapi, selama itu menguntungkan nama Albion, aku tidak keberatan untuk membantu. Sama seperti kesepakatan kita pada waktu menyelamatkan negaramu beberapa tahun yang lalu. "


"Aku tahu .... "gumam Sharon. Menyerah untuk menghentikan anaknya yang sedang berlatih.


Meskipun Sharon sangat mengkhawatirkan tentang keadaan anaknya.Akan tetapi, menurut Sharon menjaga keselamatan anaknya lebih penting.


Karena dia tidak mau kejadian yang berulang tentang penculikan anaknya yang sering terjadi belakangan ini.


Anastasius tidak peduli selama itu menguntungkan dirinya dan negara nya. Lagipula siapa saja yang mewarisi darah Albion, dia harus menjadi lebih kuat dan mengharumkan nama baik negara nya.


"Bagus jika kamu menyerah. Lagipula ini juga untuk mempersiapkan diri untuk memasuki Akademi sihir saat dia menginjak usia remaja nanti.Semakin dia bertambah kuat, semakin bagus juga untukku. "Anastasius mengangguk puas.


"Ya .... " Sharon mendesah lelah dan kembali ke kursinya kembali sambil meminum teh untuk menenangkan diri.


Semoga saja anakku dijauhkan dari hal-hal yang berbahaya di masa depan ....


Sharon berdoa akan keselamatan anaknya yang paling di cintai, sambil menatap ke luar jendela dengan khawatir.


***


Sementara itu di suatu tempat.

__ADS_1


Dua orang yang sedang berhadapan Satu lawan satu di sebuah arena latihan.


Mereka bertarung menggunakan tangan kosong satu sama lain.


Buk .... !


Plak .... !


Wuuush .... !


Kedua pasang tinju saling beradu dengan kecepatan yang luar biasa.Serangan demi serangan terus dilancarkan dari kedua belah pihak.


Hingga seorang wanita muda meninju lawannya dengan keras dan membuat lawannya yang menahan pukulan itu dengan menyilangkan kedua lengannya , mundur beberapa langkah kebelakang.


Seorang wanita berpenampilan seperti remaja yang kasar berkata dengan sombong, "Ada apa? Apa hanya segitu saja kemampuanmu? "


"Jangan sombong dulu! " ujar seorang anak muda itu sambil menyeka keringatnya dengan terengah-engah kelelahan.


"Kalau begitu ,maju sini! " wanita itu berkata dengan menyeringai.Sambil membuat pose yang mengejek lawannya.


"Baiklah! Jika kau menginginkannya. " Anak lelaki itu juga menerima tantangannya. Seolah menikmati pertarungan melawan seseorang yang lebih kuat darinya.


"Bukankah seharusnya sudah dicukupkan sampai di sini saja? Hari telah menjadi gelap. Kalian sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri. "


Akan tetapi. Pertarungan itu dihentikan oleh seseorang yang berbicara kepada mereka dari samping lapangan.


"Shil- ... maksudku Lydia. Kau sudah pulang? "


Mereka berdua dengan terkejut tentang kedatangan Lydia yang tidak mereka sadari selama ini.


"Yah, aku telah kembali beberapa waktu yang lalu dan bertanya kepada para pelayan bahwa kalian ada di sini.Apakah kalian bertarung seperti ini saat aku tidak ada? Rosalie, Frank !" ungkap Lydia dengan santai.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain dan mengangguk sepakat.


"Baiklah! Pertarungan hari ini di cukupkan sampai disini terlebih dahulu!" ucap Rosalie, "Untuk menjawab pertanyaanmu, kami hanya berlatih bersama untuk mengisi waktu luang. Kami tidak melakukannya setiap hari. "


"Apakah kamu menikmati pesta nya? " tanya Frank sambil mendekat kepada Lydia.


Lydia hanya menjawab dengan malas, seolah tidak tertarik dengan pembahasan itu, "Pesta yang biasa ... cukup membosankan dengan berurusan dengan para bangsawan. "


"Yahh ... mau bagaimana lagi. Kau adalah salah satu orang terkuat di wilayah iblis ini, dan juga seorang penguasa Negara Vampire. Tentu saja para bangsawan akan Mengerumunimu seperti semut yang tertarik pada gula. Jika kau ingin mereka menjauh, mengapa kau tidak keluarkan saja auramu yang mengerikan itu di hadapan mereka. Mungkin mereka akan lari terbirit-birit. Hahaha .... "komentar Rosalie dengan tertawa terbahak-bahak.


" Sudah cukupkah menertawakan ku? "Lydia mentap Rosalie dengan kesal.


" Baiklah, baiklah. Aku tidak akan bercanda lagi. Lalu, bagaimana dengan keadaan Sharon. Apakah dia baik-baik saja? "tanya Rosalie.


" Sharon baik-baik saja dan dia cukup senang dengan kehadiran anaknya. Selama dia bahagia ,aku aku akan mendukungnya sebisaku. "ungkap Lydia dengan tersenyum lembut.

__ADS_1


" Begitukah ... jika seperti itu, baguslah .... "Rosalie menghela napas lega.


Hingga beberapa saat kemudian, mereka pun segera meninggalkan tempat itu bersama.


Saat mereka berjalan , melihat Rosalie yang sedikit berjalan di depan, Frank mengambil kesempatan dan berbisik kepada Lydia.


" Heyy! Apakah kau menemukan tentang keadaan Bos dan juga Alex? "


Lydia yang mendengarnya, hanya membuang napas dengan lelah, "Masih belum ... Aku sama sekali tidak menemukan petunjuk tentang kehadiran mereka. "


"Jadi begitu ... " renung Frank, "Jadi, kapan kita akan menjemput Chloe? " tanya Frank dengan penasaran.


Lagi-lagi Lydia membuang napas dengan lelah, "Itu akan sulit untuk menjemputnya. Dia dalam posisi yang sulit untuk kita temui sesuka hati. Untuk sekarang kita fokus saja mencari Ariel dan juga Alex. Lagipula menurut kabar,Chloe baik-baik saja dan dalam kehidupan yang cukup baik. Jadi kita tidak perlu khawatir dengan keadaannya. "


"Yah ... jika kau berkata seperti itu .... " gumam Frank.


"Heyy! Mengapa jalan kalian lama sekali? " teriak Rosalie dari depan.


"Baiklah, baiklah .... "


Mereka berdua pun mengikutinya dari belakang bersama-sama.


***


Sinar matahari yang mulai menyoroti tubuh Ariel yang kini sedang berbaring di padang rumput yang luas dan dengan dipenuhi luka .


Tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali , dan hanya terkapar di sana sendirian tak berdaya.


Apakah aku akan terus mengalami hal ini kedepannya?


Pikir Ariel dalam hati.


"Sialaaaaaannnnnnnn .... ! "


Ariel berteriak sendirian di tengah-tengah padang rumput yang kini hancur oleh bekas latihan Ariel semalaman.


Setelah Ariel tidak bisa bergerak dan terkapar di tanah, tepat setelah fajar.


Ronand segera pergi tanpa memedulikan Ariel yang terkapar di tanah dan memberi tahunya bahwa mereka akan latihan seperti ini tiga kali dalam seminggu.


"Hmmm .... "


Ariel hanya bisa menatap langit dengan pasrah.


Berharap jalan yang akan dia tempuh ke depannya akan di permudahkan dan menjalani hidup yang bahagia.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2