
Ketika mendengar penolakan dari Roh itu. Ariel saat ini termenung di pojokan dengan berwajah suram.
“Tentu saja ya ... tidak heran dia akan menolak ku ya .... ”
Talitha yang melihat Ariel sedang bergumam dengan menyedihkan di pojokan, dia melihat Ariel seperti melihat serangga dan akhirnya memutuskan untuk segera menghampiri Roh itu untuk membujuknya agar dirinya bisa cepat-cepat keluar dari urusan yang merepotkan ini.
“Hey! Apakah kau memang tidak suka padanya ...?”
“Biasa saja, saya tidak terlalu menyukainya tapi juga tidak membencinya. Tapi jika memang itu perintah dari Ratu, saya akan melaksanakannya dengan benar.” Jawab Roh itu dengan wajah datarnya yang selalu ia perlihatkan.
Dia sama sekali tidak mahir dalam mengekspresikan perasaannya.
Jadi Talitha sedikit terkejut dengan pertama kali dia sebelumnya melihat Roh itu marah.
“Kalau begitu bisakah kau menjalin kontrak dengannya? Meskipun aku sedikit tak rela, tetapi kalau tidak dilakukan mungkin aku akan mendapat masalah. Bisakah kau lakukan?” ucap Talitha, dengan sedikit nada memohon.
“Jawab. Jika memang seperti itu keinginan Nona Ratu, saya akan melakukannya sesuai dengan kemampuan saya.” Dia menjawab. Meskipun dia selalu berbicara datar dan tanpa ekspresi. Tapi bujukan Talitha berhasil. Jadi, selama dia tak dapat teguran dari Dewa Jahat 'V', semuanya akan baik-baik saja.
“Kau sudah dengar, kan?” Talitha menoleh ke arah Ariel dengan ekspresi bangga, “Kau berterima kasihlah padaku!”
Melihat Talitha yang terlihat sombong sambil membusungkan dadanya yang rata, entah mengapa, membuat Ariel sedikit kesal.
Tetapi, dia sedikit berterima kasih akan hal itu dan memutuskan untuk tidak mempermasalahkan nya lebih lanjut.
“Ya ya~ Terima kasih ...” ucap Ariel dengan sedikit malas, “Jadi, aku ingin bertanya satu hal lagi padamu.”
“Apa itu?”
Hingga setelah itu, Ariel melambaikan tangannya dan menyuruh Talitha untuk mendekat padanya.
Tentu saja, Talitha yang penasaran, dia mendekatinya dan Ariel segera membisikan sesuatu padanya.
“Aku tahu dia juga seorang Roh,” Ariel menunjuk seorang wanita yang berada di sudut ruangan yang sedang menunggu perintah. Dia berpakaian seperti seorang pelayan sambil tetap diam di tempat.
“Yah, memang benar. Dia Roh cahaya tingkat tinggi ... tunggu! aku tak akan memberikannya padamu! Lagipula kecocokannya tidak sesuai denganmu jika melakukan kontrak.” ucap Talitha. Sambil menebak apa niat Ariel yang menanyakan hal itu secara tiba-tiba.
“Bukan seperti itu. Kau bilang dia juga Roh tingkat tinggi, kan? ”
“Iya ... sebenarnya apa sih maumu? Jangan berbelit-belit! Langsung saja ke intinya!” ucap Talitha dengan sedikit kesal.
“Aku hanya ingin mengatakan dia wanita yang begitu cantik dan sebelumnya aku juga pernah bertemu Roh api tingkat tinggi yang bernama Ifrit. Jadi ...”
“Jadi?” Talitha memiringkan kepalanya dengan bingung. Tak tahu apa yang dipikirkan Ariel sebenarnya.
__ADS_1
“Kau bilang bahwa peri itu juga Roh tingkat tinggi. Bisakah dia berubah jadi wanita cantik yang ukurannya lebih besar dibandingkan dengan yang sekarang? Dia terlihat seperti boneka kecil yang dimainkan oleh anak-anak.”
Setelah mendengar hal itu, Talitha terus terdiam dan menatap Ariel dengan tatapan aneh. Tak menyangka, bahwa dia akan mendengar perkataan seperti itu dalam masa hidupnya.
Ini baru pertama kali baginya menjumpai orang seperti itu.
“....”
“Hey, mengapa kau menatapku seperti itu? Apakah ada sesuatu di wajahku?”
Talitha juga baru teringat kembali ketika Ariel pertama kali terbangun dari tidurnya. dia juga melecehkan bawahannya setelah dia beberapa saat setelah terbangun.
Talitha kini jadi mengetahui sifat Ariel yang seperti itu. Jika di ringkas menjadi satu kata, hal pertama yang dia temukan dalam pikirannya adalah kata 'Kotoran' dan sangat cocok dalam gambarannya.
“Aku tahu bahwa aku cantik. Tapi bisakah kau menjawab pertanyaanku?” ucap Ariel.
“Hahhh ....” Talitha membuang napas dengan lelah. Dia ingin segera menyelesaikan semuanya dan segera mengusir Ariel secepat mungkin jika dia bisa. “Mungkin bisa saja. Mereka berdua adalah Roh tingkat tinggi kuno. Sedangkan Roh tingkat tinggi yang akan berkontrak denganmu baru saja terlahir menjadi Roh baru. Mungkin suatu saat dia dapat berubah.”
“Hmm ... kau memberikan Roh yang masih muda padaku ....”
“Ya. Yang aku mau dia dapat mengenal lebih luas tentang dunia. Dan aku ingin kau membantunya untuk belajar. Aku peringatkan! Kau harus membantunya dan membuat dia mempelajari hal-hal yang baik-baik saja! Ingat! Yang baik-baik saja!”
“... mengapa harus diulang ... ?” Ariel bertanya dengan ragu, “Tapi kau memberikan Roh yang masih muda padaku ...?”
“Apa masalahnya? Dia cukup kuat untuk membantumu. Aku hanya ingin kau membantunya sebagai partner! Itu bukan sesuatu yang besar. Lebih tepatnya itu seperti membunuh tiga burung dalam satu batu.”
“Yah ... apapun itu, cepat kau memasuki lingkaran sihir itu dan lakukan kontrak dengan cepat! Aku sudah tak ingin melihat wajahmu lagi.” ucap Talitha dengan tidak sabar.
“... Baiklah.” Ariel mengerutkan keningnya dengan tidak senang. Ariel merasa diperlakukan seperti dia adalah parasit yang mengganggu.
Akan tetapi, dia mengabaikan hal itu dan mencoba untuk berdiri. Tetapi, Ariel sudah menebak hal ini. Bahkan dirinya tak bisa bangkit dengan kekuatannya sendiri.
Tubuhnya begitu lemah sampai akhirnya dia mengangkat tangannya untuk meminta bantuan.
Talitha yang melihat hal itu, dia menghela napas dan segera menoleh ke arah wanita yang sedang berdiri di sudut ruangan. Dan dia langsung mengerti apa yang dimaksud sambil berjalan menghampiri Ariel dan membantunya.
Ketika Ariel berdiri di tengah lingkaran yang hanya menggunakan sepotong kain yang menutupi tubuhnya dan dia berdiri dengan tertatih-tatih sendirian di tengah lingkaran seperti anak rusa yang baru dilahirkan.
Ughh ... apakah tubuh ini yang tertidur selama tiga tahun dapat selemah ini ....
Ariel mengerutkan keningnya sambil berusaha keras untuk tetap berdiri.
“Nah! Sekarang, teteskan darahmu ke dalam lingkaran sihir yang ada di bawah!” Talitha memerintahkan dan Ariel menuruti apa yang dikatakannya tahap demi tahap ritual untuk dia melakukan kontrak dengan Roh itu.
__ADS_1
Dan akhirnya, hingga beberapa waktu telah berlalu. Ariel akhirnya kini terkapar dengan lemas di lantai.
Dia begitu kelelahan hingga dia tak dapat untuk berdiri kembali
“Fyuuhh~ Apakah sudah selesai?”
“Iya, akhirnya selesai juga,” Talitha menghela napas dengan lega, “Kalau begitu, pergilah dari tempatku! ... oh, iya! Hutang koin emasmu kau bisa membayarnya lain kali. Tapi, jangan berharap untuk kabur!”
“Hah?! Apa maksu-”
Dan sebelum Ariel menyelesaikan perkataannya, Ariel segera di teleportasi paksa ke luar Gua itu dan kini Ariel sedang duduk sendirian di atas rerumputan.
“....”
.
.
.
Beberapa saat waktu telah berlalu dan Ariel saat ini sedang menatap langit yang begitu cerah.
Berbanding terbalik dengan suasana hatinya yang satu ini sedang buruk.
Awas saja! Akan ku panggang peri itu jika bertemu kembali!
Ketika Ariel memikirkan hal itu. Tiba-tiba dia merasakan sesuatu datang kepadanya dengan kecepatan yang luar biasa.
“Hah!”
Entah apa yang mendekati Ariel, itu melesat seperti babi hutan dengan cepat dan segera menerjang Ariel dengan kekuatan yang luar biasa.
“Hah! Ib-”
“Anakku~!”
“Guhok!”
Ternyata itu Sharon. Dan dia memeluk Ariel dengan rasa rindu yang telah dia tahan selama ini.
“Anakku anakku anakku anakku~”
Sementara Sharon terus mendekap Ariel seperti itu. Wajah Ariel saat ini berwarna biru pucat dan kesulitan untuk bernapas dengan bebas.
__ADS_1
Dan saat itu Ariel merasakan. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan maut mendekati dirinya setelah dia terbangun dari tidur panjangnya setelah sekian lama.
Bersambung ....