
Ronand yang saat ini melihat Talitha dari kejauhan, dia memiringkan kepalanya dengan penasaran.
“Hm? Ada apa denganmu. Apakah kau berubah pikiran?” tanya Ronand.
“K-kau diamlah dulu!” bentak Talitha, yang saat ini masih diam di tempat, dengan gemetaran.
Melihat Talitha yang seperti itu. Ronand menebak, pasti ada sesuatu yang terjadi. Dan dia memutuskan untuk mengamatinya sebentar. Meskipun saat ini dirinya sedang terburu-buru.
Sementara Talitha yang saat ini gemeteran, dia bertanya kepada Dewa Jahat 'V' dengan ragu.
K-kau ... apa yang kau inginkan?
[ Sudah aku katakan, bukan? Aku ingin kau menyembuhkan anak itu! ]
Tapi untuk apa? Tak biasanya kau ikut campur dalam urusan dunia. Talitha bertanya, dengan penasaran.
[ Yah ... aku hanya tak ingin hiburanku berkurang satu ... Oh! Sebaiknya kau cepat! Dalam beberapa menit lagi, mungkin dia akan mati. ]
Mendengar hal itu, Talitha hanya bisa menghela napas dengan pasrah. Meskipun ada begitu banyak pertanyaan yang dia ingin katakan, tetapi dia menahan diri untuk saat ini. Dan memutuskan untuk mengikuti apa yang Dewa Jahat 'V' inginkan.
Hahhh ... baiklah. Karena ini adalah permintaanmu, aku akan lakukan. Apakah kau puas?!
[ Aku suka dirimu yang begitu pintar. ]
Mendengar bahwa dewa Jahat 'V' memujinya, Talitha bisa membayangkan bahwa dia saat ini sedang tersenyum dengan puas.
[ Oh! Dan satu lagi. ]
Apa?
Talitha bertanya dengan sedikit jengkel.
[ Jangan seperti itu~ aku hanya ingin mengatakan. ... Kau bisa menagih uang 300.000 koin emas upah penyembuhanmu kepada anak itu. Tagih saja padanya setelah dia bangun! ]
Mendengar hal itu, mata Talitha menjadi berbinar dengan semringah.
Benarkah! Benarkah itu?
[ Tentu saja. Jika dia menolaknya, sebutkan saja namaku. Kuyakin dia akan memberikannya dengan senang hati. ]
Baiklah! Kalau begitu, aku akan cepat menyembuhkannya!
Setelah Talitha memberikan jawabannya, dia segera terbang ke arah Ronand dengan perasaannya yang dalam keadaan baik.
“Hey, Ronand. Aku akan menyembuhkan anak itu! Aku berubah pikiran.”
__ADS_1
Ronand terkejut dan merasa heran, dengan perubahan Talitha yang begitu tiba-tiba. “Hah! Aku senang kau berubah pikiran. Akan tetapi, mengapa tiba-tiba? Apakah ini ada hubungannya dengan seseorang yang menghubungimu beberapa saat yang lalu?”
“Kau tak perlu tahu. Mengapa kau tidak terima saja niat baik orang lain dengan senang hati? Aku tidak akan memberikan kesempatan yang lain, loh~” Talitha menjawab dengan tak peduli.
Ronand pun menyerah dengan menghela napas. “Baiklah! Tapi ... aku tak mau membayarmu dengan 300.000 koin emas, loh. ”
“Aku tahu itu.” Talitha melambai-lambaikan tangannya dengan bosan, “Sebagai gantinya, anak itu sendiri yang akan membayarnya!”
Mendengar hal itu, Ronand tersentak dan kaget untuk sesaat, “Hah?! Tetapi ... baiklah! Anak itu sendiri yang akan membayarnya.”
Tanpa berpikir dua kali. Ronand menyetujui hal itu dan membuang semuanya pada Ariel yang masih tidak sadarkan diri.
Dan begitulah. Tanpa sepengetahuan dirinya, kini hutang Ariel bertambah dalam keadaan dirinya tidak sadarkan diri.
Mereka berdua tersenyum dan tertawa, karena sesuatu yang mereka inginkan dapat terwujud, dengan mengorbankan seseorang dengan perasaan tak bersalah sama sekali.
[ Cepat lakukan! ]
Di saat Talitha sedang tertawa seperti itu, dia mendengar teguran Dewa Jahat 'V' di dalam kepalanya dan segera terbang menuju Ariel dengan panik.
“Baiklah! Aku akan membawanya ke tempat yang lebih nyaman terlebih dahulu.” ucap Talitha, yang saat ini sedang duduk di dahinya Ariel.
Dia bersikap untuk melakukan sesuatu untuk pergi dari tempat itu. Akan tetapi, sebelum Talitha melakukannya, Ronand menghentikan nya dengan cepat.
“Tunggu tunggu tunggu! Aku juga ingin ikut!”
Mendengar hal itu, Ronand mengernyit, “Hah! Hal sesepele itupun harus bayar? Tentu saja aku tak mau membayarnya.”
Ronand memalingkan wajahnya dengan merajuk.
“..., Aku tahu kau akan berkata seperti itu. Kalau begitu, pergilah! ”
Setelah mengatakan hal itu, Talitha menjentikkan jarinya dan pada saat itu juga, Ronand di teleportasi paksa ke luar tempat Ronand sebelum masuk ke dalam Gua itu sebelumnya.
“Hmm ... bagaimana bisa, dia mengusir seorang tamu dengan cara seperti itu? Bukankah itu sudah keterlaluan? Apakah kau juga sependapat denganku?” Ronand bertanya, sambil menatap bagian atas Gua itu.
Dan hingga beberapa saat kemudian, sebuah suara yang cukup keras terdengar. Seolah menjawab pertanyaan Ronand.
Grrooaaahhh ... !
Dan dibarengi suara itu juga, hembusan angin menerpa Ronand seolah Ronand di usir dari tempat itu.
“Baiklah baiklah! Aku akan pergi dari tempat ini, ok! ” ucap Ronand. Kemudian dia bergumam, “Yaampun ... tuan dan bawahan, sama saja .... ”
Sambil berbalik dan berjalan dengan santai, Ronand memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Ronand percaya, Meskipun Talitha seperti itu, dia yakin bahwa dia dapat menyembuhkan Ariel seperti sedia kala.
Yang dia khawatirkan adalah dia tidak bisa pulang saat ini. Karena sesaat sebelum dia pergi membawa Ariel sebelumnya, dia dapat merasakan kehadiran Lydia dan juga Sharon datang ke tempat Anastasius berada.
Karena takut terkena imbasnya, dia segera pergi dari tempat itu, dengan alasan pergi membawa Ariel untuk menyembuhkan nya.
“Baiklah! Kemana aku selanjutnya akan pergi yah ...” gumam Ronand, “Kurasa penyembuhan anak itu membutuhkan lumayan banyak waktu. Sambil menungu, haruskah aku bergi ke kota dan mencari hiburan?”
Hmm ... kupikir itu ide yang bagus ....
Dan begitulah. Sementara orang lain sibuk dengan urusan mereka sendiri. Dia dengan santai pergi bermain-main tanpa rasa bersalah sama sekali.
***
Sementara itu. Dia tempat lain.
“Tidak! Tunggu, Nona Pahlawan! Anda tidak bisa masuk begitu saja tanpa izin dari Nona muda!”
Sebuah suara terdengar dari luar kamar dengan ribut.
Sementara seorang gadis di dalam kamar itu hanya meminum tehnya dengan anggun, seolah tak terganggu dengan keributan itu.
“Apa masalahnya! Kita berdua telah berteman begitu lama,” bentak orang itu dengan kesal, “Sudahlah! Minggir!”
Brak!
Hingga beberapa saat kemudian, pintu terbuka dengan kasar.
Gadis itu melirik ke arah pintu itu dibuka, dan menghela napas, “Yaampun ... bisakah kau datang lebih tenang sedikit? Aria.”
“Mohon maafkan saya, Nona! Saya telah gagal untuk melarang siapapun mengganggu waktu istirahat anda.” ucap seorang pelayan dengan menunduk meminta maaf.
“Kamu tak perlu meminta maaf.” ucap gadis itu dengan senyum lembut, “Kamu bisa pergi! Dan biarkan Aria tetap di sini!”
“Seseuai keinginan anda, Nona!” Pelayanan itu menunduk untuk memberi hormat dan segera meninggalkan ruangan sambil menutup pintu kembali.
Gadis itu memandang Aria dengan tenang, “Apakah kau mau minum secangkir teh sebelum memulai pembicaraan kita?”
“Berhentilah basa-basi. Ada yang lebih penting yang ingin ku sampaikan padamu, Putri.” ucap Aria, sambil menempati tempat duduk tepat di sebrang gadis itu.
“Yaampun ... sudah ku katakan berulang kali. Kita sudah saling mengenal di kehidupan sebelumnya. Panggil saja seperti biasanya kau memanggil ku.” gadis itu cemberut, dan menggembungkan pipinya.
Dan anehnya, dia masih terlihat cantik, meskipun memperlihatkan ekspresi seperti itu. Aria tahu, pembicaraan tidak akan berjalan, sebelum dia mengikuti apa yang di inginkannya.
Aria pun hanya menghela napas dan menyerah, “Hahhh ... baiklah, ... Chloe.”
__ADS_1
Bersambung ....