
Setelah Ariel membuang napas dengan lega. Anastasius segera menyela. "Tetapi, "
"Hm? " Ariel menatap Anastasius dengan penasaran.
"Sesuai dengan perjanjian, kau akan mengikuti perang itu sebagai pemimpin pasukan. " ujar Anastasius.
Ariel yang mendengar akan hal itu hanya terdiam untuk beberapa saat, kemudian berbicara, " Emmm ... haruskah aku menjadi pemimpinnya? Bisa saja, Kan? mengirim orang lain yang lebih berpengalaman .... "
Ariel berusaha menolak dengan cara halus. Akan tetapi, Anastasius menyadari hal itu dan memberi tahu Ariel yang sebenarnya.
"Memang banyak calon yang cocok untuk mengisi posisi itu. Akan tetapi, selama ini aku ingin mengetahui, seberapa jauh kemampuanmu telah berkembang. Sebagai murid dari salah satu Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis ini. " ungkap Anastasius.
Ariel yang mendengar akan hal itu, membuat wajah keheranan, "Hanya itu? "
Anastasius pun mengangguk, sebagai jawaban. "Apa maksudmu, ' hanya itu? ' Kau adalah murid kesayangan dari Ayahku. Berita itu sudah tersebar ke Wilayah Iblis belakangan ini. Jadi setidaknya, kau harus bisa membuktikan bahwa dirimu spesial. "
"Apakah begitu? " Ariel memiringkan kepalanya, " Akan tetapi, Yukina menjadi murid Guru juga, Kan? Mengapa hanya aku? "protes Ariel, karena dia tidak Terima, hanya dia yang melakukan hal merepotkan ini.
" Apakah kau pikir aku bodoh. Dari semua Pewaris keluarga Albion. Hanya kau dan juga kedua kakakmu yang bertahan lama, dalam pelatihannya Ayah. Bukankah begitu? " ucap Anastasius, sambil melirik Ronand. Yang selama ini mendengarkan sambil bersantai.
"Hm? Ah ... ya, tentu. Menurutku, bahkan dari semua anakmu, dialah yang paling berbakat. " ungkap Ronand, dengan percaya diri.
Anastasius yang mendengar hal itu, sedikit menegakkan punggungnya dengan terkesan, "Hou~ bahkan dia lebih berbakat dari Titania? "
"Hm! Maksudmu anak sulung mu? Hm ... bisa di katakan seperti itu. " komentar Ronand.
Titania kah ... aku sering berpapasan dengannya, saat di perjalanan. Tetapi, aku jarang berbicara dengannya.
Komentar Ariel dalam hati. Yang selama ini mendengarkan percakapan mereka.
Ariel juga dapat merasakan. Kedua dari kakak tirinya, yang salah satunya adalah Titania. Meskipun mereka tidak terlalu dekat. Akan tetapi, Ariel dapat merasakan aura dari seseorang yang menurutnya cukup berbahaya.
Biasanya, insting Ariel dalam hal ini selalu benar. Oleh karena itu ....
" Mengapa tidak mengirim mereka saja? Mereka mungkin dapat lebih di andalkan .... " ucap Ariel.
"Jangan mencari alasan! Aku tidak akan merubah keputusan ku. Kau akan menjadi pemimipin dan mengikuti perang itu! " ujar Anastasius dengan sedikit kesal.
__ADS_1
Ariel pun menyadari itu, dan segera mengangguk dengan enggan. "... ,Baiklah."
"Bagus! " Anastasius mengangguk puas.
"Baiklah! Untuk sekarang, mari kita bersulang ... A! " Setelah dalam suasana yang baik, Ronand menawarkan untuk minum-minum. Akan tetapi, dia baru teringat kembali, bahwa minuman yang sebelumnya di atas meja, beberapa saat yang lalu telah di tumpahan oleh Ariel.
Ariel yang merasakan tatapan dingin Ronand, hanya bisa tersenyum dan menjulurkan lidahnya, seolah tak merasa bersalah sama sekali.
"Hmph! Dasar bocah nakal. " gumam Ronand.
"Sudahlah! Saat ini aku tidak berencana untuk minum. " ucap Anastasius, kemudian dia menatap Ariel. " Daripada itu, Karena kau akan menjadi pemimpin pasukan, Aku peringatkan satu hal padamu! "
"Hm? Apa itu? " tanya Ariel.
Hingga Anastasius pun menjawab, sambil menatap Ariel dengan tajam. " Hindari kerugian se minimal mungkin! "
Ariel yang meenerima tatapan Anastasius, segera menjawab dengan sedikit tergagap. "O-Oh~ tentu saja ... "
"Bagus! " Anastasius mengangguk dengan puas. "Aku akan mempercayakan Pasuka yang berjumlah 1.500 Prajurit kepadamu, jadi, pergunakanlah dengan baik! "
Oh ... 1.500, kah ... ternyata perang yang cukup besar ...
Hingga beberapa saat kemudian, dia bertanya, "Lalu, bagaimana dengan jumlah musuh? . " tanya Ariel.
Setelah mendengar Ariel berkata seperti itu, Anastasius menutup matanya untuk sesaat, sebelum dia memberi tahukan nya kepada Ariel.
"Dari informasi yang kudengar, jumlah pasukan musuh sekitar 20.000 .... "
Ariel yang mendengar Akan Hal itu, dia hanya menganga dengan terkejut. Tak tahu harus berkata apa.
Hingga beberapa saat kemudian. Dia bertanya kembali dengan ragu. "Du-dua puluh ... ribu? "
"Aku tahu, apa yang Ada dalam pikiran mu." ucap Anastasius."Tetapi, Kau adalah murid dari salah Satu dari Tujuh Kekuatan Wilayah Iblis. Aku yakin kau dapat melakukannya, Kan? Kan? "
Entah itu perasaan Ariel atau bukan , Anastasius berkata serperti itu Dan bertanya dua kali sambil tersenyum. Seolah dia tak mau menerima keluhan sedikitpun.
"Jika in di jadikan sebagai bahan lelucon pun, ini sangat tidak lucu Sama sekali. " komentar Ariel. Dengan ketus.
__ADS_1
"Apakah begitu? " ucap Anastasius dengan tak peduli.
Ariel tak tahu lagi harus berkata apa. Meski apapun yang akan dia katakan. Sepertinya akan percuma saja.
Ariel melihat Anastasius yang saat ini tersenyum. Sesuatu yang jarang sekali Anastasius lakukan. Bahkan mungkin mereka tidak pernah melihat Anastasius tersenyum seperti itu.
"Hahhh ... " Ariel membuang napas, " Jika seperti itu, bukankah itu sama saja dengan menyuruhku untuk mati? Keterlaluan juga ada batasnya! " teriak Ariel dengan kesal.
Ronand yang mendengar akan hal itu, segera Berbicara, "Kau tenang saja dengan itu. Para manusia sangat lemah. Mungkin ada beberapa yang cukup menarik, akan tetapi itu sangat jarang. " komentar Ronand.
"Tetapi 1.500 itu ... " ungkap Ariel, berusaha untuk protes.
"Orang-orang dari negara ini lebih kuat dari apa yang telah kau bayangkan. Lagipula aku juga tahu, bahwa kau telah menyembunyikan sesuatu dariku selama ini, Kan? " ungkap Ronand.
"Apa maksudmu? " tanya Ariel dengan kebingungan. Meskipun keringat dingin bercucuran di bagian tubuhnya, karena gugup.
"Ayolah, jangan pura-pura tidak tahu. Aku menyadarinya, Loh~ saat latihan kita bersama, kau bahkan belum pernah mengeluarkan kemampuan penuhmu sama sekali. " ungkap Ronand.
"Itu memang benar. " Ariel mengakui dengan mudah, "Akan tetapi 20.000 itu .... " gumam Ariel, dengan menggunakan ekspresi sulit.
Ronand tak mengira, bahwa Ariel akan sejujur itu. Sehingga dia kaget untuk beberapa saat.
"Kau jangan khawatir! Kami juga akan pergi ke sana untuk jaga-jaga. Akan tetapi,kami di sana sebagai penonton. "
Entah mengapa. Ariel sama sekali tidak senang setelah mendengar hal itu. Justru itu sebaliknya, itu hanya membuat dirinya semakin kesal saja.
Ariel pun menyerah dan dia hanya menatap mereka dengan pasrah. Hingga beberapa saat kemudian, dia baru tersadar akan sesuatu yang sangat penting.
"Oh! Iya, bagaimana dengan tanggapan ibu soal ini? " ucap Ariel.
Hingga setelah mereka mendengar hal itu, mereka berdua tersentak. Dan dapat dikatakan bahwa mereka saat ini sedang panik.
Ariel dapat menebak bahwa mereka belum memberi tahukannya kepada Sharon sebagai wakil dari Ariel.
Menatap mereka yang saat ini ketakutan seperti itu hanya karena seorang ibu yang sayang dengan anaknya saja. Membuat Ariel menahan tawa dan tak sengaja, sedikit membuat suara yang aneh.
Pfffft ....
__ADS_1
Hingga membuat mereka berdua melihat kepada Ariel yang saat ini berusaha untuk menahan tawa.
Bersambung ....