
Di sebuah tempat yang gelap.
Dua orang yang saat ini berada di dalam sebuah lubang yang cukup sempit. Mereka berdempetan satu sama lain dengan sesak.
“Kya! Ah~ Nona!Jangan di tempat itu~” Daisy berteriak, dan juga membuat napas berat, seolah dirinya telah berlari, hingga napasnya ngos-ngosan.
“Aku tidak melakukan apapun, Loh~” jawab Ariel. Bertolak belakang dengan apa yang di lakukan oleh kedua tangannya.
“Hmph~Nona ... jika terus seperti ini, maka saya akan keluar .... ” ungkap Daisy.
“Maksudmu keluar dari tempat ini?” tanya Ariel. Kemudian dia mengangguk dan segera melepaskan kedua tangannya dari tubuh Daisy.“Baiklah! Lagipula kita terlalu lama berada di tempat ini.”
Sudah beberapa waktu telah berlalu, semenjak mereka merasakan gempa bumi yang guncangan nya sangat hebat, dari dalam lubang itu. Sudah saatnya mereka untuk keluar dan memastikan keadaan di luar sana.
“Baiklah, Daisy! Mari kita naik ke permukaan. Seharusnya sekarang sudah baik-baik saja.”
Ariel menawarkan tangannya untuk mengajak Daisy untuk naik bersama. Akan tetapi, Daisy menolak hal itu dengan ekspresi merah di wajahnya.
“Sa-saya akan tetap tinggal di tempat ini untuk sementara waktu, silakan Nona untuk keluar dari sini terlebih dahulu!” ujar Daisy, seolah menyembunyikan sesuatu sambil memeluk dirinya sendiri.
“Hm? Memangnya apa yang akan kau lakukan di tempat ini?” Ariel memiringkan kepalanya dengan bingung.
“Sesuatu hal yang penting ....” gumam Daisy dengan pelan.
“Hah?” tanya Ariel, tidak mendengarnya, “Yah ... sudahlah. Jika itu memang keputusanmu, aku akan keluar terlebih dahulu!”
Hingga setelah itu, Ariel pun menatap ke atas dan melompat dari sisi dinding tanah ke sisi dinding lainnya dengan cekatan.
Ariel tidak khawatir sama sekali dengan Daisy yang tidak bisa keluar dari tempat itu sendirian. Dia yakin bahwa Daisy akan melakukan sesuatu menggunakan sihirnya untuk bisa keluar dari tempat itu.
Daisy memandang ke arah atas menatap Ariel yang mulai pergi menjauh sambil mengintip dari sela-sela jarinya agar matanya tidak kemasukan tanah yang terjatuh dari atas.
Setelah Ariel menghilang dari pandangannya, Daisy bergumam,“Dasar nona Louise. Mesum!, Nakal!, Gak peka! .... tapi suka ....”
__ADS_1
Entah mengapa, meskipun Daisy memgejek Ariel di belakangnya, tapi saat ini dia sedang tersenyum, dengan wajahnya yang merona.
.
.
.
Ariel yang kini telah sampai di permukaan, Dia menatap sekeliling sambil memeriksa keadaan.
“Woooh! Sudah ku duga akan menjadi seperti ini .... ” gumam Ariel, sambil melihat pemandangan yang sangat berbeda, ketika pertama kalinya mereka masuk ke dalam lubang untuk berlindung.
Rerumputan yang kering, serta debu-debu panas yang menghalangi jarak pandang Ariel yang saat ini tengah berdiri di tengah dataran yang luas.
“Oh! Ternyata mereka berdua telah sampai!” Ariel berbicara sendiri, sambil merasakan kehadiran Anastasius dan juga Ronand yang saat ini berada cukup jauh dari tempat dirinya yang saat ini tengah berdiri.
“Hmm ... sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu.”gumam Ariel.
Dia tahu apa yang mereka lakukan. Menebak dari keberadaan mereka yang terpisah dan juga berpindah-pindah tempat dengan terburu-buru, pasti mereka sedang melakukan pembersihan para mata-mata.
Karena saat itu dia terlalu sibuk untuk mengurus hal lain. Dan juga, biarpun menyuruh Felix atau pun para pasukan, itu hanya membuang waktu dan tenaga yang tidak perlu.
Dapat di lihat, bahkan Felix maupun pasukan, tidak ada yang menyadari hal itu.
Yah ... itu dapat di maklum, Mereka hanyalah para pasukan yang tidak kompeten, itulah alasan mengapa dia mengirim mereka ke tempat ini. Sedangkan Felix ... sepertinya dia kurang pandai dengan mendeteksi hawa keberadaan. Atau mungkin dia sengaja pura-pura tidak tahu, atas perintah Aya... maksudku Yang Mulia, untuk menguji ku? Hmmm ... itu bisa saja terjadi.
Pikir Ariel, sambil menebak-nebak tentang hal itu.
Hmm... apa yang telah terjadi, biarlah berlalu. Daripada itu ....
Ariel menatap ke arah tempat meteor yang beberapa saat yang lalu terjatuh. Terdapat cahaya Oranye kemerahan. Sekali lihat saja, dapat di tebak bahwa tempat itu pasti suhunya sangat panas, diakibatkan oleh meteorit yang masih terbakar, hingga membuat Ariel pun dapat merasakan hangatnya suhu udara dari tempat dia berada.
Akan tetapi, bukan itu yang Ariel khawatirkan. Justru sesuatu di tempat meteorit itu berada. Ariel dapat merasakan hawa keberadaan seseorang yang kini masih hidup.
__ADS_1
Ariel merenung dengan ekspresi serius. Pasti bukan orang biasa yang dapat bertahan dari serangan yang keterlaluan seperti itu.
Sementara. Tidak mungkin, dia mengalami kesalahan dengan persepsi sihirnya. Karena hal itu sudah Ariel latih dengan tekun, dari beberapa tahun yang lalu hingga sampai sekarang.
Dia cukup yakin bahwa dalam persepsi sihir dan mendeteksi keberadaan seseorang, dirinya lebih terampil dari kebanyakan orang di Albion. Bahkan Ronand pun memuji dirinya sambil terkejut.
Hmm ... sepertinya aku harus memastikannya oleh diriku sendiri. Lagipula mereka berdua tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi ke tempat itu ....
Pikir Ariel. Dia memikirkan tentang Anastasius dan juga Ronand yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.
“Yah ... mau bagaimana lagi. Lagipula, aku yang memulai semua ini .... ”
Segera setelah mengatakan hal itu, Ariel pun membentangkan sepasang sayapnya yang masih dalam bentuk tubuh humanoid nya.
Berkat latihannya bersama Ronand beberapa tahun ke belakang ini, meskipun dia enggan untuk mengakuinya, tetapi, memang benar bahwa dirinya jauh lebih kuat dari sebelum dia bertemu dengan Ronand.
Dari asalnya dia hanya dapat bertransformasi ke dalam bentuk naga nya saja, dan mendapatkan efek samping yang luar biasa, setelah itu.
Kini dia dapat mengontrol hal itu. Bahkan dia dapat memunculkan sebagian dari bentuk naga nya seperti sekarang ini, dia hanya memunculkan sepasang sayap naga nya saja dalam bentuk humanoid.
Jika dia mau, dia dapat memunculkan hal lain dan bahkan menjadi bentuk naga sempurna nya, jika dia mau. Tentu saja tanpa efek samping, seperti beberapa tahun yang lalu.
Ketika Ariel bersiap-siap untuk terbang, Daisy memanggilnya, sambil berlari dari tempat dia keluar dari lubang perlindungan nya dengan kehabisan napas.
“Hosh ... hosh... Nona! Anda mau pergi kemana?”
“Oh! Daisy!” Ariel berbalik, dan berbicara kepada nya, “Kamu pergilah ke tempat Felix untuk saat ini! Aku akan pergi ke suatu tempat untuk beberapa waktu.”
Hingga setelah mengatakan hal itu, Ariel terbang dengan cepat menuju seseorang yang dari meteorit itu berada.
Dan meninggalkan Daisy sendirian yang masih berteriak memanggil dirinya yang belum memberikan penjelasan sedikitpun.
Akan tetapi, dia meneruskan terbangnya dan pura-pura seolah dia tidak mendengarkan hal itu.
__ADS_1
Bersambung ....