
...Happy Reading...
Banyak orang yang ingin memperjuangkan cintanya. Namun, banyak pula dari mereka yang tidak paham bagaimana cara melakukannya. Terkadang, untuk sekedar mengucapkannya saja sangat sulit.
Begitu juga dengan Peter, entah kemana semangatnya yang membara tadi pagi saat menelpon Chris sahabatnya itu.
" Haduh... leherku sakit, kepalaku pusing, hidungku mampet, dadaku sesak!"
Saat baru menatap pintu rumah kontrakan Sabrina saja, seolah gejolak yang menggebu di dirinya luntur seketika.
" Tapi kalau aku tidak melakukannya sekarang mau kapan lagi? kasian kan nasip si Bruno?"
Akhirnya dia tapakkan kakinya ke tanah, mencoba mencari energi yang ada di dasar bumi.
" Tapi kalau nanti malah balik aku yang dikerjain bagaimana dong? aish... masak begitu saja menyerah, bukannya Peter adalah seseorang yang tidak terkalahkan? alaaah... tapi itu dalam dunia bisnis, kalau dalam dunia wanita, aku memang selalu kalah kan?"
Akhirnya Peter berhenti tepat didepan pintu dan memilih duduk dilantai sambil menyandarkan kepalanya yang terasa berat itu di depan pintu.
" Pulang.. enggak.. pulang.. enggak.. pulang, eeh... enggak?" Peter menghitung nya dengan sepuluh jarinya seperti anak kecil yang mengadu nasip lewat hitungan.
" Ckkk... kenapa nggak ada bunyi Tokek ya? biasanya kan hitungan suara Tokeknya itu lebih tepat dan akurat!" Umpat Peter dengan wajah prustasi, dia benar-benar dibuat mati gaya oleh seorang wanita bernama Sabrina.
Glodaak!
Awwww!
Disaat Peter masih menggerutu, tiba-tiba pintu rumah itu langsung terbuka dengan kasarnya, sehingga kepala Peter terbentur dengan cukup keras.
" Astaga, siapa itu?" Teriak Sabrina yang langsung mengangkat sapunya dengan sigap.
Dia tadi sempat mendengar suara orang yang seperti berbisik-bisik didepan pintu, Sabrina pikir itu maling yang sedang mengatur strategi untuk beraksi mencuri didalam rumahnya.
" Aww... Nana! ini aku suamimu, aduh... kepalaku jadi benjol karenamu!" Peter mengaduh kesakitan karena memang kepalanya langsung bengkak sedikit karena benturan pintu itu.
" Ya ampun mas Peter, ngapain juga bisik-bisik didepan pintu? mas ngomong sama siapa?" Tanya Sabrina yang langsung mengedarkan pandangannya kesekeliling halaman rumahnya.
" Aish... Nana, urusin dulu kepalaku ini, nanti kalau peang kamu mau tanggung jawab tidak?" Peter langsung menggerutu kesal saat Sabrina tidak memperdulikan kepalanya yang sedari tadi dia usap-usap sendiri.
" Hehe... maaf mas, ayo kita masuk, biar aku kompres, nanti juga pasti langsung hilang bengkaknya.
Apa aku harus sakit dulu, baru dia mau perduli denganku? aish... apa ini yang dinamakan perjuangan cinta?
" Duduk yang bener, biar aku kompres dulu." Sabrina membawakan air es dan sebuah handuk kecil ditangannya.
Kalau tidak bisa dengan cara lembut, mungkin harus menggunakan cara licik, hehe...
" Nana... kepalaku pusing, jadi berat banget ini, boleh baring di pangkuanmu nggak?" Ucap Peter dengan wajah yang terlihat memelas.
" Masak sampai pusing sih mas? kamu pasti cuma modus ya?" Sabrina langsung menjelingkan kedua matanya ke arah Peter.
" Ya ampun, Nana sayang... ini beneran sakit loh, kamu menghantam kepalaku kuat sekali."
Haduh... kalau dia sudah memanggil dengan sebuan Nana sayang, langsung dah kesemutan kakiku, lemas ini, adek jadi nggak kuat abang...
" Ya udah, sini pelan-pelan." Sabrina langsung duduk disamping Peter dan siap menjadi bantal ternyaman bagi suaminya.
Yess... terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan jalan untukku, walau harus benjol dulu kepalaku ini, aku rela...
" Nana... apa kamu masih membenciku?"
Peter mencoba berbicara dari hati ke hati mengikuti saran dari Chris, walau dia memang tak pandai untuk sekedar ngobrol basa-basi terlebih dahulu.
" Kenapa aku harus membenci?" Jawab Sabrina dengan santainya.
Karena dia memang tidak benci, hanya kesal saja dengan perlakuan Peter selama ini, dia juga tidak mungkin membenci orang yang sudah mengabulkan keinginan almarhum ayahnya untuk yang terakhir kalinya.
" Jadi selama ini kamu tidak membenciku?" Peter langsung menanggapinya dengan senyum yang mengembang, bahkan dia langsung memiringkan kepalanya kearah istrinya dan melupakan rasa nyeri di kepalanya.
" Jangan banyak bergerak mas, mau aku tambah benjolan di bagian yang lain lagi apa?" Sabrina langsung dengan sengaja menekankan kompresan handuknya.
__ADS_1
" Aw.. aw.. jangan dong Nana sayang." Celoteh Peter dengan manjanya.
Entah mengapa saat berdekatan dengan Sabrina dia selalu ingin bermanja-manjaan, semakin Sabrina jutek dan terlihat acuh, Peter semakin gemas dan ingin menggodanya, jiwa penasarannya langsung muncul seketika.
" Ngapain coba mas duduk lesehan didepan pintu? aku kira mas tadi maling tau, udah aku bawain sapu, hampir saja aku pukul kepala mas."
" Kalau hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa bertemu denganmu, aku rela kok jadi maling, biar bisa mencuri hatimu, hehe..." Peter bahkan masih sempat menggombal ditengah rasa nyerinya.
" Heleh... sejak kapan mas jadi tukang gombal begini, biasanya juga cuek bebek." Umpat Sabrina dengan senyum tipis-tipisnya.
Haduh... kalau dia tersenyum ternyata cantik sekali, Ya Alloh... jadikanlah yang sulit menjadi mudah, jadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin, karena hanya Engkaulah maha pembolak balikkan hati seseorang dan kabulkanlah setiap hajat kami, amin...
" Nana... sebenarnya bukan maksud mas seperti itu, tapi mas hanya belum terbiasa, karena selama ini semua hal mas lakukan sendiri, aku selalu di didik menjadi sosok mandiri sejak kecil dan tidak bergantung dengan orang lain, jadi maaf kalau perlakuanku membuat kamu tersinggung."
Hanya Sabrinalah yang mampu membuat Peter mengucap kata maaf berulang kali, dengan orang lain dia tidak pernah perduli.
" Aku sadar mas, bahwa aku ini bukan wanita spesial bagi mas."
" Nana..." Peter langsung melembutkan suaranya.
" Karena itu memang kenyataan kok mas, apa yang bisa mas banggakan dari sosok wanita sepertiku coba?"
" Aku begitu bukan karena kekurangan atau alasan lain Nana, aku cuma belum terbiasa saja, bukannya semua butuh proses penyesuaian diri?"
" Iya... tapi memang aku terlalu banyak kurangnya daripada kelebihannya, muka pas-pasan, body juga biasa aja, apalagi harta, aku tidak punya apa-apa, dibanding semua rekan bisnis mas yang selalu berpenampilan dan bergaya 'Wow' dan juga dari keluarga yang bergelimang harta."
" Nana..."
Peter mengusap lembut pipi Sabrina saat dia menengadahkan wajahnya, karena air matanya yang sudah lancang ingin keluar tanpa dia minta.
" Maaf mas, jika tidak ada yang bisa mas banggakan dari aku didepan orang banyak, aku hanya bisa membuat malu saja, karena aku memang jauh dari kata sempurna."
Akhirnya air mata Nana menetes juga, dia paling tidak bisa tahan jika diajak bicara dengan nada melow dan heart to heart begini, karena memang begitulah wanita, gampang tersentuh hatinya oleh kata-kata sendu.
" Nana... hei, jangan ngomong begitu, maaf atas segala keegoisanku selama ini, dan terima kasih karena kamu mau bersabar menghadapi sikapku yang mungkin terlampau buruk, asal kamu tahu ya Na... seiring waktu berjalan, aku mulai sadar akan pentingnya dirimu didalam kehidupanku."
" Sudahlah, tidak ada yang salah dari dirimu, aku yang seharusnya berterima kasih denganmu, karena sudah mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya, dimana kesabaran dan ketulusan juga sikap menerima adalah unsur utama dalam menjalani sebuah hubungan, jadi jangan merasa bersalah okey?" Peter mencoba mengembalikan kepercayaan diri dari istrinya.
" Kenapa mas nggak kek gini sejak awal?"
" Karena semenjak kepergianmu dan segala sikap cuekmu terhadapku, aku baru merasa kehilangan dan seolah ada sesuatu yang hilang dari kehidupanku."
" Benar kata orang, setelah kehilangan memang baru terasa." Celoteh Sabrina sambil melengos.
" Nana sayang.."
Serrr!
Dia masih belum terbiasa mendengar orang memanggilnya dengan nada seperti itu, jadi masih sering membuat dadaanya sedikit bergetar.
" Apa?"
" I love you."
Hanya beberapa kata, namun mampu menjelaskan segala rasa, segala yang terpendam didalam jiwa, dan akhirnya itu semua terucap dari bibiir Peter.
" Kayak anak ABG aja deh, pakai lope-lopean sgala."
" Tapi kamu suka kan?" Ledek Peter dengan senyum termanis yang dia punya.
" Apa sih mas."
Sabrina hanya bisa malu-malu kucing, namun pipinya yang bersemu merah itu tidak dapat dia tutupi, dan seolah menjelaskan bahwa dia memang menyukai tiga kata itu.
" Nana sayang..."
Peter langsung meraih leher istrinya dan menariknya agar membungkuk kebawah, dengan lihai nya dia memiringkan wajahnya, agar benda kenyal dan lembut itu bisa menempel pas disasaran.
Aduh... gimana ini, aku udah sikat gigi belum ya tadi? eh... bau nggak ya mulutku? haduh gimana kalau nanti dia muntah, tau gitu makan permen aku tadi, aaaaa... gimana ini, tapi ehh...
__ADS_1
Cup
Banyak kekhawatiran yang muncul di benak Sabrina, namun saat dua benda itu menempel dengan sempurna, keduanya hanya bisa saling memejamkan mata, dan meresapi segala rasa.
Hilang sudah rasa kecewa dan segala rasa resah, gundah gulana, seolah semua sudah hancur lebur jadi butiran debu.
Apalagi disaat Peter memperdalam civmannya, Sabrina semakin terbuai akan indahnya cinta, hari inilah untuk yang pertama kalinya dia bersyukur menjadi istri seorang Peter yang awalnya dia takuti dan dia segani.
Tidak pernah terbayangkan didalam hidupnya dia bisa sejauh ini dengan sosok Peter, dulu saat menjadi karyawan di perusahaan Chris, tidak bertemu dan berurusan dengan Peter adalah suatu berkah, namun sepertinya mulai hari ini, jika dia tidak bertemu dengan Peter, seolah akan menjadi musibah didirinya.
Mereka seolah terbuai dengan pagvtan masing-masing, apalagi Peter, sudah lama sekali dia menginginkan hal seperti ini, dulu saat berhubungan dengan cinta pertamanya, dia tidak pernah bisa melakukannya, dan akhirnya hari ini terealisasikan juga.
Karena terlalu meresapi adegan itu, hingga tanpa sadar tangan Peter mempraktekkan ajaran dari mbaknya Shizuka, kedua tangannya dengan lancangnya mere mas dua gunung terindah di dunia ini.
Bugh!
Karena terlalu terkejut, tanpa sengaja Sabrina langsung menyiku si Bruno yang masih tertidur nyenyak dengan sekuat tenaga, karena seumur-umur kedua benda miliknya itu belum pernah tersentuh oleh tangan pria manapun.
" Aw.. aw.. @rgh.. sakit Nana!"
Bahkan Peter langsung terjatuh dan menggelinding di karpet lantai, karena merasakan nyeri yang teramat sangat. Sudah kepala benjol, si Bruno yang kalem itu pun kena sasaran juga.
" Haduh... ma.. maaf mas, aku tidak sengaja tadi."
Sabrina langsung membantu Peter untuk bangun, dia tidak tega melihat Peter yang sampai mengeluarkan air mata karena menahan nyeri.
" Kamu tega sekali Nana."
" Maaf, aku terkejut tadi, ayo bangun aku bantu."
" Sakit Nana, tanggung jawab kamu!"
" Ya sudah... mau rebahan di kasur saja?"
" Hmm... tapi kamu temenin ya." Peter langsung berusaha mencari kesempatan dalam kesempitan.
" Iya.."
" Haduh... nyeri banget ini."
" Jalannya biasa aja dong mas, kenapa jadi kayak orang habis disunat gitu, tuh.. malah miring-miring kayak orang maen bola deh?" Tanya Sabrina yang langsung keheranan melihat Peter berjalan.
" Ckk... ini akibat benturan meteor, yang mampu mengakibatkan pergeseran lempeng bumi." Umpat Peter dengan segala ocehan gilanya.
" Meteor apaan sih, biasa aja jalannya bisa nggak?" Sabrina tidak paham maksudnya, dia semakin bingung melihatnya.
" Nana.. ini bertujuan untuk menjaga garis Khatulistiwa antara Kutup Utara dan Kutup Selatan, agar tetap dalam posisi yang seharusnya."
Peter tidak mungkin membetulkan letak si Bruno yang sudah bangun itu dengan gamblang, karena Sabrina mengamati setiap pergerakannya, jadi dia hanya mengubah cara jalannya saja, agar si Bruno parkir di tempat yang sudah disediakan.
" Nggak ngerti deh aku?" Sabrina semakin mlongo dibuatnya, tapi dia penasaran juga.
" Ya karena bola-bola alam kadang menempel dengam dinding bumi, maka harus diberikan sedikit regangan, agar bola-bola alam tidak menempel dan dapat mempermudah rotasi bumi." Jelas Peter kembali yang malah semakin membuat Sabrina bingung.
" Apa itu termasuk dalam pelajaran ilmu pengetahuan alam?" Tanya Sabrina dengan polosnya.
" Huft... besok aku tunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sesungguhnya, atau kamu mau lihat adekmu sekarang, nah pegang?" Peter langsung menarik tangan Sabrina mendekat kearah Bruno, dan akhirnya dia paham maksud dari penjabaran suaminya yang panjang lebar tadi.
" Astaga... astagfirulloh."
Sekilas Sabrina langsung mengingat apa yang pernah dia lihat sebelumnya diawal pernikahan mereka, penasaran tapi dia ketakutan.
Dan akhirnya dia memilih sedikit menjauh, karena bulu romanya tiba-tiba berdiri, saat mengingat bentuk dan warnanya.
Lingkaran sekecil apapun jika sempurna pasti 360 derajat, tapi lingkaran sebesar apapun, jika tidak sempurna, ia tidak 360 derajat.
Maka sempurnakanlah kehidupan kita, dengan kunci kesempurnaan yaitu; BERSYUKUR.
Siapa yang ngarep penjebolan gawang di episode ini? ow... tidak semudah itu Bestot, bersabarlah... karena orang sabar pasti disayang pasangan, tapi yang punya pasangan, kalau yang masih Jomblo ya minimal disayang Othorlah, asal jangan lupakan hadiahnya😅😂🤣
__ADS_1