
...Happy Reading...
Siang itu Sabrina benar-benar ikut dengan Gemintang disebuah hotel berbintang dan ternyata ada Lewis juga yang ikut hadir disana.
Namun Sabrina tidak duduk dalam meja yang sama dengan para pemilik saham, dia menunggu Gemintang sampai selesai rapat dimeja lain, sambil mengotak-atik ponselnya.
Disaat Sabrina sedang melihat-lihat pengunjung yang silih berganti datang ke dalam restoran kelas atas itu, kedua bola mata Sabrina seolah menangkap seorang pria yang sedang berjalan kearahnya dengan langkah berkharisma, apalagi dengan stelan jas mahalnya, menambah kesan kegagahan didalam dirinya dan ternyata dia memesan meja di sampingnya.
" Heh... bukannya itu mas Peter?" Sabrina menajamkan pandangannya, saat suaminya itu berjalan berdampingan dengan seorang wanita yang berpenampilan seksi dan menawan.
" Mas... mas Peter? mas meeting di sini juga?" Tanya Sabrina dengan wajah yang exited, kebetulan pikirnya, karena sedari tadi dia sudah cukup lama di meja itu sendirian.
Namun tanpa disangka dan tanpa di duga, Peter hanya meliriknya sekilas dan kembali fokus melihat Tab yang dia bawa.
Astaga... apa aku salah orang? apa dia punya kembaran? tapi bajunya sama dengan yang tadi pagi mas Peter pakai? aku nggak mungkin salah, haduh... kenapa dia cuek banget, malu sekali aku.
Sabrina memilih diam saja, dia kembali duduk sambil pura-pura membuka akun sosial medianya, padahal dia hanya menscrol saja, namun pikirannya sudah melayang entah kemana.
" Who is she? do you know that girl?"
Wanita yang sedang bersama Peter itu menjeda obrolan mereka sebentar dan melihat ke arah Sabrina.
" Nevermind, it's not very important because our work is more important." Jawab Peter dengan santainya, seolah tanpa beban, dia memang tidak suka jika pekerjaannya terganggu dengan hal-hal yang bersifat pribadi.
Tapi untuk Sabrina, yang saat ini bisa mendengar jelas semua jawaban itu, terasa sangat menyakitkan baginya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena sadar diri adalah hal pertama yang dia lakukan saat ini.
Wah... kenapa sakit banget ya jadi orang yang tidak diakui di depan umum begini, apa salahnya bilang kalau aku ini istrinya?
Kalau memang itu terlalu berat atau mungkin bisa menjatuhkan harga dirinya, karena punya istri seperti aku yang tidak ada bandingannya dengan wanita karier seperti dia yang sedang bersamanya, tinggal bilang saja aku ini saudaranya atau apanya kek, kenapa harus bilang nggak penting? aku kan terlanjur menyapanya tadi?
Apa sebegitu memalukannya diriku dan penampilanku ini baginya?
Rendah diri sudah pasti, bahkan rasa-rasanya ingin sekali Sabrina pergi dari sana karena terlalu berat menahan malu, entah ada pengunjung lainnya yang melihat dia atau tidak, kalau begitu kan terkesan Sabrina menjadi wanita yang sok kenal, namun dia tidak ingin nanti Gemintang mencarinya, dan malah menggangu acara meetingnya.
Bertahan Sabrina, bertahanlah sebentar lagi...
Dengan kesal dia memakan hidangan yang masih tersisa, bahkan sengaja memenuhi mulutnya dengan makanan, agar rasa kecewanya tidak begitu terlihat, walau rasa makanan kelas atas itu saat ini, seolah berubah rasa menjadi hambar.
Aku sadar, mungkin aku tidak secantik dia, penampilanku juga terlihat pas-pasan, karena aku bukan dari golongan orang kaya, sebab aku lebih mementingkan isi perut daripada sebuah penampilan saja.
Namun apa wajahku ini terlalu hina, jikalau diakui sebagai keluarganya saja? tapi Gemintang tidak pernah keberatan dengan apa yang ada pada diriku, dia bahkan mengenalkan aku kepada pemilik saham lainnya sebagai saudaranya? padahal Gemintang itu bos, sedangkan dia baru jadi asisten saja sudah berlagak sekali.
Kalau sudah begini, apa yang harus aku pertahankan?
Sabrina sedikit memukul dadaanya yang terasa sesak, namun dia tidak berani memandang kearah suami sirinya itu, jangankan memandang, bahkan melirik saja saat ini dia tidak punya muka.
Ya Rabb... Atur saja skenario terbaik-Mu, aku hanya memohon, kuatkan aku dalam keadaan apapun, sabarkan aku dalam proses apapun dan ikhlaskan aku dalam hasil apapun.
Saat Sabrina masih mengumpat Peter dan berdoa didalam hati, Peter dan wanita itu langsung pergi meninggalkan tempat itu, jangankan basa-basi, untuk sekedar menoleh kearahnya pun tidak.
Fuh... baguslah mereka sudah pergi, sesak nafasku berada didekatnya, kenapa mulutku ini harus menyapanya tadi, kalau tidak kan aku tidak harus menanggung malu yang teramat sangat.
__ADS_1
Okey fine... ternyata begini caramu, entah seberapa lama aku bisa bertahan dengan sikapmu, kita lihat saja nanti...
" Na... sory, lama banget ya?" Gemintang akhirnya sudah menyelesaikan meetingnyadan langsung bergabung di meja Sabrina.
Lama banget, bahkan tadi satu detik saja seolah sudah seperti satu tahun rasanya Gem..
" It's okey Gem."
Namun Sabrina berusaha untuk terlihat baik-baik saja, padahal rasanya ingin sekali dia berteriak atau memaki Peter habis-habisan tadi.
" Kamu sudah makan kan? apa mau nambah lagi?" Gemintang melihat makanan dalam piring Sabrina sudah ludes tak bersisa.
" Nggak, aku sudah kenyang banget malah, owh ya... mas Peter itu sudah tidak lagi menjadi asisten pak Chris kah?" Sabrina jadi penasaran, masak iya asisten kok meeting sendirian tadi dan hanya berduaan lagi, dengan wanita seksih pula itu.
" Masih kok, kenapa emangnya?" Tanya Gemintang yang langsung terheran.
" Tadi aku sempat lihat mas Peter, emm... dari jauh tapi, jauuh banget, dia nggak sama pak Chris tuh?" Sabrina mencoba menutupi kelakuan suaminya yang menyakitkan tadi.
" Mungkin jadwal meeting mereka benturan kali, jadi mereka berangkat masing-masing, emang kenapa sih, ada masalah apa?" Gemintang tidak memikirkan ada yang aneh kali ini.
" Enggak kok, hehe... nggak ada masalah sama sekali." Sabrina langsung tersenyum untuk sekedar menutupi lukanya.
" Hai... Sabrina?"
Lewis yang baru saja selesai berkemas langsung ikut duduk dan gabung di meja mereka.
" Hei... abang Lewis? sudah lama sekali kita tidak berjumpa kan, abang sehat?" Walau jarang bertemu, tapi dulu sebelum dia menikah Lewis sering mengajak Gemintang dan Sabrina keluar jalan-jalan, jadi mereka cukup kenal dengan dekat.
Samalah kita bang...
" Nggak papa lah bang, bahkan remukan rempeyek juga lebih terasa gurih kan?" Bukan Sabrina kalau tidak bisa menyelipkan candaan disetiap obrolan mereka, agar nasip ngenes mereka tidak terlalu kelihatan.
" Itu kan rempeyek dek, lah ini hati tau, rasanya itu mengena didalam hati dan sanubari." Jawab Lewis yang langsung tersenyum kecut karenanya.
Lewis sudah menduga, pasti Sabrina sudah tau semua tentang kasusnya, karena Gemintang memang tidak pernah bisa menyembunyikan sesuatu dihadapan sahabat karibnya itu.
" Bukannya sambal goreng hati itu makanan kesukaan abang?" Gemintang pun ikut meramaikan obrolan mereka.
" Iya... ditambah sama potongan kentang, trus pake cabe merah yang banyak, wuih... semakin pedas semakin mantap kan?" Ucap Sabrina yang langsung mengalihkan topik mereka ke makanan.
" Bener banget tuh dek, apalagi makan nya pakai nasi anget sama kerupuk, wah... nambah tiga kali jadinya." Lewis sudah sering bercanda dengan mereka, jadi tidak terkejut dengan segala banyolan mereka.
" Aish... padahal kalian berdua cocok sepertinya, kenapa kalian nggak berjodoh ya?" Gemintang menyandarkan tubuhnya ke kursi dan menatap abang dan juga Sabrina secara bergantian.
" Ngomong apaan sih Gem?" Sabrina langsung menyenggol lengan sahabatnya itu, takut kalau Lewis marah atau apalah.
" Beneran loh.. kalian berdua itu cocok!" Gemintang malah semakin gencar menggoda mereka.
" Owh ya? kalau begitu gimana kalau kita menikah saja dek?" Lewis pun langsung menatap Sabrina dengan tatapan yang terlihat serius.
" Uhuk.. uhuk.." Sabrina langsung tersedak saat mendengarnya, apalagi melihat sorot mata Lewis yang terlihat meyakinkan.
__ADS_1
" Woaaah... abang telat, Sabrina sekarang sudah menjadi milik orang." Gemintang menanggapinya seolah juga serius.
" Yaaah... kecewa deh abang." Lewis pura-pura memasang tampang melow nya.
" Ahahaha... kayak yang benar aja deh bang Lewis ini." Sabrina langsung tertawa duluan, dia tidak terlalu mengambil hati, karena dia sudah menduga kalau adek beradek ini hanya sekedar membual belaka.
" Beneran loh, andai kita bertemu lebih dulu, mungkin kita berjodoh sekarang dek Sabrina." Lewis malah semakin membumbui candaan mereka agar lebih gurih.
" Hmm... kalau begitu, gimana kalau kita selingkuh aja bang?" Sabrina pun tak kalah heboh menanggapinya.
" NO!" Teriak kakak beradik itu secara bersamaan, yang seolah sangat sensitif dengan kata selingkuh.
" Ahahaha... kompaknya? bercanda kali, kalian berdua ini serius amat, dasar kakak beradik korban perselingkuhan!" Sabrina langsung tertawa ngakak karenanya.
" Kamu ini, bikin jantung orang mau copot aja, ya sudah... abang harus pergi ke kantor lagi, masih banyak hal yang harus abang pelajari untuk saat ini." Lewis langsung bangkit dari tempatnya, karena menjadi seorang pengusaha yang baru merintis memang banyak yang harus dia pelajari.
" Okey, hati-hati ya bang, pelan-pelan saja bawa mobilnya." Gemintang yang memang masih punya rencana lain memilih stay disana beberapa saat lagi.
" Iya bang, kalau nanti ada yang berani nikung dibelokan lagi, trobos aja langsung, hantam yang keras jangan kasih ampun!" Sabrina kembali meneruskan banyolan mereka.
" Kamu ini ngajarin yang nggak bener deh Na!" Gemintang langsung menoyor kening Sabrina yang malah cengengesan.
" Ide yang bagus, lain kali abang coba okey, kalian mau kemana setelah ini?" Lewis hanya tersenyum saat menanggapinya, ngobrol dengan mereka kalau nggak ingat waktu memang tak akan ada habisnya.
" Setelah ini mau jalan ke mall sebentar bang." Jawab Gemintang.
" Okey, take care, sini peluk abang dulu." Lewis merentangkan kedua tangannya, kebiasaannya jika ingin berpisah memang seperti itu.
" Mau dipeluk juga boleh nggak sih bang?" Sabrina langsung memasang tampang iri, padahal dia hanya iseng saja.
" Boleh dong, kamu kan sudah kayak adek aku juga, dari dulu kalian berdua memang tidak terpisahkan, sini peluk bertiga." Dengan senang hati Lewis melakukannya.
" Yeaay!" Gemintang langsung bersorak seperti anak kecil.
" Geseran dikit Gem, aku nggak kebagian ini!" Sabrina semakin membuat heboh disana, sudah lama mereka tidak bersenda gurau bersama, semenjak Lewis pergi berlayar.
" Hei... dia abang aku!" Teriak Gemintang sambil memeluk abangnya dengan serakah.
Dua sahabat itu malah terlihat saling berebut seolah minta jatahnya masing-masing.
" Dia juga abang aku, kamu nggak dengar tadi bang Lewis bilang apa?" Sabrina juga tidak mau kalah untuk berebut, sekedar meramaikan suasana siang itu.
" Sudah jangan rebutan, aku ini abang kalian berdua okey!"
Akhirnya Lewis berpindah ke tengah-tengah mereka berdua, dan merangkul keduanya dengan gemas.
Disaat dia terluka, tenyata Tuhan masih menyisakan orang-orang yang menyayanginya dengan tulus dan tanpa syarat.
Dan pemandangan itu ternyata tidak terlepas dari tatapan tajam seseorang yang berada di kejauhan.
Bahagia tak berarti sampai harus merampas hak milik orang lain, percayalah akan ada orang yang lebih mencintaimu dan menghargai dirimu.
__ADS_1
Jangan salahkan diri ketika ada orang ketiga dalam hubunganmu, karena Tuhan selalu memiliki banyak cara, untuk menyadarkan betapa berharganya dirimu.