
...Happy Reading...
Mungkin ini adalah firasat yang sedari tadi Gemintang rasakan, setelah mengumpatnya sepanjang jalan, tanpa dia duga, orangnya sudah menunggu didepan rumahnya, dialah William, suami yang masih berstatus sah baginya.
" Mas ngapain disini?" Tanya Gemintang dengan penasaran, karena kondisi William terlihat kusut dan memprihatinkan.
" Nungguin kamu lah sayang." Jawab William yang langsung berdiri dan mendekat kearah Gemintang.
Cih... masih bisa lancar dia manggil gue sayang?
" Sejak kapan mas merokok?" Gemintang langsung mengibaskan tangannya kearah asap yang mengepul dari hisapan rokok itu.
" Owh maaf, kamu terganggu ya, aku hanya iseng tadi, biar nggak kedinginan saja." Jawab William yang langsung membuang dan menginjak puntung rokoknya tadi.
" Hachim... Hachim... iseng kok banyak bekasnya, habis berapa bungkus itu?" Gemintang langsung bersin-bersin karenanya.
" Baru dua." Jawabnya dengan enteng.
" Dulu mas bukannya perokok berat kan? kenapa bisa habis dua bungkus, emang sejak kapan mas ada disini?"
Selama Gemintang menjadi istrinya dia memang tidak pernah melihat William merokok, memang Gemintang pernah bilang kalau dia tidak suka jika mencivm bau asap rokok, karena dia pasti akan bersin-bersin setelahnya.
" Sejak tadi malam." Jawabnya kembali sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
" Hah? kenapa nggak masuk saja?" Tanya Gemintang heran, kenapa dia malah duduk berjongkok diluar seperti orang yang tersesat dari kota lain.
" Aku sudah masuk, tapi di usir sama Bang Lewis." Umpat William yang seolah mengadu kepadanya.
Syukurin!
" Ya sudahlah, dia pasti masih marah denganmu!"
" Kalau kamu? apa marahmu sudah reda?"
" Ngapain nanya-nanya, nggak ada urusan juga sama mas."
" Kamu dari mana yank, jam segini kok baru pulang? kamu tidur dimana lagi?"
" Itu sudah bukan urusan kamu lagi, mas mau ngapain kesini?"
" Mencarimu lah, ngapain lagi emangnya?"
" Sekarang aku sudah disini, katakan saja, aku tidak punya waktu banyak untuk mas." Gemintang bahkan sudah malas menatap suaminya itu.
" Mamah sakit, dia nanyain kamu dari kemarin." William merendahkan intonasi suaranya.
" Terus?" Gemintang malah bersidekap setelahnya.
" Kok terus sih, ayolah sayang... temui Mamah kita, dia sangat merindukanmu." William ingin memegang lengan istrinya tapi langsung ditepis begitu saja.
__ADS_1
Kita?
" Aku nggak bisa mas, harusnya mas bisa kasih alasan apa kek, pergi keluar kota gitu, mamah juga pasti ngerti."
Sebenarnya dia bukannya tidak mau bertemu dengan mamahnya William, hanya saja dia takut kalau mamahnya itu bersedih karenanya.
" Apa kamu sudah tidak sudi untuk melihatnya lagi?" Tatapan William begitu sendu, membuat Gemintang menjadi merasa kasihan melihatnya.
" Bukan begitu mas, aku cuma..."
" Beliau sakit parah Gemintang, jantungnya lemah, apa kamu benar-benar tidak ingin melihat keadaannya, dia dirumah sakit sekarang."
" Kenapa bisa begitu mas? dulu bukannya masih gejala dan sudah membaikkan, kenapa bisa kambuh lagi?"
" Gara-gara kamulah?" William langsung menyalahkan istrinya begitu saja.
" Kenapa aku lagi, memang apa yang aku lakukan? ketemu sama mamah aja sudah lama sekali."
" Beliau yang menerima surat gugatan cerai darimu."
Degh!
Surat g**ugatan cerai? aku bahkan belum mengurusnya? kenapa sudah sampai saja dirumahnya, apa ini kerjaan Bang Lewis? wah... Bang Lewis memang selalu terdepan, sat.. set banget dia kalau sudah sakit hati.
" Owh." Gemintang hanya ber owh ria saja, karena cepat atau lambat juga pasti itu akan terjadi pikirnya.
" Owh saja? semudah itu kamu ingin berpisah denganku?" William langsung menatap Gemintang dengan intens.
Enak saja dia selingkuh karena berpikir aku lemah di ranj@ng, woo... aku tidak terima lahir batin pokoknya!
" Yang bilang kamu lemah siapa, aku menyayangimu dengan segala kekuranganmu kan, dan aku sudah bilang denganmu bahwa sampai kapanpun itu, aku tidak akan pernah mau bercerai denganmu sayang?" William masih saja berkilah dengan berbagai alasan.
Anjirrr... dia ngomong seperti manusia tidak punya dosa sama sekali.
" Aku sudah tidak perduli lagi dengan kata sayang dari mu mas, keputusanku sudah bulat, aku tetap ingin bercerai darimu, bagaimanapun itu caranya!"
" GEMINTANG!" William menaikkan nada suaranya dengan keras.
" Jangan membentakku, semenjak kamu menduakan aku, kamu sudah tidak berhak lagi memiliki diriku sepenuhnya, apalagi memarahiku!" Gemintang langsung saja melawannya.
" Sayang... aku punya alasan tersendiri kenapa melakukan hal itu!"
" Apapun alasan kamu, mau hypers€xs atau hypertensi sekalipun, bukan begitu caranya mas! apa mas tahu, yang mas lakuin itu salah besar dan itu berakibat fatal untuk hubungan kita."
" Sayang.. kamu tahu dari mana soal itu?"
" Dari manapun itu tidak berpengaruh sedikitpun dari keputusanku untuk tetap berpisah dengan kamu mas."
" Gem... kamu tahu aku sangat menyayangimu kan? aku cuma tidak ingin kamu merasakan kesakitan Gem, apa kamu tidak mau memberikan satu kesempatan lagi untukku? tolonglah Gem, jangan begini."
__ADS_1
" Mas... apa yang bisa kamu harapkan dariku? jika memang menurut mas, mbak Farah itu terbaik untuk mas, okey fine... aku tidak masalah, tapi ceraikan aku dulu, jangan serakah jadi orang, karena jika seseorang sudah tamak dan ingin memiliki segalanya secara bersamaan, satupun malah tidak akan mas dapatkan, cam kan itu dalam pikiran mesvm mas itu."
" Gem... aku bukannya mesvm, aku juga tidak mau seperti ini, tapi gangguanku ini sungguh membuatku gila, aku sering tidak terkontrol jika sudah berkeinginan dan harus terealisasikan saat itu juga."
" Lalu buat apa mas di anugerahi mulut kalau tidak digunakan untuk berbicara, sesusah apa sih ngobrol dan bicara dari hati ke hati soal itu? dalam hubungan suami istri itu yang paling penting komunikasi mas, jika ada yang disembunyikan, ya sudah... seperti inilah hasilnya."
" Gem... aku sungguh tidak ingin menyakitimu."
" Trus dengan berselingkuh apa mas sudah bisa membahagiakan aku, tidak mas... itu menghancurkan hatiku dan segala perasaanku denganmu mas, rasaku sudah hambar denganmu mas, rasa cinta dan kasih sayang yang dulu hanya untuk kamu seorang, sekarang sudah hancur lebur tinggal keping-kepingan mas."
" Gem... please, maafkan aku."
" Dan mas tahu, bahkan kepingan-kepingan itupun sudah ingin aku kubur dalam-dalam, sampai rasaku itu tidak lagi tertanam dihati ini."
" Gem... haruskan seperti itu, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan kan Gem, apa kamu tidak bisa memberikan sedikit maaf untukku, kamu boleh membenciku, tapi tolong jangan pergi dariku."
" Andai kamu tahu mas, sesakit apa diriku saat mendengar kamu mendes@h dan bermandikan keringat bersama wanita gilamu itu? sampai tidak terasa lagi mas, seolah hatiku sudah beku dan mati rasa karena ulahmu."
" Gemintang, tolong beri aku kesempatan untuk menebus kembali kesalahanku, apapun itu aku terima asalkan kita tidak berpisah."
" Sudahlah mas... apapun yang kamu lakukan saat ini sudah tidak ada gunanya, kamu hanyalah penyesalan terbesar dalam hidupku."
" Gemintang... sayang..."
William ingin mencoba membujuk namun langsung ditolak mentah-mentah oleh Gemintang.
" Jangan menyentuhku kembali, bahkan untuk berjabat tangan saja tidak perlu, karena sebentar lagi kita tidak akan lagi menjadi mahram."
" Gem... aku tidak rela, sampai kapanpun aku tidak rela kita berpisah."
" Terserah mas saja, terima atau tidak terima, semua tidak akan lagi sama, karena saat ini hanya kata Benci yang tercipta untukmu mas."
" Kamu tega denganku Gem... kamu tega buat aku seperti ini."
" Apa yang aku lakukan tidak sebanding dengan pengkhianatanmu mas, dan untuk masalah mamahmu, mas nggak perlu khawatir, besok aku akan mengunjungi beliau dirumah sakit, walaupun kita tidak lagi bisa bersama, tapi mamah tetap aku anggap sebagai orangtuaku yang akan terus aku sayangi dan aku hormati sampai kapanpun itu mas."
" Gem... aku masih sayang kamu, aku sungguh tidak mau kehilangan kamu."
" Pulanglah mas... aku bukan lagi rumah untuk kamu kembali dan kamu bukan lagi tempat ternyaman untuk aku bersandar, sejak kamu menyentuh wanita lain selain mahrammu."
" GEMINTANG!" Teriak William histeris.
" Tolong jangan buat keributan dirumah ini lagi, atau mas yang akan malu sendiri nantinya, permisi."
Gemintang langsung menutup pintu pagar rumahnya dibantu oleh security yang ternyata sedari tadi sudah menjadi penonton setia disana.
Suara tangisan William diluar gerbang, tidak lagi membuat seorang Gemintang berubah pikiran, dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menoleh kebelakang, walau saat menjauh dari sana, air matanya langsung mengalir dengan deras, karena bagaimanapun juga William pernah menjadi tahta tertinggi di kerajaan cintanya.
Hidup itu perjuangan, yang tak seindah kata-kata motivasi dan tak semudah kata-kata mutiara.
__ADS_1
Tawakal atas apa yang telah kau tanam dan salah satu cara agar terhindar dari kekecewaan adalah tidak menaruh harap terlalu tinggi kepada manusia.