Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
103. Dia


__ADS_3

...Happy Reading...


Sepanjang perjalanan menuju Cafe, pikiran Sabrina tidak tenang, semakin besar saja rasa bersalahnya terhadap Peter, bahkan tadi dia meninggalkan suaminlnya begitu saja, masih dalam keadaan tanpa busana.


Dia sudah berusaha membujuk suaminya agar melanjutkan kegiatannya nanti malam atau besok saja, namun Peter seolah tidak sudi untuk mendengarkan ocehannya, dia asyik menyembunyikan wajahnya dibawah bantal, namun Sabrina tetap nekad pergi, karena dia buru-buru takut Gemintang benar-benar masuk kedalam rumahnya dan melihat Peter dalam keadaan seperti itu.


" Na... apa kamu ada masalah, kok diem aja sih?" Gemintang mengamati pandangan Sabrina yang terlihat kosong menatap kerlap kerlip lampu jalanan diluar sana tanpa sepatah katapun, padahal biasanya kalau mereka berdua sudah bertemu pasti langsung heboh ngoceh kesana kemari.


" Kenapa Na? cerita dong sama abang, kita sudah seperti keluarga kan? nggak ada yang harus kamu tutup-tutupi dari kami, cerita saja, apapun masalahmu kami pasti akan siap untuk membantumu." Ucap Lewis yang memperhatikan Sabrina dari kaca spion tengah langsung ikut berkomentar.


Kali ini, justru kalian yang membuat masalah denganku, susah payah kami sampai ke tahap itu, tapi kalian dengan sekejap mata menghancurkan segalanya..


Sabrina sudah tidak bisa lagi membayangkan seberapa besar kemarahan Peter setelah ini. Sudah ha sratnya sebagai lelaki tidak terpenuhi, berhenti ditengah jalan, ditambah lagi ditinggalkan begitu saja. Sabrina bahkan tidak bisa bercerita, hanya berulang kali mendengus kesal karena kedatangan mereka yang tanpa pemberitahuan.


" Enggak kok, nggak ada masalah, cuma entah mengapa badanku rasanya agak gimana gitu, mungkin karena kecapekan kali ya." Ucap Sabrina sambil tersenyum kecut, bagaimana tidak, dia yang sudah sampai diawang-awang harus terjun bebas karena kemunculan mereka.


" Perlu abang antar pergi klinik Na?" Tanya Lewis yang langsung terlihat khawatir.


" Nggak usah bang, mungkin cuma perlu minum yang anget-anget saja nanti, mungkin ini cuma masuk angin doang, hehe.." Sabrina langsung memberikan alasan, karena memang bukan itu penyebabnya.


" Ya udah, nanti kita pesenin wedang jahe ya." Gemintang pun ternyata percaya dengan ucapannya.


Aish... kalau kalian tidak datang pasti ranjangku sudah bergoyang tadi sob, aku kan juga penasaran gimana rasanya, pengen juga mempraktekkan semua perkataan gilamu yang sering kamu gembor-gemborkan itu, tapi ya sudahlah... mungkin ini memang nasip Bruno yang tidak beruntung, owh... Bruno, maafkan aku..


" Baiklah." Mau marah pun dia tidak bisa, akhirnya dia hanya bisa pasrah dan gigit jari saja.


" Okey... kita sudah sampai, kalian berdua masuk aja dulu kedalam cari kursi, abang mau parkir mobil dulu diujung sana, sudah penuh soalnya didepan sini." Ucap Lewis yang memberhentikan mobilnya didepan pintu masuk Cafe.


" Ya sudah, aku pesenin makanan sekalian aja ya bang, mau makan apa?" Ucap Gemintang yang langsung setuju, karena dia juga malas harus jalan jauh dari parkiran mobilnya nanti.


" Apa aja, yang paling mahal juga boleh, duit abang utuh ini, nggak ada yang morotin lagi." Ucap Lewis dengan senyum penuh makna.


" Ceileh... jadi duda makin kayalah abang kan?" Ledek Gemintang dengan senyum ejekan.


" Sabrina.. kamu mau duit abang nggak?" Lewis malah sengaja menggoda Sabrina.


Duit laki gue juga banyak bang...


" Hehe... ya enggaklah bang, kebanyakan duit juga hanya bikin sakit kepala aja." Jawab Sabrina yang langsung menolak.


" Heh... nggak ada duit juga lebih pening kepala tau!" Gemintang langsung memicingkan kedua matanya kearah sahabatnya itu.


" Halaah... Sabrina aja nolak, jadi uangku buat siapa dong?" Lewis pura-pura kecewa karena ditolak.


" Sabar bang... bentar lagi juga jodoh abang datang, dia lagi otewe kayaknya bang." Sabrina langsung berbicara sok bijak.


" Otewe naik apa dulu? kalau cuma jalan kaki ya kelamaan Na, keburu ubanan semua tuh rambut." Gemintang langsung saja protes seperti biasa.


" Cih... mentang-mentang yang sudah punya gandengan, sombong amat! sudah sana buruan kalian turun, makin lama makin kesal juga nih abang." Lewis langsung mengusir mereka, kalau tidak perdebatan itu pasti akan berlangsung sampai subuh.


" Hahaha... ayo turun Na, Duda kan emang ambekan jadi orang."

__ADS_1


Akhirnya Gemintang dan Sabrina masuk terlebih dahulu, untuk mencari tempat duduk dan memesan makanan dan minuman di Cafe yang pengunjungnya lumayan ramai itu.


Disaat Lewis sedang ingin memarkirkan mobilnya, dia melihat sosok wanita yang dia sangat kenal luar dalam, wanita itu sedang dipaksa oleh seseorang untuk masuk kedalam mobil.


" Bukannya itu Farah?" Lewis menajamkan pandangannya, dan benar saja, wanita itu tidak lain memang Farah.


" Mas... aku pusing." Ucap Farah yang berdiri saja sudah sempoyongan.


" Cepat masuk kedalam, jangan buang-buang waktuku." Ucap pria itu dengan nada kasar.


" Tapi aku... hoek... hoek... aku ingin muntah!" Perut Farah sudah terasa mual, namun pria bertubuh kekar disampingnya itu seolah tidak perduli.


" Tahan, jangan sampai muntah, cepat masuk kedalam." Hardiknya kembali.


" Mas... tapi perutku rasanya enggak enak." Farah masih menolak, dia asyik memegang perutnya.


" Tahan, jangan sampai kamu mengotori mobilku, kalau tidak nanti aku plester mulut kamu, mengerti!" Pria itu bahkan berucap kasar dengannya.


" Mas.." Farah ingin memohon namun tidak bisa.


" Masuk atau aku hajar kamu disini!" Pria itu bahkan sudah mengangkat satu tangannya ke udara.


" Jangan kasar-kasar dong mas!"


" Kamu sudah menghabiskan uangku berjuta-juta, sekarang terserah aku mau ngapain aja ke kamu, masuk sana cepat!"


Pria yang bertampang sangar dan ber brewok hitam itu terlihat memaksa Farah untuk masuk kedalam mobil.


" Mas... jangan paksa aku bisa nggak sih!" Farah akhirnya menaikkan intonasi suaranya.


Plak!


Satu gampa ran dari tangan kekar pria itu mendarat di pipi mulus Farah.


" Aku tidak perduli, kamu harus menurut denganku, atau aku tuntut kamu karena sudah menghabiskan uangku!"


Pria itu tak segan-segan memu kul pipi Farah hingga membiru seketika.


" Sakit mas..." Farah bahkan menitikkan air matanya.


" Kalau tahu sakit bisa nggak jadi penurut, nggak usah melawan!" Teriaknya kembali dengan nada kasar, dan Farah hanya bisa menangis, tubuhnya seperti sedikit kehilangan keseimbangan.


" Kenapa dia diam saja? apa dia dalam pengaruh minuman ke ras, astaga Farah?"


Lewis sebenarnya tidak sampai hati melihat mantan istrinya sampai menangis kesakitan seperti itu, apalagi hanya demi uang, karena selama dia menikah dengan Farah, tidak pernah sekalipun dia berani memukulnya, jangankan memukul, membentaknya sekali saja dia sudah menyesal berhari-hari, takut kalau Farah membencinya.


Plak!


" Masuk, atau aku lempar kamu ditengah jalan nanti!"


Satu tam paran kembali mendarat di pipi Farah, hingga lengkap sudah kedua pipinya berwarna merah kebiruan.

__ADS_1


" Hemat bloush on lah kau Farah!" Umpat Lewis yang sebenarnya ingin membantu, namun dia sadar, dia sudah tidak punya wewenang untuk membela kembali mantan istrinya itu, karena mereka memang sudah resmi bercerai saat ini.


" Jika kamu masih berulah dan melawanku, aku tidak segan-segan untuk menghabisimu, faham kamu!"


Pria itu langsung mendorong Farah dan memaksanya untuk masuk kedalam mobil.


" Woah... kalau sudah menyangkut tentang nyawa bukankah ini kriminal namanya."


Saat Lewis melihat mobil mereka melaju, dia langsung menghidupkan mobilnya dan tanpa sadar dia mengikutinya dari belakang.


" Heh, kenapa juga aku harus menolongnya? dia aja tega sama aku kan?" Tiba-tiba Lewis mengingat kecurangan dari mantan istrinya yang begitu menyakitkan itu.


" Tapi kasihan juga keluarganya, dia kan tulang punggung keluarga, apalagi dia sudah diberhentikan secara paksa dari management produksi yang sudah mengontraknya sebagai model, dan dia masih ada beberapa adeknya yang masih sekolah." Lewis kembali mempercepat laju mobilnya agar tidak kehilangan jejak.


" Hmm... kasian juga kan, bantuin nggak ya? kalau dia sampai koit, kasian juga ayah dan ibunya, mereka bisa sengsara setelah kepergiannya." Dia tau betul bagaimana kondisi keluarga mantan istrinya itu.


" Bismilah... tolong aja deh, urusan yang lain itu belakangan, yang penting kita selamatkan nyawanya terlebih dahulu, anggap saja ini atas dasar kemanusiaan." Lewis kembali memantapkan diri untuk menyelamatkan mantan istrinya itu.


" Apalagi dia dalam keadaan setengah sadar seperti itu, astaga Farah... sejak kapan kamu jadi kenal dunia hitam seperti ini, mulai kapan kamu doyan minum-minuman dari Neraka itu?"


" Coba dulu kamu jadi wanita yang penurut dan setia denganku, berapapun harta yang kamu minta akan aku berikan kepadamu, kesejahteraan keluargamu pun aku berani menjaminnya, bahkan nyawa pun aku rela bertaruh untukmu, tapi kamu malah tega mengkhianatiku." Lewis hanya bisa menggelengkan kepalanya, seolah tidak percaya dengan perubahan drastis dari sosok Farah.


" Kita berawal dari orang asing, lalu menjadi orang terpenting dan kembali menjadi asing, jika memang bersamaku adalah luka, pergilah dan kejarlah sesuatu yang kau sebut Bahagia."


Lewis langsung kembali menekan pedal gasnya untuk mengejar mereka agar tidak terlalu jauh. Bahkan dia melupakan makan malamnya bersama dua wanita kesayangannya di Cafe tadi, entah bagaimana nasip adik dan sahabatnya sekarang.


Hingga mobil mewahnya sampai di pelataran sebuah gedung tua, di sudut kota yang jauh akan keramaian penduduk.


" Ya ampun... tampang seperti gengster, tapi sewa hotel saja tidak mampu kah? kenapa harus dibawa ke gedung tua ini? buruk sekali nasipmu Farah, apa ini adalah hukuman untukmu, hmm... hanya kamu dan Tuhan lah yang tahu."


Lewis masih mencoba mengamati kondisi disekeliling, biasanya mereka pasti punya anak buah, jadi dia harus lebih waspada, karena dia hanya sendirian disana.


Benar saja, tidak lama kemudian muncullah dua pengawal yang membantu pria berwajah brewok itu dan mendorong paksa Farah agar segera mengikuti jalannya.


" Cih... kemana pria selingkuhannya yang dia bangga-banggakan itu? kenapa tidak muncul saat ini? apa dia sudah bosan denganmu Farah? dasar sampah, Jantan tak berguna sama sekali!" Umpat Lewis yang hanya memperhatikan mereka dari jarak jauh.


Saat mereka sudah hilang dari pandangan, Lewis turun dari mobilnya dan berjalan mengendap-endap untuk mencari celah agar bisa melihat apa yang akan mereka lakukan dengan mantan istrinya itu didalam sebuah gedung tua.


" Astaga... apa yang mereka lalukan? apa ini yang disebut dengan karma?"


Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia sungguh tidak tega melihat orang yang pernah dia sayangi dengan segenap hati itu harus melakukan apa yang mereka perintahkan dengan paksa seperti itu.


" Owh.. Tuhan, secepat itu Engkau memberi balasan kepadanya? saat dia sudah tidak tahu malu layaknya seekor binatang, lalu apakah dia juga akan diperlakukan orang lain seperti binatang juga?"


Sebenarnya Lewis masih belum menemukan alasan kenapa Farah menjadi seperti ini, apa karena uang dan harta saja? atau mungkin demi kariernya yang sudah hancur? atau apapun itu, Lewis masih bertanya-tanya sendiri didalam hati.


" Astagfirullohal'azim."


Lewis hanya bisa melongo, sambil berulang kali mengusap dadaanya dan beristigfar, saat melihat fenomena langka didepan kedua matanya secara live, dia mengintip aksi mereka dari sebuah lubang kecil di sudut pintu yang memang sudah terlihat usang.


..."Hadiah tak selalu terbungkus dengan indah, karena terkadang Tuhan membungkusnya dengan sebuah Masalah, tapi yakinlah didalamnya tetap ada Berkah dan juga Hikmahnya."...

__ADS_1


__ADS_2