Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
119. Spy?


__ADS_3

...Happy Reading...


Tiada hal yang lebih menyenangkan selain mendapatkan restu dari keluarga sang belahan hati, walau dia harus merelakan satu unit mobil untuk sang Peter karena telah memberikan ide yang cemerlang itu.


Dan yang terpenting adalah melancarkan segala urusannya dengan pemilik Bangkok Corporation agar bisa bekerja sama dengan Lewis yang notabenya pengusaha yang baru saja merintis kariernya, walau memang perusahaannya sudah terkenal, namun beda yang mengelola pasti beda pula hasilnya.


Dengan bantuan Peter yang memang sudah mengenal baik dengan pemiliknya, Lewis dan pihak Bangkok Corporation berhasil mencapai kata mufakat untuk menjalin sebuah kerja sama, karena memang selama ini Peter yang sering mengurus kerja sama perusahaan Chris dengannya, dan Chris hanya tinggal menandatanganinya saja.


Sebenarnya bukan itu saja salah satu alasan utama Lewis menerima Chris untuk menjadi pendamping hidup Gemintang, karena dia tahu betul bagaimana kondisi Gemintang akhir-akhir ini, dia bisa kuat, dia bisa baik-baik saja, pasti ada seseorang yang menjadi sandaran hatinya, selain sahabatnya itu dan Lewis sudah menduga kalau dialah orangnya.


Adiknya itu adalah sosok yang manja, dan dia bisa se tegar itu pasti karena ada dukungan dari seseorang, apalagi saat Gemintang terpuruk oleh kenyataan, dia sedang berlayar dan tidak bisa menghiburnya.


Lewis bukan kakak yang hanya mementingkan jabatan dan harta saja, dia tidak pernah mau mengekang pilihan adeknya, karena yang menjalani hubungankan bukan dirinya, dan belum tentu juga pilihannya sendiri bisa membahagiakan Gemintang.


Dan kalau Chris ternyata adalah orang yang bisa membuat perusahaan keluarganya lebih berkembang lagi, apa salahnya, mungkin itu adalah bonus dari Tuhan, adiknya bisa hidup bahagia, dan perusahaannya bisa maju pesat karenanya.


" Chris, terima kasih untuk semuanya."


" Sama-sama bang, aku lihat juga prospek kerja abang kedepannya bagus, jadi aku yakin, kedua belah pihak pasti akan pvas dan saling menguntungkan satu sama lain."


" Chris, terlepas dari masalah pekerjaan, aku ingin membahas niat baikmu itu."


" Maksud abang tentang melamar Gemintang?"


" Hmm.."


" Aku sungguh-sungguh bang, dan akan segera aku resmikan secepatnya."


" No... bukan masalah itu, aku cuma nggak mau Gemintang terluka untuk kedua kalinya hanya karena memiliki seorang pendamping hidup lagi."


" Aku paham bang, aku pun lihat betapa terlukanya Gemintang saat itu, karena aku ada disisinya, tapi untuk masalah kesetiaan, abang boleh pegang kata-kataku."


" Are you sure?"


" Hmm... sebelum mengenal dan dekat dengan Gemintang, aku sama sekali tidak berminat untuk menikah."


" Why?"


" Dulu aku merasa, hidup berumah tangga hanya akan menyusahkan kita jika terjadi perpecahan dalam rumah tangga. Namun hadirnya Gemintang disekitarku, mampu mengubah pandanganku dengan seorang wanita, hingga muncul rasa sayang dan ingin selalu ada didekatnya, dan juga memiliki dia seutuhnya, jadi karena Gemintanglah aku mau menikah, jika tidak mengenalnya mungkin aku akan memilih single seumur hidupku."


" Chris... aku memang tidak pernah melarang Gemintang untuk berhubungan dengan sesiapapun, tapi satu yang aku minta, tolong jangan kecewakan dia, rasa sakit terkhianati itu susah sekali obatnya, karena aku juga merasakannya, hati seorang wanita tidak sekuat kita, jadi aku mohon, tolong jangan pernah sakiti dia, apalagi selingkuh."


" Aku paham bang."


" Kalau sampai itu terjadi, aku tidak akan memaafkanmu, dan jangan salahkan aku jika aku akan berbuat kasar denganmu, mau ke lubang semut manapun kamu sembunyi, aku pasti akan menemukanmu, mengerti!"


" Mengerti bang, tapi kalau Gemintang yang berkhianat denganku, boleh aku mencari abang, aku pun bisa mencari abang walau sampai ke ujung dunia sekalipun?" Chris dengan santainya membalikkan omongan Lewis sambil tersenyum.


" Heh? maksud kamu gimana?" Lewis langsung meliriknya dengan heran, baru kali ini ada yang seolah berani melawannya, padahal William aja sering dia buat tidak bisa berkutik.


" Tidak apa-apa bang, jangan dipikirkan!"


" Bagaimana aku tidak memikirkan jika kamu sudah mengatakannya!"


" Anggap saja abang tak dengar kan?"


" Apa Gemintang masih sering bertemu dengan William?"


" Hmm.." Chris langsung menggangukkan kepalanya perlahan.


" Ckk... itu sih resikomu, karena memiliki wanita yang cantik jelita sepertinya, jangankan mantan suaminya, karyawan di perusahaanmu juga pasti berminat dengannya, jadi pandai-pandailah kamu menjaga hati adekku, kalau dia sudah nyaman dengan satu orang, bisa aku pastikan dia tidak akan pernah mencari rumah yang lain." Jawab Lewis dengan santainya, bukan Lewis kalau tidak bisa membalikkan keadaan.


Kakak adek memang nggak ada bedanya, yang ini pandai berkata-kata, yang adeknya pandai merayuku, lemah aku didepan mereka!


" Kalau begitu boleh aku segera menikahinya?"


" Kalau dia mau, silahkan?"


" Jelas dia mau, tidak akan ada yang bisa menolak pesonaku."

__ADS_1


" Ciih... percaya diri sekali kamu."


Lihat saja nanti, adikmu itu tidak akan pernah bisa berpaling lagi dariku!


" Ayok kita ngopi-ngopi dulu bang, kita rayakan moment keberhasilan abang bekerja sama dengan Bangkok Corporation, hehe.."


Chris langsung merangkul bahu Lewis seperti sahabatnya sendiri, karena memang umur mereka tidak jauh berbeda sebenarnya.


Mereka pun bahkan berhasil mengundang pihak Bangkok Corporation untuk hadir di negara kita, dan sudah menyewakan sebuah hotel berbintang untuk menjamu mereka dengan spesial. Sedangkan Peter lebih memilih untuk pulang duluan.


" Sayang... buatkan aku susu hangat, mas capek banget ini."


Peter menyandarkan kepalanya dibahu sofa dengan lemas, aktifitasnya hari ini sungguh padat merayap, membuat tubuhnya yang kekar itu terasa letih.


" Susu hangat biasa apa susu murni?" Tanya Sabrina sambil membantu membukakan jas milik suaminya.


" Maunya sih yang murni, tapi kali ini mas beneran haus yank, jadi yang asli dari sumbernya untuk nanti malam saja, okey?" Namun Peter malah sengaja menanggapinya dengan hal lain.


" Hidiiiih... mas ini pikirannya loh!" Sabrina langsung mencubit pinggang suaminya.


" Yaudah deh sini... mas cicipin dikit aja, sisanya ntar malem tapi ya?" Peter langsung menarik tubuh istrinya kedalam pelukan dan siap beraksi ditempat favoritnya.


" Apaan sih mas, orang beneran nanya ini, aku tuh baru beli susu murni yang baru diperas dari sapinya, ntar tambahin jahe sedikit, enak di badan." Sabrina jadi heran sendiri, kenapa setelah dirinya menjadi milik Peter seutuhnya, suaminya itu jadi manjanya tidak ketulungan.


" Owh... kirain udah pengen banget dikempengin, hehe.." Ledek Peter yang langsung memeluk tubuh Sabrina dengan gemas.


" Awas ihh... biar aku pergi buat minuman itu dulu, mas ini ngeres aja pikirannya."


Sabrina langsung sewot sendiri jadinya, sekarang setiap malam dia sudah seperti punya momongan bayi besar, terkadang minta dipijitlah, minta diusap-usap, dibelai-belai dan yang lainnya, dia nggak akan bisa pejam mata kalau belum menidurkan bayi tua nya itu.


" Woaah... harum banget yank, pake pewangi apaan, kayaknya mantep rasanya." Peter bahkan sampai memejamkan mata saat menghirup wanginya, sebelum meminum susu jahe itu.


" Apaan sih mas, masak susu jahe pake parfum, ada-ada saja mas ini." Sabrina langsung terkekeh sendiri melihatnya.


" Hmm... istriku memang paling jago bikin yang seger-seger, kalau begitu nih yank mas kasih hadiah buat kamu!" Peter langsung mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


" Hadiah untuk apa? secangkir minuman ini atau minuman yang lain?" Tanya Sabrina sambil sedikit menggoda suaminya.


" Ahaha... bercanda mas, tapi beneran deh, dalam rangka apa mas ngasih hadiah buat aku?"


" Dalam rangka mas sayang kamulah."


" Gitu aja? woah... suamiku memang luar biasa ya?" Selalu ada kejutan baru yang dia rasakan semenjak menikah yang awalnya karena terpaksa itu.


" Masak suami ngasih sesuatu dengan istrinya harus dalam rangka segala, sudah kewajiban seorang suami dong memberikan nafkah dan lainnya kepada sang istri secara lahir dan batin kan?"


" Mas emang yang terbaik deh."


" Coba lihat didepan, kamu suka nggak warnanya?" Peter langsung bangkit dan merangkul bahu istrinya dan menyandarkan kepalanya di kepala Sabrina denan mesra.


" Emang ini apa sih?" Sabrina membuka kotak kecil yang ternyata berisi sebuah kunci.


" Kunci apa ini mas?"


" Makanya ayok... kita lihat didepan!" Peter langsung mengajak Sabrina ke halaman apartement miliknya.


" Ya ampun, mas beliin aku mobil?" Sabrina mengamati sebuah mobil baru yang sangat mewah dan indah.


" Hmmm... secara tidak langsung sih iya?"


Padahal mobil itu adalah hadiah dari big bosnya yang langsung dikirimkan tadi.


" Maksudnya?"


" Ya mas kan kerja, dapat hasil beginian yaa diterima ajalah, lagian daripada nebeng terus sama Gemintang mending kamu punya mobil sendiri kan?"


" Wah.. makasih mas." Sabrina langsung merentangkan kedua tangannya ke arah Peter untuk memeluknya.


" Terima kasih juga sudah hadir dihidup mas sayang, dan sudah sudi menerima mas walau harus melewati banyak drama didalam perjuangan cinta kita." Peter langsung menyambut pelukan Sabrina dengan rasa syukur yang teramat sangat.

__ADS_1


" Itu namanya sebuah proses mas, jadi memang harus jatuh dulu baru tumbuh, agar kita bisa kuat untuk menghadapi kerasnya dunia ini." Sabrina mengungselkan wajahnya didadaa bidang suaminya yang sedikit berbulu itu.


" Hmm... janji ya, jangan ada rahasia atau apapun diantara kita, jika nanti ada masalah selesaikan dengan hati dan pikiran yang dingin dan juga tenang, bicarakan berdua okey?" Peter menyatukan kening mereka dengan senyum yang tidak pernah surut.


" Asiap maskuh!" Jawab Sabrina dengan imutnya.


Andai aku tahu menikah semenyenangkan ini, nggak akan monoton hidupku, cuma kerja, pulang, tidur, bangun, kerja lagi, muter gitu aja, tahu gitu kan dari dulu aku menikah saja, eeh... tapi kan dulu aku belum kenal Sabrina? hmm... apapun itu, terimakasih Tuhan atas rezeki istri yang engkau berikan..


" Pinter, istri siapa sih ini." Peter mengacak rambut Sabrina dengan gemasnya, ada rasa lain dihatinya, bahwa ternyata punya pendamping hidup itu sebahagia itu.


" Istri tetangga!"


" Enak aja! sentil juga nih!" Peter langsung melotot setekah mendengarnya.


" Jangan dong, ehh... gimana kalau kita jalan-jalan aja maskuh?"


" Mau kemana?"


" Test drive mobil ini lah, atau kencan mungkin, kita kan belum pernah kencan berdua." Rengek Sabrina, dia memang sedari dulu pengen banget bisa me time bersama pasangan seperti anak muda yang lainnya.


" Hmm... bener juga ya, ehh... gimana kalau kita kencan skalian spy orang?" Tiba-tiba ide jahil Peter langsung muncul.


" Spy? maksudnya mau ngintip orang? dih... mas ini sukanya ngintipin orang deh, ntar matanya bintilan baru tahu rasa, jangan aneh-aneh deh, kayak nggak ada kerjaan aja ngintipin anak orang."


" Ckk... ya udah deh kalau nggak mau, padahal yang mau kita intip itu sahabatmu itu, tapi kalau kamu menolak nggak jadi aja." Peter langsung pura-pura cuek kembali.


" Sahabat aku? siapa emang?" Tanya Sabrina dengan tampang penasaran.


" Emang sahabatmu ada berapa?"


" Gemintang doang yang paling dekat."


" Ya udah, ya memang dia lah orangnya."


" Emang dia ngapain mas, Gemintang kan belum malam pertama, kenapa harus kita intip coba?"


Senyum Peter kembali terbit saat melihat wajah polos istrinya, tiada hari tanpa senyuman semenjak secara tidak langsung dia menjemput paksa istrinya dengan membawa barang-barangnya saat itu.


" Woyooo... ketahuan kan kamu sekarang, ternyata istriku ini tukang ngintip orang saat malam pertama ya? nggak nyangka mas loh?" Peter langsung mencolek hidung mancung Sabrina.


" Apaan sih mas, aku kan cuma nebak doang!" Sabrina langsung pura-pura ngambek, padahal dia hanya menahan malu saja sebenarnya.


" Utututu... imutnya istri aku kalau lagi ngambek begini, sini kiss dulu." Peter langsung menguyel-uyel pipi Sabrina layaknya sebuah bakpao.


" NGGAK MAU!" Tolaknya sambil memejamkan kedua matanya, jiwa gesreknya saat bersama Gemintang ternyata keceplosan disini.


" Ceileh... gitu aja marah, sahabatmu itu nanti malam mau dilamar Chris di suatu tempat yang dia bilang romantis, tapi kalau kamu nggak mau ya sudah, kita bisa cari tempat lain aja."


" MAUK!" Sabrina langsung menjawabnya dengan cepat.


" Heh? tadi katanya nggak mau ngintip?" Ledek Peter.


" Emang nggak mau ngintiplah, mending terang-terangan, enak aja.. katanya bestie kok mau lamaran nggak diundang."


" Chris memang mau ngasih surprize, sengaja nggak ngasih tahu si Sumarni itu."


" Owh ya? kok aku jadi penasaran ya? ayok mas kita siap-siap sekarang aja gimana?" Dia yang malah bergantian menjadi lebih heboh sekarang.


" Malas lah, nggak dikasih vitamin C dulu sih." Peter langsung pura-pura pasang tampang badmood.


" Ya sudah malas aja sana, entar malam aku mau tidur duluan aja, kalau enggak aku bobok aja di kamarku yang dulu."


Mulai saat ini Sabrina sudah punya senjata ampuh untuk menyelesaikan segala urusannya dengan suaminya, kalau sudah diancam begitu saja, Peter pasti sudah lembek, karena sekarang dia kalau mau tidur harus ada Sabrina disampingnya.


" Sayang... kenapa kok jadi aku yang malah disalahin!"


" Bodo amat." Jawab Sabrina yang langsung nyelonong pergi masuk ke dalam kamar sambil tersenyum-senyum sendiri, saat melihat wajah suaminya yang kesal.


" Astaga... pantesan di dunia ini cuma ada MASalah, nggak pernah ada yang namanya MBAKalah, karena wanita memang selalu benar! benar-benar tidak mau disalahkan, aishh.."

__ADS_1


Niat hati tadi, Peter mau dimanja-manjain dulu kayak pengantin baru pada umumnya, namun ternyata istrinya itu selalu bisa membalikkan keadaan di hidupnya.


..."Bahagia itu bukan ketika kamu memiliki segalanya, akan tetapi bahagia itu disaat kamu memutuskan untuk melihat segalanya secara Sempurna."...


__ADS_2