
...Happy Reading...
Mungkin Tuhan mau kita sedikit menambah semangat dalam hidup ini, atau mungkin Tuhan tidak ingin melihat kita bergantung pada selain-Nya.
Karena bayangan kita pun akan pergi meninggalkan kita dalam keadaan gelap, namun kita hanyalah manusia biasa, yang saat dihadapkan dengan kenyataan hidup bahwa orang yang kita sayangi ternyata berkhianat, pasti akan terluka dan merana. Begitu juga dengan nasip Gemintang malam ini.
" APA YANG SEDANG KAMU LAKUKAN MAS!"
Rasa kecewa karena saat Chris pergi begitu saja masih terasa sesak didadaanya, ditambah pulang-pulang melihat suaminya berada didalam kamar kakak iparnya, dengan kemeja yang sudah kusut, walau baju itu sudah terkancing namun kelihatan sekali kalau tadi terburu-buru saat memakainya, karena terlihat congklang hasilnya.
" Sayang mas bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." William ingin memelvk tubuh istrinya, namun Gemintang langsung mengangkat kedua tangannya dan memilih berjalan mundur kebelakang.
" Gemintang... tolong jangan salah paham, suamimu tadi hanya meminjam charger ponsel saja kok, trus kami ngobrol sebentar sambil nungguin kamu pulang." Farah langsung melakukan pembelaan, dia terlihat tenang karena hanya memakai daster saja, jadi mungkin tidak sulit untuk membetulkannya, namun sebagai seorang wanita Gemintang tahu pasti, kalau dibalik daster itu pasti sudah tidak ada kain lainnya.
Astaga.. sudah seperti ini pun masih saja mengelak, mau sampai kapan kalian bersandiwara seperti ini?
" Trus kenapa harus dikunci pintunya? apa selama itu kalian berdua didalam kamar, kalau hanya untuk meminjam sebuah charger?" Gemintang mencoba menjadi kuat, dia tidak ingin terlihat lemah, karena hanya akan ditindas terus menerus nantinya.
" Sayang... mas tuh nungguin kamu dari tadi, tapi kamu nggak pulang-pulang, mau nelpon tapi batre ponsel mas habis, mau cari charger kamu nggak ada dikamar, jadi mas pinjam punya mbak Farah." William berkata dengan penuh kelembutan seperti biasa.
Memang benar charger milik Gemintang dia bawa dan ditaruh didalam mobil tadi, tapi dia yakin dan tau pasti setelahnya pasti terjadi hal-hal yang disebut dengan zin@ dengan mereka berdua.
Karena seorang suami walau hanya memandang wanita selain istrinya berlama-lama apalagi dalam satu kamar yang sama itu sudah termasuk zin@ mata, apalagi ditambah lain-lainnya.
Terus mas... terus saja sakiti hatiku, biar aku bisa dengan mudah melupakanmu dihidupku.
" Mau sampai kapan kalian berdua seperti ini?" Gemintang menatap lantai marmer dirumahnya dengan tatapan nanar.
" Maksud kamu apa sayang, mas nggak ngapa-ngapain kok, mas cuma bercanda aja sama mbak Farah, lagian kamu seharian ini pergi sesuka hatimu tanpa mengenal waktu, kamu sama sekali tidak mengurus mas lagi, selalu sibuk dengan urusan kamu sendiri, apa begini kewajiban seorang istri sayang?" William kembali membalikkan kemarahan itu kepada Gemintang.
" Jangan memutar balikkan keadaan seolah aku yang salah mas, dan asal kamu tahu, aku begini itu semua gara-gara mas!" Teriak Gemintang yang diliputi perasaan emosi.
" Memang apa salah mas? mas selalu menuruti semua kemauanmu dari dulu Gemintang, mas selalu ada untukmu disaat kamu perlu apapun itu dan mas selalu menuruti semua rengekan kamu tanpa memikirkan rasa lelahku, semuanya Gemintang!" William seolah mengeluarkan segala unek-uneknya.
__ADS_1
" Jangan menutupi kesalahan sendiri dengan mencari-cari kesalahan orang lain mas, itu pengecut namanya!" Otot dari wajah Gemintang seolah ingin keluar karena amarahnya, bahkan kedua tangannya sudah mengepal dibawah sana.
" Berarti kamu sadarkan kalau kamu itu juga salah!" William mencari pembelaan diri.
" Tapi kesalahan aku tidak sejahat kesalahanmu mas, mas sadar nggak sih, mas itu sudah kelewat batas!" Rasa kebencian Gemintang seolah keluar semua malam ini.
" Maksud kamu apa!"
" Mas masih bisa bertanya maksud aku apa? apa kalian berdua fikir aku tidak tahu apa yang kalian lakukan dibelakang ku dengannya!" Gemintang menunjuk Farah yang berdiri mematung disamping William dengan tangannya yang sudah bergetar sedari tadi.
" Memangnya apa yang kami lakukan, apa coba buktinya, jangan menuduh kami sembarangan Gemintang!" William bahkan sudah memanggil nama dengannya, seolah mulai menabuh gendang perang dengan istrinya.
" Okey... kalau kamu tidak mau mengaku tidak masalah!" Gemintang malah tertawa sumbang melihatnya.
" Sayang... jangan begini, kita ngobrol dikamar ya, mas bisa jelasin semuanya." Entah mengapa William malah melunak setelahnya.
" Nggak perlu, semua sudah jelas menurutku!" Gemintang ingin segera pergi saja darisana.
" Sayang... kamu jangan menuduh mas sembarangan dong, kita memang sudah biasa kan bercanda sama mbak Farah, kenapa kamu mencurigai mas hanya karena hal ini?" William menarik lengan Gemintang yang ingin berlalu.
" Aku tidak akan melepasmu, sampai kapanpun itu!" Ucap William dengan tatapan tajam kearah istrinya.
" Kamu egois mas! okey... kalau mas memang mau bukti, mas bisa lihat nanti di Pengadilan Agama!" Ucap Gemintang dengan jelas dan lugas.
" GEMINTANG LEA PRAKOSO!" Kemarahan William langsung sampai dipuncaknya.
" Aku sudah tidak tahan lagi hidup denganmu mas!" Teriak Gemintang yang meluapkan segala kemarahannya selama ini.
" Aku tidak mau Gem, sampai kapanpun aku tidak akan mau melepaskanmu, mas cinta sama kamu sayang!" William semakin mencengkeram lengan Gemintang.
" LEPAS!" Teriak Gemintang.
" NO, tidak akan pernah!" William tetap saja bersikeras enggan melepasnya.
__ADS_1
Bugh!
" Aww... sakit yank!"
Entah dapat kekuatan dari mana, Gemintang langsung melayangkan satu tendangan mautnya di area sel@ngk@ngan milik William, sehingga membuat cengkeraman ditangannya langsung terlepas, karena William langsung memegang torpedonya yang mungkin sudah memar atau membiru karena terlihat dari wajahnya yang langsung memerah seketika menahan rasa kesakitannya.
Waduh... jangan-jangan pecah lagi kedua telornya, cih.. bodo amatlah!
Disaat William masih mengaduh kesakitan, Gemintang segera berlari keluar rumah meninggalkan kedua ahli Neraka itu didalam sana, bahkan tadi dia sekilas melihat Farah panik juga, mungkin dia juga ketakutan kalau torpedo William tidak lagi bisa digunakan untuk memu@skan h@sr@t terpendamnya selama ini.
Sedangkan diluar, cuaca alam ini seolah ikut mendukung kesedihan Gemintang, langit seolah ikut menangis dan membantu menghapus air mata Gemintang dengan turunnya hujan yang sangat lebat.
Sekuat apapun Gemintang menahan, tetap saja disaat dia sendiri seperti ini, air matanya pasti langsung mengalir dengan derasnya.
" Hiks.. hiks.."
" Mas Chris..."
" Ehh... kenapa nama dia yang malah aku pikirkan saat ini?" Gemintang merasa bingung sendiri.
" Bang Lewis, Sabrina... aku butuh kalian berdua, hiks.. hiks.."
Dibawah Pohon beringin diujung jalan, Gemintang duduk berjongkok sambil meratapi nasipnya yang buruk, dengan baju yang sudah basah kuyup dan air mata yang tidak berhenti menetesi kedua pipinya.
" Heh? kenapa aku yang harus pergi dari sana? itu kan rumah peninggalan almarhum kedua orang tuaku, harusnya kan mereka yang harus angkat kaki dari sana!" Dia mulai tersadar dengan apa yang dia lakukan.
" Argh... Gemintang wake up! jangan jadi manusia bodoh kamu!" Akal sehat Gemintang seolah kembali pulih.
Semangat dari diri Gemintang seolah terkumpul menjadi satu, dan muncul begitu saja, tekadnya langsung kembali membulat, dia langsung balik kanan berjalan kembali menuju rumahnya, tanpa perduli dengan hujan yang terus membasahi bumi dan juga guntur yang terus menggelegar diatas sana.
..." Segelas kopi bahkan lebih jujur daripada hati manusia. Dia hitam tanpa harus berpura-pura putih, dia pahit tanpa harus berlaga manis."...
AYO... EMOSI KALIAN SUDAH SAMPAI TAHAP MANA? MASIH MAU LANJUT?
__ADS_1
Silahkan jauhkan diri dari gelas dan piring anda ya bestie, takutnya remuk satu lusin karena emosi dengan dua ahli neraka ini😂🤣