Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
140. Kesombongan Diri


__ADS_3

...Happy Reading...


Orang sombong itu umpama orang yang berdiri diatas gunung, Dia memandang orang lain kecil, namun dia tidak sadar, orang lain juga melihatnya kecil.


" Selamat siang mas Robert, apa kamu masih mengenali saya?" Wajah Widya terlihat sangat tenang, bahkan sedikit menyisipkan sebuah senyuman yang dulu selalu menghipnotis Robert, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.


" Hei... dia sudah sah menjadi suami aku sekarang!" Claudya langsung meninggikan suaranya, seolah dia tidak rela saat Widya masuk kembali kedalam kehidupan mereka.


" Owh ya... selamat kalau begitu, tapi sepertinya aku juga masih sah jadi istrinya, karena belum ada kata talak diantara kami." Widya seolah tidak takut sama sekali dengan apapun yang Claudya katakan, karena dia sudah tau semua kedok wanita itu dari A sampai Z.


" Tapi itu kan dulu! kalian juga sudah lama tidak bertemu, anggap saja kalian sudah bercerai!" Claudya sungguh tidak rela jika dia harus kehilangan pundi-pundi emas dari harta sang suami.


" Ckk... apa sebegitu remehnya arti sebuah pernikahan sakral itu menurut kamu? but.. whatever lah ya, aku juga sudah tidak berminat lagi dengannya, kalau suami kamu itu masih mau menerima kamu sebagai istrinya, setelah tau semua akal bulusmu itu, ya... itu sih kebodohan dia ya kan, opsh... maksud aku, itu sih keputusan dia, hehe.." Widya bahkan melirik Robert dengan senyum yang penuh arti.


" Gilak... gue nggak nyangka loh mas, mama Widya itu kalau sudah berkata-kata, jleb! langsung nusuk ke hati, kena banget gitu, dapat kata-kata dari mana lagi mama mertua itu, keren banget lah." Gemintang langsung berbisik ke arah suaminya dengan penuh kekaguman, karena menghadapi pelakor kita memang tidak boleh lemah, harus tetap tenang.


" Sebenarnya mas kasihan juga sama ayah, tapi mau bagaimana lagi, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga, dan itu konsekwensi hidup atas kecerobohan ayah." Chris tidak bisa membela salah satu dari mereka, karena menurutnya kedua orang tuanya itu punya kesalahan masing-masing.


" Iya juga sih mas, semoga setelah ini, ayah mertua mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, ada banyak pelajaran hidup yang bisa beliau ambil dari sini, bahwa kecantikan hati itu lebih penting daripada kecantikan wajah."


" Tapi mama Widya menurutku lebih cantik sekarang yank." Ucap Chris sambil mengamati kedua mamanya bergantian.


" Setuju sih mas, mungkin dulu mama kan lebih fokus mengurus mas saat kecil, jadi tidak sempat berhias seperti wanita pelakor itu, semua ibu juga pasti begitu mas, jika sudah menikah pasti lebih mementingkan anaknya daripada diri sendiri."


" Dan disitulah kesalahan ayah yang paling besar kan yank." Chris pun menyetujui pendapat istrinya.


" Hmm... tapi ini juga sebuah pelajaran buat aku."


" Pelajaran apa?" Chris langsung menoleh ke wajah cantik istrinya.


" Kalau nanti aku punya anak dari mas, aku harus tetap dandan cetar membahenol, biar mas nggak kabur ke pangkuan wanita lain."


" Cih... jangan samakan suamimu ini dengan ayah mertuamu, kalau mas berminat dengan wanita lain, sudah lama mas menikah, banyak tau yank yang berminat jadi istri mas, ratusan bahkan lebih."


" Kurang naik ke atas mas." Gemintang langsung menjeling kearah suaminya.


" Apanya yank? resleting mas turun kah, tadi mas buru-buru soalnya?" Chris langsung panik mengecek resleting celana miliknya.


" Bagian yang ono aja yang mas pikirin, sombong tuh naikin terus biar sampai nabrak langit ke tujuh!" Umpat Gemintang yang langsung menatap jengah kearah suaminya.


" Hehe... damai itu indah sayang, ayok kita lanjutkan menonton drama live ini dulu, harusnya bisa ini masuk serial di TV kan yank?" Chris langsung merangkul bahu istrinya dan menyenderkan kepalanya.


" In your dream mas."


Akhirnya konsentrasi mereka kembali ke perdebatan antara istri pertama dan istri kedua, dihadapan mereka secara langsung.


" Claudya, sekarang kamu jelaskan denganku, apa maksudnya ini? kamu mengambil alih dua anak cabang perusahaan keluargaku tanpa sepengetahuanku? why?" Robert bahkan sudah memanggil nama dengan Claudya.


" Mas.. aku bisa jelaskan semuanya, ini tidak seperti yang kamu kira." Claudya langsung melakukan pembelaan.


" Apa belum cukup, hasil dari perusahaan itu untuk membiayai kehidupan anakmu itu? dia bukannya masih kuliah? sebesar apa pengeluarannya? padahal semua biaya kampus sudah aku yang handle semua?" Robert tidak habis pikir akan hal itu, karena hasil dari perusahaan anak cabang itu bukannya kecil, bahkan sudah lebih dari cukup untuk makan satu kampung berbulan-bulan.


" Untuk foya-foya lah mas, apalagi? atau mungkin untuk mencari daun muda, berondong gitu misalnya, yang lebih seger." Widya dengan santainya duduk sambil bersidekap sambil memperhatikan wajah Claudya yang semakin kalang kabut oleh kata-katanya.


" Apa! daun muda? Claudya, apa benar yang Widya katakan!" Robert langsung menaikkan intonasi suaranya.


" Itu bohong mas! aku mana punya daun muda, hei... Widya, jaga ya mulut busukmu itu, atau aku akan..."


" Akan apa? katakan? hei... Claudya, jangan pernah berpikir aku takut denganmu ya, semua kartumu, aku sudah pegang, beserta barang buktinya, apa kamu mau aku buka semua kedok busukmu itu sekarang juga?"


Saat Claudya ingin mencoba mengancamnya, Widya langsung balik mengancam dirinya.


" Barang bukti apa, jangan asal nuduh kamu ya!"


" Ckk... kamu yakin aku buka semua didepan suami kamu? nggak takut apa kalau dia semakin membencimu?" Ledek Widya, dia sudah mempersiapkan sesuatu untuk Claudya jika dia berani macam-macam dengannya.


" Katakan Widya, tunjukkan padaku semua bukti yang kamu punya tentang Claudya!" Robert seolah sudah tidak sabar untuk mengetahui semuanya.


" Hmm... sebenarnya sih ini masalah kalian berdua, aku tidak ingin terlalu ikut campur, karena merusak rumah tangga orang itu bukan kegemaranku, walau rumah tanggaku pun hancur juga karena orang ketiga."


Sesakit bagaimanapun hati Widya karena ulah mereka, namun bukan itu tujuan utamanya,dia hanya ingin menunjukkan siapa Claudya sebenarnya.


" Widya... tolong maafkan mas." Setelah berulang kali menghela nafas, akhirnya permintaan maaf keluar dari mulut Robert saat ini.


" Sebenarnya aku juga tidak mau menyimpan dendam denganmu mas, walau bagaimanapun juga kamu sudah merawat putraku sampai dia sukses seperti ini, dan yang lebih penting dia sehat dan juga memberikan aku seorang menantu yang cantik dan baik seperti Gemintang, ya kan sayang?"


" Makasih mama Widya." Jawab Gemintang dengan wajah penuh haru.


" Widya, dia juga putraku." Robert seolah tidak sanggup memandang wajah Widya secara langsung, rasa segan, malu dan yang lainnya menumpuk menjadi satu.


" Mas... jangan pernah terbujuk oleh rayuan Widya mas, dia itu orang jahat!" Claudya mencoba menjadi pelopor kebencian.

__ADS_1


" Haha... aku orang jahat? kamu ceritain diri sendiri atau bagaiman sih!" Tapi Widya tidak goyah sedikitpun.


" Hei... asal kamu tahu ya, mas Robert itu sudah menggangap hubungan kalian itu berakhir dari dulu tahu!"


" Cukup Claudya!" Teriak Robert dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.


" Aku tidak perduli hubunganku berakhir atau tidak dengannya, yang aku perdulikan, jangan sampai kamu mengusik kehidupan putra dan putri menantuku setelah ini, mengerti kamu!"


" Aku juga istri sahnya, apa kamu lupa! aku juga berhak atas hartanya!" Claudya tetap kekeh membela dirinya.


" Claudya!" Teriak Robert kembali.


" Mas... selama ini aku sudah merawatmu, menyayangimu, bahkan kamu sakitpun aku menjagamu, aku juga selalu melayani semua nafsvmu, sampai kamu pvas bukan? masak kamu tidak mau memberikan hartamu untukku!"


" Bukan aku tidak mau, tapi kenapa kamu tidak mengatakannya denganku!"


" Kalau maling ngaku penjara penuh mas, asal kamu tahu aja, sekarang cuma dua perusahaan, kalau sudah ada kesempatan juga pasti seluruh perusahaan mas akan beratas namakan dia!" Ucap Widya dengan penuh kata sindiran.


" Diam kamu!" Claudya langsung mengangkat tangan kanannya dan hampir saja mendarat diwajah Widya kalau Chris tidak berlari mencegahnya.


" Jangan sentuh mamaku!" Chris langsung mencengkeram lengan mama tirinya dengan kuat.


" Aww... sakit nak, lepas! kamu menyakiti mama!" Rengek Claudya yang meringis kesakitan.


" Kamu bukan mamaku!" Jawab Chris dengan mata penuh amarah.


" Aku juga ikut merawatmu Chris, jangan durhaka kamu sama mama."


" Aku tidak pernah memintanya, anda saja yang sok dekat denganku, lagian yang membesarkan aku dulu bukan kamu, tapi simbok yang selalu mencurahkan kasih sayangnya hingga aku tumbuh dewasa!"


" Chris!"


" Daridulu sampai sekarang, aku tidak benar-benar menggangap kamu sebagai mamaku, kamu hanyalah istri ayahku saja selama ini."


" Mas... lihatlah anakmu itu, dia benar-benar jahat denganku!"


" Bukan putraku yang jahat, tapi kamu wanita yang tidak tahu diri, bahkan tidak punya harga diri!" Widya langsung membela putra kebanggaannya.


" Awas kamu Widya, berani kurang ajar kamu sama aku!" Umpat Claudya.


" Hei... satu langkah saja kamu berani maju kearah mamaku, aku patahkan kedua kakimu itu!" Teriak Chris sambil mengeratkan giginya.


" Mas, help me, aku kan istrimu mas."


" Fuuh... aku akan memberikan apa yang kamu inginkan selama ini Claudya!"


" Maksud mas keinginan yang mana?"


" Kamu boleh memiliki satu perusahaan di Bandung itu, nanti biar aku yang urus."


" Yeay... terima kasih mas, kamu memang suami kesayangan aku." Claudya langsung ingin berlari menghambur ke dalam pelukannya.


" STOP!" Namun Robert langsung mengangkat kedua tangannya.


" Kenapa mas, ada apa?" Claudya langsung merasa heran.


" Aku ceraikan kamu, aku jatuhkan talak satu untukmu!"


" HAH!"


Widya, Chris, Gemintang dan Peter yang menjadi penonton setia disana langsung melongo menatap kearah Robert.


" Mas... kenapa harus bercerai? aku tidak mau bercerai denganmu mas, tidak akan!"


" Sudah talak satu tante, terima sajalah." Celoteh Peter dengan wajah yang tak kalah penasaran.


" Mas... pokoknya aku tidak mau bercerai denganmu!"


" Mama Claudya beneran cinta kali ya mas?" Gemintang juga ikut berbisik.


" Cinta uangnya iya, masih kurang lah itu harta yang dia dapatkan, makanya belum mau diceraikan, coba dikasih perusahaan inti, pasti sudah menari-nari dia diluar sana."


" Begitu ya? sadis bener dah!"


" Claudya, sebaiknya kamu pergi sekarang, aku akan urus semuanya untukmu!" Robert sudah tidak tahan lagi, karena kepalanya juga sudah terasa pening.


" Mas... aku sayang kamu mas, aku nggak mau kita pisah mas?"


" Claudya, aku tidak mau mendengar lagi suaramu rengekanmu itu!"


" Ini mas, aku kasih tunjuk foto dia kalau lagi shoping di mall, beuh... pinter banget pokoknya kalau dia milih berondong, ganteng-ganteng banget, seger gitu dipandang mata ya kan, biar awet muda sih emang." Widya sengaja memperlihatkan foto yang dia ambil diam-diam saat itu.

__ADS_1


" Sialaaan kamu ya Widya!" Umpat Claudya makin kesal.


" Claudya, aku ceraikan kamu sekarang juga!"


" Mampus deh, talak dua dah!" Peter kembali menghitung, mungkin disini dialah saksi yang paling penting.


" Mas, dia bohong, itu hanya bodyguard aku saja kok, biar aku aman kemana-mana mas, jangan percaya dengan ucapan wanita itu, dia bohong mas!"


" Owh ya? aku bohong? hai boy... sini, kenalan dulu sama om kamu!" Widya langsung berteriak memanggil seseorang, dan tak lama pun muncul pria yang ada difoto tersebut.


" Siapa kamu!" Tanya Robert sambil memegangi dadanya yang kembali sesak.


" Jawab Boy, kamu beneran bodyguard dia atau teman kencannya!" Tanya Widya sambil menaikkan kedua alisnya.


" Woi... siapa dia, aku tidak mengenalinya, jangan memfitnahku kalian ya!" Claudya langsung tidak terima.


" Aku memang teman kencannya." Jawab pria tampan itu dengan tenang.


" Apa kamu pernah tidur dengan dia?" Widya memang sudah membayar mahal Boy untuk kedatangannya di tempat ini, jadi apapun pertanyaan Widya, dia akan menjawabnya dengan jujur.


" Pernah, bahkan beberapa kali!"


" Hei... diam kamu, jangan mengaku-ngaku kamu, aku tidak mengenalmu!"


" Apa aku perlu menunjukkan bagian tubuhmu mana saja yang ada tahi lalatnya?" Boy pun punya bukti yang kuat.


" Tutup mulutmu!"


" Bagian punggung, atas pusar dan dipahaa kanan atasmu bukan!" Boy semakin membuat semua orang disana melongo.


Uhuk.. uhuk.. ngik...ngik..!


Bruk!


Robert langsung sesak nafas dan akhirnya tumbang, jatuh dari tempat duduknya karena oleng dan kurang keseimbangan."


" Ayah!" Chris lansung berlari mendekat.


" Astaga paman!" Peter pun langsung ikut berlari kearah pamannya.


" Peter, mana ambulance tadi?"


" Dokter, cepat bawa paman Robert ke rumah sakit terdekat!"


" Baik pak."


Akhirnya seorang dokter dan beberapa perawatnya berlari dan segera memberikan pertolongan pertama, agar Robert bisa selamat sampai Rumah sakit terlebih dahulu.


" Tunggu, aku ikut juga!" Claudya ingin ikut masuk kedalam ambulance itu.


" Diam disana! jangan pernah mencoba untuk mendekati ayahku lagi, jangan harap kamu bisa mengusik keluargaku lagi, mengerti kamu!" Chris langsung mengeluarkan ultimatum kepada Claudya.


" Tapi Chris?"


" Atau kamu mau aku menuntut kamu, atas tuduhan penipuan!" Ancam Chris.


" Aish... semua ini gara-gara kamu!" Claudya langsung melotot kearah Widya yang hanya menaikkan kedua bahunya.


" Kok jadi aku, apa kamu lupa kalau diatas langit masih ada langit?"


" Pvas kamu sekarang!"


" Sebenarnya belum begitu pvas sih, tapi it's okeylah, begini juga sudah lumayan!"


" Awas kamu ya Widya! tunggu pembalasanku!"


" Okey, aku tunggu balasan darimu, perlu aku kasih alamat rumahku tidak?" Tanya Widya dengan santainya.


" Cuih!"


Claudya yang memang sudah kalah telak tidak bisa berbuat apa-apa, apalagi sosok berondong yang sempat beberapa kali dia kencani itu datang sebagai saksi dan bukti.


Widya akhirnya bisa tersenyum dengan lega, walau setelahnya dia menunduk dan menghela nafas berkali-kali, sebenarnya bukan seperti ini yang dia inginkan, apalagi harus melihat Robert pingsan karena ulahnya, walau bukan salah dia juga sepenuhnya.


" Semoga tidak terjadi apa-apa denganmu mas, maafkan aku." Ucap Widya perlahan.


Dia memilih mengayunkan kedua kakinya untuk melangkah pergi dari sana, tanpa ingin ikut kerumah sakit untuk melihat kondisi seseorang yang masih sah menjadi suaminya, karena memang hanya akan ada luka jika dia melihat Robert secara langsung dihadapannya, apalagi sudah ada anaknya yang mengurusi.


Widya hanya ingin menjaga hati dan menjaga kewarasan diri, agar sakitnya dimasa lalu tidak muncul kembali saat ini.


..."Kita diatas untuk turun, dibawah untuk naik, jatuh untuk bangkit, terbang untuk membumi. Jadi, simpan sombongmu baik-baik."...

__ADS_1


__ADS_2