Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
99. Jerit Malam


__ADS_3

...Happy Reading...


Sulit memang, untuk menunggu sesuatu yang kamu tahu, mungkin tidak akan pernah terjadi; tetapi, bahkan lebih sulit untuk menyerah, ketika kamu pikir itu semua yang memang kamu inginkan.


Dan kini, Peter hanya bisa menatap istri dan kedua sahabatnya itu dengan pandangan kosong dan hampa. Dia masih memikirkan apa dan kenapa, dia bisa jadi begini.


Ingin menyerah namun hatinya sudah terpaut dengan istrinya sendiri, sedangkan istrinya seolah semakin menjauh dari dirinya.


Andai dulu aku bersikap baik terhadapnya, mungkin kami sudah mengarungi indahnya bahtera cinta rumah tangga sekarang, aish... aku harus bagaimana lagi dalam menyikapinya?


Dengan langkah lunglai dia keluar dari kantor Gemintang dan memilih pergi ke sebuah taman di sebrang Pantri, agar dia tetap bisa melihat istrinya walau dari jarak jauh.


Daun-daun kering yang berguguran seolah menemani rasa kesepian Peter, didalam keramaian para karyawan perusahaan yang sedang beraktifitas dengan keahlian mereka masing-masing.


" Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu... Nana sayang, aish... lama-lama bisa gila aku karenanya!"


Peter kembali mengumpat diri sendiri, dibawah pohon beringin dengan ditemani angin sepoi-sepoi yang mampu menyejukkan hatinya yang sedang gundah gulana.


Apalagi saat melihat wanitanya tersenyum dan tertawa di sebuah meja disudut sana, dengan ditemani kedua rekannya sambil menikmati sarapan mereka. Seolah dia ingin menggapainya lalu menariknya kedalam pelvkannya dan berteriak bahwa Sabrina adalah istrinya.


Namun itu tidak mungkin terjadi, karena mungkin orang-orang disini akan menggangap dia sebagai pria yang tidak waras.


Sesungguhnya Peter ingin protes, namun dia tidak punya alasan, karena dalam kejadian ini memang dia yang memulai menyalakan api duluan dan ternyata malah membakar habis dirinya sendiri.


" Nggak boleh jadi ini, aku nggak bisa terus-terusan begini."


Tiba-tiba Peter seolah mendapat suntikan energi, dia langsung mengeluarkan ponselnya dan menghubungi big bosnya.


" Hallo bos." Sapa Peter dengan suara lemas.


Kali ini dia sudah berada di titik paling lemah dalam mengejar hati seorang wanita.


" Hmm... ada apa? apa ada masalah di kantor?" Tanya Chris di seberang sana.


" Bos nggak berangkat kerja lagi kah hari ini?"


" Enggak, mungkin besok aku sudah berangkat, hari ini aku harus mengurus ayah, beliau boleh pulang hari ini."


Chris memang tidak berangkat ke kantor dalam beberapa hari ini, walau ayahnya seolah menentang dirinya bersama Gemintang, namun dia tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang anak untuk menjaga ayahnya.


" Hmm... begitu rupanya." Peter seolah ragu ingin mengeluarkan segala unek-uneknya, namun kepada siapa lagi dia ingin curhat kalau tidak dengan bosnya, karena dialah satu-satunya teman dekat dari dulu sampai sekarang.


" Kenapa? dari suaramu sepertinya kamu lagi senang dan bahagia?" Ledek Chris, padahal suara Peter jelas-jelas tidak mengenakkan untuk di dengar.

__ADS_1


" Kyaaaaa... bahagia dari mana, merana iyalah bos!" Teriak Peter yang langsung kesal.


" Haha? what's wrong with you brother? apa kamu kalah tender? jangan terlalu dipikirkan, kita bisa cari perusahaan yang lain lagi nanti." Chris langsung tertawa karenanya.


" Haish... kalau cuma masalah tender aku tidak perduli, lagian juga aku tidak pernah kalah dalam dunia persaingan bisnis selama ini." Jawab Peter dengan sombong, tapi memang seperti itulah kenyataannya, jika Peter dan Chris sudah menekuninya, tender yang mereka inginkan pasti bisa mereka dapatkan, karena mereka memang selalu totalitas dalam bekerja.


" Jadi apa masalah hidupmu?" Chris mencoba menjadi pendengar setia, karena tidak biasanya saudaranya itu mengeluh seperti ini.


" Haish... wanita memang sulit ditebak ya bos? aku sudah mati-matian merayunya, namun tidak ada hasilnya sama sekali, seolah aku dan perasaanku yang selalu dia siksa." Akhirnya muncullah segala unek-uneknya yang bersarang didalam otaknya.


" Masalah istrimu lagi?" Tanya Chris dengan jengah, seolah tidak habis-habis perkara diantara mereka.


" Hmm..."


Dia hanya bisa menggaruk-ngaruk kepalanya saja, tanpa bisa menemukan solusinya.


" Astaga, punya istri satu aja ribet banget hidupmu, kamu itu sudah punya label halal dalam segala hal, gitu aja kok bingung mau menghadapi istrimu, hal remeh temeh begitu saja, harus aku juga kah yang ngajarin kamu?"


Seolah Chris punya pengalaman yang banyak tentang hubungan suami istri, padahal dia sendiri hanya pernah mendekati seorang wanita yaitu Gemintang saja di hidupnya, namun dia memang selalu beruntung dalam hal ini. Karena dia selalu mendapatkan moment yang tepat untuk bisa menembak pas di tempat sasaran.


" Lalu aku harus bagaimana bos? aku sudah lelah, apa aku menyerah saja?" Tidak ada satupun misinya yang berhasil dia lakukan, dan rasa lelah dan letih itu terkadang sering muncul didalam benaknya.


" Hidih... begitu saja cemen kamu! jangan lemah menjadi seorang pria itu, karena seorang wanita nanti akan semakin meremehkanmu, jika kamu gampang menyerah."


" Peter... tanda kedewasaan diri adalah ketika seseorang menyakitimu dan kamu mencoba memahami situasi mereka, daripada balik menyakiti mereka. Jadikanlah dirimu sebagai lautan yang luas, apapun kejadian itu harus diterima dengan tawakal dan dengan iman yang tebal."


Sebagai seorang sahabat, Chris mencoba memberikan sedikit petuah, untuk kebaikan mereka semua.


" Berbagai cara sudah aku coba, tapi tidak ada yang mempan, perempuan itu terlalu cerdik untuk aku kenakan!" Umpat Peter kembali.


" Kalau begitu terjang saja langsung, jangan kebanyakan basa-basi, dia itu hanya mengujimu bukan membencimu!" Ucap Chris dengan mantap seolah dialah pakarnya.


" Apanya yang diterjang, maksudnya gimana ini, aku nggak ngerti?"


Sebenarnya otaknya sudah menjurus kesana, namun dia seolah tidak sanggup untuk mengatakannya.


" Istrimu itu lah, masak iya ayam tetangga kamu trobos, bisa kena patok jago tetangga kamu nanti!"


" Caranya?" Peter langsung kembali ke sifat polosnya.


" Astaga Peter! tembak aja langsung!" Bahkan Chris langsung memukul lengan kursi yang dia duduki karena terlalu gemas.


" Nembak gimana, orang dia sudah jadi istriku? jangan samakan hidup saya dengan anda dong?"

__ADS_1


" Trus.. yang kamu tanya caranya denganku itu kenapa? kamu pikir aku profesional dalam hal menggarap ladang seorang istri apa? aku masih Perjaka brother, apa kamu lupa?" Chris langsung tersenyum miring dalam menanggapinya.


" Aku pun masing ting tong bos!" Jawab Peter tidak mau kalah.


" Cih... masih ting tong dalam status pernikahan saja bangga, orang juga pasti berfikir kalau si Bruno dan bolanya itu pasti nggak bisa dipakai!" Jawab Chris yang langsung menyepelekan sahabatnya itu.


Bruno?


" Enak saja, si Bruno milikku masih original ya, belum tersentuh sama sekali, kecuali kalau aku khilaf karena si dedek kedinginan, tapi dia tetap masih tersegel, belum pernah terjamah oleh makhluk manapun, jadi sudah pasti eksistensi dan kekuatannya masih Jawara lah!" Ucapnya dengan menggebu-gebu.


" Haha... lalu apa mereka percaya, kalau kamu sendiri belum membuktikannya?" Tanya Chris kembali.


" Alamak oi...!" Celoteh Peter dengan kesal, diapun sebenarnya ingin mencobanya, namun entah mengapa semesta seolah tidak mengijinkannya.


" Sebenarnya aku juga tidak tau banyak tentang wanita, tapi setahuku Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan, tetapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena satu bahkan ribuan alasan."


" Iya juga kan, aku pun berharap dia benar-benar bisa menerimaku dan membuka hati untuk mencintaiku, dengan apa adanya diriku."


Sabrina adalah gadis kedua di sepanjang perjalanan cintanya, yang membuat dirinya mampu mengeluh.


" Sudahlah... kalau kamu menghubungiku hanya karna si Bruno mu itu yang nggangur aku tutup saja, pikir sendiri dengan naluri laki-lakimu itu, kalau enggak tanya saja sama kesayangan aku itu, dia pasti sudah berpengalaman, atau mungkin bagusnya kamu terjang saja langsung dia saat berada di kamarnya, pemanasannya belakangan saja, nanti sudah tau enak rasanya juga pasti dia minta nambah, okey... bye!"


Mana mungkin gue tanya sama si Sumarni, bisa habis kena bully aku tujuh hari tujuh malam.


" Hei... bos, tunggu... aish... orang aku belum selesai bicara sudah dimatikan saja." Umpat Peter dengan tampang melasnya.


" Benar juga kata si bos, kalau nggak di coba dulu mana tahu rasanya kan?" Dia kembali merengungi kata-kata petuah dari big bosnya, walau seolah semesta tidak mendukungnya, namun dia tetap ingin mencobanya sekali lagi.


" Saat pertama kali aku makan makanan luar negri juga begitu, kelihatannya tidak berselera pada awalnya, tapi setelah tahu rasanya mau lagi dan lagi kan?" Dia malah membandingkan istrinya dengan makanan luar negri yang tidak terlalu berempah seperti di sini.


" Hahay... kalau dengan cara pelan masih terlalu sulit untuk melewatinya, berarti terobos aja langsung kan!"


Bagaimana kalau nanti malam aku bobol lagi aja rumahnya, setidaknya kan semua tetangga kontrakannya sudah mengenalku semua, jadi tidak masalah dong?


" Fuh... semoga saat aku melancarkan serangan umum ku nanti, aku tidak teringat masa laluku ya Tuhan... sungguh aku pengen sekali merasakan apa itu yang dinamakan Jerit Malam, amin."


Kalau dia masih menolakku, aku culik saja dia sekalian, menculik istri sendiri kan tidak dosa, apalagi di kasih santapan lezat dan bergizi tentunya, hmm... aku harus berhasil nanti malam, pokoknya Nawaitu sajalah...


Akhirnya Peter menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya, dia benar-benar sudah putus asa dengan segala kegagalan yang dia alami dalam menakhlukkan hati istrinya sendiri, jadi berbagai cara akan dia lakukan sebagai tanda ikhtiarnya, walau kesannya memang sedikit memaksa.


Berproses lambat belum tentu gagal, tergesa-gesa juga tidak menjanjikan berhasil, intinya jangan berhenti, terus tekuni saja.


Sebab, jika menunggu semua menjadi sempurna dulu baru mulai, kita tak kan pernah mulai. Sambil jalan sambil belajar, meskipun jatuhnya lebih banyak, setidaknya kita selangkah lebih baik, dibandingkan sebelumnya.

__ADS_1


Jangan lupakan hadiahnya, sebelum kalian menyaksikan adegan Jerit Malam sang Bruno ya bestie🤣


__ADS_2