Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
26. Berlakon.


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari ini pikiran William tidak tenang, sedari tadi dia terus saja bolak balik keruangan istrinya namun Gemintang tidak kunjung datang.


" Sabrina... sebenarnya kemana perginya istriku? kenapa belum balik juga, sudah jam berapa ini?"


Sudah hampir puluhan kali dia mondar-mandir mencari Gemintang, ponselnya dihubungi juga tidak aktif dan itu yang membuat hatinya menjadi galau, karena tidak biasanya ponsel mahal istrinya itu tidak aktif.


" Tadi sih cuma pamit ada urusan mendadak gitu pak, jadi saya kurang tahu perginya kemana." Jawab Sabrina yang langsung bersandiwara, sebenarnya dia malas untuk menanggapi William, namun bagaimanapun juga sekarang William adalah bosnya juga, jadi dia harus lebih pandai berakting dihadapannya.


Mampvs luu pak, dia lagi sama pria lain, emang kamu aja yang bisa berduaan sama istri orang, mau jungkir balik atau sekalian koprol juga gue nggak perduli, haha.


" Tapi sudah daritadi dia perginya kan? masak sampai kantor mau tutup dia belum balik lagi." William masih belum puas dengan jawaban dari Sabrina.


" Mungkin macet kali ya pak?" Sabrina mencari-cari alasan saja dan masih bersikap tenang dan damai sentosa.


" Ini belum jam pulang kantor Na, mana mungkin macet! coba kamu hubungi dia lagi." William berulang kali menghela nafasnya dengan gelisah.


" Tidak aktif pak, sudah saya coba berulang kali." Sabrina memasang wajah sedih, padahal dalam hati dia ingin sekali tertawa terbahak-bahak.


" Aku takut terjadi apa-apa dengannya loh Na." Entah apa yang dikhawatirkan William sebenarnya, tapi wajahnya memang terlihat panik saat ini.


" Atau mungkin dia sudah pulang pak, coba bapak cek dirumah saja." Sabrina kembali berkomentar, padahal sebenarnya dia hanya ingin William cepat pergi dari ruangannya, karena dia sudah enèk dan mvak melihat gelagatnya pria dihadapannya kini.


" Benar juga ya, kalau begitu aku pulang saja sekarang, kalau ada yang mencariku bilang saja aku ada urusan mendadak gitu ya."


Bod○ amat, gue kerja disini buat Gemintang bukan buat elu.


William langsung terlihat bersemangat, bahkan dia sampai berlari saat keluar dari ruangan Sabrina.


Hus.. hus.. enyah kau sana, bagus.. jadi aku bisa menyelidiki bagian keuangan saat dia pergi, hah.. sudah mvak aku melihat wajahmu yang sok perduli dengan sahabat gue itu.


Sabrina langsung tersenyum miring melihat kepergian William dan segera bergegas menyelesaikan misinya, agar sahabatnya itu tidak terlalu lama tersiksa batin dalam ikatan pernikahan yang menyesakkan hati.


Saat sampai dirumah, William segera berlari ke kamarnya untuk mencari keberadaan istrinya, namun nihil, kamar mereka masih kosong, masih rapi seperti saat dia berangkat kerja tadi pagi.


" Kemana perginya dia?" William kembali dibuat prustasi.


" Kenapa dia harus ikut kerja di Kantor, kenapa nggak mau dirumah saja, aku kan jadi khawatir dia pergi sama orang yang nggak jelas diluaran sana." William bahkan menyesal karena sudah mengizinkan istrinya ikut bekerja.


" Bi... bibi, Gemintang belum pulang bi?" William kembali berlari turun dari tangga menuju dapur.


" Belum tuan, apa ada yang bisa saya bantu?" Sang bibi langsung sigap menerima titah dari tuan rumahnya.

__ADS_1


" Nggak ada, buatkan saja aku kopi, taruh diruang tamu ya." William langsung menggendorkan dasinya dan berjalan lunglai menuju ruang tamu untuk menunggu kepulangan Gemintang.


" Biar aku saja yang buatkan." Tiba-tiba Farah sudah muncul dibelakang mereka.


" Mau aku buatin cemilan juga nggak adek ipar?" Tanya Farah kembali.


" Tidak, itu saja cukup." Jawab William yang bahkan tidak menoleh kearah Farah sedikitpun, entah mengapa dia gelisah sekali sore ini.


" Bebih, are you okey?" Farah meletakkan satu cangkir coffe latte kesukaan William.


Saat mereka hanya berduaan saja, sontak Farah langsung memanggil dengan sebutan kesayangan mereka berdua.


" Hmm.. aku hanya sedikit pusing saja." William memijit kepalanya perlahan sambil bersandar di bahu sofa.


" Sini.. biar aku bantu pijit." Farah langsung menggeser tempat duduknya dan mendekat kearah William.


" Nggak papa, nggak usah, kita sedang ada diruang tamu, nanti kalau Gemintang tiba-tiba pulang bisa kacau." Jawabnya perlahan.


" Kita ke kamar saja sebentar yuk? biar aku kasih servis terbaik buat kamu, pasti kepala kamu nanti lebih enakan." Ucap Farah dengan nada centilnya.


" Nggak usah.. aku lagi nungguin Gemintang ini, dari siang tadi dia pergi dan nggak pulang-pulang, nggak pamit juga, mana ponselnya nggak aktif lagi." William kembali mengoceh karena terlalu mengkhawatirkan istrinya.


Ckk... ngapain sih dia masih terlalu perduli dengan istrinya, padahal tiap dini hari dia juga nyangkul aku dikamar dan selalu keluar kamar dengan senyuman.


Farah sebenarnya cemburu, namun dia mencoba untuk bersikap wajar kalau diluar kamar, karena itu syarat yang William berikan kepada Farah sejak mereka mulai dekat dan menjalin hubungan yang lebih dekat lagi.


" Tapi tidak biasanya dia seperti ini mbak, dia tuh nggak pernah lepas dari ponselnya kemana-mana dan selalu memberi kabar denganku." Tanpa sadar William memanggil Farah dengan sebutan mbak lagi.


" Kok nggak manggil bebih lagi sih, kita kan hanya berduaan, si bibi masih didapur juga kok?" Sifat manja Farah langsung keluar, bahkan tangannya sengaja meraba pahaa William dengan mesra.


" Maaf.. kepalaku benar-benar pusing." William memejamkan matanya sejenak.


" Mungkin kamu butuh penyaluran, kita main game didalam kamar mandiku yuk, dibawah guyuran air shower hangat, kamu pasti suka kan?" Farah mulai beraksi, bahkan dia sengaja menyenggol benda pusaka William agar dia terpengaruh.


" Nanti saja, aku sedang tidak mood." Jawab William dengan singkat.


"Kenapa sih beb? biasanya kalau kamu pusing nyarinya juga aku kan?" Semakin William menolak, semakin Farah tidak rela jika dalam otaknya William hanya ada Gemintang saja kembali, karena perasaan Farah kini sudah tidak lagi kepada suaminya Lewis.


Perasaan Farah saat ini kepada Lewis perlahan terkikis sedikit demi sedikit dan hanyut terbawa ombak dilautan lepas tempat Lewis berlayar dan mulai berlabuh di hati William, karena setiap malam hanya pria itu yang selalu memvaskan segala keinginan duniawi yang terpendam selama ini.


Apalagi William memang ahlinya membuat wanita selalu melayang-layang dengan semua pergerakannya, bahkan istri sahnya sampai sekaramg masih mengakui kehebatan dirinya soal kalau soal itu.


" Iya.. tapi nggak sekarang ya?" William kembali menolaknya.

__ADS_1


" Aku kasih gaya baru beb.. kamu pasti akan suka nantinya, tadi malam juga aku tungguin di kamar kamu nggak datang-datang, aku kan kangen bebih."


Farah seolah semakin menggila, karena saat berduaan dengan William, keinginannya memang selalu meledak-ledak, karena malam-malam mereka selalu dipenuhi dengan suara-suara menggivrkan.


" Mbak Farah.. ehh.. bebih, nanti malam saja ya, aku lagi cemas nungguin Gemintang, aku takut dia kenapa-kenapa dijalan, aku harap kamu mengerti ya?" William masih mencoba untuk sabar, bagaimanapun juga wanita yang ada dihadapannya itu juga sangat berharga untuknya.


" Ckk... ya sudah, tapi nanti malam jangan cuma satu ronde ya." Ucap Farah yang langsung memasang tampang merajuk.


" Iya bebih, sekarang geser dulu tempat dudukmu, nanti kalau Gemintang datang dia akan curiga." William mencoba tersenyum walau pikirannya masih tertuju kepada istrinya.


" Kenapa sih, dia juga nggak akan curiga, dia itu menggangap aku kakak ipar terbaiknya, jadi walau dia melihat kita duduk satu bangku juga nggak akan curiga dengan hubungan kita." Farah seolah tidak terima.


" Kalau kamu masih ingin melihat hubungan kita berjalan seperti biasanya, jaga sikapmu saat kita sedang tidak berada didalam kamarmu, apa kamu mengerti?" Bahkan William terlihat sedikit mengancam.


" Ckk... ya sudahlah." Jawab Farah dengan wajah ditekuk.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruang tamu itu langsung terbuka dan muncullah Gemintang dari sana, sedangkan mereka berdua segera memasang tampang naturalnya, menjadi kakak dan adek ipar yang selayaknya.


" Haish... baru saja buka pintu, dua ahli Neraka itu sudah muncul menghancurkan moodku." Umpat Gemintang perlahan dan mencoba terus melangkahkan kakinya walau terasa sangat berat.


" Sayaaaaang.. kamu kemana saja? mas khawatir banget dengan kamu." William langsung bangkit mendekat kearah istrinya.


Berlakonlah kalian berdua, seolah aku ini hanya seorang istri yang bisa kalian bod○hi, anggap saja aku ini sebuah boneka yang bisa kalian mainkan sesuka hati kalian, hingga saat tiba waktunya, aku akan menghempaskan kalian berdua jatuh ke dasar Jurang.


" Sayang kamu nggak kenapa-kenapa kan?" William langsung memelvk tubuh Gemintang dengan erat.


Wuidiih... kayaknya ada yang cemburu nih, kasih sedikit bahan bakar diatas percikan api kayaknya seru nih, selama ini kalian berdua selalu tega menorehkan perih diatas lukaku, bersandiwara seolah baik dan perhatian didepanku, namun ternyata kalian menusuk dibelakangku.


Kalau begitu mari kita sama-sama berakting guys... siapa yang paling jago nantinya, siapa tahu setelah drama ini selesai nantinya, kita bertiga bisa mendapatkan Award masing-masing.


Gemintang tersenyum licik dalam pelvkan William, dia malah jadi penasaran sendiri, ingin melihat bagaimana dan seperti apa reaksi Farah saat melihat Gemintang bermesraan dengan suaminya dihadapan Farah secara live.


Terlalu dalam luka dihatinya, sehingga mampu membuat hati Gemintang seolah membeku bagai tersiram air keras.


...Seorang Istri adalah Amanah bagi Suami....


...Bila kau tak bisa membuatnya tersenyum, jangan kau buat dia menangis....


...Bila kau tak bisa membuatnya bahagia, jangan kau buat dia menderita....


...Dan bila kau tak bisa memujanya, jangan kau mencelanya, karena Istrimu juga punya hak bahagia, hak dimuliakan dan hak keselamatan....

__ADS_1


__ADS_2