
...Happy Reading...
Malam pertama tanpa persiapan, pasti beda dong dengan malam pembobolan perdana yang sudah direncanakan. Namun mandi satu jam lebih untuk sebuah persiapan tidur itu tidak bisa dikatakan hal yang wajar.
Berulang kali Peter mengintip arah pintu kamar mandi, namun tak kunjung terbuka-buka, sudah berbagai posisi duduk di peragakan, bahkan dia sudah melakukan pemanasan agar tidak nyeri encok saat push up nanti, namun istrinya tak kunjung keluar juga menemuinya.
" Fuuuhh... harus sabar model apa lagi yang harus gue praktekkan Gusti, ini sudah hampir dini hari?"
" Bruno ku pun sudah mulai mengantuk, energinya semakin lama juga pasti semakin menurun, tapi perempuan itu tak kunjung keluar juga!"
" Entah apa yang dia lakukan didalam kamar mandi itu? apa dia pingsan? eh... tapi aku dengar suara air juga tadi?"
" Emang seberapa tebal kerak telornya, sampai dia gosok berjam-jam didalam sana!"
" Duh Gusti... aku tetap harus bertindak sekarang juga ini, kalau tidak bisa pingsan nanti si Bruno!"
Setelah mengumpat berkali-kali, akhirnya Peter memantapkan hati dan bergerak keluar apartement dengan wajah yang sudah lelah menunggu.
Klik!
Peter langsung mematikan saklar lampu di apartement mewahnya, tanpa ragu-ragu.
" Aaaaaaaa... mas Peter! kenapa mati lampu?"
" Mas... aku belum siap mandi ini, mas belum bayar tagihan listrik ya, nggak ada angin nggak ada hujan kok mati listrik."
" Mas... ini gimana!"
Terdengar suara teriakan Sabrina dari arah kamar mandi, namun Peter hanya tersenyum saja, dia hanya mengamati pintu kamar mandi itu dari kejauhan dengan menyalakan lampu dari smartphonenya.
" Mas Peter! kalau kamu masih mendiamkan aku terus, aku pulang kerumah Ibu saja di kampung, biar aku dinikahkan sama Haji Mamat, mau jadi bini kedua, ketiga juga terserah saja, yang penting nggak lihat mas lagi!" Sabrina langsung mengancam suaminya agar dia mau bicara dengannya.
Dor!
Enak saja, sampai kapanpun itu kamu hanya milikku Sabrina, tidak untuk yang lainnya, mau dia pak haji naik bubur, naik Andong, naik Becak aku tidak perduli.
Walaupun Sabrina hanya asal bicara saja, namun perkataan istrinya itu mampu membuat Peter kelabakan sendiri, dia bingung sendiri jadinya, mau menyalakan lampu tapi takut misinya gagal, kalau tidak menyalakan lampu takut kepleset juga nanti kalau lantainya licin.
" Kamu keluarlah dari sana!" Akhirnya Peter mengalah dan bersuara.
" Gelap mas, aku takut kepleset nantinya."
" Siapa suruh kamu mandi berjam-jam, habis airku kamu buat, jadi kesal yang punya PDAM, mereka mau tidur, tapi kamu menghabiskan airnya jam segini." Jawab Peter ikut ngasal saja sekalian.
" Apa hubungannya sih mas?" Sabrina langsung protes.
" Mau keluar apa enggak nih?"
" Mau... tapi handuknya nggak kelihatan mas."
" Nggak usah pake, orang mati lampu ini, nggak kelihatan juga kan!"
" Tapi aku malu mas."
" Malu sama siapa? aku sudah mengintip semuanya tadi, tinggal celvp-celvp doang tapi malah kamu tinggal kabur!" Akhirnya keluar juga unek-uneknya sedari tadi.
" Balik badan ya mas, jangan melihat kearahku!" Sabrina langsung berjalan mengendap-endap seperti maling.
" Buruan! pegel ini berdiri terus!" Umpat Peter, padahal karena dia memang sudah tidak sabar menunggu moment itu.
Saat Sabrina nekad pergi, dia nekad juga menyuruh orang untuk memindahkan barang-barang Sabrina semuanya kedalam Apartementnya tanpa sepengetahuan Sabrina tentunya.
Saat Sabrina sudah muncul, tiba-tiba suara tombol kunci pintunya mengalihkan perhatian Peter seketika.
" Astaga... siapa yang datang kerumah kita jam segini Nana?" Peter langsung mengerutkan keningnya.
" Ya mana aku tahu, ini kan rumah mas? haduh mas... gimana ini, aku belum pakai apa-apa!"
Sabrina tak kalah panik, dia pergunakan kedua tangannya untuk menutupi benda berharganya sebisanya.
Apapun yang terjadi aku harus goal malam ini, mau siapapun yang datang aku tidak perduli!
" Sini mas gendong, ayok kita keatas!"
Peter langsung dengan sigap menggendong istrinya dan berlari menaiki tangga tanpa alas kaki, agar suaranya tidak terdengar.
Dengan nafas yang tersengal akhirnya Peter sampai didalam kamarnya. Namun saat Peter ingin menidurkan Sabrina di ranjang dan ingin segera mengeksekusinya, tiba-tiba lampunya menyala dengan terang sekali.
Siapa yang menghidupkan saklarnya? pasti Chris ini, tapi ngapain dia kesini malam-malam?
" Aish... sial!"
Peter kembali menggendong istrinya dan keluar menuju balkon kamarnya, lalu menguncinya dari luar.
" Mas... kenapa kita keluar? aku belum pakai baju ini!"
Woah... cantiknya istriku, slllrrrppppp....!
Bahkan rasa-rasanya air liurnya sudah ingin menetes saat melihat seluruh tubuh istrinya dibawah terangnya sinar rembulan.
" Mas... dingin?" Umpat Sabrina yang sebenarnya hanya malu.
" Nggak papa, nanti mas bantu hangatkan ya?" Ucap Peter dengan senyum penuh makna.
__ADS_1
Perlahan dia menggendong tubuh Sabrina menuju ke kursi ayunan yang ada disana, dengan mata yang tidak lepas dari wajah istrinya yang terlihat malu.
" Mas... tadi siapa yang datang?" Tanya Sabrina mencoba mencari topik pembicaraan.
" Entahlah, mas kan juga nggak lihat tadi."
Peter langsung memangku istrinya layaknya seorang bayi, sambil main ayunan kursi yang memang cukup lebar disana.
" Mas... jangan nakal tangannya!" Sabrina langsung melotot saat tangan Peter merayap kemana-mana.
" Hehe... gemes yank." Bukannya berhenti, namun tangannya malah semakin kreatif setelahnya.
" Ckk... emang siapa aja yang tahu sandi rumah mas?" Sabrina sampai mengeliat kesana kemari seperti cacing kepanasan.
" Chris aja, sama orang tuaku!" Kali ini giliran bibiirnya yang menjalar kesan kemari, sambil meninggalkan jejak-jejak zebra cross di leher dan sekitarnya.
" Jangan-jangan itu orang tua mas lagi?" Sabrina hanya bisa pasrah saja, karena dia tidak mau kena sial karena disumpahin oleh suaminya kembali.
" Bukanlah... rumah mereka jauh, nggak mungkin jam segini main ke apartement, kayak kurang kerjaan aja." Peter langsung membaringkan tubuh istrinya diatas kursi dengan beralaskan T-shirtnya.
" Berarti itu tadi pak Chris dong?" Tanya Sabrina yang tidak perduli mau beralaskan apa pertandingan laga bola malam ini, karena dirinya juga sudah terbuai oleh sentvhan suaminya.
" Biarkan saja, aku sudah kunci dari luar kok, nggak akan ada yang menggangu kita berdua disini Nana sayang." Dia sudah mempersiapkan rudalnya agar bisa berpacu dan mendarat dengan sempurna.
" Kenapa sih mas, setiap kita ingin melaksanakan kewajiban suami istri selalu ada aja yang jadi penggangu? jangan-jangan kita nggak jodoh ya?" Ucap Sabrina yang sudah merem melek sedari tadi.
" Sssttt! nggak boleh ngomong kayak gitu Nana, kalau ngomong itu yang baik!"
" Aww... sakit mas! kenapa digigit sih mas, aku kan cuma menduga saja tadi." Sabrina reflek menjewer telinga suaminya yang sudah menggigit puncak gunung miliknya.
" Tenang saja, akan aku buat kamu menjadi milikku sepenuhnya malam ini juga!"
" Tapi mas, itu..."
" Tidak ada yang boleh menggangu hubungan kita malam ini, mau hujan badai angin ribut halilintar juga, aku tidak akan melepasmu begitu saja."
" Benarkah?"
" Hmmh..."
Karena Sabrina sudah berpenampilan sepolos bayi yang baru lahir, dengan mudahnya Peter melancarkan serangannya.
" Emhh... mas."
Namun semakin keras suara Sabrina terdengar, semakin semangat kepala Peter muter-muter di tempat favoritnya.
" PETER... PETER... KAMU DIMANA!"
Terdengar dengan jelas suara Chris yang tengah memanggilnya didalam kamarnya.
" Sssttt... jangan bersuara, diamkan saja dia!" Peter tidak mengubah posisi dirinya sedikitpun.
" Beneran mas? nanti kalau penting gimana?" Tanya Sabrina yang malah terlihat khawatir.
" Jangan dipikirkan, kamu cukup memikirkan aku saja malam ini, okey..."
" Mas... jangan main-main disana dong."
Lain dengan Sabrina lain pula dengan Peter, dia tidak punya rasa takut sama sekali, toh dia melakukannya juga dengan istrinya sendiri.
" PETER!" Teriak Chris kembali terdengar.
" Bodo amat!" Jawab Peter dengan santainya, seolah suara Chris semakin menjadi team penyemangat permainannya malam ini.
" PETER apa kamu disana!"
" Sayang... jangan menjerit okay?" Peter kembali berbisik saat dia rasa sudah waktunya.
" Dih... ngapain juga aku harus menjerit-jerit, kurang kerjaan saja!" Umpat Sabrina yang memang sudah tidak bisa menikmati seperti tadi, karena suara jeritan dari Chris.
Jlep!
Akhirnya yang ingin terjadi sudah terjadi, karena si Bruno dan kedua bola apinya telah mendarat dengan sempurna dan membuat tuannya tersenyum bahagia karena dia menjadi pria pertama.
" Awww... aww... aaaaa.. MAS!" Sabrina tanpa sadar malah menjerit dengan kerasnya.
" PETER kamu ngapain!"
Brak... brak!
Chris terdengar mengebrak pintu kearah balkon, namun Peter seolah tidak perduli, karena si Bruno telah berhasil memarkirkan dirinya ditempat yang sudah semestinya, walau belum begitu sempurna.
" Mas... emh... sakit, perih banget sumpah, tarik dulu mas!" Sabrina langsung mencengkeram lengan Peter dengan kuat.
" Kamu kira kita main tarik tambang apa? sudah nggak papa, kan sudah aku bilang sedari awal kan? masih sakit lagi ditinggal pas lagi tegak-tegaknya yank." Peter malah tersenyum dan mulai menggo yangkan pinggvlnya perlahan.
" Mas.. emh.. tapi itu tadi suara pak Chris loh? dia mau membuka pintu itu ihh.." Antara perih, sedap namun juga ketakutan yang dia rasakan.
" Aku tidak sejahat kamu, mau dia sahabat kek, saudara kek, bapak nomor satu sedunia kek, kalau lagi setengah kopling begini selesaikan terlebih dahulu, menggantung perasaan saja sakit, apalagi yang beginian, nggak akan ada obatnya Nana sayang." Setelah Sabrina mulai tenang, di langsung menambah kecepatan si Bruno, seolah bahan bakarnya terisi dengan full.
" Mas nyindir aku?" Dengan suara yang sedikit tersengal Sabrina kembali protes.
" Bukan begitu Nana, asal kamu tahu aja, mudah atau sulitnya menjalankan sebuah hubungan itu tergantung bagaimana caramu dalam menjaga hati."
__ADS_1
Entah mengapa Peter malah semakin menjadi bijak, saat dia berpush up ria dengan beralaskan istrinya dibawah sana.
" Tapi mas... uh... aku... kayak mau pipis deh mas."
" Bentar sayang, dikit lagi okey!" Peter seolah belum puas dalam olahraga malamnya kali ini.
" Woi... sedang apa kalian diluar sana, lama sekali, kenapa dikunci!" Chris seolah sidah tidak tahan lagi disana.
" Sayang hayuk, tancap gas!" Setelah memacu kudanya lebih cepat lagi, akhirnya pistol air miliknya sudah siap untuk dipergunakan, dan...
" Hmpth."
" Arrghenaktenannekiki!"
Hmm... akhirnya aku sampai juga, ternyata begini rasanya surga dunia? Nana sayang mau lagi...
Peter menghempaskan tubuhnya diatas tubuh milik istrinya setelah meninggalkan kecvpan manis di keningnya, yang berarti pertempuran mereka telah selesai, dan gunung api sudah siap mengeluarkan lahar panasnya, walau ada gangguan ternyata mereka dapat menuntaskan hajatnya walau sedikit terburu-buru. Namun tidak apa, yang penting Bruno sudah punya jalan.
" Woi... kalian sudah gila ya! kalian sedang apa? PETER, ARE YOU CRAZY?" Teriak Chris semakin menjadi, karena mendengar suara-suara kenik matan dari luar sana.
Ceklek!
" Hmm... Geeeeeeerrrrr Pakde!"
Peter muncul duluan dari balik pintu, hanya memakai kolor saja, karena baju dan T shirtnya dia berikan kepada Sabrina tadi.
" Ngapain loh! sama siapa!" Chris ingin melihat kondisi balkon tapi dihalangi oleh Peter.
" Sama Sabrina lah, siapa lagi, kan cuma dia istri gue!" Jawabnya dengan santai.
" Gila loe ya, kalian kayak begituan di balkon kamar?"
" Kenapa? cuma nganterin dia pipis doank, owh ya, thank ya buat link mbaknya Shizuka kemarin, ternyata bermanfaat sekali untuk malam ini, haha!" Peter dengan tanpa rasa malunya seolah jujur dengan Chris tentang apa yang dia lakukan di balkon kamarnya bersama sang istri.
" Hah.. pantesan kamu matikan saklar rumahmu?" Seketika otak Chris teracuni dengan hal-hal negatif, karena dia tadi iseng ngecek saklar Peter.
Tapi pipis endull, haha...
" Udah belum sayang? bisa jalan nggak? kalau enggak aku gendong sini!" Peter kembali berteriak saat Sabrina tak muncul-muncul juga dibelakangnya.
" Yank... sayanggggg! Gemintang!"
Dan ternyata Gemintang pun ikut kesana, namun dia sengaja tidak mau masuk kedalam kamar itu.
" Apa sih mas, udah malem ini, kenapa teriak-teriak?" Akhirnya Gemintang masuk juga.
" Mereka itu... anu... kek begituan di balkon coba? udah nggak ada sepertinya urat malunya ya kan, kamu sampai panik tengah malam datang kesini nyariin dia karena rumahnya kosong beserta isinya, takut kalau teman kamu kenapa-kenapa, ehh... dia malah asyik-asyikan disini."
Saat Gemintang sampai dirumah, Lewis datang dengan wajah panik, katanya saat dia datang ke kontrakan Sabrina karena mengira mereka disana, malah menemui yang kontrakan Sabrina seperti rumah yang kebobolan maling, barang-barangnya sudah tidak ada semua. Jadi dia berfikir Sabrina pergi mencari bantuan ke apartement Peter. Karena selain dia Sabrina tidak punya kenalan lain.
" Maksudnya Jebol Gawang gitu?" Gemintang mencoba memperjelas apa yang dikatakan kekasihnya itu.
" Yank... kamu kok biasa aja dengernya? nggak terkejut atau gimana gitu?" Chris seolah tidak percaya melihat reaksi dari Gemintang.
Bahkan dulu mas William mengajakku melakukannya dimana saja, mau di balkon, kamar mandi, dapur, ruang tengah, bahkan di kolam renang juga pernah menjadi saksi bisu, ehh... kenapa aku harus mengingatnya.
Astaga... lumpuhkan lah ingatanku hapuskan tentang dia... hapuskan memori ku tentangnya...
" Kenapa harus terkejut, mereka memang sudah boleh melakukan hal itu, sudah sah kok, apa yang salah?" Gemintang hanya mengedikkan kedua bahunya saja.
" Tapi mereka melakukannya di Balkon sayang? gilak kan?" Chris tetap saja heboh.
" Ya nggak papa lah, tengah malam ini, siapa juga yang mau lihat, cari suasana baru memang perlu, biar nggak monoton aja di atas kasur kan?"
Mereka bertiga langsung melongo saat mendengar perkataan dari Gemintang, mereka fikir dia akan heboh, seperti dia yang biasanya, namun tanpa disangka malah Chris yang lebih terkejut karenanya.
" Tumben kita klop hari ini Sumarni!" Untuk yang pertama kalinya Peter satu jalan dengan Gemintang.
" Sayang, apa kamu sedang tidak enak badan? tumben kamu begini?" Chris sontak mengkhawatirkan Gemintang, karena lain daripada biasanya.
" Kayak begituan itu hal yang wajar bagi sepasang suami istri mas, wajib malah dan bukan sesuatu yang aneh juga, owh iya... mas kan belum pernah mencobanya ya kan?"
" Sayang... kamu sungguh terlalu!" Chris langsung merasa tidak terima walau benar adanya.
" Opsh... hehe, maaf mas... owh iya mas, mau tau hujan kan?" Gemintang langsung mengeluarkan ajian pamungkasnya.
" Bodo amat!" Umpat Chris dengan kesal.
" Mas... tau nggak kalau hujan itu turun, bukan jatuh."
" Nggak perduli?"
" Karena yang jatuh itu aku, ke hati kamu mas, hehe... jangan ngambek dong, nanti kalau sudah sampai waktunya juga tau kok, sabar okey."
Dan gombalan Gemintang lagi-lagi mampu membuat Chris melengos karena menahan malu.
" Bahahaha..."
Akhirnya mereka langsung tertawa lepas, saat melihat wajah Chris yang seolah menjadi sosok orang yang paling tertinggal karena belum pernah merasakan apa itu puncak tertinggi dalam hal asmara, padahal dalam hal lain, dia lah yang paling unggul diantara mereka.
Jatuh cintalah dengan orang yang membuatmu tertawa lepas, yang bisa bebas membuatmu menjadi diri sendiri, yang membuatmu nyaman tanpa batasan, yang bisa mengerti tanpa kamu bercerita.
Jatuh cintalah dengan orang yang menghargaimu dan mengerti arti dari kata menerima apa adanya dirimu.
__ADS_1
Okey... lunas ya bestie, kalau dirasa masih kurang h♡t, silahkan berjemur diatas kompor, dijamin kebakar deh kalian😅🤣