
...Happy Reading...
Flash back
Memang tidak mudah melupakan masa lalu dalam hidup kita, bahkan mungkin tidak akan bisa, apalagi sebuah kenangan pahit yang membekas dihati.
Begitu juga dengan Gemintang, kenangan indah bersama mantan suaminya sangatlah banyak, apalagi William memang tak kurang-kurang dalam hal mencurahkan rasa kasih sayangnya, namun hanya satu luka yang memang sangatlah dalam dan fatal, yang telah dia torehkan di hati Gemintang yang tidak akan termaafkan.
" Hei... Sumarni! ngapain kamu disitu!"
Bukan Peter yang memanggil Gemintang, melainkan Istrinya yang sudah berkacak pinggang disaat dia menemukan Gemintang disebuah tenda bersama dengan mantan suaminya.
Pantas saja pak Chris langsung ngajak pulang, mereka bela-belain nyusul kesini, eh.. dia malah bernostalgia dengan ahli neraka yang satu itu.
Darahnya seolah ikut mendidih melihat Gemintang berduaan dengan William.
" Ada apa Na?" Gemintang langsung berusaha berdiri, walau kakinya masih terasa nyeri.
" Masih bisa tanya ada apa kamu ya? sini kamu sebelum api unggun dihadapanmu itu membakar seluruh hutan ini, karena ulahku!"
Sabrina menjentikkan tangannya kearah Gemintang tanpa memperdulikan William yang merasa terganggu karena kedatangannya.
" Sini aku bantu Gem, aku gendong saja ya sampai ke tendamu?" William langsung tanggap saat Gemintang meringis menahan sakit di kakinya.
" Gemintang, jangan manja kamu, apa perihnya biduk rumah tanggamu itu masih belum cukup untuk membuatmu menjadi wanita mandiri, jangan lagi bergantung dengan masa lalumu, bisa nggak sih?" Sabrina yang malah terbakar emosinya.
" Sabrina... kaki Gemintang sakit, dia terluka tadi, makanya aku ingin membantunya, teman macam apa kamu ini, Gemintang sakit kok malah kamu marahin." Umpat William yang langsung merasa keberatan.
" Cih... teman apa kamu bilang? ckk... wahai bapak William yang terhormat, aku tidak butuh penilaian darimu tentang apa artinya aku bagi Gemintang, tapi satu yang pasti, aku tidak pernah sekalipun berkhianat dari dia, demi kepuasan diri sendiri, paham!"
Sedari awal Sabrina ikut memergoki William yang sedang beradu desa han di malam pesta anniversarynya sendiri, semenjak itulah Sabrina tidak lagi menaruh empati dan rasa hormat dengan William seperti dulu lagi.
" Sudah... sudah cukup, jangan ribut-ribut disini, ini sudah malam, takut pula nanti suara kalian membangunkan penghuni tenda yang lain." Gemintang langsung melepas paksa tangan William yang memegang erat lengannya.
" Tapi Gem... kaki kamu terluka, biar aku membantumu okey?" William seolah berat untuk melepaskan, selain itu masih banyak kata yang belum sempat dia utarakan kepada Gemintang tadi.
" It's okey mas, aku bisa sendiri kok." Gemintang tetap menolak uluran tangan William, karena kedua bola mata mata Sabrina juga seolah sudah ingin lepas dari cangkangnya.
" Lepas... nggak usah sok baik deh, biar aku saja yang memapahnya!" Sabrina langsung menarik lengan Gemintang agak memaksa."
" Jangan kasar Sabrina, kamu bisa menyakitinya." Teriak William saat melihatnya.
" Heleh... kalau cuma begini mah sakitnya tidak seberapa, lebih sakit lagi saat melihat imamnya main jungkat-jungkit dengan kakak iparnya sendiri!"
Sabrina semakin kesal dibuatnya, sindirannya bahkan tidak setengah-setengah, langsung tepat di sasaran tanpa banyak basa-basi.
" Sabrina sudahlah, ayok kita balik ke tenda!" Gemintang merasa tidak enak hati dengan penghuni tenda yang lainnya, karena mereka terlihat bangun dan mengintip dari sana.
Dan William sudah lagi tidak bisa berkata apa-apa, saat kelakuan dirinya seolah sudah di skak mat dengan omongan Sabrina.
" Hati-hati ya Gem, kalau ada apa-apa panggil mas aja, mas akan stand by jagain kamu dari tenda atas okey?" William tetap mencoba tersenyum walau terasa sulit.
" Mau segudang perhatian yang tercurahkan juga tidak akan bisa menggantikan rasa sakit yang dia rasa."
__ADS_1
Sabrina kembali berkomentar pedas saat mendengar ungkapan perhatian dari William.
" Sudahlah Na, malu di dengar orang itu." Gemintang mencoba menenangkan sahabatnya itu.
" Orang kenyataan kok, dia aja nggak malu ber-uuw-aah ria dengan selingkuhannya saat itu."
" Sabrina?"
" Makanya lain kali jangan ber-uuw-aah ria, mending ganti ber-uuw-wooo... ooo... opo kurang leh ku, ngerteni karepmu, aku yo wes ora nglirik liyane..."
" Pffthh... dasar wong gemblung!"
Akhirnya Gemintang malah jadi menahan tawanya sendiri saat mendengar ocehan sahabatnya itu, walau dengan langkahnya yang sedikit pincang.
Bukan Sabrina kalau tidak bisa membuat orang takjub mendengar banyolannya, bisa-bisanya hujatannya berubah menjadi nyanyian yang sedang viral akhir-akhir ini.
William pun hanya bisa memandang langkah dua wanita itu yang sudah menjauh pergi dari hadapannya tanpa bisa berbuat apa-apa. Seolah rasa sesalnya sudah tidak lagi berguna.
Dia hanya bisa berulang kali menghela nafasnya dengan kasar, karena sepertinya perjuangannya tidak akan semudah yang dia pikirkan, terlalu banyak hambatan dan orang-orang di sekelilingnya yang memprovokatori Gemintang untuk tidak lagi bisa dekat dengannya.
" Lu gila ya Gem!" Saat sudah menjauh dari sana, Sabrina langsung mencubit lengan Gemintang.
" Apa sih Na, aku tadi hampir jatuh dari tebing tau, dan ini semua gara-gara tingkah elu dan suamimu itu kan!"
" Kenapa jadi gue yang malah disalahin coba?" Sabrina masih belum menyadari dengan ulahnya.
" Jadi gue harus nyalahin siapa? pak Lurah atau pak RT gitu, mau gue kasih woro-woro sama seluruh warga kalau kalian bercocok tanam didalam tenda sekalian, atau perlu aku rekam dan viralkan biar kamu jadi Seleb of the month?"
" Kenapa gue, Mantan elu sana, si ahli neraka itulah yang kamu viralkan, dia kan inti dari segala permasalahan di dalam hidupmu itu!"
" Kenyataannya masih membekas sampai sekarang kan, ngapain coba dia ikutan camping disini?"
" Bukan aku yang nyuruh juga, manalah ku tahu!"
" Kenapa sih dia harus muncul disini, bikin masalah aja?"
" Jangan begitu, kalau dia tidak muncul tadi, mungkin kamu sudah menemaniku di ruang ICU rumah sakit sekarang, itupun kalau aku ditemukan, dalam tuh jurangnya."
" Kamu beneran mau jatuh?" Sabrina langsung menatap iba dengannya.
" Nggak lihat kakiku lecet-lecet begini? kamu kira aku nge-prank doang?"
" Astaga, maafkan aku, harusnya kamu bisa nunggu di depan tenda aja sebentar, orang tinggal satu tanjakan doang sudah selesai kok!"
" Ngomong aja gampang, satu tanjakan itu berapa jam? coba kamu jadi janda kayak aku, kalau belum pernah ngerasain sekalian it's okey, nah gue? nyut-nyutan tau nggak!"
" Hehe... emang endul sih, rasanya itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata!" Sabrina malah terkekeh sendiri setelahnya.
" Diamlah!"
" Tapi masalahnya, ngapain kamu harus mampir ke tendanya segala?"
" Dia yang bawa kotak P3K, kita kan nggak punya?"
__ADS_1
" Ckk... iya juga sih, tapi kamu tadi lihat pak Chris disana nggak sih?"
" Enggak, kenapa emangnya?"
" Aku rasa dia melihat kalian berdua deh, dia jadi ngajak suamiku pulang tau!"
" Pulang? sekarang?" Gemintang langsung terkejut mendengarnya.
" Iyalah, mereka sudah pergi sekarang!"
" Apa kamu yakin kalau dia melihat kami?" Gemintang memang tidak memperhatikan sekitar, dia terlalu larut dalam obrolan mereka.
" Kalau enggak ngapain juga dia minta pulang, dan raut wajahnya itu loh, kayak yang putus asa banget!"
" Apa dia mendengarkan obrolan kami?"
" Mana ku tahu, yang jelas tiba-tiba dia datang ke tenda kita dan langsung ngajak mas Peter pulang, saat itu juga!"
" Aish... dia pasti tidak mendengar obrolan kami, ayo kita ikut pulang!"
" Sekarang? ini tengah malam bestie, besok aja nunggu pagi!"
" Kelamaan, keburu mas Chris beranggapan lain denganku!"
" Habisnya elu sih, nggak bisa jaga hati anak orang, jadi ribet kan urusannya, kalau dia bunuh diri, habis kamu digentayangin sama arwahnya!"
" Kamu ini ngomong apaan sih, jangan sembarangan ngebac*t kamu!"
" Mas Peter yang bilang begitu tadi."
" Allohu akbar, ya sudah kita langsung berangkat pulang saja!"
" Tenda kita gimana Gem?"
" Biarkan saja!"
" Baju kita dan perlengkapan kemah yang lainnya?"
" Biarkan saja, itu tidak seberapa berharganya, dibanding dengan mas Chris! lagian tenda itu juga sudah kotor dengan susu kental beracun milik si skuter, hoerrk... geli gue, cepat ayok kita ke mobil!"
" Heleh... geli-geli lah konon, dulu juga elu rajin produksi susu kental itu Sumarni!" Ejek Sabrina yang sudah tertular virus suaminya.
Gemintang seolah melupakan rasa sakit dan nyeri di lukanya, dia langsung menarik lengan Sabrina menuju ke parkiran mobil, tanpa memperdulikan tenda beserta isinya.
Flash back off
Kadang kala, Gusti Alloh menguatkan pundak kamu melalui berbagai masalah.
Meluaskan hati kamu melalui mimpi-mimpi yang patah, kenapa?
Karena jika hidup hanya tentang bahagia, kamu tidak akan pernah dewasa.
TO BE CONTINUE...
__ADS_1
Jangan lupakan jejak kalian ya reader terzeyeng☺