Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
68. Why?


__ADS_3

...Happy Reading...


Proses mediasi antara Lewis dan Farah sudah selesai dan Hakim Mediator telah menyatakan mediasi gagal karena tidak mencapai kesepakatan bersama, untuk kembali rujuk dalam bahtera rumah tangga mereka.


Pihak Hakim Mediator akan segera menyampaikan kepada Hakim Majelis yang memeriksa perkara dan para pihak untuk menghadap Hakim pada sidang yang telah ditentukan. Dan proses persidangan dilanjutkan sesuai dengan tahapnya juga sebagaimana mestinya.


Farah terlihat berjalan keluar terlebih dahulu dari ruang mediasi, langkah kakinya terlihat lemas dan tidak terarah, sedangkan Gemintang yang melihatnya sudah pasti tau akan hasilnya.


" Abang... gimana hasilnya?"


Saat Lewis menyusul keluar dia masih terlihat mengobrol dengan kuasa hukumnya, namun Gemintang sudah tidak sabar ingin mengetahuinya sebelum proses mediasinya sendiri dimulai.


" Sekali cerai, ya tetap cerai!" Jawab Lewis dengan mantap.


" Cakep!" Gemintang langsung mengacungkan dua jempolnya.


" Tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari sebuah pengkhianatan, mau dia nangis dar@h sekalipun, kalau aku sudah mengucapkan kata talak untuknya, dia bisa apa, mau mediasi diperpanjang sampai seminggu, dua minggu atau sebulan sekalipun tiada guna lagi!" Lewis tidak mau menunda-nunda, dia meminta bantuan kepada kuasa hukumnya agar semua bisa terselesaikan dengan cepat.


" Enaknya jadi cowok, lah kalau gue bang, mau seratus kali aku bilang cerai juga, kalau mas William menolak, ribet juga urusannya bang." Gemintang hanya bisa menghela nafasnya berulang kali, sepertinya keadaan persidangannya nanti akan lebih rumit daripada persidangan abangnya.


" Sabar aja dek, usaha tidak akan mengkhianati hasil, lagian bukti kita sama kuatnya, abang yakin kasus kamu juga akan cepat selesai, percaya saja sama kuasa hukum kita, mereka itu yang terbaik yang abang pilih." Lewis mengusap rambut adeknya untuk sekedar memberikan semangat didirinya.


" Semoga ya bang, aku sudah capek banget menghadapinya, aku pengen semua cepat clear dan terbebas dari ikatannya." Gemintang menyandarkan kepalanya dibahu abangnya dengan lemas.


" Pasti dek, noh... mantan kesayangan kamu juga sudah datang."


Kali ini Lewis tidak berbohong, dia sudah melihat William berjalan kearahnya dengan mata terus tertuju kearah Gemintang sedari dia melihatnya tadi.


" Bang... kira-kira mereka tadi ketemu nggak ya?"


" Siapa?"


" Dua ahli neraka itu lah? kan belum lama mbak Farah keluar dari sini kan, seharusnya mereka berpapasan didepan tadi."


Entah mengapa Gemintang seolah kepo dengan apa yang terjadi, jika mereka berdua bertemu di tempat persidangan dengan kasusnya masing-masing.


" Kalau menurutmu gimana?" Lewis pun malah tidak kepikiran sama sekali.


" Mungkin cipika-cipiki dulu kali ya bang?" Umpat Gemintang yang hanya menduga-duga.


" Gila kamu ya, masak iya kek gitu ditempat umum?" Lewis langsung menyanggahnya.

__ADS_1


" Cieee... abang tidak terima ya? masih ada rasa ni yee..."


Gemintang berusaha bercanda agar kedua matanya tidak tertuju kepada William yang sudah semakin dekat dengannya.


" Nggak jelas banget kamu ini!" Lewis langsung menjitak kening Gemintang karena kesal telah diejek.


" Pak Lewis, ada yang harus kita bicarakan dulu sebentar." Tiba-tiba kuasa hukum Lewis memanggilnya.


" Baik pak." Lewis langsung menggangukkan kepalanya tanda setuju.


" Ehh bang, kenapa pergi?" Gemintang malas jika harus berduaan diruang tunggu bersama William, pasti akan ada drama baru lagi pikirnya.


" Kalau dia macam-macam, tinggal teriak saja, abang cuma diruangan ujung sana kok." Ucap Lewis sambil menatap wajah William yang langsung tertunduk, saat berpapasan dengannya.


Enak banget abang ngomong teriak, itu kalau dia mencelakaiku, kalau dia sok sweet denganku gimana? haduh... hatiku ini kayaknya KW lah, gampang sekali kena bujuk rayu syaitonirojim, jangan melihatnya Gemintang, kuatkan imanmu, syemangat!


Gemintang berdoa sendiri dalam hati dan memilih duduk menjauh dari William.


" Mau minum?"


Benar saja, William tetap mendekat kearahnya dan menyodorkan satu botol minuman isotonik kesukaannya.


" Nggak mas, aku nggak haus kok." Gemintang langsung saja menolaknya.


" Dih... apaan sih mas!" Akhirnya Gemintang mengambilnya juga, karena sebenarnya dia memang haus, karena menunggu proses mediasi abangnya yang cukup lama tadi.


Klik!


Benar saja, ternyata suaminya tidak berbohong, minuman itu masih tersegel dengan rapi, jadi dia tidak ragu untuk meminumnya.


" Takut banget kamu duduk berdua sama aku sekarang, dulu aja kamu kalau nggak nempel seharian denganku, ngambek kamu?" William bahkan menyisipkan senyuman diantara ucapan tentang memori dimasa lalu mereka.


Ini nih, yang selalu bikin gue lemah, berasa pengen amnesia tanpa cidera aja kalau gini, biar nggak ingat lagi semua kenangan manis saat dulu bersama dengannya.


" Mas, sudahlah yang lalu biarlah berlalu, awal mula kita berkenalan semua baik dan aku ingin saat kita berpisah pun dengan baik-baik pula, aku sedang malas berdebat, jadi tolong jangan ungkit-ungkit semua masa lalu tentang kita." Gemintang langsung menutup segala akses William untuk mencari celah memasuki kembali relung hatinya.


" Hmm... aku tidak mengungkitnya, aku cuma teringat saja tadi, spontan saja, maaf jika perkataanku melukaimu dan tidak berkenan dihatimu." Ucap William dengan lembut, tanpa emosi sedikitpun, sampai membuat Gemintang melongo mendengarnya.


Apa dia mas William? kesambet syaiton apa dia tadi? tumben nggak kayak biasanya?


" Baguslah." Gemintang langsung memalingkan wajahnya, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan hal-hal yang rumit tentangnya.

__ADS_1


" Gem.."


" Hmm.."


" Jika nanti... takdir kita memang tidak lagi bisa bersama, bisakah kita tetap menjalin hubungan silaturahmi secara kekeluargaan?"


Degh!


Apa ini? maksudnya gimana? apa rencana yang dia buat?


" Maksud mas gimana?" Gemintang benar-benar tidak menduga, William akan berkata seperti itu, dia tidak terlihat arogant atau memaksakan kehendak, dia terlihat lebih santai dari biasanya.


" Keluargaku sudah menggangap kamu sebagai anaknya, ayah dan ibuku sangat terpukul karena perpisahan kita, dan ini semua salahku, mereka tidak tahu kelakuanku, jadi mas minta tolong, tetaplah menjadi Gemintang anak mamah dan ayah."


Aaaaa... bukan begini yang aku inginkan, kenapa malah jadi melow begini?


" Mas..."


" Jika kamu memang bersikeras ingin tetap bercerai denganku, dengan berat hati aku akan mengabulkannya." Jawab William yang tetap terlihat tenang.


Heh? kena sambet syaiton dimana dia? apa dia sakit? apa yang terjadi dengannya? kenapa dia berbeda dari biasanya, kemarin-kemarin dia kekeh tetap akan mempertahankan aku, tapi kenapa sekarang dia seolah begitu ringan untuk melepasku, WHY?


" Apa ayah dan mamah memarahi mas, atau mengancam mas?" Tanya Gemintang dengan segala penasaran yang menerpa dirinya.


" Tidak... ayah dan mamahku sangat menyayangimu, beliau ingin kamu bahagia, walau harus merelakan putranya terluka karena sebuah perpisahan." Bahkan William tersenyum saat melihat wajah penasaran Gemintang saat ini.


Ini bukan mas William?


Sebenarnya apa yang dia rencanakan?


Aku yakin, mas William tidak akan semudah itu melepasku begitu saja?


Atau mungkin dia baru saja mendapatkan Hidayah atas kelakuannya?


Tapi kenapa aku malah jadi curiga kepadanya?


Aku harus tetap waspada, jangan goyah Gem, Rubah jantan dan betina pasti punya sejuta cara untuk mendapatkan apa yang dia mau.


Berbagai pertanyaan langsung bersarang di pikiran Gemintang, perubahan sikap suaminya itu terasa begitu drastis, bahkan kemarin dia sampai memohon dengan Gemintang, bersikeras untuk tetap bisa bersama, tapi kali ini, dia terlihat begitu mudah, saat Gemintang ingin mengakhiri hubungan rumah tangga mereka.


Cinta terbaik memang bukan dia yang datang karena kelebihanmu, tapi cinta terbaik adalah dia yang siap bertahan, walaupun tahu kekurangan yang ada dalam dirimu.

__ADS_1


Orang yang tidak bisa bertahan dengan apa yang kita hadirkan, berarti dia bukan cinta yang terbaik untukmu.


Terkadang kita tidak butuh cinta yang sempurna, karena cinta itu sudah sempurna dengan maknanya sendiri, kita harus lebih menyempurnakan apa yang ada di Ikhtiar kita.


__ADS_2