Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
55. Hanya Makhluk-Nya


__ADS_3

...Happy Reading...


Bersyukurlah jika Allah memberimu ujian hidup, karena dengan demikian, Allah memberikanmu kesempatan untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi.


Karena mengeluh hanya akan membuat hidup kita semakin tertekan, sedangkan bersyukur akan senantiasa membawa kita pada jalan kemudahan, walau mungkin memang sulit untu direalisasikan.


Sabrina bukannya tidak pernah mendapatkan cobaan, sedari kecil hidupnya serba pas-pasan, dia bisa kuliah sampai menjadi Sarjana saja karena mendapatkan beasiswa.


Namun cobaan kali ini terasa begitu berat untuknya, karena bapaknya adalah salah satu penyemangat hidupnya, dialah yang sering membakar semangat didirinya, beliaulah tempat dia mengadu dan berkeluh kesah dalam kesehariannya, selain dengan Gemintang tentunya, dan saat melihat ayahnya sakit parah seperti ini, seolah tulang-tulang ditubuhnya hilang seketika, dia sama sekali belum siap jika harus kehilangan sosok ayah dihidupnya.


" Sabrina... bapak tidak pernah meminta apapun selama ini denganmu, tapi bolehkan kali ini saja, kamu mengabulkan keinginan bapak?" Suara Bapak Sabrina kembali terdengar walau sangat lirih.


Bukannya aku tidak mau mengabulkan keinginan bapak, tapi kami memang tidak ada hubungan apapun, lagian juga keluarga kita tidak setara dengan keluarganya dan apa dia mau menikah dengan orang kecil sepertiku?


" Sebaiknya bapak tanyakan langsung saja dengannya."


Dengan berat hati Sabrina menyerahkan keputusan itu kepada Peter yang masih terdengar uring-uringan diujung pintu dengan Chris dan juga Gemintang disana.


" Siapa namanya nak?" Tanya Bapak Sabrina kembali.


" Peter pak." Jawab Sabrina sambil menundukkan kepalanya.


Bukan pernikahan seperti ini yang dia inginkan, sedari kecil dia memang tidak pernah berharap bisa menikah dengan suka cita, pesta besar-besaran, atau serba serbi kemewahan, karena dia sadar siapa dia dan keluarganya, tapi pernikahannya kali ini benar-benar membuat dirinya merasa tertekan.


Setidaknya dulu dia berharap bisa menikah dengan seorang pria yang punya perasaan yang sama dengannya, cukup saling menyayangi dan saling mencintai, juga bisa menerima kekurangan dari keluarga kedua belah pihak, namun sekarang semua keinginannya itu seolah terbang melayang ke angkasa.


Dan kejadian kali ini, sama sekali diluar ekspetasinya, selain belum mengenal Peter secara luar dalam, dia juga takut kalau Peter tidak terima dengan ini semua, apalagi pihak keluarganya nanti, dia sungguh tidak ingin mengecewakan keinginan bapaknya, namun dia juga sadar diri bahwa dia bukan siapa-siapa kali ini.


" Nak Peter, kemarilah.. bapak memanggilmu." Ibu Sabrina yang sedari tadi menjadi pihak pendengar langsung angkat suara saat suaminya terlihat kesusahan untuk memanggil Peter.


" Sana!" Chris langsung saja mendorong paksa tubuh Peter yang memaku ditempat.


" I... iya pak." Peter masih dalam keadaan kacau saat ini, antara terkejut, bingung, ragu dan juga bimbang pastinya.


" Anak bapak mungkin memang tidak secantik perempuan-perempuan diluaran sana, dia tumbuh dari keluarga yang pas-pasan, bahkan hidupnya tinggal di kampung seperti ini, tapi percayalah.. kamu tidak akan menyesal jika nanti menikah dengannya.


Peter masih terdiam membisu ditempat, bahkan tidak berani memandang bapak Sabrina yang terbaring lesu dihadapannya.


Gila... ini pernikahan Man, walau hanya Siri juga ini sah dimata agama, aku sama sekali tidak punya rasa dengannya, apalagi mencintainya, bertemu dengannya saja baru beberapa kali, apa aku bisa menjalani kehidupan pernikahan dengannya?


" Nak Peter, jika kamu ragu sholatlah terlebih dahulu, jangan pikirkan soal rasa apalagi soal cinta, karena kecantikan diri dalam hati itu lebih bisa membahagiakan hidupmu ketimbang hanya kecantikan lahiriah saja, percayalah dengan Yang Maha Esa, Dialah maha pembolak-balik hati seseorang."


" Hmm... Maaf sebelumnya, tapi kamu muslim kan?" Ucap bapak Sabrina kembali.


" Iya pak." Jawab Peter dengan lemas.


" Pergilah ke mushola kecil di belakang sana, setelah selesai temui bapak kembali disini, bapak percayakan anak bapak kepadamu ya nak." Entah kenapa sesak nafas bapak Sabrina langsung kembali membaik seketika.


" Baik pak." Peter langsung berjalan lunglai kebelakang, diikuti dengan Gemintang dan Chris yang juga ingin melaksanakan kewajibannya.


Setelah mereka bertiga melakukan sholat berjamaah, dan berdoa khusyuk beberapa saat setelahnya, Peter langsung mendekat kearah Chris.

__ADS_1


" Bos... apa aku harus melakukannya, anda tahu sendirikan keadaanku seperti apa dan masa laluku bagaimana?" Tanya Peter dengan ragu.


" Cobalah dulu, ini masih pernikahan Siri, jika memang setelahnya kamu benar-benar tidak bisa melanjutkannya, kamu bisa bicara dengan Sabrina baik-baik, aku yakin dia bisa mengerti." Chris pun tidak bisa terlalu yakin, namun dia juga tidak ingin jika Peter terlalu larut dalam masa lalunya yang kelam dan mengabaikan masa depannya yang cerah.


" Tidak selamanya seseorang itu akan muda terus, ada kalanya kita akan menikmati masa-masa senja didalam perjalanan hidup kita nanti, jadi jika kita hanya menoleh ke masa lalu terus menerus, bukankah kita sendiri yang merugi?" Chris menepuk bahu asistennya.


" Sebenarnya malah gue yang masih tidak rela, jika kamu yang menikahi Sabrina." Celetuk Gemintang dengan jujur.


" Kenapa?" Tanya Chris yang malah lebih kepo duluan.


" Karena sebenarnya aku mau menjodohkan Sabrina dengan abangku, tapi sayang, saat ini abangku belum sah statusnya sebagai duda, jadi tidak mungkin aku menyuruh abangku untuk menikahi Sabrina sekarang juga, bisa-bisa malah kesalahan si Farah bisa berbalik juga ke abang semuanya, bisa kacau jadinya." Umpat Gemintang yang sedikit kecewa.


" Menurutmu seperti apa sih Sabrina itu orangnya?" Peter menghela nafasnya berulang kali, sama sekali tidak pernah terfikirkan didalam otaknya dia akan menikah, bahkan dengan mantan karyawannya dulu yang tidak dia kenal dengan baik.


" Yang pasti kamu tidak akan menyesal jika menikahinya, yang ada juga pasti Sabrina yang akan menyesal memiliki orang seperti kamu." Ledek Gemintang.


" Ckk... kamu ini, bisa nggak sih bicara serius saja, tanpa harus mengajakku berdebat!" Umpat Peter yang seolah ingin menelan Gemintang hidup-hidup.


" Aku bicara jujur Sumarno, selama aku mengenal Sabrina didalam hidupku, tidak pernah sekalipun dia menyakitiku, memanfaatkan kekayaanku atau apalah itu, selalu mengerti akan keadaanku, yang pasti dia teman yang bisa dijadikan saudara, dia teman terbaikku sampai kapanpun itu." Gemintang membuang pandangannya kedepan, membayangkan sosok Sabrina selama ini.


" Ya sudahlah." Akhirnya keputusan Peter sudah ditangan.


" Ya sudah apa?" Tanya Gemintang dan Chris secara bersamaan.


" Mau gimana lagi, aku nggak tega lihat bapaknya yang sudah sekarat seperti itu? lagian ini masih Siri, jika memang tidak bisa dilanjutkan ketahap berikutnya, kami bisa berpisah saja."


Walau belum yakin, namun setelah sholat tadi dia merasa lebih tenang, tidak sekalut tadi, jadi dia memutuskan untuk mencobanya saja.


" Kalau begitu ayo bersiap!" Chris langsung merangkul bahu sabahat sekaligus saudaranya itu untuk sekedar memberikan tambahan kekuatan.


Nikah siri sah secara agama, namun tidak di mata hukum, asalkan syarat dan rukun nikah terpenuhi. Proses pelaksanaannya tidak tercatat secara resmi di Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Catatan Sipil.


Dan membahas tentang Wali, salah satu syarat calon mempelai dapat melangsungkan pernikahan berdasarkan peraturan UU Perkawinan yaitu, kedua calon mempelai harus berumur di atas 21 tahun. Sehingga hukum laki-laki menikah tanpa izin orang tua berdasarkan UU Perkawinan tetap Sah.


Dengan hanya memakai kemeja yang dia pakai tadi dan ditambah peci yang sudah sedikit kusam milik bapak Sabrina, kini Peter sudah duduk berhadapan dengan seorang penghulu yang ternyata adalah tetangga keluarga Sabrina, dengan Chris yang sudah bersiap menjadi saksi dengan salah satu ustad di kampung halaman Sabrina yang juga menjadi saksi.


" Mas Chris, maskawinnya Peter apa nanti? kita malah lupa menyiapkannya tadi?" Bisik Gemintang saat baru saja teringat, karena sebuah pernikahan harus ada maskawinnya.


" Owh iya... sebentar aku tanya dulu."


Chris langsung menepuk punggung Peter perlahan yang sudah mulai tegang, walaupun hanya pernikahan Siri, namun baginya level ketegangannya melebihi rapat penting dengan kolega bisnis yang killer.


" Peter... maskawinmu nanti apa?"


" Owh iya... apa ya?" Peter langsung mengeluarkan dompet yang berada disaku celananya.


" Duitku sudah habis, mau ke ATM juga nggak keburu." Chris berbisik ditelinga Peter.


" Duit gue juga cuma tinggal ini doang bos?" Peter mengeluarkan sisa uang yang dia punya dari dompetnya tadi.


" Ya sudahlah... yang penting ada, sebuah pernikahan kan tidak ditentukan maskawinnya berapa, pakai itu saja nggak papa, mereka juga pasti maklum, ini kan mendadak." Bisik Chris mencoba menyemangati, walau hatinya sempat tergelitik dan ingin tertawa, pasalnya duit Peter tinggal recehan, bahkan bentuknya saja sudah kusam dan kucel.

__ADS_1


Akhirnya Peter menyerahkan uang recehnya diatas meja dihadapannya.


Sedangkan Sabrina hanya bisa duduk pasrah, bersimpuh disamping Peter dan dihadapan Bapak Sabrina yang tetap terbaring di ranjang kecilnya.


" Bisa kita mulai sekarang nak." Tanya pak Penghulu itu.


" Bisa pak." Jawab Peter setelah berulang kali menghela nafas panjangnya, mencoba mencari keyakinan didirinya yang masih tersisa.


" Saudara Peter Brama Wijaya bin Putra Wijaya, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan ananda Sabrina Larasati binti Ahmad Baskoro, yang walinya telah mewakilkan kepada saya, dengan mas kawin uang tunai sebesar dua puluh sembilan ribu lima ratus rupiah dibayar TUNAI." Ucap pak Penghulu itu dengan lantang.


" Saya terima nikah dan kawinnya Sabrina Larasati binti Ahmad Baskoro dengan mas kawin uang tunai sebesar dua puluh sembilan ribu lima ratus rupiah dibayar TUNAI." Jawab Peter dengan satu kali tarikan nafasnya.


" Bagaimana saksi? SAH?"


" SAH.. SAH.." Jawab Chris dan juga Ustad yang ada disampingnya.


" Alhamdulilahirobil'alamin."


Walau tidak banyak orang disana, namun mereka kompak mengucap kata Hamdalah bersama-sama.


" Peter... kenapa uang pecahan koin lima ratus rupiahnya juga kamu pakai? yang benar saja kamu ini?" Chris sempat terkejut tadi mendengarnya.


" Daripada dibuang kan mubadzir bos, lumayan buat beli Permen dapat satu biji." Jawab Peter dengan santainya.


" Pffthh... kamu kira Sabrina anak kecil apa, yang bahagia dengan cuma kamu kasih permen satu biji doang, pantesan tadi saat uang di dompet kalian habiskan aku punya firasat nggak enak, ternyata duit receh yang tersisa itu untuk membeli sahabat terbaikku?" Gemintang mencoba menahan tawanya sebisa mungkin, walau setelahnya terlihat lega karena Sabrina bisa memenuhi keinginan bapaknya.


" Ckk... biar saja, anggap saja maharnya sesuai tanggal hari ini." Peter tidak mau direndahkan begitu saja.


" Emang hari ini tgl berapa, bukannya tanggal tiga puluh?" Sabrina mulai mengingat tanggal hari itu.


" Heleh... selisih sehari doang kok, nggak mungkin juga kan gue harus ngutang Gopek , yang penting tetep terlihat keren?" Jawab Peter dengan santainya.


" Pftthh... ya setidaknya kan lebih keren kalau berakhir kata Juta atau Dolar gitu, jangan berakhir kata Ribu Rupiah kali Sumarno, hihi!" Ledek Gemintang kembali sambil terkekeh geli.


" Bapak? pak...bangun pak, bapak tidur ya?" Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari mempelai pengantin wanita.


Setelah kata Sah terucap, Sabrina langsung berjalan mendekat kearah bapaknya untuk melakukan sungkeman, namun saat dia baru saja memegang kedua jemari bapaknya, yang ternyata sudah terasa dingin dan kedua matanya pun sudah terpejam.


" BAPAAAAAAAAAAAKK!"


Sabrina langsung menjerit histeris saat dia tidak lagi merasakan deru nafas bapaknya. Suasana haru pun langsung terlihat disana, bahkan ibu Sabrina langsung pingsan seketika.


Ternyata memang itulah satu-satunya keinginan terakhir yang bapak Sabrina minta, sebelum dia benar-benar menghembuskan nafas terakhirnya.


Setelah kata SAH terucap, tanggung jawabnya sebagai seorang ayah langsung terlepas karena sudah berpindah ke tangan suaminya dan juga tanggung jawab hidupnya didunia ini, sudah selesai sampai disini saja. Beliau kini sudah tidak lagi merasakan kesakitan ditubuhnya.


Sehebat apa pun kau rasa profesimu, tidak ada yang istimewa. Kita semua sama-sama bernapas dan berdarah. Hari ini menggenggam kehidupan, esok mungkin menggenggam kematian. 


..."Kita terlahir dengan satu cara, namun kematian menjemput dengan berbagai cara."...


MAAF JIKA ADA KESALAHAN TENTANG PENGERTIAN ATAU APAPUN YANG MENYANGKUT TENTANG NIKAH SIRI YA? JIKA ADA YANG SALAH TOLONG KOREKSI, SILAHKAN TULIS DI KOLOM KOMENTAR, BIAR AUTHOR REVIEW KEMBALI, TERIMA KASIH.

__ADS_1


BIG HUG BUAT KALIAN SEMUA...🥰


Dan jangan lupakan VOTE nya boskuh😘


__ADS_2