
...Happy Reading...
Peter mungkin kurang peka dalam hal memahami hati seorang wanita, namun satu yang pasti, dia akan tetap selalu berada disamping istrinya, apapun yang terjadi.
Mau semarah apapun istrinya, akan dia keluarkan semua rayuan maut yang dia bisa, agar istrinya tetap menoleh kearahnya.
" Sayang, sebenarnya apa salah mas, kenapa kamu masih aja ngambek sama mas?" Peter segera menutup pintu kamarnya, agar suaranya tidak terdengar sampai luar.
" Jangan mendekatiku!"
Sabrina langsung menyetop tubuh suaminya, saat dia terlihat ingin mendekat kearahnya.
" Kenapa lagi ini? kalau mau marah sama mas boleh, tapi jangan pernah larang mas buat menyentuh kamu, karena kamu sudah mas bayar lunas okey?"
" DUA PULUH SEMBILAN RIBU LIMA RATUS RUPIAH." Sabrina langsung berkata dengan lantang dan mantap.
" Hehe... masih ingat kamu ya yank?" Antara menyesal tapi juga lucu saat mengingat uang mahar yang dia berikan saat Ijab Qobulnya dulu, namun nyatanya semua itu malah jadi berkesan sampai sekarang.
" Mau seumur hidup juga aku akan terus mengingatnya mas." Sabrina pun tersenyum tipis saat mengingatnya.
" Keren kan yank, pas tanggal dan bulannya kan? jangan lihat berapa jumlah mas kawinnya dong Nana sayang, lihat ketulusan hati mas yang merelakan orang keren dan macho seperti mas ini untukmu." Ucap Peter dengan percaya dirinya.
" Heleh.. saat itu mas belum ikhlas juga kan?" Ledek Sabrina sambil melirik kearah suaminya yang masih terkekeh itu.
" Kalau masalah ikhlas memang belum bisa sepenuhnya, karena kan semua mendadak, tapi sekarang lihatlah, mas nggak bisa jauh dari kamu walau cuma sedikit aja, ibarat kata tuh kamu matahariku, aku tidak bisa hidup tanpamu."
" Preett... Matahariku lah konon! trus kenapa masih muji wanita lain didepanku?" Akhirnya ada kesempatan juga untuk dia mengeluarkan unek-uneknya.
" Maksud kamu Damia? dia hanya adek sepupuku sayang, astaga? masak kamu jealous sama dia?" Entah mengapa dia malah bahagia saat istrinya cemburu seperti ini, ada rasa lain dihatinya yang membuatnya bangga.
" Cih... kalau begitu aku mau telpon bang Lewis boleh nggak, lama banget nggak ngobrol sama duda tampan dan mapan itu, mas tau style dia kan? mas Lewis itu penampilannya kayak oppa-oppa Korea kan mas? body language nya itu loh, ngenak banget kan?" Gantian dia yang memuji pria lain sekarang, karena ingin melihat reaksi suaminya.
" Jangan sentuh ponselmu itu!" Peter langsung merebut ponsel istrinya saat dia mau mengambilnya.
" Why? dia itu abangnya Gemintang dan sudah aku anggap seperti abangku sendiri, sedari dulu lagi, jadi tidak masalah dong ya?" Dia pun bisa pikirnya.
" Enak saja kalau ngomong, nggak boleh pokoknya!" Peter langsung menyembunyikan ponsel itu dibawah ketiaknya.
" Tuh kan, dasar pria nggak pernah mau dikalahkan?" Umpat Sabrina sambil melengos.
" Kamu itu istri aku sayang?"
" Nah... itu tau kalau aku ini istrimu, jadi kalau mas marah saat aku memuji pria lain, jangan pernah memuji sesiapapun dihadapanku dong."
Owh... itu ternyata inti permasalahannya!
" Hehe.. aku cuma bilang dia cantik doang, tapi kamu kan lebih cantik dari dia, lebih gemoy, lebih ngegemesin, dan yang penting lebih seksih dari wanita manapun didunia ini, apalagi saat kamu bilang, auh.. cepetin dikit mas, aku sudah tidak tahan lagi, ditambah dengan suara kamu yang serak-serak asoy itu, beuuhhh... miss universe pun lewat Nana ku tersayang, hehe." Peter langsung mengeluarkan jurus ajian mautnya, sambil menoel-noel pipi istrinya itu dengan gemas.
" Dasar suami mesvm!"
Disinilah kelemahan dari seorang wanita, dipuji dikit saja sudah meleleh, apalagi kalau suaminya sudah mengeluarkan rayuannya, ditambah dengan pelvkan yang hangat dan mesra, dia langsung lemah seketika.
" Kalau begitu siniin dulu ponselku!" Pinta Sabrina dengan pipi yang sudah merona.
" Nggak boleh, mas marah loh, kalau kamu menghubungi pria lain!" Ucap Peter kembali.
" Dih?"
" Okey fine... mas ngaku salah, mas minta maaf karena memuji Damia tadi, tapi mas itu hanya menggangap dia itu masih sebagai bocah, kan biasa kalau sama bocah itu kita bilang dia cantik gitu, nggak mungkin kan bilang dia jelek, walau itu kenyataan sekalipun? mas janji nggak akan mengulang hal itu kembali, okey?" Peter langsung menyandarkan kepalanya di bahu Sabrina dengan manja.
__ADS_1
" Ya udah siniin dulu ponselku mas?"
" Nggak boleh, kamu ini ngeyel banget kalau dibilangin!"
" Bukan buat nelpon bang Lewis loh mas."
" Jadi?"
" Tukang sayur."
" Cowok apa cewek?"
" Astaga mas ini, masak sama tukang sayur juga dilarang, mau dia cowok apa cewek nggak masalah kan, yang penting sayurnya komplit semua!" Sabrina gemas sendiri jadinya.
" Emang mau beli apa?"
" Obat kuat!" Jawab Sabrina dengan cepat.
" Emang suamimu ini masih kurang kuat? mau apa setiap jam mas bangunin kamu?" Peter langsung menajamkan pandangannya kearah istrinya.
" Habis mas itu ngeselin deh? namanya juga tukang sayur, ya beli bahan makanan lah, masih nanya juga!"
" Main-main sama mas, habis kamu mas buat setengah jam sekali!" Ancam Peter dengan senyum liciknya.
" Siapa takut!" Sabrina tidak mau kalah jadinya.
" Woo... nantangin mas kamu ya!" Peter langsung membuka kaosnya dan siap mempraktekkan ucapannya.
" Ahahaha... ampun mas, mau masak ini, biar dianggep mantu sama mama kamu itu." Sabrina langsung mundur menjauh dari suaminya.
" Sayang... maafin mama mas ya? dia pasti cuma belum tau aja siapa kamu, yang sabar ya, namanya juga orang tua, rewel itu biasa kan?" Peter akhirnya melembutkan suaranya.
" Hmm... pantesan rewelnya nurun ke mas." Sabrina tersenyum kecut setelahnya.
" Mirip tau, judesnya kayak mas dulu."
Sabrina menghela nafas panjangnya sambil mengetik bahan makanan yang mau dia beli sama tukang sayur langganannya, yang merangkap jasa antar ke rumah dalam pembelian bahan makanan yang banyak.
" Maafkan mas yang dulu ya sayang? mulai sekarang kalau mas salah ditegur aja, pake hati tapi ya? jangan galak-galak?"
" Gimana ceritanya negur pake hati?"
" Ya kalau enggak, kasih pelajaran pake bibiir juga boleh deh, dipipi, kening atau manapun yang kamu suka!"
" Dih... itu sih maunya mas, tapi aku penasaran deh sama sepupu mas itu, jangan-jangan pria yang dia tunggu itu adalah mas." Entah mengapa firasatnya mengatakan seperti itu.
" Kenapa harus mas coba? kami sudah lama sekali tidak berjumpa loh yank, apa sudah habis pria tampan dan mapan seperti suamimu ini di muka bumi ini?" Peter seolah tidak percaya atas dugaan istrinya itu.
" Seriusan ini mas, kalau dilihat dari raut wajahnya dan pandangannya saat melihat mas tuh, kayak gimana ya, there is something wrong with her?"
" Masak sih yank, mas tidak terlalu memperhatikan sih." Peter hanya bisa mengerutkan kedua alisnya.
" Mas itu kurang peka jadi cowok!" Sabrina langsung bangkit dari duduknya dan mengganti pakaian yang lebih nyaman.
" Eh... jangan marah lagi dong, nanti mas coba ngomong baik-baik sama Mia deh, biar nggak salah faham." Peter kembali nempel sama istrinya.
" Terserah deh." Sabrina malas mau ambil pusing tentang itu, walau rasa penasarannya masih mendera di benaknya.
" Yank... mau kemana lagi? mas nggak ngizinin kamu keluar tanpa mas loh." Peter menarik lengan istrinya yang ingin berlalu darinya.
__ADS_1
" Mau perang!"
" Dih... emang ini jaman Romusha apa? pake acara perang segala."
" Perang melawan omongan mertua!"
" Yank, emang kamu mau adu debat sama mama mas gitu?"
" Dih... sory ya mas, aku bukan tipe orang yang durhaka sama yang tua, aku cuma mau nunjukin aja sama mama mas itu, jangan suka men-judge orang tanpa tahu yang sebenarnya." Sabrina ingin membuktikan, kalau kekurangannya cuma dalam hal masak memasak, akan dia tunjukan hasil masakan yang dia buat pikirnya.
" Yank.."
" Biar aku tunjukkan sama mama mas itu, kalau cuma setakat masak doang nih ya, jiwa koki ibuk itu menurun semua ke aku." Dia tidak ingin menyerah begitu saja, selagi dia masih mampu untuk bertahan.
" Emang dulu ibuk koki dimana? restoran?" Tanya Peter yang langsung kepo.
" No?"
" Hotel?"
" Bukan juga."
" Jadi?"
" Di hajatan tetangga!"
" Hahaha... kamu ini yank, bisa aja!" Peter langsung terkekeh mendengarnya.
" Dih... jangan salah ya, koki hajatan itu juga tak kalah keren sama koki restoran, nih ya.. kalau koki restoran paling cuma masak beberapa porsi doang, kalau ibuk tuh, bisa masak makanan buat satu kampung dalam satu wajan besar tau, jangan salah!" Dia langsung mengingat moment hajatan di kampungnya yang bisa berhari-hari, apalagi kalau moment pernikahan.
" Okelah... apapun itu, terima kasih sayang, karena mau memahami sifat mama mas yang mungkin agak keterlaluan denganmu." Peter membelai rambut lurus istrinya itu.
" Sebenarnya, aku tidak pernah meminta sesuatu yang lebih dari orang tuamu mas, aku tuh nggak butuh pujian atau kata sanjungan dihidupku. Aku cuma pengen minta doa restu dari beliau saja, aku pengen hidup bahagia, tentram bersama mas, langgeng sampai maut memisahkan."
Sabrina menunduk dengan tatapan sayu, hatinya sudah jauh terpaut dengan Peter, namun ada saja cobaan yang harus dia lalui kembali dalam hubungan mereka.
" Sayang... look at me, hatiku ini adalah yang paling beruntung dan paling bahagia di alam semesta karena kamu hidup di dalamnya. Tidak ada kata yang dapat menjelaskan betapa aku sangat bersyukur karena menjadi penerima cinta dan kasih sayang darimu." Peter mencoba meyakinkan istrinya bahwa mamanya bukanlah suatu halangan untuk memisahkan hubungan mereka.
" Hmm... makasih mas." Sabrina mengganguk patuh, karena memang hanya itu yang bisa dia lakukan.
" Jangan menyerah ya sayang, kita pasti bisa melalui semua cobaan ini, aku yakin, mama pasti bisa menerima kamu suatu hari nanti, percayalah dengan suamimu ini, mas akan memperjuangkan kamu sampai titik darah penghabisan, okey?"
" Tapi tidak akan aku biarkan satu tetespun darah keluar dari tubuh mas."
" Asyek... Love you sayang."
" Cie... yang udah bucin!"
" Yank, kamu kok gitu sih!"
" Aku lagi nggak sempet sayang-sayangan sekarang, bahan makanannya sebentar lagi sudah datang, aku akan memasak masakan khas dari Sabang sampai Merauke, biar mama mas tahu skill koki hajatan itu seperti apa!" Sabrina langsung mengikat tinggi rambutnya, dan mulai bersiap berperang dengan alat perlengkapan masak didapur.
Aku percaya, kamu bukan perempuan yang lemah Sabrina, kamu wanita yang kuat dan hebat yang pernah mas temui selama ini dan kamu adalah jawara di hati mas, sampai kapanpun itu.
" Wow... kamu keren yank, semangat!"
Peter langsung memberikan semangat saat melihat tekad kuat istrinya itu, dia juga bangga karena bisa memiliki Sabrina dihidupnya.
..."Sabarlah.. kalau sudah waktunya, serumit apapun itu, sesulit apapun itu pasti akan Alloh buka kan untukmu jalan yang terbaik."...
__ADS_1
TO BE CONTINUE...
Kasih double up, biar semangat ngasih jempolnya😁