Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
108. Curhat


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah dua wanita cantik yang sudah tidak ori itu selesai membuat sarapan ala kadarnya, Chris dan Peter sudah duduk kembali ditempat semula, dan memasang tampang cuek, seolah tidak kepo sedikitpun dengan obrolan mereka.


Dua pria tampan itu menikmati sarapan roti bakar itu dengan nikmatnya, tanpa ada satupun pertanyaan tentang mereka.


" Emm... mas, boleh minta izin nggak?" Gemintang sudah memberikan kode kepada Sabrina untuk melancarkan ide mereka sekarang.


Owh... mereka sudah mulai ini ceritanya.


" Boleh dong sayang, izin apa?" Tanya Peter dengan santainya.


" Emm... ada satu tempat dideket rumahku di kampung, yang menjadi kenangan aku dan Gemintang sedari dulu." Sabrina menjeda ucapannya untuk sekedar melihat ekspresi dari wajah suaminya.


" Terus?"


Karena tidak ada sesuatu yang janggal atau hawa-hawa dia akan marah, Sabrina kembali melanjutkan sandiwaranya.


" Boleh nggak kalau besok aku pergi kesana berdua sama Gemintang saja?" Tanya Sabrina perlahan dan sambil minta maaf didalam hati.


Tuh kan... kemarin udah janji, sekarang sudah berani mengingkari, lihat saja nanti hukuman apa yang cocok buat kamu.


" Boleh dong.. apa sih yang nggak boleh untuk kamu sayang."


" BENARKAH?"


Bukan hanya Sabrina, bahkan Gemintang pun ikut berteriak karena sama-sama terkejut, padahal mereka sudah susah payah menyusun skrip jika nanti permintaannya ditolak, namun ternyata suaminya malah mengizinkan dia pergi dengan mudahnya.


" Benar dong, emang mau kemana sih kalian berdua? kayak yang serius banget?" Peter tetap terlihat cool walau hatinya dongkol.


" Ada deh.. tempat kenangan indah pastinya, tenang saja, aku cuma berdua saja kok, nggak ada orang lain lagi, jadi kalian tidak perlu curiga." Gemintang langsung memotong pembicaraan mereka untuk membantu Sabrina.


" Ya sudah, tapi biarkan sopir mas yang nganter okey?" Chris pun hanya tersenyum saat menanggapinya.


" Tapi Bee?" Gemintang langsung memijit lengan Chris untuk merayunya.


Why? apa salahnya mengajak kami? ada apa dengan tempat itu?


" Tidak ada kata tapi-tapian, aku tidak mau terjadi apa-apa jika kalian hanya pergi berdua saja okey?" Chris langsung memberikan ultimatum, karena dia bisa minta petunjuk jalan dengan sopirnya nanti.


" Ya udah deh, sama sopirpun jadilah, kalian nggak marah tapi kan?" Akhirnya Gemintang mengalah saja.


" Kenapa kami harus marah, lagian aku sama Peter ada pertemuan bisnis juga diluar kota, dan itu harus segera kita handel berdua." Ucap Chris dengan senyum penuh makna.


" Owh ya, kalau kami menginap satu malam berarti boleh juga dong?" Gemintang semakin bahagia, seolah dipermudah jalan keinginan baginya.


" Tidak ada masalah." Jawab Mereka dengan tenang.


" Yeaaayy, kalian memang terbaik deh."


" Hmm... kalau begitu kita istirahat saja dulu, nanti kita kan sama-sama menempuh perjalanan jauh, jadi ada baiknya kita tidur sebentar." Chris langsung merangkul tubuh Gemintang agar duduk bersandar di lengan kokohnya.

__ADS_1


" Okey, kita ke kamar yuk sayang." Peter langsung semangat ingin menggendong Sabrina kembali.


" NO!" Tapi Gemintang yang langsung protes.


" Why? kita sudah sah, right? sudah halal Sumarni, apa kamu lupa?" Celoteh Peter yang tidak terima.


" Ingatlah Sum! tapi kalau Sabrina kamu ajak ke kamar, sudah paati dia tidak akan kamu biarkan istirahat, jadi biarkan dia tidur disini, sofa ini lebar dan luas, kenapa nggak tidur aja disini?" Gemintang sudah hafal akal bulus seorang pria.


" Suka-suka gue dong!" Jawab Peter sambil menaikkan satu sudut bibiirnya.


" Nggak! kalau nanti dia sakit aku juga yang pening jagain dia, perjalanan jauh nanti!"


" Sudahlah mas, lagian ini sudah mau subuh, aku mau mandi besar dulu." Sabrina melirik jam yang memang menunjukkan waktu hampir subuh.


" Ceileh... yang mau mandi besar, sombong amat!" Umpat Gemintang yang langsung melengos karena iri.


" Biarin, iri ya? taulah yang sekarang hanya bisa mandi kecil doang, haha!" Sabrina tidak mau kalah.


" Diem kamu! pergi sana!"


Niat hati mau meledek, malah dia sendiri yang kena ledekan, seperti itulah mereka, kadang kompak bersekongkol, kadang pula kompak saling meledek.


................


Langit senja pun telah muncul menghiasi sebuah perbukitan yang sudah dipenuhi tenda-tenda camping.


Yang datang disana kebanyakan segerombolan anak muda yang ingin menghabiskan masa liburan mereka sambil seru-seruan.


" Ternyata rame ya Gem? seru banget loh?" Sabrina tersenyum dengan penuh kepuasan, selain tempatnya bagus, udaranya pun segar.


Mereka berdua duduk didepan tenda yang sudah dia sewa sambil melihat pemukiman yang padat akan penduduk dari lereng bukit.


" Woah... pantesan William seneng banget kalau kamu ajak kesini?" Sabrina langsung mengingatkan luka itu.


" Sok tahu kamu!"


" Modelan kayak dia pasti senanglah, secara disini kalau malam sudah pasti dingin, apalagi sepi, bisa jungkat jungkit sepuasnya kalian didalam tenda kan, hayow... ngaku luu, haha.."


" Ckk... otak kamu itu sekarang sudah ngeres aja! kayak nggak ada tempat lain aja buat kek begituan disini, keras tahu, nggak ada alas kasurnya." Bantah Gemintang yang memang tidak pernah melakukannya disana.


" Bohong, takkan kamu dianggurin ditempat yang syahdu seperti ini?"


" Beneran, palingan cuma pelukan yang erat dan mengusap telapak tanganku agar aku tidak merasakan kedinginan, bahkan sepanjang dia terjaga dia selalu begitu, karena tahu aku gampang masuk angin."


Tiba-tiba suasana kembali melow saat mengingat moment terindah dia bersama mantan suaminya disana.


" Eh... sebenarnya elu kesini mau mengingat moment sama keluarga elu apa sama si ahli neraka itu sih?"


" Mau gimana lagi, moment ini hadir bersamaan, aku bisa melupakan dia, tapi sulit untuk melupakan kenangan bersama dia begitu saja, dan selama menikah denganku, dia selalu ada di moment-moment penting seperti ini."


" Huft... ribet memang kalau sudah berhubungan dengan mantan!"

__ADS_1


" Apalagi mantan suami yang seperti dia!" Gemintang memejamkan kedua matanya sejenak, sambil memeluk kedua lututnya untuk menghangatkan tubuhnya dari terpaan angin perbukitan yang cukup kencang.


" Sudahlah Gem, kan sudah ada Chris sekarang?"


" Iya... i know about it! emm... aku cuma ingat satu moment yang paling berkesan dengannya saja tadi."


" Bukan yang iya-iya kan!" Ledek Sabrina kembali.


" Hei Omes! sudah aku bilang, aku tidak pernah melakukan hal itu disini, aku mengenang kisah almarhum orang tuaku, bukan untuk bersenang-senang doang!" Gemintang kesal sendiri akhirya.


" Hehe... ampun Ndoro Putri!" Sabrina langsung mundur saat tangan Gemintang mau menampolnya.


" Kala itu, moment pertama kali aku kesini bersama mas William." Entah mengapa saat mengingat moment itu matanya selalu saja berkaca-kaca.


" Trus?"


" Dia.. dia ikut menangis saat aku menceritakan kisah perjalanan cinta orang tuaku yang penuh liku-liku dan sampai di titik mereka harus pergi meninggalakn kami berdua ke Surga, dan saat itu..." Berat sekali rasanya Gemintang ingin bercerita, namun dia ingin mengeluarkan unek-unek didalam pikirannya.


" Gem.." Sabrina tahu betul bagaimana perasaan sahabatnya itu.


" Errm... saat itu, disini, ditempat ini, dia berjanji denganku akan selalu menemani aku setiap tahunnya untuk mengenang hari pernikahan orang tuaku dan akan menjadikan mereka sebagai panutan dan juga simbol cinta sehidup semati bagi kami."


" Yang sabar ya Gem."


" Dan ini, pertama kalinya setelah aku mengucap janji suci dengannya, aku tidak datang bersama dia kesini." Pandangan Gemintang kosong, jauh menatap masa silamnya.


" Ini bukan salah kamu, dia yang berkhianat." Sabrina mencoba menjadi pendengar yang baik.


" Hmm... aku tahu, aku hanya tidak menyangka saja, dia akan mengingkari janjinya saat itu, padahal aku sudah sangat percaya dengannya, tentang apapun itu."


" Tuhan menempatkan seseorang di hidupmu karena sebuah alasan. Dan jika kamu kehilangannya maka itu karena sebuah alasan yang lebih baik Gem, jangan terus menerus menyesalinya dong." Sabrina merangkul bahu Gemintang untuk sekedar menguatkan.


" Aku tahu, aku bukan menyesalinya, aku hanya sedikit mengingatnya tadi." Gemintang mencoba tersenyun walau sulit, hanya dengannya lah dia mau bercerita secara terbuka, kalau dengan Lewis, baru mendengar namanya saja dia sudah emosi duluan.


" Terkadang kita harus merelakan sesuatu hal bukan karena kita menyerah, tapi mengerti bahwa ada hal yang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak akan bisa mendapatkan yang benar, bila kita tidak pernah tulus merelakan yang salah."


" Makasih Na, kamu selalu menguatkan aku dalam segala hal, tanpa kamu entah jadi apa aku sekarang kan?" Gemintang selalu bersyukur memiliki teman seperti Sabrina.


" Itulah gunanya sahabat Gem, terimalah kekecewaan yang hanya sementara, jangan sampai kehilangan harapan yang tak terbatas, okey?"


" Hmm.."


" Sudah dong, jangan menangis lagi, aku nggak rela air matamu jatuh karena mengenang buaya gila itu."


" GEMINTANG, BESOK PAGI KITA MENIKAH!"


" HAH?"


Disaat mereka masih asyik saling mengobrol dan curhat tentang kenangan tempat itu, walau harus kembali berderai dengan air mata, dan tawa yang sedikit dipaksa, tiba-tiba suara Chris Arthur terdengar menggema di kedua telinga mereka, bahkan para pengunjung disekitar mereka pun ikut menoleh kearah pria tampan, yang gagah dan menawan itu.


..."Apa arti kehilangan jika kita banyak menemukan saat kehilangan. Dan apa arti menemukan jika kita banyak kehilangan saat menemukan....

__ADS_1


Dan juga apalah arti diriku ini tanpa dukungan dan semangat dari kalian Bestie..🤭


Double up double juga hadiahnya ya kan☺


__ADS_2