Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
46. Pesona Perjaka


__ADS_3

...Happy Reading...


Aku masih terpaku melihat sosok pria yang menatapku dari kejauhan, dengan ekspresi datar dan santai dia bersandar pada mobil mewahnya, sambil bersedekap dan menyilangkan satu kakinya.


Hmm... pesona perjaka memang tidak ada duanya!


Terkadang saat berdekatan dengannya aku sering dibuat kesal oleh ucapannya yang memang sering frontal, namun terkadang bisa manis walau terlihat sedikit dipaksakan.


" Kakak cantik, samperin dong kakak gantengnya, nanti diambil orang loh?" Ucapan gadis kecil itu langsung membuyarkan lamunanku seketika.


" Heh? emang siapa yang mau ngambil dia dek, kamu ini ada-ada saja." Jawabku dengan senyuman yang tidak bisa aku tahan, anak sekecil ini tahu apa tentang hal tikung menikung pikirku.


" Soalnya kakak ganteng itu baik banget loh, dia yang traktir aku makan, ngasih aku eskrim buanyak dan masih nambahin uang makan aku lagi, pasti banyak yang mau sama kakak ganteng itu." Jawab Gadis kecil itu menggebu-gebu.


Andai perebutan seseorang itu hanya karena makanan seperti yang kamu bilang dek, akan sangat mudah untuk menyelesaikannya dan tidak akan sesakit ini rasanya.


" Biarkan saja dek, kakak ganteng itu berhak untuk bahagia, jika memang ada yang terbaik untuknya."


Aku memilih kembali duduk santai sambil tersenyum manis dan menggeleng-gelengkan kepalaku saat melihat kepolosan gadis kecil itu.




Setelah menunggu beberapa saat dengan terus mempertahankan gaya coolnya, Chris langsung berjalan mendekat sambil mengeratkan giginya dengan tatapan kesal.



Ya... Chris lah pria itu, saat Gemintang pergi tadi dia langsung menghubungi Peter untuk segera mencari informasi semua tentang Gemintang dan mencari keberadaan Gemintang saat ini.



*Dasar wanita yang satu ini, biasanya kan perempuan manapun kalau dikasih bunga seperti ini pasti akan berlari mendekat, bilang makasih atau apa gitu, aku sudah mencoba untuk romantis loh seperti yang Peter bilang, eh*... *dia malah biasa aja*.



" Kamu ini, sudah dikasih bunga tapi tidak tahu rasa berterima kasih!"



Chris langsung duduk disamping Gemintang dengan kesal, berbeda dengan Gemintang yang masih menyisakan senyumannya.



" Terima kasih untuk bunganya ya mas... tapi lain kali tidak perlu."



" Adek... kamu sudah boleh pergi, terima kasih atas bantuannya ya, tos dulu kita!" Chris langsung mengangkat kedua jemarinya kearah gadis kecil itu dan langsung ber tos ria.



" Okey kakak ganteng, aku pergi ya.. semoga kakak berdua bahagia selamanya ya." Ucap Gadis kecil itu sambil berlari pergi dari sana.



*Amin.. Amin*...



Didalam diam, mereka berdua mengaminkan ucapan dari gadis kecil itu, karena doa yang baik memang harus diaminkan.



" Kenapa? apa kamu alergi bunga mawar juga?" Chris langsung kembali menatap wajah Gemintang dengan khawatir saat gadis kecil itu hilang dari pandangan.



" Tidak mas... tapi bunga mawar seperti ini hanya segar dilihat beberapa jam saja, setelahnya juga kelopaknya pasti layu dan yang pasti mawar itu berduri, bunga ini jadi mengingatkanku tentang kisah cintaku mas."



" Ckk... tau apa kamu tentang filososfi bunga mawar, kamu tahu nggak kalau Duri yang tajam itu sering kali menghasilkan mawar yang lembut." Jelas Chris dengan mantap.



" Tapi tetap saja, seindah apapun itu tetap akan layu."



" Jangan hanya melihat kelopak bunga jatuh dari mawar dengan kesedihan, ketahuilah juga bahwa seperti kehidupan, hal-hal terkadang memang harus memudar terlebih dahulu, sebelum bisa mekar kembali."



" Hmm... iya juga sih, tapi kenapa kita jadi bahas masalah bunga sih? mas ngapain disini?" Tanya Gemintang kembali.



" Kamu juga ngapain disini, bengong sendirian kayak orang hilang."



" Andai aku bisa menghilang ya mas, mungkin hidupku tidak akan serumit ini."



*Jangan... aku sama siapa nanti*?



" Emang mau menghilang kemana kamu!" Tanya Chris.



" Hehe... enggak, kebanyakan halu aku tuh." Gemintang langsung terkekeh sendiri.



" Ayo kita pulang ke rumah."



" Aku sudah malas pulang kerumah mas, rumah yang seharusnya jadi tempat untuk pulang dan istirahat, sekarang justru menjadi tempat yang tak ramah dan meninggalkan banyak rasa sakit didalamnya."



" Emang siapa yang nyuruh kamu pulang ke rumahmu!"



" Lah tadi?" Chris menatapnya dengan heran.



" Ya ke Apartementku lah, kamu ini main kabur-kabur aja, sarapanmu saja belum kamu habiskan tadi, bahkan sampai jam segini kamu masih nongkrong nggak jelas disini, gimana nggak lemah kamu, ayo cepat pulang!" Chris sudah seperti bapak yang memarahi anaknya.



" Ckk... itu kan rumah kamu mas, bukan rumah aku."



" Makanya, hidup dalam satu atap itu tidak akan pernah bisa kalau ada dua kepala rumah tangga, pasti akan ada masalah rumit yang terjadi, mengerti kamu."


__ADS_1


" Hmm... memang benar, sekarang aku jadi menyesalinya, andai dulu...



*Tak perlu berandai-andai, kalau kamu masih istri orang, kepalaku juga yang pusing, ayah sudah merengek saja minta cucu kok, mau aku beliin yang sudah jadi saja nggak mau beliau, entah apa yang beliau harapkan dariku sekarang*.



" Sudahlah, jangan kebanyakan berandai-andai, atau kamu tetap akan terus terjebak dalam luka masa lalumu." Entah kenapa Chris menaruh harapan yang lebih kepada istri orang itu.



" Padahal kalau dia ngomong baik-baik, apa kekurangan aku yang membuat dia berpaling, atau mungkin dia sudah tidak bisa menjalin kehidupan lagi denganku karena mungkin sudah hilang rasa, aku akan melepasnya loh mas, aku bukannya wanita yang tidak tahu diri dan egois, walau bukannya kehilangan yang aku harapkan, namun aku juga tidak sanggup berdiri disebelah hati yang diam-diam menyimpan nama orang lain." Gemintang kembali bersikap sendu, karena berbicara dengan Chris sedikit bisa membuat rasa sesak di dadaanya sedikit berkurang.



" Dalam jangka panjang, mungkin sifat asli seseorang akan muncul, topeng-topeng akan terlepaskan, warna palsu pun akan memudar, hingga pada akhirnya terlihatlah tabiat aslinya, tidak bisa ditutupi lagi, dan itu memang sering terjadi."



" Hmm... mungkin memang nasipku yang harus seperti ini mas."



" Terima sajalah, jika daun yang berguguran jatuh saja karena kehendak-Nya, maka Takdir yang terjadi padamu itu pun adalah Ketentuan-Nya, never lose hope, magic does happened and it happened from us." Kata bijak dari seorang CEO langsung keluar disana.



" Waah... mas, kamu tuh kayak Warteg ya." Ucap Gemintang tiba-tiba.



" Kok Warteg? kamu pikir wajah aku kayak tempe orek gitu? wah... keterlaluan kamu ini!" Chris langsung menajamkan kedua matanya kearah Gemintang yang langsung cengengesan.



" Hehe... bukan mas."



" Jadi?"



Wajah Chris langsung tidak bersahabat, seumur-umur baru Gemintang yang berani meledeknya.



" Sederhana tapi berkualitas, hehe..."



Berrr!



" Ngomong dong, aku kira kamu mau menghujatku, padahal aku sudah sangat berbaik hati denganmu!"



Ingin tersenyum namun dia tahan, agar eksistensi jaimnya tetap terjaga dan akhirnya wajah Chris mulai kemerahan karena hatinya merasa senang.



Tulilut... tulilut...



" Hallo." Gemintang langsung menggeser layar ponselnya.




" Ckk... justru abang yang ada dimana, aku tadi langsung datang ke rumah, ternyata abang sudah pergi sama wanita itu." Gemintang langsung menegakkan tubuhnya dan siap-siap meluncur kemanapun abangnya berada.



" Abang sedang di hotel sama mbakmu!" Jawab Lewis kembali.



" APA!" Teriak Gemintang dengan nada paling tinggi, walau memang dia sudah menduganya tadi.



" Ssst... nggak usah keras-keras, abang lagi dikamar mandi nih." Bisik Lewis kembali.



" Abang... aku mohon, kali ini saja, percaya denganku, mbak Farah tidak sebaik yang abang kira."



" Maksud kamu apa? abang tuh cuma mau tanya saja, apa terjadi sesuatu selama abang pergi satu tahun ini? kenapa kamu malah jadi jelek-jelekin mbakmu!" Umpat Lewis seolah tidak terima.



" Bukan jelek-jelekin bang, tapi memang itu kenyataan." Gemintang gemes sendiri jadinya.



" Memang apa yang diperbuat mbakmu?"



" Abang mending pulang sekarang juga dan temui aku di kafe langgananku, tanpa mbak Farah!"



" Kenapa?"



" Mbak Farah itu selingkuh!"



" Jangan bercanda kamu?" Lewis mencoba untuk menyangkalnya.



*Astaga... apa dengan tukang galon tadi? tapi masak iya aku dikalahkan sama tukang galon? yang benar saja*.



" Aku nggak bercanda bang, cepat pergi dari situ, temui aku."



" Tapi abang sedang anuu... aduh... gimana ya ngomongnya!" Lewis merasa serba salah, namun dia juga bingung sendiri.



" ABANG! sebenarnya abang tuh paham nggak sih artinya selingkuh? kenapa masih santai saja disitu bersama wanita gila itu, denger ya bang... jangan menyentuhnya lagi, cepat pergi dari sana!" Gemintang tidak habis pikir bagaimana pemikiran abangnya itu.

__ADS_1



" Masak sih dek, apa kamu yakin?"



Lewis seolah tidak percaya dengan ucapan adeknya, karena menurutnya orang seperti Farah tidak mungkin memilih tukang galon daripada dia, setampan apapun dia pikirnya.



" Astaga... abang ini sudah dicekokin apa sih sama wanita itu."



" Ya gimana ya dek?"



" Aku kirim buktinya buat abang, tapi share lokasi dulu dimana keberadaan abang sekarang, takut pula abang nanti pingsan saat melihatnya!"



Gemintang merasa kesal sendiri, secinta apa abangnya itu dengan wanita j@l@ng itu, sampai-sampai tidak percaya dengan ucapan adeknya sendiri.



" Okey, abang share lokasi sekarang."



" Saranku cuma satu bang, jangan sentuh kembali istri abang, agar nanti tidak menyesal tujuh turunan!"



Gemintang langsung mematikan sambungan teleponnya dan segera beranjak berdiri untuk menemui abangnya.



" Woi... woi... ada orang ini, main tinggal kabur saja, nggak sopan banget kamu ini." Chris langsung menarik lengan Gemintang.



" Aku mau menemui abang dulu mas, maaf aku harus pergi."



" Dari tadi main pergi-pergi aja kamu! emang abang siapa yang mau kamu temuin!"



" Abangku lah!"



" Ya abangku itu siapanya kamu, selingkuhan kamu gitu!"



" Ckk... sembarangan saja kalau ngomong, aku bukan wanita seperti itu, lalu apa bedanya aku dengan suamiku!"



" Makanya ngomong yang jelas dong."



" Dia itu abangku, kakak kandungku yang baru saja pulang berlayar, ckk... pergi ke laundry dulu sana, cuci bersih itu pikiran kotor mas."



" Ikut Gem!"



" Ngapain ikut, mas fikir aku mau piknik apa!"



" Kemana saja, asal bareng sama kamu aku mau."



*Ehh... ngomong apa dia? apa yang terjadi dengannya*?



" Terserah mas saja deh!" Gemintang sedang malas berdebat, karena akan membuang waktunya disitu.



" Bareng sama aku yok, mas bawa mobil, ada sopirnya lagi."



" Siapa?"



" Noh... lihat sendiri!" Chris menunjuk mobil mewah miliknya dipinggir jalan.



" Aish... malas aku! kenapa harus dia!" Saat kepala Peter nonggol dijendela mobil, Gemintang langsung melengos saat melihatnya.



" Apa Sumarni? ada masalah denganmu?"



" Bukan denganku, tapi bertemu denganmu yang menjadi masalah. Aku mau naik mobilku saja, males bareng sama dia, kenapa sih mas, nggak dipecat aja dia, apa mas lupa kejadian malam itu!" Gemintang seolah menjadi kompor diantara dua sahabat itu.



" Mulut itu dijaga jangan sampai kalah sama buntut deh, buntut aja kalau mau kentut mikir dulu, ada yang dengerin apa enggak, masa mulut mau ngomong ga dipikir dulu." Umpat Peter yang langsung tidak terima begitu saja.



" Makan Combro dirumah pak Mamat, BODO AMAT!" Balas Gemintang yang tidak perduli.



" Heh... sudah-sudah, Peter kamu pulang saja, biar aku saja sendiri yang nemenin dia." Chris selalu menjadi pihak penengah diantara mereka berdua.



" Minum jus Jambu di atas batu, Baguslah itu, BYE.."



Peter langsung kembali masuk kedalam mobil dan segera pergi dari sana, sebenarnya dia pun malas tadi mau mengantar Chris ketempat itu, bahkan sampai saat ini dia tidak mau duduk terlalu dekat dengan Chris, karena kejadian tragedi civman mavt itu sungguh masih sangat membekas di pikirannya.



..."*Akan ada saatnya dimana percayamu dikecewakan, lalu hatimu dengan sengaja dipatahkan. Dan saat itu kamu akan tahu, apa maksud dari sebuah Keikhlasan*."...

__ADS_1


__ADS_2