
...Happy Reading...
Terangnya sinar rembulan malam ini tidak seterang wajah Sabrina, dia terlihat duduk termenung di Teras rumah miliknya sendirian, setelah para warga setempat sudah kembali pulang dari acara tahlilan dirumahnya untuk almarhum bapaknya.
" Sabrina... kamu nggak masuk nak, udara diluar dingin loh, nanti kamu bisa masuk angin." Ibunya berdiri didepan pintu sambil melihat putri semata wayangnya yang melamun sejak tadi.
Gurat kesedihan masih terlihat diwajah putrinya, bagaimana tidak, kejadian yang menimpanya pasti tidak mudah untuk dia terima dengan ikhlas begitu saja.
" Iya buk, sebentar lagi, baru lihat bulan purnama itu, cantik banget." Padahal sedari tadi dia hanya menatap kosong halaman rumah didepan sana, sedangkan pikirannya entah melayang sampai kemana-mana.
" Kamu ada masalah nak?" Ibu Sabrina perlahan berjalan mendekat dan duduk disamping putrinya.
Banyak buk, tapi biarlah, cukup aku saja yang tahu dan merasakannya.
" Nggak ada kok buk." Dia berusaha tersenyum walau terlihat berat, apapun itu Sabrina hanya ingin melihat ibunya bahagia dan tidak terpuruk lagi, walaupun kondisi ibunya sudah lebih bisa menerima sekarang, namun Sabrina tetap tidak ingin membuat ibunya kecewa.
" Apa kamu bertengkar dengan nak Peter?" Ibu Sabrina mengusap lembut bahu putrinya, sengaja ingin mengulik apa yang mengganjal dihati putrinya.
" Enggak... kami baik-baik saja buk, cuma mas Peter kan banyak urusan dikota dan pernikahan kami kan memang sangat mendadak, tanpa persiapan atau apapun itu, jadi mas Peter mungkin masih perlu penyesuaian juga." Sabrina sengaja tidak ingin membuat ibunya kembali down, jika tahu keadaan mereka yang sebenarnya.
Bahkan sampai saat ini pun mereka sama sekali tidak berkomunikasi, sejak dari kepulangan Peter kembali ke kota, dia pun tidak berani dan tidak berniat juga untuk menghubungi suami Sirinya itu, karena Sabrina juga tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana untuk menghadapinya.
" Ada yang kamu sembunyikan dari ibuk nak?"
Naluri seorang ibu memang sulit untuk dipungkiri, seolah dirinya bisa membaca hati dan pikiran kita tanpa harus bercerita kepadanya.
" Beneran nggak ada buk, memang kemarin aku yang nyuruh mas Peter pulang kok, dia bukan orang biasa buk, pasti banyak tanggung jawabnya disana, lagian aku dirumah sendirikan, ada ibuk juga, nggak ada yang perlu dikhawatirkan buk?"
Walau dia baru saja menikah dan secara siri sekalipun, tapi Sabrina tahu bahwa sebagai seorang istri, dia harus menutupi aib dan keburukan suami, karena istri ibarat pakaian bagi suami.
Wajahmu tidak bisa berbohong Sabrina, aku ibumu yang telah membesarkan kamu selama ini, jadi siapa kamu, ibulah yang paling tahu.
" Jangan bohong sama ibuk." Ibu Sabrina tersenyum melihat kepanikan wajah putrinya, namun dia hanya bisa jujur didalam hati juga.
" Ibuk... sudahlah, kalaupun ada masalah, wajarlah buk, kami menikah terburu-buru, bahkan belum ada rasa cinta sama sekali, aku mengenal mas Peter hanya sebagai bos ditempat perusahaanku dulu, dan tiba-tiba menjadi suami istri, kami pasti butuh penyesuaian diri juga kan buk." Sabrina mencoba bersabar dan menjadi wanita bijak walau hatinya sebenarnya juga ketar-ketir.
" Apa kamu menyesal sekarang nak?" Ibu mana yang ingin melihat anaknya sedih, semua ibu pasti ingin melihat dar@h dagingnya bahagia.
" Jangan khawatir buk, semua pasti akan baik-baik saja." Sabrina langsung mengenggam tangan ibunya, dia tahu jika ibunya juga pasti sedih jika tahu dia tidak bahagia dalam pernikahan yang dadakan ini.
" Jangan sampai kamu tertekan dalam hubungan kalian, pikirkan juga bahagiamu nak, ibu tahu kamu bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk."
" Hmm... aku tahu buk, bismilah saja, semoga Sabrina bisa melewati ini semua dengan baik."
Benar kan, pasti mereka bertengkar tentang sesuatu hal, tapi sebagai orang tua aku tidak boleh terlalu ikut campur dalam rumah tangga mereka, namun sebagai ibu, aku juga tidak ingin jika putriku mengalami tekanan batin karena masalah ini, hmm... sepertinya aku harus bertindak terlebih dahulu ini.
" Okey... kalau begitu besok pagi, suruh suamimu itu datang menjemput kesini." Tiba-tiba ibu Sabrina mempunyai ide yang menurutnya bagus.
Menjemput?
" Maksud ibu mas Peter?" Sabrina langsung melongo dibuatnya.
" Emang suamimu ada berapa?" Tanya Ibu Sabrina yang langsung terheran.
" Ehh... maksudnya kenapa harus dijemput gitu buk, Sabrina berani kok pergi ke kota sendiri, biasanya juga Sabrina selalu sendiri."
Tentu saja dia menolaknya, karena dia sama sekali tidak terfikirkan tentang hal ini, apalagi sejak pertengkaran kemarin.
" Itu dulu, kalau sekarang kamu sudah punya suami, tanggung jawabmu berpindah ke suami, dan satu hal lagi, saat dulu kamu masih gadis mau kemana saja kapan saja itu memang terserah kamu." Ibu Sabrina menjeda perkataanya sebentar.
Sekarang pun aku masih gadis buk, orang dia nggak mau aku sentuh kok.
Sabrina langsung tersenyum getir mendengarnya.
" Tapi ketika kamu sudah bersuami, kamu harus bisa menjaga jarak dan menjaga mata kamu yang sering jelalatan itu kalau sedang melihat atau berpapasan dengan pria tampan." Lanjutnya kembali.
__ADS_1
" Ckk... ibuk mah sok tahu deh."
Padahal memang benar adanya, apalagi kalau sudah berpergian berdua dengan Gemintang, disaat mereka masih sama-sama single dulu, pantang lihat yang seger-seger, langsung saja tebar pesona.
" Emang ibu tahu kok, dulu saja tukang jualan mana di kampung ini yang nggak kenal kamu, ya bakso, sate, somay, nasi goreng, bakmi goreng bahkan yang jualan pentol pun kalau lewat depan rumah ini masih sering berhenti dan nanyain kamu ada dirumah apa enggak, sampe malu ibuk tuh ditanyain tetangga, dikira abang-abang penjual jajanan itu semua pacar kamu." Ibuk Sabrina langsung mengutarakan unek-uneknya yang sudah lama dia pendam.
" Hehe... kami cuma temenan doang buk." Sabrina langsung terkekeh mengingat kelakuannya dulu.
" Temenan kok sampai nanyain semua, tiap hari lagi kalau lewat selalu begitu, padahal ibuk kan nggak mau beli, jadi terpaksa beli deh karena nggak enak hati."
" Itu namanya kami best friend buk, jadi memang sepeti itu seharusnya, ramah gitu." Sabrina mencari alasan saja.
" Heleh... bilang aja kamu memang sengaja kan pura-pura dekat dengan abang-abang itu?"
" Apaan sih buk, jangan menuduh anak sendiri seperti itu deh." Padahal memang benar adanya.
" Kamu mau deket sebenarnya cuma biar sering dikasih bonus atau gratisan kan?"
" Kok ibu tahu sih!"
" Aku jitak kepala kamu kalau coba-coba PHPin mereka kamu!" Ibuk Sabrina langsung melotot kesal.
" Wuidih... ibuk sudah tahu bahasa gaul ya sekarang?"
Akhirnya Sabrina bisa tersenyum lepas walau hanya dengan obrolan ringan dengan ibunya dibawah temaramnya sinar rembulan malam itu.
" Ibuk dilawan! ya maap-maap lah yee!" Jawab ibu Sabrina yang langsung membuat putrinya kembali tertawa.
" Ahaha... ibu bisa aja."
" Ckk... cepat kamu hubungin menantu ibuk yang satu itu, untuk menjemput kita besok pagi."
" Kita? maksudnya kita itu, aku dan ibuk gitu?" Sabrina langsung terkejut kembali karenanya.
" Ya siapa lagi, cepat sana, ibuk mau siapin baju untuk dibawa ke kota."
" Ya buat baju gantilah, trus kalau nggak pakai baju mau pakai apa? pakai karung gitu?"
Wah... b**isa gawat ini?
" Buk... ibu nggak usah ikut, biar aku sendirian aja yang balik ke kota."
" Kenapa sih, orang aku mau mengenal anak mantuku, kemarin belum sempat ngobrol banyak, jadi ibu mau nginep disana beberapa hari biar bisa mengenal karakteristik suami anak ibu lah."
Haduh... mas Peter ngebolehin nggak ya?
" Tapi buk?"
" Lagian acara tahlilah bapakmu sudah selesai kok, ibu pengen cari suasana baru juga, biar nggak keinget terus sama bapakmu walau nama dan wajah bapakmu akan selalu ada didalam hati."
Astaga... orang tua ini, dia malah sok puitis segala lagi.
" Kapan-kapan saja lah buk, mas Peter masih banyak pekerjaan disana."
" Ibuk tidak akan menggangunya dalam hal pekerjaan, ibu cuma mau tinggal bareng sama kalian berdua, biar ibu bisa mengajarimu bagaimana menjadi istri soleha, tanggung jawab melayani kebutuhan suami lahir dan batin, juga harus pandai mengurus segala sesuatu tentangnya, agar kamu terus disayang sama suami."
Mampus gue... disentuh aja dia nggak mau buk, gimana mau melayani kebutuhan batin suami?
" Aku tahu kok buk, beneran deh." Sabrina tetap mencoba untuk mencegahnya.
" Bohong... kamu saja menikah trus ditinggal pergi, sudah pasti dia tidak puas dengan pelayananmu sebagai seorang istri kan?"
" Bukan begitu buk, tapi kalau emang nanti aku tidak tahu kan bisa tanya ibuk lewat telepon saja, tidak masalah kan, sama aja itu buk."
" Kenapa sih, orang cuma mau lihat rumah dan lingkungan anak mantu sendiri kamu nggak ngebolehin, pelit banget kamu ini?"
__ADS_1
" Tapi buk?"
" Woah... ibu malah jadi curiga sendiri ini, sini ponselmu, ibu pinjam sebentar."
" Buat apa buk?"
" Ckk... sebentar saja." Ibu Sabrina bahkan langsung merebut ponsel anaknya dan menscroll kontak nama yang bernamakan Peter disana.
" Jangan, ehh..."
Akhirnya Sabrina hanya bisa pasrah, dia selalu kalah jika ibunya sudah membulatkan tekadnya seperti itu.
" Hallo... apa ini nomor menantuku?" Ibu Sabrina lansung nerocos saja, saatpanggilannya sudah terhubung disana, bahkan sebelum Peter menjawabnya dengan kata hallo, dia juga mengaktifkan loudspeakernya.
" Hmm... ini siapa ya?" Tanya Peter yang baru saja memejamkan kedua matanya tadi.
" Ealah... kamu nggak tahu nomor istrimu sendiri?" Ibu Sabrina langsung terkejut sendiri.
" Hah? apa ini nomor Sabrina?" Peter langsung terduduk dan menatap layar ponselnya.
" Aku ibunya Sabrina nak Peter, maaf jika sekarang kami menggangu jam istirahat kamu nak."
" Owh maaf buk, tidak menggangu sama sekali buk, tadi saya tidak memperhatikan namanya, maaf sekali lagi buk."
" Pfftthh... padahal mungkin dia malah nggak menyimpan nomorku." Umpat Sabrina sambil menahan tawanya.
" Apa?" Ibu Sabrina langsung melotot kearah putrinya saat mendengar umpatannya.
" Nggak papa, lanjut saja buk." Jawab Sabrina yang langsung memilih diam saja.
" Iya ada apa buk, ada yang bisa saya bantu?" Tanya Peter kemudian.
" Besok bisa jemput kami kesini nak Peter? ibu pengen nginep dirumah kamu boleh?"
" Hah? owh... tentu saja boleh buk." Jawab Peter yang langsung terdengar gelagapan disana.
" Begini nak Peter, kemarin kan ibu belum sempat mengenalmu dengan baik, setelah pemakaman bapaknya Sabrina juga kita belum sempat ngobrol, jadi sementara ibu mau tinggal bersama kalian boleh?"
" Buk... jangan begitu." Sabrina langsung berbisik kepada ibunya.
" Owh iya... ibuk juga belum sempat kenalan dengan orang tua kamu kan?"
" Hmm... iya buk, tapi sebelumnya mohon maaf buk, karena saya tinggal di Apartement yang lebih dekat dari kantor, saya tidak tinggal satu rumah dengan orang tua saya."
" Owh tidak papa nak, dimanapun kamu tinggal tidak jadi masalah, kalau nanti kamu punya waktu ibuk ingin bertemu dengan mereka."
" Baik buk."
" Kalau begitu sampai jumpa besok pagi ya nak, jangan lupa jemput kami."
" Iya buk." Jawab Peter dengan sopan.
Dan akhirnya berakhir sudah obrolan anak dan ibu menantu itu, entah apa yang terjadi dengan Peter sekarang, Sabrina tidak bisa membayangkannya.
Apakah setelah ini hubunganku akan berlanjut, atau akan selesai, huft... aku serahkan semua pada sang Pencipta alam semesta saja.
" Apa ini tidak berlebihan buk?" Sabrina mengikuti langkah ibunya masuk kedalam rumah.
" Ibu hanya ingin mengenalnya lebih dekat lagi, jika memang dia yang terbaik untukmu, kamu bisa melanjutkannya, jika memang tidak, lepaskanlah... ibu hanya tinggal punya kamu nak, ibu tidak mau kamu menyesal nantinya, hidup didunia itu terlalu singkat, jalani kehidupan yang membuatmu bahagia dan tinggalkan apa yang membuatmu menderita dan terluka." Ibu Sabrina langsung mengusap air mata yang langsung menetes saat itu.
" Ibuk."
Hanya pelukanlah yang bisa menggambarkan betapa sayangnya Sabrina dengan orang tuanya, walau dia diam tanpa bicara pun, ibunya seolah mengerti apa yang dia rasakan.
Namun Sabrina juga sedikit lega, berarti ibunya juga sudah tahu resikonya, jika mungkin nanti orang tua Peter atau Peter sendiri tidak bisa menerima dia dengan baik dan harus mengakhiri hubungan itu, beliau pasti akan legowo dan tidak akan bersedih lagi, karena memang itulah yang Sabrina takutkan sedari tadi.
__ADS_1
Ibu telah menjadi pintu untukmu terlahir di dunia ini, ibu juga yang akan menjadi pintumu menuju surga. Maka jagalah dengan baik pintu itu.
Ibu adalah ciptaan terindah, karena di dunia yang egois ini, dia adalah satu-satunya yang selalu ingin melihatmu bahagia.