
...Happy Reading...
Waktu menunjukkan hampir dini hari, Gemintang berjalan sempoyongan memapah tubuh kekar Chris dengan dibantu oleh seorang security yang kebetulan sedang berjaga malam, karena Peter benar-benar angkat tangan setelah tragedi menyedihkan baginya didalam mobil tadi.
" Bener-bener dah tu si Peter, yang enaknya saja main kabur-kabur saat melihat big bos nya lemah tak berdaya seperti ini." Umpat Gemintang sambil membuka sandi pintu apartement milik Chris, walau tidak diberitahu, namun saat dia alergi hari itu dia melihat sendiri Chris membukanya dan masih teringat sampai sekarang.
" Lagian ngapain juga mereka m@buk-m@bukkan sih, kayak preman pasar saja, aku yang terpuruk saja tidak sampai menyentuh air neraka itu, kayak nggak punya Tuhan saja mereka ini." Gemintang hanya bisa mengumpat mereka saja.
" Awas saja kamu Peter, dasar asisten lucknut!" Gemintang melepaskan sepatu dan jas milik Chris yang masih berbau @lkohol menyengat sekali.
" Fuuh... berat banget tubuhnya, aku capek sekali!"
Gemintang langsung duduk disamping tubuh Chris yang sudah terbaring tidak sadarkan diri.
" Ckk... tapi nggak papa deh, daripada aku tidur di mobil malam ini, disini kan aďa sofa, setidaknya aku bisa memejamkan mata lebih nyaman!" Gemintang menatap tubuh Chris dengan tatapan kosong.
" Aku harus memikirkan cara agar dua ahli neraka itu menerima balasan yang setimpal atas perbuatannya, tapi bagaimana caranya?"
" Mas Chris... tidak bisakah kamu membantuku kali ini? kenapa kamu harus marah denganku? ngapain juga kamu suka denganku sih mas, ihh... kamu kok jadi nyebelin begini!"
Gemintang mencubit hidung dan pipi Chris sesuka hatinya, tanpa rasa takut sama sekali, seolah melampiaskan segala kekecewaan dengannya, dia berani karena Chris sedang tidak sadar.
Kok bisa kamu suka denganku sih mas? suka beneran atau ada maksud lain? tapi kenapa kamu sampai berbuat seperti ini?
Rasa kantuk akhirnya melanda tubuh Gemintang juga, dia tidak sempat pindah tidur di sofa, dia masih terduduk dikursi disamping ranjang Chris dengan kepala dia letakkan di samping tubuh pria itu, setelah puas mengumpatnya Gemintang terlelap dan tergeletak begitu saja disana.
" @rgh... kepalaku sakit sekali!"
Saat pagi menjelang dan cahaya sang surya mulai menerobos masuk lewat jendela, Chris memegang kepalanya yang terasa berat.
" Heh... siapa kamu!" Teriak Chris yang langsung mendorong tubuh Gemintang yang masih tertidur disisinya.
" Astaga mas!" Gemintang sontak bangun, tubuhnya limbung, hampir saja dia terjatuh kalau saja tangannya tidak sigap berpegangan pada ranjang milik Chris.
" Ngapain kamu disini!" Antara terkejut namun juga ada rasa lain yang Chris rasakan pagi ini, karena malam tadi otaknya dipenuhi oleh wanita ini.
Entah mengapa hatinya seolah merasa sejuk saat kedua matanya terbuka dipagi hari dan melihat ada seseorang disampingnya yang menjaga dirinya.
" Mas kan m@bok tadi malam." Gemintang memijit lehernya sendiri yang terasa pegal, bahkan kedua matanya pun masih belum terbuka dengan sempurna.
" Bukannya aku pergi dengan Peter?" Chris langsung mengingat samar-samar kejadian tadi malam.
" Sebaiknya mas itu segera mencari pengganti asisten pribadi saja." Umpat Gemintang yang seolah ingin mengadu.
" Kenapa emangnya?"
Wah... apa ini saat yang tepat untuk aku meminta imbalan bantuan dari mas Chris? hehe... ini namanya musibah membawa berkah, semangat Gem, pasang wajah se menyedihkan mungkin.
" Dia itu asisten yang tidak berguna, masak dalam posisi mas nggak sadar, dia main kabur saja, dan menyuruhku untuk mengurus mas sendirian." Ucap Gemintang menggebu-gebu.
" Jangan ngomong asal kamu!"
" Asal mas tahu saja ya.. aku susah payah sendirian membawa mas naik sampai ke apartement dari parkiran, bayangkan saja mas, tubuh sekecil ini memampah tubuh kekar mas itu? kejam banget kan dia!" Ucap Gemintang pura-pura meyakinkan, padahal ada pak security juga yang membantunya tadi.
" Suruh siapa kamu mau!" Ucap Chris sambil membuang arah pandangannya.
" Jadi menurut mas, apa aku biarkan saja mas tergelatak di parkiran bawah sana? aku tidak sejahat itu kali mas." Gemintang mulai berlakon.
" Ya sudah, pulang sana, aku sudah sadar sekarang!" Chris masih merasa kesal dengan Gemintang, karena seolah dirinya merasa tertipu olehnya.
" Yaelah... udah ditolongin, sekarang main ngusir-ngusir aja lagi, suruh sarapan dulu kenapa mas, aku laper nih!" Rengek Gemintang yang langsung memegang perutnya, sedari tadi malam dia memang tidak sempat mengisi perutnya sedikitpun, karena rasa sakit hati yang membuatnya kenyang dadakan.
" Makan saja diluar, kamu pikir apartementku ini restoran apa!" Ucap Chris dengan nada juteknya.
" Mas... buatin aku spagetti kayak yang hari itu dong mas?" Pinta Gemintang sambil menarik ujung kemeja Chris, dia sengaja menunda waktu agar bisa merayu Chris agar mau membantunya.
" Kamu nggak lihat apa kalau kepalaku lagi pusing!" Chris langsung beringsut mundur, menjauh dari Gemintang.
" Owh ya? mana yang sakit, mau aku pijitin mas?" Gemintang langsung mendekat kearah Chris mencoba ingin membantunya.
" Stop! jangan mendekat, pergi saja sana, aku tidak butuh bantuanmu lagi!" Teriak Chris yang amarahnya tiba-tiba meledak, saat mengingat status Gemintang yang sudah menikah.
" Setidaknya, kita kan masih punya jalinan kerja sama kan mas, jadi biarkan aku membantu mas kali ini, masih pengar ya? mau dibuatin minum apa biar nggak pusing?" Gemintang mencoba mengeluarkan ilmu kesabarannya.
" Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi, kerja sama kita sudah selesai mulai kemarin, jadi kita tidak perlu bertemu lagi." Ucap Chris dengan tegas.
" Kok gitu sih mas?" Entah mengapa ada rasa kecewa saat mendengar kata tidak perlu bertemu lagi, seolah ada yang kurang di kesehariannya nanti.
" Aku juga sudah bilang sama ayah, kalau hubungan kita sudah berakhir!" Ucap Chris sambil mendelik kesal, padahal dia hanya berbohong saja saat ini.
" Secepat itu mas? apa ayah kamu akan percaya begitu saja?" Tanya Gemintang sambil mengerutkan kedua alisnya.
" Percaya atau tidak itu urusanku, jadi mendingan kamu cepat pulang sana! aku sudah tidak ada kaitannya denganmu lagi, mulai hari ini, titik!" Chris kembali ke sifatnya semula, seolah Gemintang adalah orang asing baginya.
" Trus Sabrina gimana dong mas? mau diambil balik gitu? astaga mas... cuma dia temanku satu-satunya sekarang, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi disini." Gemintang semakin prustasi dibuatnya.
" Banyak sekali ceritamu! bukannya kamu sudah menikah? lalu kemana suamimu itu!"
__ADS_1
" Itu dia masalahnya!" Gemintang langsung tertunduk lesu.
Apa aku harus menceritakan aib keluargaku sendiri dengannya? tapi dia kan orang luar? tapi mau gimana lagi, hanya dia yang mungkin bisa membantuku saat ini.
" Terserahlah, apapun itu alasanmu aku tidak mau tahu, yang pasti segera tinggalkan tempat ini sekarang juga!" Teriak Chris sambil membuang muka.
" Nggak boleh apa numpang sehari aja lagi mas?" Gemintang memasang wajah memelasnya.
" Nggak! kamu pikir rumahku ini tenda pengungsian apa!" Chris menatap Gemintang dengan wajah diliputi rasa benci, karena entah mengapa dia merasa terkhianati.
" Mas... aku... aku..."
Gemintang masih ragu untuk menceritakan kisahnya, apalagi saat melihat wajah Chris yang sudah tidak mengenakkan hati.
" Apalagi!" Teriak Chris kembali.
" Mas... jangan galak-galak dong, aku kan jadi mengsedih!" Gemintang memandang lantai kamar Chris dengan wajah kecewa.
" Ckkk... apa itu mengsedih! nilai bahasa indonesia kamu dulu berapa!"
Masih Sempat-sempatnya Chris mengingat kosa kata yang Gemintang ucapkan saat ini.
" Aku tuh... pergi dari rumah mas."
" Istri macam apa kamu, punya suami kok ditinggalin, sengaja kamu mau cari mangsa baru gitu! kalau kamu menargetkan aku, ow... sory ya, kamu salah orang!" Chris seolah membanggakan keputusan yang dia ambil tadi.
" Suamiku berkhianat dibelakangku mas!" Umpat Gemintang perlahan.
" Mungkin itu karma, karena kamu mencoba mendekati pria lain!" Chris masih terus saja menyalahkan Gemintang kali ini.
" Astagfirulloh... emang aku deketin siapa mas?"
" Ya akulah... siapa lagi? jangan sok suci kamu!"
Wuidih... Ge Er banget nih cowok? selain kang marah, ternyata kang Narsis juga dia.
" Ya ampun, siapa juga yang deketin mas, kitakan cuma kerja sama, dan itupun aku lakukan karena suamiku sudah selingkuh duluan mas."
" Maksudnya?" Chris mulai tertarik dengan obrolan mereka kali ini.
" Aku ingin menyelidiki semua, karena suamiku yang mengambil alih perusahaanku saat ini, walau masih atas nama keluargaku, tapi semua dia yang menjalankannya."
" Memang suamimu berkhianat apa denganmu?" Chris kembali membenarkan duduknya agar bisa nyaman saat mendengarnya.
" Dia berselingkuh mas."
" Selingkuh?" Seolah dia masih belum bisa percaya, satu-satunya wanita yang membuatnya bisa menoleh kepadanya ternyata diselingkuhin.
Kurang apa dia? dasar pria bodoh, tidak bisa apa melihat mutiara indah didepan mata, kenapa masih mencari yang lain, memang manusia tidak pernah ada kata puas dalam hidupnya.
" Hah?"
" Itu dia mas, makanya aku minta Sabrina membantuku untuk menyelidiki masalah perusahaan."
" Kasihan sekali nasipmu, sangat memprihatinkan." Akhirnya nada Chris mulai melunak, walau masih tidak enak didengar di telinga.
" Kalau kasihan bantuin kali mas?" Bujuk Gemintang kembali.
" Kenapa aku harus membantumu?" Sifat angkuhnya kembali keluar.
" Mas... bantu aku mengambil alih perusahaanku lagi dong, aku nggak tahu lagi mau minta bantuan sama siapa?" Akhirnya tujuannya hampir bisa terealisasikan juga sekarang.
" Aku tidak mau ikut campur dalam masalah rumah tangga kalian ya!"
" Tapi aku akan bercerai dengannya mas."
Berrr!
Entah mengapa kata bercerai yang keluar dari mulut Gemintang tiba-tiba mampu membuat satu sudut bibirr Chris terangkat walau sekilas.
" Apa kamu yakin akan berpisah dengannya?" Dia kembali memastikan kalau tidak salah dengar.
" Hmm... perpisahan itu sebenarnya begitu menyakitkan, ketika cerita kita belum usai tapi kita harus menutup buku itu dengan paksa." Gemintang menghela nafasnya perlahan, sambil mengingat kisah kelamnya.
" Apa kamu menyesal sekarang?"
" Sebenarnya tidak pernah terbayangkan dalam pikiranku kata cerai sedari dulu, namun apa boleh buat, tidak ada lagi yang bisa aku pertahankan dalam hubungan kami, dulu kami bermula dari sebuah kata 'hallo' yang sederhana, tapi berakhir dengan perpisahan yang begitu rumit." Gemintang merasa sedikit lega saat Chris mau mendengar cerita sedihnya.
" Apa kamu masih mencintainya?"
" Saat kepercayaan dibalas dengan kebohongan dan saat kesetiaan dibalas dengan pengkhianatan, apa masih pantas dia mendapatkan cinta dariku?"
Walau tidak bisa dia pungkiri, rasa cinta dengan suaminya itu masih ada, walau sudah tertutup dengan rasa kebencian yang mendalam.
" Kenapa kamu balik nanya denganku? kalau masih cinta yang bilang saja cinta, kalau enggak ya enggak, jadi orang itu harus bisa tegas dalam memutuskan sesuatu!" Celoteh Chris yang seolah tidak suka dengan kebimbangan dari Gemintang.
" Kok malah mas yang jadi sewot sih?"
__ADS_1
" Masih cinta apa enggak nih?"
" Kok mas jadi maksa sih?"
" Jadi mau dibantuin apa enggak nih?"
" Mau lah mas." Gemintang langsung kembali antusias walau perasaan aneh kini menerpa dirinya.
" Ya sudah... jawab dulu sekarang, kamu masih cinta sama dia apa enggak!" Chris menegaskan kembali pertanyaannya.
" Enggak deh!" Jawab Gemintang yang seolah ragu.
" Kok pake deh?" Chris masih belum puas dengan jawaban Gemintang.
" Ya udah enggak."
" Good, nanti kamu kirim biodata mantan suami kamu itu, biar aku cari tahu dulu tentang dia." Chris langsung tersenyum, dalam hati dia langsung lega, dia langsung teringat istilah kata ' Ra keno prawane tak enteni randane'.
" Tapi belom jadi mantan loh mas?"
" Tapi mau jadi kan?"
" Ya iyalah... ngapain juga masih bertahan, tapi tidak tahu apa yang dipertahankan, bikin sakit hati saja."
" Tapi nampaknya kamu terlihat baik-baik saja?"
Iya dalam pandanganmu, kalau mas bisa lihat isi hatiku, sudah hancur lebur seperti butiran debu!
" Aku hanya terlihat baik secara fisik mas, tetapi sudah terbunuh secara mental!" Jawab Gemintang dengan lemah.
" Ya sudahlah... Hidup jangan diambil pusing, ada cobaan ya cobain, ada kenikmatan ya nikmatin." Jawab Chris seolah tanpa beban.
Ngomong aja gampang!
" Enteng banget dia ngomong, trus yang tadi malam m@bok-m@bokan tuh kenapa?" Sindir Gemintang sambil tersenyum mengejek.
" Ya kan aku cuma mau cobain aja."
" Cobain kok sampai telér, yang bener aja kamu mas!"
" Ckk... mau dimasakin nggak?"
Chris langsung mengalihkan pembicaraan Gemintang, sebenarnya dia juga malu, namun dia memilih bersikap cuek saja agar tidak ketahuan.
" Katanya masih pusing?"
Karena kamu otewe cerai, jadi pusingku langsung sembuh.
" Aku bukan pria lemah, yang tumbang hanya karena minuman!" Chris langsung beringsut ingin pergi kearah dapur.
" Nggak usah dipaksain, kita order lewat online aja mau?"
" Ya sudah, boleh juga itu!"
" Trus nggak jadi ngusir nih?" Ledek Gemintang.
" Emang kamu mau diusir?"
" Ya kalau masih diusir, mau gimana lagi, pesan makan sendiri deh, aku makan diluar saja." Gemintang langsung merapikan bajunya dan pura-pura ingin pergi.
" JANGAN!" Teriak Chris seketika.
" Kok jangan, tadi ngusir?"
" Nggak jadi."
" Jutek banget deh, aku pergi saja lah!"
" Aku bilang jangan ya jangan, telinga kamu ditaruh mana sih!"
Chris langsung menarik lengan Gemintang agar duduk kembali diranjang mewahnya dan langsung menyentil perlahan daun telinganya.
Aish... perjaka yang satu ini memang menyebalkan tapi terkadang juga menggemaskan!
" Janji mau bantuin aku mengelola perusahaan tapi ya?"
" Kenapa aku harus menjanjikan itu untukmu?"
" Ckk... ya sudahlah, aku pulang saja, kalau perlu sekalian balikan saja lagi, sama suamiku yang br€ngsek itu, lumayan buat pajangan nakut-nakutin tikus daripada jomblo." Gemintang sengaja bermain-main, ingin tahu seperti apa jawaban Chris nantinya.
" Jangan berani-beraninya kamu melangkahkan kakimu walau satu jengkal saja, jangan harap kamu bisa keluar dari apartement ini sebelum aku mengizinkannya, apa kamu mengerti?"
Ngomong apa sih dia? apa dia benar-benar sudah menyukaiku? belum apa-apa sudah posesif begini?
Seandainya kamu tahu isi dalam pikiranku terhadap pria lagi dan andai kamu tahu, betapa banyak ketakutanku akan sebuah hubungan kembali?
Kalau aku menolakmu, apa kamu masih mau membantuku mas?
__ADS_1
Walau masih merasa aneh dan kesal, namun Gemintang merasa sedikit lega saat Chris terlihat menerima alasannya dan mau membantu dirinya, walaupun dia belum bicara secara rinci tadi, karena sedari dulu Chris memang tipe orang yang sedikit bicara tapi banyak kerja.
..."Jangan melepaskan diri untuk bertahan dengan sesuatu yang menyakitkan untuk digenggam, karena mungkin saja melepaskan adalah pilihan terbaik, untuk menemukan cinta yang lebih baik."...