Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
95. Bejana Kehidupan


__ADS_3

...Happy Reading...


Pemenang sejati adalah orang yang memiliki cara pandang luas, mental yang kuat, dan menyadari bahwa ujian adalah sebuah proses yang harus dijalani, untuk meraih sebuah arti kebahagiaan.


Walau hati Gemintang terasa tidak menentu, namun dia tetap mencoba untuk tersenyum dan selalu berpikir positif.


Tenang Gemintang, tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja, menghadapi masalah yang lebih menyakitkan saja kamu kuat, apalagi yang sekarang kan?


Kalau bukan diri sendiri siapa lagi yang mau menguatkan, sedangkan kekasih hati tidak ada disampingnya untuk saat ini.


" Maaf... apa ada sesuatu yang mau bapak tanyakan atau disampaikan kepadaku?" Gemintang tetap menjaga jarak walau mendekat, takut pula nanti jika ada sesuatu yang tersentuh dan dia pula yang disalahkan.


" Apa sebenarnya maksud dan tujuanmu mendekati putraku!" Tanya Robert dengan nada yang lemah.


Hello? putra anda yang mendekati saya duluan ya bapak..


Ingin sekali Gemintang mengutarakan hal itu, namun dia sadar dengan siapa dia berhadapan kali ini, sedari kecil dia diajarkan untuk selalu menghormati orang tua, jika bertentangan pendapat, tidak harus berontak ataupun melawan.


" Sebelumnya saya minta maaf pak atas kejadian hari ini, tapi sungguh saya tidak ada niatan jelek dengan putra bapak dan juga keluarga bapak." Gemintang tetap berbicara dengan sopan walau penuh dengan sebuah penekanan.


" Jaman sekarang itu, berbagai cara bisa orang lakukan untuk mencapai kesenangan pribadi, tanpa memikirkan perasaan orang lain dan juga dampak dari perilakunya." Ayah Chris langsung menunjukkan rasa tidak sukanya, walau tidak secara langsung.


Maksudnya apa ini?


" Emm... maksud bapak kesenengan yang bagaimana ya?" Gemintang pura-pura tidak tahu saja, padahal dia cuma mau memperjelas saja.


" Ya mungkin... kamu punya keinginan untuk memiliki sesuatu, jaman sekarang kan sosialita tinggi, bukan begitu?" Ayah Chris seolah memandang buruk kepada Gemintang, apalagi dengan statusnya sebagai janda yang cantik jelita, sudah pasti persepsi orang dia yang melakukan kekhilafan karena tidak puas dengan keadaan suaminya.


Dan ayah Chris sungguh tidak rela jika itu semua terjadi kepada anak satu-satunya penerus perusahaan keluarganya.


Apa dia mau bilang kalau gue matre, apa sebegitu buruknya penilaian orang terhadap Janda?


" Hmm... saya paham maksud bapak." Gemintang hanya tersenyum saat menanggapinya, namun dia tidak ingin berdebat menggunakan urat, karena sudah pasti hubungan mereka akan buruk kedepannya, sedangkan Chris adalah orang terbaik yang dia kenal akhir-akhir ini.


" Saya tidak suka, jika kamu punya maksud untuk memperalat putra saya demi semua kemauan dan keinginan pribadimu itu." Bukan hanya menyinggung, bahkan ayah Chris seolah terang-terangan mengungkapkan itu semua kali ini.


" Kalau saya hanya menginginkan perhatian dan kasih sayang dari putra bapak saja, apa bapak percaya?" Gemintang tetap menyisipkan senyuman, walau hatinya sedikit teriris saat mendengarnya.


" Haish... apa wanita jaman sekarang masih bisa hidup hanya dengan perhatian dan kasih sayang saja? itu pasti hanya diawal mula saja, lama kelamaan pasti hanya akan ada pertengkaran dan berakhir dengan perpisahan juga. Aku tidak mau jikalau anak saya nanti mengalami hal itu dengan kamu."


Sebagai orang tua dia pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun terkadang mereka malah salah langkah, karena kebahagiaan seorang itu tidak bisa dibatasi, ia harus diciptakan oleh pasangan masing-masing.


Jangan bandingkan aku dengan wanitamu itu dong pak, aku tidak semiskin itu!


" Eherm... maaf nie pak sebelumnya, tapi boleh nggak kalau saya tanya sedikit."


Gemintang memikirkan cara lain agar tidak terlihat melawan, karena dia tidak mau memperburuk keadaan, kalau sampai ayah Chris kembali drop saat berdua dengannya, bisa-bisa dia yang akan menjadi tersangka utama nantinya.


" Katakanlah, selagi aku masih ingin berbicara denganmu." Jawab Robert dengan ketus.


Astaga ... ternyata kesombonganmu menurun dari bapakmu ya mas, okey... kita lihat saja, apa setelah ini anda masih bisa bersombong ria dihadapanku?


" Emm... bapak tau Michael Jackson nggak?" Gemintang tetap mempertahankan senyumannya, walau Robert menatapnya dengan wajah ogah-ogahan.


" Dia penyanyi terkenal itu kan? nggak mungkin juga kamu adalah anaknya, jangan ngaco kamu." Jawab Robert dengan tanpa basa basi, dia beranggapan kalau Gemintang ingin menipunya.


" Hehe... emang siapa yang bilang aku anaknya pak, nggak ada mirip-miripnya memang diantara kami, aku kan cuma suka lagunya aja, dia penyanyi lawas favorit aku pak, bapak suka nggak sama lagunya?" Dia sengaja membelokkan pertanyaannya, agar suasana lebih relaks dan tidak membuat jantung beliau berdebar.


Haha... maaf ya mas, bukannya aku kurang ajar sama ayahmu, tapi aku tidak bisa direndahkan begitu saja.


" HAH?" Robert sampai terkejut mendengarnya, dia jadi semakin penasaran siapa Gemintang sebenarnya.


" Hehe, biasa aja kali pak, nggak usah tegang begitu pak, santai aja dibawa relaks, emh.. ngomong-ngomong nih ya, bapak tau Boris Johnson nggak?" Gemintang kembali membahas tentang hal lain.


" Kenapa? apa dia juga tokoh idolamu?" Ayah Gemintang terlihat semakin penasaran karenanya.


" Bukan, beliau kan orang nomor satu di Inggris sekarang, masak bapak nggak tau sih?" Jawab Gemintang dengan jujur dan benar, namun terdengar menjengkelkan dihadapan Ayah chris.

__ADS_1


Skak mat!


" Sebenarnya apa kaitannya mereka semua denganmu!" Nada suaranya semakin tak sedap didengar, mungkin dia kesal, namun itu yang malah Gemintang inginkan.


" Nggak ada sih pak, aku kan cuma kagum saja sama mereka, karena mereka adalah orang-orang yang hebat, nah... kalau Edward Prakoso bapak pasti juga nggak tahu kan?" Gemintang seolah menguji seberapa lapang kesabaran dari seorang Robert.


" Hei... kamu meremehkan aku? aku ini adalah orang yang paling tahu siapa itu Edward Prakoso." Jawabnya dengan mantap, karena mereka memang rekan baik pada jamannya.


Wow... ternyata Tuhan selalu baik padaku, dia seolah memberi celah dan jalan yang mulus untukku.


" Owh ya?" Gemintang langsung sumringah mendengarnya.


" Dulu aku pernah bekerja sama dengan dia, kami berhasil masuk dalam deretan pengusaha paling sukses waktu itu." Ucapnya seolah menggebu-gebu.


" Wah... hebat sekali bapak ya?" Gemintang langsung memujinya.


" Jelas... tapi Edward juga hebat, kami sama-sama hebat dan tak tertandingi saat itu." Dia merasa bangga saat mengenang masa-masa kejayaan mereka dulu.


" Owh ya, keren sekali kalian berdua pasti kan?"


Kedua mata Ayah Chris pun langsung berbinar saat mengingat betapa besarnya peran almarhum Edward Prakoso baginya dan dia bahkan seolah melupakan rasa sakit yang dia derita saat ini.


" Apa sudah lama bapak mengenal pak Edward Prakoso itu?" Tanya Gemintang yang mulai menguasai keadaan.


" Sudah lama sekali, bahkan Chris dulu juga masih di bangku sekolah."


Dari awal pertama, Robert memang menyukai sosok Gemintang, karena dia mudah bergaul dengan berbagai umur dan selalu punya topik pembicaraan yang tidak membosankan.


Dengan sosoknya yang periang, dia selalu bisa membuat siapapun terhanyut dalam obrolan mereka.


" Tapi sayang, ternyata Tuhan lebih menyayangi dia, umur dia tak panjang dan dia sudah tiada sekarang, sangat disayangkan sekali, padahal dia partner kerja yang sama-sama saling menguntungkan, susah cari pembisnis yang jujur seperti dia di jaman sekarang ini." Pikirannya langsung menerawang jauh ke masa silamnya.


Gilak... nggak nyangka gue, kok bisa ayahku dengan ayah mas Chris bersahabat juga, apa jangan-jangan mereka bertiga dulu bersahabat ya? yaelah... dunia sesempit itu ternyata?


" Memang benar itu pak, aku pun merasakan hal yang sama dengan bapak." Gemintang bahagia, karena ternyata kebaikan ayahnya masih dikenang oleh seseorang sampai saat ini.


" Hadeh... sok tahu kamu, mungkin saat kami bekerja sama dengannya dulu kamu masih kecil, trus bagaimana kamu bisa tahu tentang riwayat dia, emang dia siapanya kamu!" Ejek Robert dengan tatapan merendahkan.


Duar!


" Hah? jangan ngaku-ngaku kamu, nanti ahli warisnya bisa nggak terima loh, bermasalah nanti kamu!" Robert seolah tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


Nah loh... terkejut kan? asal jangan pingsan lagi sudah! bisa kena tuduhan nanti gue, makanya jadi orang itu jangan suka menyepelekan sesuatu, malu nggak kira-kira ya?


" Apa bapak butuh kartu keluargaku?" Tanya Gemintang dengan santainya.


" Haha... aduh... duh... dadaku sakit ini." Dia tertawa seolah lupa dengan keadaannya.


" Jangan banyak bergerak dulu dong pak, rileks aja dong, aku ini memang anak keduanya pak, jadi siapa yang nggak terima? sini bilang sama aku." Gemintang seolah menantang walau tetap dengan bahasa yang sopan.


" Benarkah, aku masih tidak percaya kalau kamu anaknya?" Robert mengamati Gemintang dengan tatapan menyelidik.


" Dari namaku saja sudah terlihat dengan jelas kan pak, Gemintang Lea Prakoso, apa bapak mau aku tunjukkan foto saat beliau masih sehat? nih... aku punya banyak sekali?"


Rentetan foto Gemintang dengan almarhum ayahnya terpampang jelas di ponselnya, bahkan Robert sampai melongo karenanya, tadinya dia berniat untuk memojokkan Gemintang, namun akhirnya malah dia sendiri yang seolah dipermainkan oleh Gemintang.


" Jadi kamu beneran anak Edward?" Dia masih mencoba untuk memastikan.


Nah loh? gimana tuh? jadi berubah pikiran nggak tuh? beliau pikir aku ini wanita miskin yang haus akan harta kah? yaelah... tanpa kehadiran anak bapak itupun aku juga bisa hidup dengan bergelimang harta pak..


" He em... anak kandung lagi pak, bukan anak tiri, apalagi anak angkat." Celoteh Gemintang kembali.


" Owh ya? kenapa aku tidak pernah melihatmu di kantornya dulu?"


Dulu mereka memang sering datang bergantian ke kantor masing-masing jika ada meeting.


" Ayah aku tuh pak, punya anak disayang-sayang, selagi beliau masih kuat, ayah tidak membiarkan anak dan istrinya ikut bekerja keras, karena beliau mampu menghidupi kami semua."

__ADS_1


Gemintang memang selalu kagum dengan sosok ayahnya yang tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya untuk mengikuti jejak kariernya, mau jadi apapun mereka, asal hati anaknya bahagia, ayah Gemintang pun ikut bahagia.


" Hmm... dia memang selalu membanggakan kalian didepanku." Robert pun tidak menyangkalnya, selain partner bisnis mereka juga sering cerita disela-sela padatnya aktifitas pekerjaan mereka.


" Ayah mungkin tak pandai menunjukan rasa cinta pada anak-anaknya, tapi dibalik itu semua ia diam-diam berjuang dan berkorban demi masa depan anak-anaknya. Mencari nafkah pagi hingga petang, apapun ia lakukan agar semua kebutuhan keluarganya tepenuhi, tanpa harus membebani salah satu diantara kami." Ucap Gemintang dengan mantap.


" Hmm... semoga almarhum dan almarhumah istrinya tenang di alam sana, ditempatkan disisi Alloh SWT, dilapangkan kuburnya dan diampuni segala dosa-dosanya."


" Amin.. amin.. terima kasih pak." Gemintang bersyukur ada orang yang mau mendoakan kebaikan untuk almarhum ayah dan ibu tercintanya.


" Eh... tapi urusan kita belum selesai? biarpun aku menyukai mereka, belum tentu aku menyukaimu!" Tiba-tiba ucapan Ayah Chris kembali membuat mood Gemintang anjlok seketika.


" Pak... aku mau jujur ni."


" Harus itu!"


" Pada awal kita bertemu, saat itu memang aku bukan pacar mas Chris yang sesungguhnya."


" Jangan bilang kamu masih berstatus menjadi istrinya William?"


" Memang betul pak, tapi memang hubungan kami sudah retak dan saat ini kami sudah resmi bercerai."


" Apapun itu alasannya kamu tetap bersalah."


" Iya... makanya saya minta maaf sama bapak, tapi untuk kali ini saya memang sudah beneran berhubungan dengan mas Chris, bukan sandiwara lagi pak."


" Apa kamu tidak takut jika aku tidak merestui hubungan kalian? percaya diri sekali kamu."


" Hmm... aku pun tidak yakin bisa membawa hubungan kami kearah yang lebih serius, aku sadar siapa aku."


" Berarti kamu memang hanya main-main dengan putraku kan? jadi lebih baik kamu lepaskan dia sekarang."


" Hmm... aku tidak pernah mengekangnya pak, aku pun tidak mengikatnya, jika memang dia ingin pergi silahkan, aku tidak pernah memaksakan kehendak seseorang untuk tetap tinggal disisiku, jika memang dia tidak merasakan kebahagiaan, tanpa pasangan pun aku masih punya sahabat, yang mungkin malah tidak akan menorehkan luka nantinya."


" Aku hanya tidak rela jika nanti dia harus terluka karenamu dan juga masa lalumu, lagian juga dia seorang pengusaha terkenal, masak iya harus menikahi Janda, apa sudah tidak ada lagi perawan jaman sekarang?" Ucapnya dengan penuh keyakinan, seolah dirinya lupa akan apa yang dia lakukan dengan wanita pertamanya dahulu.


Ya Tuhan, ngasih sambel ke mulut orang tua dosa kan ya? kalau enggak pengen coba sebenarnya...


" Pak... aku tidak pernah lari ke hati yang lain, ketika hubungan sedang tidak baik-baik saja. Aku memang bisa kapan saja berkhianat, tapi maaf... cintaku tidak semurah itu. Setidaknya aku bukan orang yang rela merusak komitment kami duluan, hanya karena rasa bosan. Kami bercerai bukan karena aku yang memulai, jadi tolong jangan menghujat aku serendah itu."


Mata Gemintang pun langsung berkaca-kaca, dia pun tidak mau mengakhiri kisah pernikahannya seperti ini, namun kita bisa apa jika Takdir memang sengaja memisahkan mereka dengan cara begini.


" Sampai kapanpun aku tidak ingin berpisah dari Gemintang, ayah setuju atau tidak itu bukan menjadi alasan untuk aku bisa meninggalkan Gemintang."


Tiba-tiba Chris sudah muncul didepan pintu dengan wajahnya yang terlihat kecewa, karena dia sengaja menjadi pendengar setia didepan pintu tadi.


Dia sudah tahu jika ayahnya pasti punya niatan lain, dan dia memang tidak akan meninggalkan Gemintang dalam situasi apapun. Dia hanya ingin tahu apa yang ingin ayahnya katakan kepada Gemintang.


" Mas... sudahlah."


Gemintang langsung berjalan mendekat kearah Chris untuk menenangkannya, agar dia tidak emosi disaat seperti ini.


" Sayang... aku bangga punya kekasih seperti kamu, dan satu yang pasti, aku tidak pernah malu walaupun kamu seorang Janda, aku pun tidak sempurna, tidak ada orang sempurna di dunia ini, karena kita diciptakan memang untuk saling menyempurnakan satu sama lain, kamu jangan bersedih ya?"


" Terima kasih mas." Air mata Gemintang pun langsung jatuh menetes saat melihat ketulusan dari diri Chris.


Tidak ada alasan lagi untuk Gemintang tidak menerima Chris sebagai kekasihnya, karena dia selalu bisa menjadi seseorang yang bisa menjadi tameng di hidupnya.


Grep!


" Maaf, tapi mas mau pelvk kamu didepan ayah kali ini." Bisik Chris dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Gemintang.


Chris langsung membawa tubuh langsing Gemintang kedalam pelvkannya, dia tidak perduli dengan tatapan dari ayahnya dibelakang sana, yang pasti dia bersyukur karena telah memiliki Gemintang di kehidupannya, walau dia di hina oleh ayahnya dengan sebegitu kejamnya, namun wanita didalam pelvkannya itu tetap menjawabnya dengan nada yang rendah dan sopan.


..."Terkadang beberapa tangis hanya ingin dipelvk, bukan ditanya. Beberapa luka hanya ingin didengar, bukan dinilai. Beberapa hubungan hanya ingin dijaga, dan beberapa sepi hanya ingin ditemani."...


Satu episode saja nggak papa ya? tapi ini othor udah buat panjaaaaaaaaaaaaaaaaaang sekali, selamat membaca😊

__ADS_1


Terima kasih juga buat komentar-komentar positif dari kalian, karena terkadang komen panjang kalian adalah inspirasiku.


Big huge buat kalian semua, kalian memang TerbaikšŸ¤—


__ADS_2