Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
56. Urus saja bahagiamu!


__ADS_3

...Happy Reading...


Sabrina POV


Ketika cobaan hidup datang menerpa dan terasa begitu berat, aku percaya bahwa itu tanda kasih sayang Tuhan kepada hambanya, untuk mengurangi segala dosa-dosa kita dan menjadi ladang amal bagi kita.


Tapi sebagai manusia biasa, yang punya banyak kelemahan, untuk tidak mengeluh itu rasanya masih sangat sulit bagiku.


Bagaimana tidak, seorang bapak yang menjadi panutanku, benar-benar harus pergi meninggalkan aku didunia ini dan kini, tidak akan aku lihat lagi senyuman tulus darinya.


Disaat aku mengabulkan keinginan bapak untuk menikah saat itu juga, aku fikir keadaan bapak akan membaik seperti semula, namun kenyataannya, saat ini aku terduduk lemas dengan deraian air mata disamping pusara bapak.


Beliau benar-benar telah pergi meninggalkan aku untuk selama-lamanya dan juga meninggalkan ibuku yang bahkan tidak bisa mengantarkan bapak di tempat peristirahatan terakhirnya, karena pingsan berulang kali, dan masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini.


" Bapak... bapak..."


Tidak ada kata lain yang terucap dari mulutku, hanya nama bapak saja yang terfikirkan olehku.


" Sabrina... aku tahu kamu sedih, tapi cobalah untuk mengikhlaskan bapakmu walau masih sulit terasa."


Saat itu masih ada aku, Gemintang, pak Chris dan seseorang yang sudah sah untuk menjadi imamku, walau masih dimata Agama saja.


" Aku sudah ikhlas, tapi ini masih seperti mimpi bagiku Gem, rasa-rasanya aku ingin bangun dari kenyataan pahit ini."


Suaraku bahkan sudah serak-serak tidak beraturan, karena setelah kata Sah terucap dari para saksi dan mendapati bapakku sudah tidak bernafas lagi, air mataku seolah tidak habis mengalir begitu saja.


" Kalau kamu masih terus menangisi bapak kamu, kasihan almarhum Na, pasti beliau sangat sedih, biarkan bapak kamu tenang di sisi-Nya, jangan memberatkannya, beliau sekarang pasti sudah tidak merasakan sakitnya lagi Na."


Gemintanglah orang yang memelvkku saat ini, walau aku sudah bersuami namun masih canggung rasanya untuk menyandarkan kepalaku dipundaknya.


Bagaimana tidak?


Pak Peter adalah atasanku dulu, setahuku dia adalah pria yang tegas dan dingin seperti Pak Chris. Tidak pernah sama sekali terbersit dipikiranku untuk dekat dengannya, jangankan dekat, dulu saat masih bekerja di perusahaannya, kalau karyawan sampai bertemu dengannya itu pasti ada problem kerja dan setelahnya pasti kami akan dipecat olehnya.


Maka dari itu, menjadi istrinya saat ini adalah sesuatu hal yang seolah mustahil terasa, namun sebagai makhluk-Nya, memang tidak ada yang mustahil bagi-Nya jika sudah berkendak.


Aku masih belum bisa percaya, hari ini benar-benar menjadi hari yang seolah membanting hati dan perasaanku, hancur berkeping-keping tak bersisa, kehilangan seorang ayah dan menikah tanpa rasa, apalagi cinta, tapi aku terus mencoba untuk menerimanya, karena menolak pun hanya sia-sia.


" Kita pulang yuk Na, hari sudah mulai gelap, biarkan almarhum bapak kamu tenang disana."


" Kalian pulang saja dulu, nanti aku bisa pulang sendiri. Aku masih ingin menemani bapak, dia sendirian disana, padahal semasa hidupnya dia paling tidak bisa jika ditinggal sendirian dirumah, pasti lebih memilih menemani ibu pergi walau hanya ke arisan RT."


" Na... kehilangan salah satu dari orang tua kita memang sangat berat, aku juga sudah merasakannya, bahkan kedua orang tuaku sekaligus dan kamu masih ada ibu yang harus kamu jaga, hidup harus terus berjalan Na, apapun itu kamu tidak boleh larut dalam kesedihan. Kamu bisa mendoakan ketenangan bapak kamu di sana."


Gemintang memelukku dengan lebih erat lagi, seolah dia menyalurkan tenaganya untukku, agar aku lebih kuat dalam menjalani segala ketentuan-Nya.


" Kita pulang ya, kasihan nanti kalau ibu kamu sendirian dirumah, tadi beliau kan masih lemah, karena pingsan berkali-kali."


" Ya sudahlah."


Benar juga apa yang Gemintang katakan, aku masih punya seorang ibu sekarang.


" Ibu lebih membutuhkanmu saat ini, bapak kamu sudah bahagia disana, tanpa harus merasakan kesakitannya."


" Hmm... Bapak, aku pulang ya, jangan bersedih, walau kita tidak lagi bisa bersama untuk bercanda dan tertawa lagi, tapi hati kita selalu dekat, aku dan ibuk akan selalu mendoakan untuk kebaikan bapak disana, kami semua sayang bapak."


Akhirnya kami berempat pergi meninggalkan pusara bapak, walau sebenarnya didalam hati, aku belum rela harus kehilangan sosok ayah dihidupku.

__ADS_1


" Yang sabar ya Na, ada kami semua disini menemanimu dan ingat, kamu sudah menikah dengan Peter sekarang, kalian sudah Sah dimata Agama."


Walau aku tak tahu harus berbuat apa dengan pak Peter, namun aku juga tidak menampiknya, bahwa dia pria yang sudah berjasa dan berlapang dada mau menikahiku hanya karena keinginan bapakku.


" Walau dia pria yang resek dan sering menyebalkan, tapi aku yakin dia pria yang tepat untukmu." Umpat Gemintang kembali.


Aku sudah tahu kalau mereka bertemu pasti selalu berdebat, walau hanya masalah kecil sekalipun.


" Enak saja kamu kalau ngomong! aku nggak begitu ya, kamu yang suka memancing perkara denganku." Peter seolah ingin menjitak kepala Gemintang yang masih menggandeng lenganku, namun pak Chris langsung mencegahnya, dia langsung mencengkeram lengan Peter untuk melindungi wanita incarannya.


Malam semakin larut, dan berulang kali pak Chris mengangkat ponselnya, mungkin ada bisnis atau sesuatu yang penting aku tidak tahu, karena wajahnya terlihat sedikit gusar.


" Kalian pulang saja, aku tidak apa-apa disini, Pak Chris juga kan bukan orang biasa, mana bisa dia terlalu lama meninggalkan pekerjaannya nanti." Aku langsung menyuruh Gemintang untuk pulang saja, karena keadaanku juga sudah membaik saat itu, lebih tenang dan tidak sekalut tadi.


" Kalau begitu, aku sama Gemintang pulang sekarang bisa kan?" Pak Chris yang sempat mendengarnya langsung bergegas mendekati kami.


" Tentu saja pak, terima kasih sudah banyak membantuku dan juga keluarga besar kami, maaf sudah banyak merepotkan."


Aku tahu, tanpa pak Chris mungkin pak Peter belum tentu mau menikah denganku, dan dia juga banyak membantu kami dalam acara pemakaman bapak ku tadi.


" Jangan sungkan, Peter adalah orang terdekatku, jadi saat kamu sudah sah menikah dengannya, kamu juga adalah saudaraku, sampai jumpa di kota, nanti akan aku bantu bicara dengan keluarga Peter disana."


Sungguh di luar angan-angan, ternyata Pak Chris memang sebenarnya berhati baik jika sudah mengenalnya, padahal dulu dia lewat saja aku dan karyawan lainnya tidak ada yang berani memandang wajahnya, hanya bisa menunduk hormat saja sambil mengumpat dibelakang pastinya.


" Kalau begitu aku juga akan siap-siap sebentar."


Pak Peter langsung bergegas, sepertinya dia ingin ikut kembali ke kota juga.


" Siap-siap kemana?" Pak Chris langsung terlihat menarik lengan pak Peter dengan satu tangannya.


" Ikut pulanglah, kemana lagi?" Jawabnya dengan enteng, karena memang sepertinya hidup suami siri ku itu selalu dibuatnya menjadi enteng, seolah tanpa beban.


" Tapi?"


Sudah aku duga dia pasti ragu, tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya, karena ini memang terlalu cepat bagi dirinya untuk menerimaku.


" Heh... Sumarno, bahkan kamu aja belum menyentuh istrimu, sudah mau ninggalin dia, belah duren dulu sana Tong!" Umpat Gemintang ikut menimpali.


" Belah duren apaan? kami hanya menikah siri ya!" Pak Peter langsung terlihat protes.


" Biar cuma siri kalian juga sudah dapat label Halal buat mantep-mantep, ngerti kagak luu Tong!" Hanya Gemintang yang berani berbicara blak-blakan tanpa rem seperti itu dengannya.


" Ckk..."


Hanya decakan yang keluar dari mulut pak Peter, sepertinya dia tidak mau menyentuhku, atau mungkin dia bahkan jijik dengan orang miskin sepertiku, karena mungkin aku tidak sesuai standart istri pengusaha kaya sepertinya, tapi baguslah itu, tidak masalah bagiku, jika setelah ini dia meminta untuk berpisahpun, aku tidak punya alasan untuk menolaknya.


" Sudah kamu disini saja dulu temani istrimu sampai beberapa hari, setelahnya kamu bawa dia ikut ke kota."


" Enak apa Luu Tong, modal dua puluh sembilan rebu lebih gopek doang bisa dapet bidadari kayak Sabrina, kamu itu kurangi mengeluh, perbanyak bersyukur, nanti Tuhan marah baru tahu rasa kamu!" Gemintang langsung tersenyum miring saat berhasil meledek Peter.


" Sudahlah... nggak papa, biarkan pak Peter ikut bersama kalian, dia sudah banyak membantuku juga, pak Peter pasti punya banyak pekerjaan dan urusan juga, jadi silahkan bapak ikut mereka." Bahkan untuk menatap kedua bola matanya saja aku tidak sanggup saat ini.


" Tuh... dia aja santai kok." Jawabnya dengan enteng.


" Hei Peter... barang siapa, yang meninggalkan istrinya dikala susah, niscaya rejekinya akan sempit, mau kamu kek gitu?" Entah dapat dalil darimana si Gemintang itu, aku pun tak tahu, tapi itulah dia, mau mengajaknya berdebat pun tubuhku masih terasa lemas.


" Dih... jangan asal bicara kamu!"

__ADS_1


" Ya sudah, makannya temani dia, nggak usah banyak alasan kamu!"


" Kalau begitu kami berdua pamit dulu ya, sampai jumpa di kota." Pak Chris mulai bersiap.


" Aku pamit ya Na, maaf nggak bisa disini menemanimu berlama-lama, karena masih banyak urusan yang harus aku selesaikan dengan mas William secepatnya, kamu juga paham kan kondisiku seperti apa?"


" Iya, kamu sudah mau datang kesini saja aku sudah sangat senang."


" Kamu pasti kuat, kita kan wanita tangguh dan hebat, setiap orang pasti punya banyak masalah, yang pasti jangan menyerah ya, kita harus saling menguatkan okey?"


Dialah sahabat terbaikku sepanjang massa, dia yang masalahnya lebih berat dariku pun bisa menguatkan aku sekarang.


" Okey, hati-hati dijalan ya?"


Akhirnya mereka berdua beranjak pergi, aku dan Pak Peter masih saling membisu sambil menatap kepergian mobil itu keluar dari pekarangan rumahku.


" Pak... mari kita masuk dan istirahat, apa pak Peter butuh sesuatu, biar saya siapkan."


Walaupun belum berpengalaman, namun aku sering melihat ibu yang selalu lebih mengutamakan kebutuhan bapak dulu ketimbang beliau sendiri, jadi aku belajar darinya.


" Tidak perlu, aku bisa sendiri, owh ya.. aku ingin bicara sesuatu denganmu."


" Tentu saja pak, silahkan." Tanyaku dengan kepala masih terus menunduk tanpa berani memandangnya.


" Walaupun kita sudah menikah, tapi jangan coba-coba untuk menyentuhku, dan aku tidak mau tidur berdua denganmu, aku masih butuh waktu untuk menyesuaikan diri denganmu, apa kamu bisa mengerti?"


Seketika kepalaku langsung mendongak kearahnya, entah apa yang dia pikirkan dan entah perkataan mana dariku yang mengharuskan dia harus tidur berdua bersamaku, yang pasti kaa-kata itu tidak pantas keluar dari mulutnya saat ini.


Jika memang dia tidak sudi tidur denganku tidak masalah, tanpa perlu dia katakan pun aku sudah sadar diri. Entah kenapa aku sakit hati mendengarnya, dalam situasi seperti inipun dia bisa berfikir sampai kesitu.


" Apa bapak takut kalau aku akan memperk○s@ bapak nantinya?" Karena kesal, sekalian saja aku ngomong asal.


" Heh... maksud kamu apa?" Mungkin dia terkejut aku berani bertanya seperti itu.


" Bapak tidak perlu khawatir, aku tahu diri kok."


" Aku cuma nggak mau nanti kamu ngadu sama orang-orang terdekat kita, kalau kamu tidak bahagia menikah denganku, aku tahu kamu sedih, tapi memang aku belum bisa melakukan hubungan layaknya suami istri denganmu."


Memang pun, tapi tidak harus berkata seperti itu juga kan, atau mungkin dia kepikiran perkataan Gemintang tadi soal belah duren, entahlah...


" Sebenarnya apa yang bapak pikirkan?"


Namun Pak Peter hanya diam saja, dia hanya membuang pandangan dan menghela nafas berulang kali.


" Begini saja pak, tidak usah pikirkan sedihku, tidak usah pikirkan bahagiaku, itu urusanku! aku paling tahu tentang diriku sendiri, urus saja bahagiamu." Seolah hatiku kembali sesak karena semua ucapannya.


" Bukan begitu juga maksudku Sabrina."


" Silahkan bapak ikut menyusul kembali ke kota saja, jangan jadikan aku sebagai beban di hidup bapak, dalam hubungan ini memang aku dan keluargaku yang salah, karena telah menyeret bapak kedalam keluarga kami dengan paksa."


" Sabrina."


Entah apa yang ingin dia katakan, aku pun tidak tertarik untuk mendengarnya lagi. Sosoknya yang dulu terkenal berhati dingin kini aku rasakan juga.


" Aku akan menyuruh saudaraku membelikan tiket bis kembali ke kota, maaf kami tidak punya mobil untuk mengantar pak Peter untuk kembali, hanya itu yang bisa aku berikan sebagai tanda terima kasihku untuk pak Peter, permisi pak."


Aku langsung saja pergi meninggalkan dia dengan seribu pertanyaan, memang bukan salah dia untuk menikahiku, tapi tidak sepantasnya juga dia berbicara seperti itu dalam situasi seperti ini.

__ADS_1


POV End


..."Segala persoalan dalam hidup ini, sesungguhnya tidak untuk menguji kekuatan dirimu, tapi untuk menguji seberapa besar kesungguhanmu, dalam meminta pertolongan Alloh SWT."...


__ADS_2