
...Happy Reading...
Disaat Gemintang masih berada di alam mimpi, dengan ditambah hangatnya pelukan dari sang suami, Chris sedang uring-uringan menunggu dirinya di Apartement mewah miliknya.
" Kemana sih Calon Janda itu, kenapa lama sekali nggak datang-datang." Chris mondar-mandir berulang kali, ditemani oleh Peter yang memilih duduk di pojokan sofa untuk menjaga jarak aman.
" Lagi kangen-kangenan kali sama suaminya." Ucap Peter yang asal bicara.
Dih... Dia punya gue !
" Ngawur saja kamu ini kalau ngomong, orang sudah diselingkuhin kok masih mau kangen-kangenan." Jawab Chris sambil melotot kearah Peter.
" Ya siapa tahu, suaminya itu sudah menyesal karena telah menyia-nyiakan istri cantiknya itu?"
" Siapa yang kamu bilang cantik tadi, jangan kegatelan kamu sama dia, O... atau jangan-jangan kalau kamu ketemu sama dia sering berantem itu karena mau cari perhatian dia ya!" Chris malah berpikiran lain, entah mengapa dia seolah tidak suka jika ada orang lain memuji kecantikan Gemintang didepannya.
" Apa anda sedang cemburu boskuh? yaelah... masih istri orang dia bro, sabar dikit napa!" Bukannya marah, Peter malah tersenyum mengejek melihat saudaranya itu yang terlihat cemburu.
" Aku nggak perduli, dia sudah bilang akan bercerai kok." Jawab Chris yang ikut duduk disofa itu.
" Awas... jangan deket-deket, munduran dikit sono!" Peter langsung mengibaskan tangannya kearah Chris, seolah alergi saat berada dijarak yang dekat dengannya.
" Apaan sih... gue udah mandi, wangi juga, kamu ini kenapa!" Chris merasa tidak terima Peter seolah menjaga jarak dengannya, padahal biasanya kemana dia pergi pasti ada Peter disisinya.
Bayangan bibiir loe aja udah bikin lenganku merinding dan pengen muntah kalau ingat kejadian malam itu, apa dia tidak mengingatnya sama sekali gitu?
" Emm... aku cuma nggak mau aja orang salah sangka dengan kedekatan kita, gue masih normal bos!"
" Emang siapa yang bilang kamu tidak normal? lagian siapa juga yang mau lihat?"
" Siapa tahu nanti Gemintang nanti tiba-tiba datang, dia malah jadi illfeel nanti sama kamu, mas Joko!"
" Owh... iya juga ya?"
" Makanya munduran sono, mulai sekarang jauh-jauh sama gue!"
" Lebay lu! lagian ngapain aja sih Calon Janda itu, kenapa lama sekali datangnya, aku buang juga tuh mobilnya." Chris kembali mengumpat Gemintang yang tak kunjung datang.
" Samperin saja sono, daripada kamu uring-uringan disini?"
" Bener juga ya, ayok kita berangkat!"
" Kok ayok? ngapain ngajak gue, entar gue jadi kambing congek lagi!"
" Kan dia punya teman, siapa itu karyawan dari perusahaan kita?" Chris bahkan tidak mengingat nama lain selain Gemintang yang sudah nyangkut dihatinya.
" Sabrina?"
" Hmm... cocok tuh sama kamu, nggak minat kamu sama dia?"
" Nggaklah... aku malas bercinta, bisa-bisa otakku yang cerdas ini bisa jadi bodoh karena cinta."
" Masih trauma kamu sama seorang gadis? come on bro.. itu sudah lama sekali Peter? kamu sudah dewasa sekarang? lagian cuma cinta monyet aja bisa bikin kamu tidak mau mengenal seorang wanita, apa kamu tidak bisa move on, payah sekali." Chris langsung mengejek asistennya itu.
" Ngomong aja gampang, dulu sebelum kenal sama si Sumarni juga kamu nggak mau kenal sama wanita!" Ledek Peter kembali.
" Kalau aku lain cerita!" Chris langsung tidak terima.
Chris malas berkencan dengan seorang wanita karena trauma dengan kehidupan rumah tangga ayah dan ibunya.
" Apapun kisah ceritamu, intinya sama juga kan!"
" NO... aku sudah dekat dengan wanita sekarang, dan sejak saat itu aku jadi sadar, bahwa Hawa itu tercipta ke dunia untuk menemani sang Adam, kalau Adamnya nolak, kasian Hawanya dong bro?"
" Dih... masih istri orang saja bangga, nggak takut apa ditikung kembali sama suaminya, mereka menikah sudah lama, dan siapa suaminya kita sudah menyelidikinya bukan?"
" Kalau ditikung bales aja, putar balik langsung tabrak dari depan, SELESAI." Jawab Chris dengan entengnya.
" Enak banget kalau ngomong bos!"
" Ya iyalah.. sory kawan, aku bukan Petasan yang rela meledak dan hancur demi melihat dia bahagia, lagian juga rasa sayang pria itu tidak seberapa, buktinya dia selingkuh juga kan? dia tidak sebanding dengan pria sejati seperti diriku!"
Kamu pernah nyosor gue bro! pria sejati kah itu, hoek... aaa... aku pengen amnesia saja rasanya!
" Hiss... pria sejatilah konon!" Peter masih tidak bisa melupakan kejadian itu.
" Iyalah... definisi pria sejati itu, dia seseorang yang berani mengucap janji kemudian menepati, berani berkomitment dan tak pernah menyerah untuk menjalani, berani berkata setia dan tak pernah mengingkari, kalau suami Gemintang itu modelan apa, tak berkelas sama sekali."
" Terserah anda saja lah bos, aku yang tampan dan polos ini bisa apa." Umpat Peter yang tidak mau ambil pusing.
" Ya sudah, ayok kita berangkat, mau dapet bonus nggak kamu!"
" Maulah."
" Jadilah sopirku hari ini, cepat... cepat... sudah lambat soal cinta, lambat pula soal kerja, hidup cuma sementara, jomblonya kelamaan kamu ini!"
" Tapi ini sudah malam bro, nggak enak perjaka datang kerumah calon janda jam segini!"
" Kenapa? aku cuma memastikan dia tidak kenapa-kenapa saja, bukannya mau berbuat mesvm dengannya!"
" Tapi..."
" Diamlah... jangan banyak bertanya, kamu tahu istilah tong kosong nyaring bunyinya?"
" Berangkatlah! Ckk... pesona Janda memang sering membuat Perjaka menjadi Gila!" Umpat Peter perlahan.
Chris langsung berjalan mendahului Peter yang masih ingin protes menuju ke parkiran mobilnya.
Sedangkan Gemintang masih belum sadar lagi, dia masih asyik berada di alam mimpi, dia bahkan semakin merapatkan tubuhnya kedalam pelukan William, efek dari dinginnya AC dikamarnya yang sengaja William tambah suhunya agar Gemintang semakin nyaman berada didalam pelukannya, hingga ponselnya miliknya berbunyi dan membangunkan sepasang suami istri yang hubungannya sudah hampir kandas itu.
" Hoahem... siapa sih?" Gemintang kembali merapatkan pelukannya ke tubuh William yang langsung tersenyum dengan manisnya, dia bahagia karena pelukannya masih terasa nyaman bagi istrinya.
" Sudah... biarkan saja, bobok lagi aja sayang." William mengusap rambut Gemintang dan menyembunyikan wajahnya didada berotot miliknya.
__ADS_1
*Hmm... hangatnya, persis banget kayak aroma tubuh laki gue, nyaman banget, ehh... tapi*?
" ASTAGA!"
Gemintang langsung berteriak dan melompat dari ranjang itu dan menyingkir dari tubuh suaminya.
" Sayang... kamu kenapa sih? kayak nggak pernah pelvkan saja, sini bobok bareng lagi, masih jam berapa ini?" Ucap William tanpa rasa bersalah sama sekali, seolah-olah tidak pernah ada masalah yang terjadi dalam hubungan mereka.
" Kamu ini apa-apaan sih mas, kamu apain aku?" Gemintang langsung merasa menjadi wanita tern○dai.
" Kamu yang apa-apaan, kita masih sah sebagai suami istri dan sampai kapanpun itu kamu tetap akan menjadi istriku!" Akhirnya William ikut bangun dan ingin berjalan mendekat kearah Gemintang.
" Aku mau bercerai dari kamu mas!" Teriak Gemintang yang sudah tidak tahan lagi melihat wajah suaminya yang terlihat arrogant seperti itu.
" Seribu kalipun kamu meminta itu, tidak akan pernah aku kabulkan." Jawab William dengan santai.
" Mas... kamu tuh egois banget sih, kalau kita berceraikan kamu bisa bebas berhubungan dengan wanita manapun, dan selingkuhanmu itu juga sudah diceraikan sama abangku, puas kamu sekarang!" Teriak Gemintang dengan nafas yang tersengal, seolah emosinya sudah mendidih sampai ke ubun-ubun.
" Aku tidak perduli lagi dengannya, sayang please... kita masih sama-sama cinta okey, kita bisa perbaiki ini semua."
William semakin percaya diri, karena sempat mendengar curahan hati istrinya tadi saat dia pura-pura pingsan.
" In your dream mas, itu tidak akan terjadi lagi."
" Dengar ya sayang... mau berapa kalipun kamu meminta itu, aku tidak akan pernah mewujudkan keinginanmu yang satu itu!"
" Asal kamu tahu saja mas, aku itu sudah tidak bisa lagi hidup bersama pria yang tidak tahu malu, bahkan kelakuannya tidak lebih dari seekor binatang, seperti kamu!"
" JANGAN SENTUH ADIKKU, DIAM KAMU DISANA!"
Tiba-tiba Lewis sudah ada dibelakang mereka, dia datang seperti seorang pangeran yang menyelamatkan selirnya dari ancaman para penjahat.
" Abang?" Gemintang langsung berlari dan memelvk abangnya.
" Kamu ngapain masih disini dek, kan sudah abang bilang nggak usah urusin dia, abang bilang kan istirahat saja di kamar tamu?" Lewis langsung melotot kearah adeknya yang sulit dibilangin.
" Maaf, aku ketiduran bang."
" Hey kamu... kalau sudah bisa berdiri dengan tegap cepat kemasi barang-barangmu dan pergi dari sini." Lewis bahkan tidak mau menatap wajah William dihadapannya.
" Bang... Gemintang masih sah menjadi istriku, jangan pisahkan kami." Jawab William dengan tenang.
" Aku sudah bukan abangmu lagi dan apa kamu tahu, penyesalan terbesar apa yang aku rasakan saat ini?" Tanya Lewis dengan amarah yang kembali memuncak.
" Bang.." William merendahkan intonasi suaranya.
" Menerima kamu di keluarga ini! aku sungguh sangat menyesal telah menikahkan kamu dengan adikku satu-satunya!" Lewis menekankan setiap perkataannya.
" Bang.. aku bisa jelaskan semuanya."
" Kamu tidak perlu menjelaskan segala kelakuan gilamu itu kepadaku, karena aku sudah melihat buktinya sendiri." Teriak Lewis semakin kesal.
" Bukti apa sih bang, jangan memperkeruh keadaan lah bang!"
__ADS_1
" Hahaha... apa aku harus menunjukkan video mesvmmu dengan mantan istriku itu? bahkan kalian melakukannya di kantor keluargaku, cih... aku bahkan jijik melihat wajahmu sekarang!"
" Bang... itu semua tidak sepenuhnya salahku, istri abang yang terus merayuku duluan!"
" Nggak usah banyak b@cot kamu, nggak usah banyak drama! perselingkuhan itu tidak akan pernah terjadi, kalau tidak ada kemauan dari kedua belah pihak!"
" Tapi.."
" Tapi apa lagi, kamu bahkan sangat menikmati permainan haram itu, apa kurangnya Gemintang didalam kehidupanmu wahai pria rendahan, kenapa kakak iparmu sendiri kamu lahap juga, apa seperti itu cara orang tuamu mendidik kamu!"
" Bang... jangan bawa-bawa orang tuanya." Gemintang mengusap lenan abangnya perlahan.
" Jangan pernah membela manusia itu didepan abang!" Lewis langsung mendelik kearah adeknya yang masih menempel dengannya.
" Bang..."
William mengusap wajahnya dengan kasar, sudah tidak ada lagi cara membela diri didepan kakak iparnya itu, karena ternyata dia mengetahui kelakuannya saat itu.
" Jangan pernah memanggilku abang lagi, aku tidak sudi menjadi abangmu!" Teriak Lewis yang langsung melengos kesal.
" Aku janji tidak akan mengulanginya lagi bang, tolong biarkan aku dan Gemintang tetap bersama bang."
" Aku tidak akan pernah menerima kamu lagi menjadi bagian dari keluarga ini."
" Tapi bang, aku punya..."
" Punya apa? kamu mau bilang punya hak dirumah ini? ambil salah satu anak cabang dari perusahaan kami, tapi tidak dengan perusahaan inti dan rumah ini, karena itu peninggalan dari mendiang orang tua kami."
" Walaupun kamu yang sudah merenovasi rumah ini sampai menjadi seperti istana, tapi akhirnya malah menjadi neraka yang paling menyedihkan karena adanya dua orang asing yang menjijikkan." Ucap Lewis kembali.
" Bang!"
" Kemasi barang-barangmu, sampai jumpa di Pengadilan Agama, aku sudah malas berbicara denganmu lagi." Lewis sudah sangat geram melihatnya.
" Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, tanpa perusahaan dari keluarga kami, kamu tidak pernah menjadi orang sesukses ini, tanpa staf petinggi perusahaan dan karyawan yang sudah ayahku rekrut sedari dulu, kamu tidak akan menjadi apa-apa sekarang!" Lewis langsung mengingatkan siapa diri William dahulu kala.
" Kamu datang ke rumah ini, hanya bermodalkan Burung Perkututmu yang tidak seberapa itu, PAHAM KAMU!" Teriak Lewis yang berhasil men-skak apa yang ingin William katakan.
Duar!
Hancur sudah semua harga diri milik William, karena memang semua yang dikatakan Lewis benar adanya, walaupun William yang sudah memajukan perusahaan itu, namun tanpa semua staf dan para petinggi yang sudah mengikuti almarhum ayahnya sedari masih muda dulu, perusahaan itu tidak akan bisa berjalan seperti sekarang, hanya dengan bantuan William seorang.
*Wah... abang gue emang keren, aku bahkan tidak kepikiran berkata seperti itu saat dulu beradu mulut dengan mas William*.
*Ehh... trus kalau mas William modal Burung Perkutut doang, mbak Farah datang kerumah ini modal apaan dong? Tempe Busuk doang gitu*?
" Okey... aku tidak akan mengambil apapun dari sini, tapi... sampai kapanpun itu, aku tidak akan pernah setuju untuk bercerai dengan Gemintang, tidak ada satupun pria didunia ini yang boleh memiliki Gemintang, kecuali AKU!" Karena hanya itu yang bisa dia pertahankan untuk saat ini.
" Mas... kamu egois!" Teriak Gemintang dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
" Maaf sayang.. tapi kamu hanya milik mas seorang, mas pergi dulu, kalau marahmu sudah reda, Share Lokasi saja, mas pasti akan datang menjemputmu, love you sayang."
*Apa dia bilang, Share Lokasi*?
William langsung melenggang pergi keluar rumah tanpa membawa apapun dari sana, dan meninggalkan kakak beradik yang hanya bisa melongo mendengar ucapan terakhir William yang seolah tanpa memiliki dosa.
__ADS_1
..." *Fokuslah pada apa yang sudah kamu miliki, jaga perasaannya baik-baik, sebelum dia pergi darimu. Karena dengan kehilangannya, kamu baru akan menyadari, betapa berharganya Dia bagimu*."...