
...Happy Reading...
Dan kenyataan dibalik layar yang sesungguhnya, yang disebut Tikus oleh Sabrina adalah suaminya sendiri, mereka berdua hampir saja mencicipi indahnya Surga Dunia tadi.
Namun ternyata Semesta masih menyuruh Peter dan Sabrina untuk kembali bersabar sebentar lagi, lagi pula mungkin momentnya kurang berkesan jika harus belah duren hanya didalam rumah kontrakan Sabrina yang sempit itu.
Flash back
" Nana sayang." Peter kembali memanggil istrinya dengan suara yang teramat merdu mendayu-dayu.
" Iya." Jawab Sabrina dengan malu-malu.
" Nanti ikut abang ke Apartement ya?" Bujuk Peter kembali.
" Ngapain?" Tanya Sabrina dengan polosnya.
" Kok ngapain sih? ya pindah kesana lah, nggak lihat apa, ranjang kamu kecil begini? mana muat buat tidur dua orang kan?"
Setelah dia mengetahui kalau istrinya sudah bisa membuka hati dengannya, dia langsung ingin mengajak Sabrina pindah kembali ke rumahnya.
" Muat kok, nih... bisa mas, orang Gemintang aja sering numpang tidur kalau dirumah suntuk sendirian." Ucap Sabrina dengan jujur, karena memang Gemintang sering ikut tidur-tiduran sambil ngobrol disana, walau tidak sampai menginap.
" Tapi mas nggak terbiasa Nana." Peter yang memang terlahir dari keluarga kaya raya memang tidak terbiasa.
" Taulah... mas kan selalu di kelilingi fasilitas yang mewah, tidak seperti aku yang memang orang tidak berpunya."
" Heh... kok jadi sampai situ ngomongnya, ya udah sini deketan, biar nggak jatuh." Peter lupa kalau istrinya menjadi lebih sensitif sekarang, salah silap ngomong sedikit saja, bisa-bisa akan ada sebuah pertengkaran kembali.
" Aku belum ngantuk, mas baring duluan aja biar lebih enakan, apa masih nyeri?" Tanya Sabrina kembali.
" Masih, gara-gara kamu ini, pijitin dong Nana sayang." Ucap Peter kembali manja.
" Yang mana?" Walau ragu Sabrina ingin memijitnya juga, karena rasa bersalahnya.
" Yang kamu siku tadi lah."
" Apaan sih mas, jangan ngaco deh!" Saat dia tau maksud dari Peter dia langsung mencubit lengan suaminya itu.
" Ya sudah, sebagai gantinya di pelvk aja sini." Peter selalu punya cara lain untuk bisa mencari kesempatan dalam kesempitan.
" Apa hubungannya sih mas?"
" Sebagai pelampiasan aja Na, biar nyerinya itu nggak terasa lagi." Ada saja alasan darinya yang mampu membuat Sabrina akhirnya menjadi sosok yang penurut.
" Gitu ya?" Jiwa polosnya langsung muncul seketika.
" Makanya sini baring deketan."
Peter langsung menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal ternyaman untuk istrinya.
" Ya udah deh."
Sabrina pun langsung merapatkan tubuhnya dan memelvk pinggang suaminya dengan perlahan.
" Hmm... sepertinya nanti aku perlu ganti ranjang baru yang lebih kecil deh, untuk kita taruh didalam Apartement kita."
" Kenapa? bukannya tadi mau ganti yang besar?" Tanya Sabrina dengan heran.
" Setelah aku pikir-pikir, semakin kecil ranjangnya ternyata semakin asyik, bisa deket-deketan terus, dan tidak akan ada jarak diantara kita berdua, cukup Antartika saja yang jauh, Antar Kita jangan dong, hehe.."
" Dasar modus, siapa yang ngajarin mas kayak gitu coba?" Sabrina langsung menoel hidung mancung suaminya.
" Mbaknya Shizuka." Jawabnya dengan cepat.
" Emang Shizuka punya kakak apa? bukannya dia anak tunggal? nggak pernah denger ceritanya dari si Doraemon dan Nobita." Dan ternyata Sabrina pun penggemar film kartun itu juga.
__ADS_1
" Hehe... mbak yang lain lah." Peter langsung mengedipkan satu matanya dengan genit.
" Nggak jelas banget mas ini." Sabrina geli sendiri melihat orang yang biasanya bersikap datar menjadi tukang gombal begini.
" Nana sayang..." Peter seolah ingin Sabrina selalu menatap wajahnya.
" Apalagi sih mas?" Sabrina langsung menoleh kearahnya.
" Kelak.. kamu mau masuk Surga nggak?" Peter langsung mulai beraksi.
" Ya maulah, emang siapa yang mau menolak." Jawab Sabrina tanpa menaruh curiga sama sekali.
" Mau ibadah bareng mas nggak?"
" Aku sudah sholat Isya tadi mas, kalau mas mau sholat aku siapin sajadahnya, mas ambil air wudhu dulu sana." Sabrina langsung ingin beranjak dari sana, karena ibadah yang dia pikir adalah sholat lima waktu.
" Hei... mau kemana? bukan ibadah yang itu, tapi yang lain, pahalanya juga gede banget buat seorang istri." Peter langsung kembali mengeratkan pelvkannya agar istrinya tidak kabur.
" Apaan?"
" Pejamkan saja kedua matamu!"
" Harus banget ya?"
" Iya, biarkan si bisa Bruno beraksi."
" Siapa itu Bruno?"
Cup
Peter langsung menyambar bibiir mungil milik istrinya, agar dia tidak banyak bicara dan banyak bertanya.
" Semenjak aku menjabat tangan pak Naib didepan kedua orang tuamu, kamu sudah sah menjadi milikku, dan apapun yang aku minta darimu, kamu harus redha dan ikhlas memberikan kepada suamimu yang tampan ini, okey sayang." Setelah ngemil beberapa saat, Peter kembali mengeluarkan ceramah malamnya.
Astaga... ya ampun, apa dia mau minta jatahnya? sekarang banget ini? aduh... kenapa nggak bilang, harusnya aku mandi kembang dulu kan? biar wangi dan berkesan, ini kan first time?
" Tidak ada yang perlu kamu siapkan sayang, kita tinggal baca bismilah, biar si Bruno yang menyelesaikan segalanya."
" Tapi mas?"
" Dosa kalau nolak ajakan suami, baca bismilah aja dulu sayang."
Dalam keadaan yang sudah terdesak begini, siap atau tidak siap Sabrina tidak bisa menolak, karena tubuhnya sudah berada dibawah kungkungan tubuh kekar suaminya, dan akhirnya dia hanya bisa pasrah dengan mengucap kata Basmalah.
Bismilah allohumma jannibnis syaithan wa jannibis syaithan ma razaqtana'
(Dengan menyebut nama Alloh. Ya Alloh jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rezekikan untuk kami.)
Peter mengusap ubun-ubun istrinya dengan lembut dan meniupnya perlahan sambil membaca doa sebelum melaksanakan sunnah Rosul untuk yang perdana didalam hidupnya.
Peter terlihat sangat bahagia, sambil mengucap puji syukur didalam hati karena mereka sudah sampai ke tahap ini, dan saat melihat istrinya sudah memejamkan kedua matanya dia langsung tersenyum dengan lebarnya.
Hal itu tidak akan Peter lewatkan begitu saja, dia langsung melancarkan aksinya, pertama-tama dia kecvp kening Sabrina terlebih dahulu agar istrinya tidak terlalu gugup, lalu mulai turun ke mata, melewati kedua pipi mulusnya dan kembali mendarat lama di bibiir istri tercintanya.
Jantung mereka berdua pun sama-sama berpacu dengan cepat, seolah saling berkejaran dan bersautan kesana kemari, karena ini memang moment pertama kali untuk keduanya.
" Hmpth... mas."
Saat tangan Peter kembali nyasar di dua gunung terindah itu, Peter langsung menindih tubuh istrinya, agar si Bruno tidak menjadi sasaran siku tangan istrinya kembali.
" Tahan sayang... lama-lama kamu pasti akan menyukainya." Ucap Peter dengan syahdunya.
Ya ampun, lama-lama enak sih... tapi kok gini?
" Emhh..."
__ADS_1
Akhirnya terdengar juga suara desa han dari mulut Sabrina saat Peter sudah menguasai dua benda berharga milik istrinya itu.
" Sayang... kalau nanti terasa sakit, kamu boleh gigit bahu mas aja, jangan teriak ya, nanti tetangga kamu pada keluar semua kayak kemarin, apalagi banyak tante-tante girangnya, merinding aku dibuatnya."
Ya ampun, ternyata ini yang dinamakan jalan menuju surga dunia, pantesan kalau Gemintang cerita itu heboh sekali, dan dia selalu saja keramas tiap pagi, ternyata karena ini alasannya, emang yahud banget sih bestie...
" Hmmh.."
Angan-angan Sabrina sudah melayang sampai ke awang-awang saat tangan Peter sudah mulai meraja lela kemana-mana.
" Bismillah, tahan ya sayang..."
Peter sudah berhasil membuang semua penghambat jalan bagi Si Bruno dan sudah bersiap untuk mengantarkan Bruno menuju parkiran terbaiknya.
Tok... tok.. tok...
" Assalamualaikum Sabrina oh Sabrina." Tiba-tiba suara Gemintang menggaung masuk kedalam kamar mereka.
" Haish... bukannya aku tadi sudah membaca doa agar syaiton tidak datang menggangu, kenapa dia masih juga muncul saat ini." Umpat Peter yang langsung menggeram dengan kesal, karena dia hafal betul suara orang yang mengetuk pintu di luar.
" Tapi Gemintang kan bukan syaiton mas, aku bukain dulu ya mas."
Walaupun Sabrina juga merasa kecewa, karena ha sratnya yang sudah di ubun-ubun langsung anjlok seketika.
" Nggak usah, biar dia pergi sendiri nanti." Umpat Peter dengan amarahnya yang langsung memuncak, bagaimana tidak satu detik lagi saja si Bruno sudah bisa membawa bola-bola apinya untuk bergoyang, dan ternyata harus mager sampai disini.
Brak... brak... brak...
" Sabrina!"
Krompyang!
Pyaarr!
Karena terlalu kesal, Peter sengaja menyempar gelas besar tempat air minum yang ada di samping tempat tidur Sabrina.
" Mas... jangan marah dong, aku bukain dulu sebentar, dia nggak akan pergi sebelum aku keluar, karena dia tahu pasti jam segini aku ada dirumah."
Karena Sabrina memang tidak pernah kelayapan malam kalau tidak dengan Gemintang.
Terkutuklah engkau wahai SUMARNI!
" Aissshh.... siall memang itu si Sumarni!" Peter langsung mengacak rambutnya dengan kesal.
" Mas.. nggak boleh ngomong gitu?" Sabrina langsung mengusap pipi suaminya untuk membujuknya.
" Ya sudah, buruan! usir saja dia, jangan biarkan dia masuk!" Peter langsung membalikkan tubuhnya dan memilih tidur tengkurap untuk menidurkan si Bruno walau mungkin akan sulit.
" Maaf ya mas, nanti kita lanjut lagi, kalau perlu kita pergi ke tempat yang sepi, agar tidak ada yang bisa menggangu, okey?"
Sabrina sebenarnya tidak enak hati meninggalkan suaminya yang sudah berwajah masam seperti itu, namun apa daya, Gemintang tidak akan menyerah begitu saja sebelum dia menampakkan wajahnya.
Karena tadi sebenarnya dia sudah sempat merasakan ada sesuatu yang menendang-nendang dibawah sana, yang hampir membuatnya terbang melayang ke puncak Nirwana, sebagai orang dewasa dia tahu apa itu, karena dia juga sempat melihatnya dengan nyata beberapa waktu yang lalu.
Flash back Off
Alloh Sa'id berkata:
Ku pertemukan kau dengan seseorang yang sangat kau cintai dan dia juga sangat mencintaimu..
Tapi akan Ku persulit jalan kalian, Ku rumitkan masalah kalian, Ku uji kalian dengan keyakinan ego serta waktu..
Dan akan Ku naikkan rezeki salah satu dari kalian, agar kalian tau bahwa untuk menuju ke arahKu tidaklah mudah..
Agar kalian berfikir tentang perpisahan, setelah Aku pertemukan..
__ADS_1
Awal bulan ini bestie, jangan lupa tinggalkan jejak cantek kalian loh ya😘