
...Happy Reading...
Takdir memang misteri. Manusia hanya bisa mengira dan menduga ke mana arah takdir atas pilihan hidupnya bergulir, karena Tuhan mengkharuniai kita akal dan budi, karena manusia hakikatnya bukan hanya sebentuk boneka.
Dimana kita dilahirkan adalah takdir, bagaimana kita tumbuh adalah proses, seperti apa kita dihari tua adalah keputusan.
Namun kita hanyalah manusia biasa, yang tidak pernah luput dari salah dan dosa, begitu juga dengan William Austin, sosok pria tampan, cerdas dan mempesona, namun punya penyakit yang akhirnya meruntuhkan rumah tangganya sendiri.
Sebenarnya kedua langkah kakinya saat ini seakan terasa berat, untuk masuk kedalam sebuah hotel berbintang yang sudah dihias sedemikian rupa.
Secara pribadi memang dia tidak diundang, namun sebagai pemegang saham di perusahaan Gemintang, dia mendapatkan undangan secara terbuka.
Dia hanya ingin memastikan saja, bahwa wanita kesayangannya dulu itu benar-benar menikah atau tidak hari ini.
Jadi walau seolah hatinya sudah remuk bagai butiran debu, dia tetap memaksakan diri untuk hadir dan memilih berdiri diantara kerumunan tamu undangan, tanpa punya niatan sedikitpun untuk mengucapkan selamat atas pernikahannya, apalagi menjabat salam kepada pengantin pria.
Benar saja, wanita yang dulu sangat dia sayangi dan sangat dia cintai, bahkan selalu merengek dengannya, selalu bertingkah manja dimanapun dan kapanpun dia mau, kini sudah bersanding dengan pria lain.
Kalau mengikuti kata hatinya, ingin sekali William memberontak dan membawa kabur pengantin wanitanya hari ini juga, namun semua itu mustahil baginya, karena rasa cinta dan sayang Gemintang sepertinya sudah terkubur dalam-dalam untuk dirinya.
" Sayang... maafkan mas."
William hanya bisa berkata lirih sambil terus mencuri pandang sosok Gemintang diatas panggung pelaminan.
" Andai dulu kita hanya satu atap berdua, pasti aku tidak akan mudah tergoda oleh Farah."
Pesta pernikahannya dulu dengan Gemintang kembali terlintas dipikirannya, betapa bahagianya mereka dulu, tersenyum berdua, bergandengan tangan dengan mesra, sambil menjabat para tamu undangan yang hadir memberikan ucapan selamat kepadanya, hal itu membuat dadaanya kini seolah terasa sesak bertubi-tubi.
" Saat pertama kali aku melakukan kekhilafan itu, sebenarnya aku sangat menyesal, ingin sekali rasanya aku suntik mati rasa, tapi aku takut tidak bisa membahagiakan malam-malam indahmu nantinya."
" Karena kalau aku suntik mati rasa dan rutin meminum obat seperti sekarang, mau ada siapapun yang tel*nj*ng didepanku pun, aku mungkin tidak berselera."
" Dan kini aku sangat menyesal karena menduakan dirimu, aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini sayang, mas rindu kamu Gemintang, sangat rindu."
" Tapi kata ibuk, aku harus bisa ikhlas apapun yang terjadi, karena semua kesalahanku memang pasti ada konsekwensinya, namun setidaknya aku pernah merasakan hidup bahagia denganmu, kamu juga pernah mencintaiku, dan menyayangiku walau tidak untuk selamanya."
Air mata William sudah terlihat menggenang dikedua pelupuk matanya, namun terus saja dia tahan, agar tidak ada orang lain yang melihat kalau dia rapuh saat ini.
Karena sudah tidak tahan lagi melihat kemesraan Gemintang disana, William memilih untuk segera pergi dari sana, dia ingin sekali meminta maaf, namun kalau secara langsung dia takut akan menimbulkan keributan disana.
Akhirnya dia meminta tolong kepada pelayan yang bertugas membawakan makanan dan minuman disana, untuk memberikan secarik kertas berwarna merah muda kepada sang mempelai pengantin wanita.
" Mbak... boleh saya minta tolong?" William memanggil salah satu pelayan yang sedang membawa satu nampan minuman.
" Maaf tapi minta tolong apa ya pak, saya cuma pelayan disini, kalau bapak mau minum silahkan?" Pelayan itu malah menawarkan minuman yang dia bawa.
" Iya... saya memang haus, berikan saya satu gelas."
" Silahkan pak, ambil saja mana yang bapak sukai."
" Baik, terima kasih mbak, tapi tolong berikan kertas ini kepada mempelai pengantin wanitanya nanti ya mbak?" Pinta William.
" Loh.. apa ini?" Pelayan itu memperhatikan secarik kertas yang diberikan kepadanya.
" Ini hanya ucapan selamat saja, karena saya terburu-buru, harus segera pergi, jadi nanti tolong berikan kepada mempelai wanitanya ya mbak, dan ini tips buat mbaknya." Ucap William mencari alasan.
" Owh... tidak perlu pak."
" Tidak apa-apa, minumannya seger juga, kalau bergitu saya bawa ya mbak, nanti jangan lupa berikan itu kepada mbak Gemintang ya?"
" Baik pak."
William langsung berjalan menjauh dari kerumunan para tamu undangan sambil membawa satu gelas minuman segar ditangannya.
Haduh... kalau ini nanti terselip obat-obatan haram, bisa aku yang kena kan? aku buka dulu kali ya, sebelum ngasih sama pengantin wanitanya, tapi dosa nggak ya buka privasi orang? lah... masa bodolah, lagian juga nggak dibungkus ini, buka dikit nggak papa ya kan, nanti dilipat lagi...
Setelah berperang batin dengan diri sendiri, pelayan tadi memberanikan diri membuka lipatan kertas itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pikirnya.
...----------------...
To: Gemintang
Gem... sebenarnya mas ingin mengucapkan selamat secara langsung denganmu, namun aku takut menimbulkan keributan di pesta pernikahanmu ini.
__ADS_1
Gem... mas minta maaf yang sebesar-besarnya ya, atas kesilapan yang pernah mas buat denganmu.
Terima kasih sudah hadir didalam kehidupan mas, terima kasih karena pernah mencintai dan menyayangi mas walau hanya sementara, namun setidaknya kita pernah bahagia bersama.
Doakan mas ya Gem, agar bisa segera melupakan semua kenangan indah kita berdua bersama dan juga bisa meneruskan hidup, walau tanpa kehadiran dirimu disisi mas.
Sebenarnya mas masih sangat berharap kita masih tetap bisa hidup bersama berdampingan, walau hanya setakat sebagai sahabat saja, namun sepertinya terlalu banyak rintangan dan hambatan yang aku terima selama ini.
Jika memang takdir tidak menyatukan kita di dunia untuk selamanya mas bisa apa, kalau kamu minta terus mas perjuangkan juga sebenarnya mas mau, tapi sepertinya kehadiran mas sudah tidak lagi kamu harapkan.
Mungkin ini saatnya mas menyerah, semoga laki-laki yang mendampingimu sekarang, bisa membuatmu bahagia, dan tidak membuatmu menangis karena terluka.
Sekali lagi maafkan mas ya Gem, karena pernah menorehkan luka dihatimu, maaf tidak bisa memberikan ucapan selamat untukmu secara langsung, tugas mas sudah selesai, walau seolah masih terasa sakit, namun mas harus membiasakan diri menjadi mantan suami kamu, mas pamit...
^^^(William Austin)^^^
...----------------...
Walau tidak kenal dengan siapa itu William dan siapa itu Gemintang, pelayan itu tanpa terasa menitikkan air mata dipojokan ruangan, dengan tangannya yang sedikit gemetar memegang kertas itu.
" Inilah cinta, terkadang deritanya memang tiada akhir!"
Pelayan itu mengusap air matanya dan langsung kembali melipat kertas itu untuk dia serahkan kepada Gemintang.
Dan saat William ingin pergi dari sana, dia ingin mengembalikan gelas yang dia bawa diatas meja, namun tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis berhijab yang memakai cadar didepannya.
Sebenarnya memang tidak masalah, namun karena jas nya berwarna putih, dia tidak mungkin melewati beberapa klien yang juga ada disana dalam keadaan seperti itu, akhirnya dia menerima tawaran gadis itu, untuk dibersihkan jasnya didalam kamar mandi.
" Permisi pak, ini jasnya sudah saya bersihkan, sudah hilang sih nodanya, tapi maaf tidak bisa kering seperti semula, karena hanya menggunakan pengering tangan saja tadi." Ucap Gadis itu dengan sopan.
" It's okey, terima kasih ya."
" Iya pak, saya minta maaf sekali lagi ya pak?"
" Hmm... kamu mau pulang?"
" Iya pak."
" Mau bareng? rumah kamu arah mana?"
" Okey, kalau begitu saya permisi."
William pun tidak mau memaksanya, apalagi dia menggunakan hijab dan cadar, jadi dia menghormati privasinya.
" Baik pak silahkan." Akhirnya mereka berdua berpisah didepan kamar mandi.
Namun saat keluar dari sana, William sempat ngobrol dulu dengan beberapa kliennya yang dulu bekerja sama dengannya saat dia menjabat sebagai CEO di perusahaan Gemintang.
Hingga akhirnya mobilnya melaju keluar dari area parkir hotel mewah dan megah itu. Dan tanpa dia sangka kembali, dia melihat gadis yang dia temui tadi sedang berdiri di pinggir jalan.
" Mau nawarin lagi, tapi pasti ditolak, kan sudah pesan taksi katanya, ya sudahlah .. aku lewat saja." William langsung menambah kecepatan mobilnya.
Saat dia melewati gadis itu, tanpa sengaja dia melihat kearah spion mobilnya, dan disana dia melihat ada dua orang pria yang menarik paksa tas yang dia bawa.
" Astaga, apa dia kena jambret?"
William langsung menghentikan mobilnya dan ingin mundur, namun motor itu sudah melaju kearahnya, dengan sigap William langsung kembali menjalankan mobilnya perlahan, dan saat dua komplotan itu ingin menyalip mobilnya, William langsung dengan sengaja membuka pintu mobilnya.
BRAK!
DUAR!
Seketika motor dan dua orang yang mengendarainya itu langsung tertabrak dan akhirnya jatuh dan tumbang diatas kerasnya aspal jalanan.
" Haish... dasar sampah masyarakat, beraninya sama perempuan kalian ya!" William langsung melepas jas dan mulai menggulung kemejanya.
" Awrgh... siapa kau, siaaalan!"
Pria yang sudah berlumuran darah itu masih mencoba untuk melawan William.
" Sini tasnya, kalau mau uang itu kerja, jangan nyopet!"
William langsung mengambil paksa tas yang masih dia genggam erat itu.
__ADS_1
" Ini bukan urusan kamu, minggir kamu!" Ternyata pria itu menyembunyikan senjata tajam ditangannya.
Sreeet!
Pria itu mengayunkan senjatanya dan mengenai lengan William.
" Aishh... masih nekad juga kalian ya, asal kalian tahu, seorang wanita itu tidak cukup bahagia hanya dengan uang semata, apalagi uang haram, ngapain kalian kerja kotor kayak begini, ketahuan istri kalian nongkrong nanti kalian di Meja Hijau!" William mengibaskan tangannya dan langsung memberikan pelajaran kepada dua pria itu.
Bugh!
Dugh!
Dengan satu kali tendangan dan satu kali sepakan kaki jenjang William, dua pria itu kembali tumbang diatas aspal.
" Haduh... jadi nambah dosa lagi kan gue! makanya kalau udah salah itu pasrah aja, gue aja sudah menyerah, mau melawan mau protes juga tidak ada gunanya bro, bikin sakit hati doang, nyiksa batin tau nggak!" Umpat William yang malah terdengar curhat dadakan saat itu.
Setelah mereka sudah tidak kuat lagi untuk melawan, William langsung menghubungi pihak yang berwajib dan mengambil tas milik gadis itu.
" Pak... ehh... anda lagi?" Wanita itu terlihat ngos-ngosan karena berlari kearahnya.
" Hmm... ini tasmu, aku sudah menghubungi Polisi, sebentar lagi pasti mereka akan datang." Jawab William yang seolah prihatin melihatnya.
" Bapak tidak apa-apa? apa ada yang terluka? astaga itu tangan bapak berdarah, apa kita perlu kerumah sakit sekarang?"
Hmm... gadis ini, sempat-sempatnya mengkhawatirkan aku, padahal dia sendiri terlihat ketakutan.
" It's okey, kita harus menjadi saksi dulu nanti, kita tunggu Polisi datang menangkap mereka dulu."
" Tapi itu berdarah pak, sebentar ya pak."
Karena darahnya terus saja mengalir, wanita itu langsung melepas cadarnya untuk mengikat luka William sementara, sebelum mendapatkan tindakan yang lebih lanjut.
Bagi William luka ditangannya tidak seberapa pedih, ketimbang luka dihatinya saat ini.
Heh... ternyata imut juga gadis ini?
" Hmm... sebenarnya kamu tidak perlu sampai melepas cadarmu, aku tidak apa-apa kok, aku bisa menahannya?" William langsung merasa segan karenanya.
" Tidak apa-apa pak, ini lebih penting untuk saat ini, saya juga masih dalam tahap belajar, dan ini biar lukanya tidak terlalu terbuka, dan darahnya tidak merembes sampai kemana-mana."
Daripada dia harus melepas hijabnya, lebih baik dia melepas cadarnya saja, karena tidak ada benda lain yang bisa dia pakai untuk mengikat luka di lengan William.
" Terima kasih." Jawab William dengan sedikit senyuman, sudah lama dia tidak diperhatikan oleh perempuan, rasanya itu ada yang aneh menurutnya.
" Seharusnya aku yang berterima kasih dengan bapak, karena saya kembali menyusahkan bapak dan ini lebih parah lagi." Dari raut wajahnya, dia terlihat menyesal sekali dengan kejadian ini.
" Nama kamu siapa?" Tanya William yang sebenarnya sudah penasaran sejak tadi, kenapa hari ini mereka bisa sampai bertemu berkali-kali pikirnya.
" Damia pak."
Dan Gadis yang bercadar itu adalah Damia, dia tadi mewakili orang tuanya untuk datang ke undangan Chris dan Gemintang, karena orang tuanya masih berada diluar negri, dan keluarga Damia juga masih saudara juga dengan keluarga Chris, walau sudah agak jauh.
" Rumah kamu dimana? nanti aku antarkan saja, tempat ini memang sering rawan dengan sampah-sampah masyarakat seperti itu, padat penduduk soalnya." William melihat suasana dijalanan yang memang padat merayap itu.
" Tapi bagaimana dengan luka bapak ini?" Damia kembali merasa tidak enak hati, karena menyusahkan William untuk kedua kalinya.
" Sambil menunggu Polisi datang, bisakah kamu membantu membalut lukaku dulu? aku bawa kotak P3K didalam mobil, soalnya aku nggak bisa mengikat perban dengan satu tangan."
" Iya pak, mari pak, sebelum darahnya semakin banyak yang keluar." Damia langsung mengganguk setuju, karena lengan William memang perlu pertolongan pertama untuk menghentikan darahnya saat ini.
Gadis ini baik, lemah lembut dan sopan sekali, apalagi dia menjaga auratnya, sungguh beruntung pria yang bisa mendapatkannya nanti... astaga, William sadar... untung aku sudah minum obat tadi sebelum kesini, fuhh...
" Pak, ada apa? apa sakit banget? kenapa malah melamun disitu? ayo pak... aku bersihin lukanya dulu." Damia langsung menyadarkan lamunan William tentangnya.
" Owh ya... okey."
Akhirnya William menaikkan satu sudut bibirnya dan langsung berjalan cepat kearah mobilnya.
Perihal Takdir memang tidak pernah dia duga, siapa sangka dia bisa bertemu dengan seorang gadis yang mampu membuat senyumnya kembali terlukis walau hanya sekilas, disaat luka dihatinya begitu berat dan menusuk, karena melihat orang yang pernah dia sayangi dengan setulus hati itu kini sudah bersanding dengan pria lain.
Selagi sabar itu menjadi pilihan, teruskan selagi mampu untuk bertahan. Namun jika tidak, berlapang dada lah walau harus ditemani dengan tangisan.
Selagi mana diam itu sebaik-baiknya tindakan, biarlah dia menyepi, tanpa sembarang ungkapan.
__ADS_1
Tenanglah, karena kamu tidak pernah sendiri, Alloh itu maha mengetahui apa yang dirasakan dilubuk hati.