
...Happy Reading...
Semenjak Sabrina hadir dalam kehidupannya, pada awal mulanya pun dia masih belum bisa terima, namun setelah Sabrina menjauh, ternyata Peter sendiri yang malah merasa kehilangan.
Dan akhirnya dia memantapkan diri untuk membuka hatinya dan mengubur segala kenangan buruk di masa silam dan menggantinya dengan kenangan manis bersama istrinya nanti.
Namun hari ini, traumanya kembali datang, suara des@han dan segala ucapannya entah mengapa membuat Peter mengira bahwa Sabrina melakukan hal yang sama seperti mantan kekasihnya dahulu.
BRAK!
GLODAK!
Setelah pintu kamar Sabrina berhasil Jebol, Peter langsung berteriak dan memaki istrinya tanpa menanyakan apa yang mereka lakukan sebenarnya terlebih dahulu.
" SABRINA APA YANG KAMU LAKUKAN!"
Suara Peter bahkan menggelegar memenuhi ruangan itu, bahkan terdengar pintu-pintu di kontrakan sebelah terbuka, karena mungkin mereka juga ikut terkejut, kenapa ada suara pria di kontrakan anak perempuan pikir mereka.
" ASTAGA, ada apa mas?"
Sabrina langsung bangkit dan tak lupa membetulkan sarungnya yang hampir melorot tadi.
" Kamu ngapain Na? apa kamu sudah lemah iman, bukannya manusia di dunia ini sudah Alloh takdirkan untuk berpasang-pasangan?" Amarahnya langsung Peter luapkan semua disana.
" Mas?" Sabrina ingin mencoba menjelaskan, namun Peter seolah tidak memberikan kesempatan kepadanya.
" Dosa tahu Sabrina! kamu sudah punya suami, kamu bisa melakukannya denganku, aku sudah belajar menerima kehadiranmu Nana, kenapa kamu harus melakukannya dengan seorang wanita, dimana moralmu itu Nana, apa kamu sudah tidak punya rasa malu sedikitpun!" Peter langsung berkacak pinggang ke arahnya.
Bahkan wanita yang bersama Sabrina langsung beringsut mundur ke pojokan kamar, karena takut melihat api kemarahan dari Peter yang seolah menyambar-nyambar.
" Astaga, apa yang ada didalam pikiranmu mas?"
Sabrina ikut panik, apalagi tetangga-tetangga kontrakannya mulai bergerombol dan datang ke tempatnya sambil berbisik-bisik dengan segala gosipan hangatnya.
" Nana... aku sungguh sangat kecewa denganmu!" Kedua mata Peter mulai memerah, dia sungguh terluka kali ini, disaat dia mulai menyukai seseorang kembali, kenapa harus mengulang rasa sakitnya di masa lalu pikirnya.
" Ckk... mas ini, ngapain teriak-teriak sih mas, kan jadi banyak orang yang datang." Sabrina kesal sendiri jadinya.
" Kenapa? kamu malu dengan kelakuanmu ini? jangan hanya malu didepan semua orang Nana, tapi malulah dengan Tuhan, karena kamu menyukai seseorang yang bukan menjadi kodratmu, apa kamu mengerti Nana, kenapa sih harus sesama jenis, apa enaknya coba!" Ucap Peter dengan nada menggebu-gebu.
" Sesama jenis apaan sih mas, ya Alloh Gusti! aku cuma diurut sama mbak Ginah aja mas, badanku sakit semua setelah kecelakaan jatuh ke laut kemarin."
Ingin sekali Sabrina itu membungkam mulut Peter dengan sambel cabe seratus kilo dan mengunyah habis tubuh Peter saat ini juga, apalagi rumahnya sekarang sudah dipenuhi oleh tetangga-tetangganya yang sudah mulai kepo.
" HAH? maksudnya kamu normal gitu? nggak Lesbi?" Suara Peter langsung melunak, ada rasa lega dihatinya kini.
__ADS_1
" Ada apa dengan isi pikiranmu itu mas! Tunggu di luar sana! aku mau ganti baju dulu!"
Sabrina memelototkan kedua matanya ke arah Peter sambil memegangi sarungnya, takut kalau mlorot karena menahan amarahnya.
Benar saja, tetangga Sabrina yang haus akan gosip terpanas langsung mulai berkomentar.
" Kenapa Sabrina? dia siapa? tadi aku dengar dia bilang suamimu?"
" Wah... Nana, kamu diam-diam sudah menikah ya?"
" Kenapa nggak undang kami Nana, tega kamu ya Na sama tetangga?"
" Apa karena tampan? jadi takut kami tikung, kami tidak sejahat itu kali Na, hehe?
" Tenang Na, kami bukan para pelakor, tapi kalau punya teman yang modelan kayak gini boleh dong dikenalin, ya kan?"
" Hu um, kami jomblo loh Na, inget temen dong Na, kita kan jadi tetangga sudah lama."
Segala rentetan pertanyaan mereka lontarkan, kasak kusuk dibelakang pun mulai terdengar, bukan mencurigai Sabrina punya hubungan dengan mbak Ginah, karena satu komplek disana juga sudah tau kalau mbak Ginah itu seorang tukang pijit keliling.
Namun mereka lebih tertarik menggibah pria tampan yang ada disana, apalagi dengan stelan jas mahal dan mobil mewah yang terparkir didepan kontrakannya itu.
" Hehe... maaf ya semua, saya memang sudah menikah, tapi masih Siri, jadi memang belum sempat buat syukuran, lain kali saja ya." Sabrina langsung merasa tidak enak hati.
" Kenapa nggak diresmikan Na? sayang loh ganteng begini, nanti rugi kamu kalau diambil orang?"
Padahal disana juga banyak yang sudah emak-emak, yang namanya wanita, walau sudah punya bontot dua pun kalau melihat yang seger-seger memang tidak mau menolak.
" Maaf mbak-mbak dan ibu-ibu sekalian, ini tadi hanya salah paham, maaf jika menggangu jam istirahat kalian ya, tapi kami masih punya banyak hal yang harus dikerjakan, jadi saya mohon silahkan kembali ke Kontrakan kalian masing-masing ya, hehe..."
" Ngusir ini ceritanya? mau berduaan itu pasti? kamu belum lapor sama pak RT kan kalau sudah menikah, hati-hati, bisa di grebek nanti kamu."
" Iya.. nanti saya lapor, lagian saya juga nggak ngapa-ngapain mbak, saya baru pijit tadi, badannya sakit semua, pegel-pegel, hehe."
" Owh begitu, ya sudahlah ayok bubar semua, bye ganteng, jangan lupa ya Na, lain kali kenalkan kami dengan rekan-rekan suamimu itu okey? siapa tahu jodoh kan, hehe?"
Lah... jadi ketahuan kan kalau gue udah nikah, padahal entah lanjut apa kandas ini nanti, sep... nasep!
" Okey, siap pokoknya, maaf ya semua, bye-bye!"
Sabrina langsung menutup pintu rumah bagian depan dengan cukup keras, membuat Mbak Ginah dan Peter terlonjak kaget.
" Mmm... ma.. maaf Na, mbak tiba-tiba ada keperluan, mijatnya diterusin besok aja yah." Mbak Ginah pun langsung melipir dan pamit dengan wajah yang masih syock.
" Tapi mbak, dia..."
__ADS_1
" Lain kali saja ya Na, mbak beneran harus pulang!" Mbak Ginah sudah tidak perduli lagi, bahkan dia kapok datang ke rumah Sabrina sekarang.
" Astaga... ya sudah, aku ambilin uangnya dulu ya mbak!"
" Enggak... nggak usah Na, hari ini gratis saja pijitnya, mbak pulang dulu, assalamu'alaikum." Mbak Ginah langsung berlari ngibrit keluar dari rumah Sabrina.
" Wa'alaikum salam warahmattulloh hiwabarokatuh!" Sabrina menghela nafasnya dengan kasar dan langsung melirik kearah Peter yang sudah cengengesan ditempat.
" Nana sayang, hehe...!" Peter mencoba menggeser langkahnya perlahan.
" MUNDUR!"
Sayang kok datang-datang bikin Geger Gedhen!
" Nana? aku minta maaf!"
" JANGAN SENTUH AKU!"
" Nana aku nggak tahu kalau dia tukang pijit?"
" Cepat pulang, sebelum aku mencabik-cabik mulut mas yang nggak punya rem itu!"
" Nana..."
" Pulang mas, aku benci kamu!"
" But, I LOVE YOU Nana Sayang..." Peter langsung memasang tampang imutnya.
Degh!
Tahan Sabrina, dia benar-benar keterlaluan hari ini, aku malu sekali, dia menuduhku sembarangan, aku masih doyan Pisang kali, aish...
" Pulang kataku!" Sabrina tidak mau melihatnya lagi, karena menurutnya omongan Peter benar-benar sudah kelewatan tadi, apalagi didepan para tetangganya.
" Nana, kamu tahu Garam?" Peter langsung mengeluarkan jurus mautnya.
" Nggak mau tahu!" Jawab Sabrina dengan cuek.
" Garam yang terlarut di luasnya genangan air lautan dan samudra itu bagaikan rasa cintaku padamu, yang tak nampak jika dilihat tapi jumlahnya tidak terkira." Peter tetap mengoceh saja.
" BODO AMAT, aku bilang keluar ya keluar mas!" Sabrina lansung saja mendorong tubuh kekar Peter dengan kedua tangannya dan menutup pintunya kembali dengan keras.
" Aish... SABRINA... sayang, ayo buka pintunya!"
" PULANG SANA!" Teriak Sabrina dari dalam rumahnya.
__ADS_1
Akhirnya Peter terduduk dilantai, setelah diusir oleh istrinya, sambil mengetuk-ngetuk pintunya kembali, berharap agar Sabrina membuka lagi untuknya.
..."Orang Trauma jangan ditanya kenapa. Buktikan saja jika kamu memang berbeda dengan orang yang pernah ada dimasa lalunya."...