
...Happy Reading...
Skill pembalap dari Gemintang pun dia lancarkan malam ini, tidak perduli dengan jalanan gelap dan berlubang sekalipun, dia tetap memaksimalkan kecepatan mobilnya.
" Gem... pelan dikit bisa nggak, turun mesin entar mobil elu habis dari sini."
" Jangan kayak orang susah deh, tinggal bawa ke bengkel aja, itung-itung ngasih rezeki buat mereka, bukannya berbagi itu indah?"
Gemintang tidak mengurangi kecepatannya, walau tubuh mereka sudah tergoncang sana-sini, dia tetap tidak perduli.
" Terserah deh, walau mungkin pak Chris sudah terlanjur terluka." Umpat Sabrina sambil berpegangan pada pegangan di mobil itu.
" Aku nggak ngapa-ngapain kok Na? cuma ngobrol biasa aja sama mas William."
" Biasa bagimu, tapi tidak baginya!"
" Na... aku bahkan menolaknya langsung loh!"
" Apa dia menembakmu lagi?"
" Berulang kali."
" Memang si ahli neraka itu, nggak ada malunya!"
" Ada alasannya kenapa dia seperti itu Na."
" What ever, semua bisa dimaafkan kecuali sebuah perselingkuhan okey, banyak pilihan juga kan?"
" Mungkin dia buntu? tidak punya pilihan kali."
" Walaupun dia tidak punya pilihan, tapi dia masih punya Tuhan bukan? kenapa tidak mendekatkan diri dengan-Nya? dan kamu juga pernah bilang bahwa orang tuanya baik kan? dia bisa membicarakan hal itu dengan mereka, kalau memang dia malu ngobrol denganmu, dia kan lahir dalam sebuah rahim, bukan dari cangkang telur kan?"
" Iya juga sih."
" Pokoknya, jangan ada kata maaf lagi untuknya! jangan jadi manusia bodoh deh Gem yang biarkan semua, kini permainkanmu berulang-ulang kali..."
" Nyanyi aja terus sampai pagi, siapa tahu syaiton disampingmu itu kabur saat mendengar suara jelekmu itu."
" Hush... sembarangan aja kamu kalau ngomong! aku kan jadi ngeri Gem!"
Sabrina langsung menoleh kanan kiri, dan langsung berdoa dalam hati, agar setan ora doyan, demit oran ndulit.
Walau badan terasa pegel, pinggang rasanya mau copot, Gemintang kembali berjalan cepat saat turun dari mobil menuju lantai dimana Apartement Chris berada.
" Gem... pelan dikit bisa nggak sih, kakiku sampai kesemutan ini, pinggangku rasanya juga hampir remuk ini." Keluh Sabrina sambil mengusap pinggangnya berulang kali.
" Kalau pinggang mau remuk itu bukan karena duduk di mobil, tapi karena kamu kebanyakan bergoyang, suka diatas atau dibawah kamu?" Ledek Gemintang seperti biasa.
" Bawah lah." Entah mengapa Sabrina pun jujur saja.
" Lain kali coba diatas, pasti pinggangmu lebih sehat, semacam olahraga gitu!"
" Benarkah, tapi gimana konsepnya?"
" Nggak usah pakai konsep, anggap saja kamu naik kuda, atau semacam naik sepeda, ayun aja terus, dijamin laki lu merem melek dah!"
" Entar ajarin ya Gem!"
" Ajarin gundulmu itu, entar siapa lawan main gue pe ak!" Gemintang langsung menoyor kening Sabrina dengan gemas.
" Ya tutorial sama guling kan bisa Gem, atau aku perlu video call dulu denganmu sebelum bertanding, untuk memastikan posisi gue sudah bener belum gitu?"
" Kamu sudah gila ya!" Umpat Gemintang dengan kesal, menyesal dia karena sudah memancing ikan di air yang sudah keruh.
" Ayolah Gem, biasanya aku terus yang dibuat merem melek, pengen juga kali buat mas Peter kek gitu, ibadah tau Gem!" Sabrina langsung membalikkan ledekan Gemintang.
" Kamu udah pernah nyobain oseng-oseng sendal jepit belum sih Na?"
" Ya belumlah!"
" Okey, besok aku buatin untuk elu, biar jadi jamu biar mulut kamu itu sedikit punya tata krama!"
" Hahaha... bercanda kali Gem, sejak jadi janda jadi sensi banget dah!"
" Diem!"
" Dudududu... lalalalala..."
Sabrina sengaja mengejek Gemintang sepanjang perjalanannya menuju lantai milik Chris, sekedar bercanda untuk menghilangkan rasa kantuk yang mendera dirinya.
" Mas... mas Chris!"
__ADS_1
Saat pintu apartementnya terbuka, Gemintang langsung mendorong tubuh Peter saat dia menghalangi jalannya.
" Astaga Sumarni!" Umpat Peter, namun Gemintang tidak menggubrisnya, dia terus melangkah masuk kedalam untuk mencari keberadaan Chris dan meninggalkan mereka berdua yang malah kejar-kejaran dibawah sana.
" Mas... kamu dimana?"
Gemintang menaiki tangga dengan kaki yang masih sedikit terpincang-pincang.
Namun saat dia melewati sebuah ruangan santai, dia melihat ada kotak P3K disana, seketika terlintas sebuah ide yang muncul di pikirannya.
Dia langsung membuka dan meneteskan obat merah di sekitar lukanya, hampir setengah botol dia habiskan, bahkan bajunya pun dia tetesi agar lebih terlihat mengerikan.
" Mas Chris?"
Ternyata Chris berada di balkon kamarnya, tanpa mau menoleh ke arah Gemintang yang terus memanggilnya.
Chris juga tidak menyangka, kalau Gemintang nekad langsung menyusulnya pulang.
" Mas... kok tiba-tiba langsung pulang sih, besok katanya libur, nggak mau apa jalan-jalan dulu sama aku, pemandangannya bagus loh disana."
Gemintang coba merayunya, dia bahkan langsung merangkul lengan Chris yang tetap terdiam dengan pandangan jauh kearah jalan raya dibawah sana.
" Mas... kok diam aja sih?
" Mas, aku minta maaf dari ujung rambut sampai ujung kakiku, kalau aku ada salah sama mas?"
" Mas... tolong jangan begini?"
Gemintang langsung mengoyangkan lengan Chris dengan manja, saat dia tetap diam seribu bahasa.
" Lepas!" Satu kata keluar dari mulut Chris dengan acuhnya.
" Mas... kamu lihat aku sama mas William ya disana?"
" I don't care about that!" Umpatnya lagi.
" Mas... beneran loh, aku nggak ada hubungan apa-apa lagi dengannya, masak mas nggak percaya sama aku sih."
" Kamu menghargai, aku akan menghormati, kamu menyayangi aku akan mencintai, tapi jika kamu menggangapku tidak berarti, aku pun tidak mungkin membersamai, dan mungkin lebih baik aku pergi." Akhirnya unek-uneknya keluar juga disana.
" Jangan dong mas, kalau mas pergi aku sama siapa?" Gemintang langsung menyandarkan kepalanya dengan manja.
" Sudahlah Gem, aku terlalu lelah untuk memikirkan semua tentangmu kali ini, pulanglah, aku mau istirahat, mungkin aku harus menepi terlebih dahulu, agar aku tidak menyesal karena telah mengenalmu." Kata-kata Chris sangat mengena di hati, walau berat namun dia tetap ingin mengatakan hal itu juga.
Gemintang menatap sendu wajah kekasihnya yang sama sekali belum mau memandang kearahnya.
" Aku pernah mencintaimu sederas hujan, tapi kenyataannya kamu memilih pergi dengan payung busukmu itu."
" Aku juga pernah mencintai mas sedalam-dalamnya samudera, tapi sayangnya mas nggak bisa berenang!" Gemintang tidak mau kalah membuat kalimat perumpamaan.
" Apaan!"
" Mas... apa mas belum bisa melihat, bagaimana perasaanku dengan mas?" Gemintang menggunakan nada suara paling rendah.
" Jangan omong kosong, jangan mencoba membodohiku dengan segala ucapanmu itu, aku capek Gem, mending sekarang kamu pulang!"
" Kalau capek ya istirahat dong mas, mau aku pijitin, untuk mas gratis deh nggak pake bayar?"
" GEMINTANG!" Teriak Chris dengan kesal.
" Iya Bee-Bee sayang..."
Nyes!
" Pulang sana, aku mau istirahat, jangan ganggu aku!" Ingin kembali naik darah, tapi panggilan sayang dari kekasihnya sedikit menggoyangkan keteguhannya tadi.
" Hiks.. hiks.. aku hampir jatuh dari tebing loh mas, kaki aku lecet ini, berdarah-darah tau mas."
" Ckk... alasan!"
" Mas... look at that! sakit tahu mas.. perih banget ini." Gemintang menunjukkan kakinya yang terluka dengan wajah memelas.
" Itu... itu kenapa bisa begitu?"
Akhirnya Chris langsung menoleh saat mendengar kata darah, apalagi sampai ke lantai-lantainya berwarna merah, walau itu sebenarnya obat merah.
" Aku hampir jatuh dari tebing tadi, dan mas William menolongku, tapi setelah tahu mas pergi tanpa mendengarkan penjelasanku, aku langsung berlari mengejar mas, sampai tidak meperdulikan lukaku, semua ini demi siapa coba?"
" Eherm... harusnya kamu mengobatinya dulu."
" Keburu mas ngambek lah! sekarang aja langsung jutek sama aku."
__ADS_1
" Habisnya kamu nyebelin!"
" Tapi kan ngangenin!"
" No! sini aku bantu bersihin dulu lukamu."
Semarah apapun dia, kalau melihat Gemintang terluka sudah pasti dia tidak tega.
" Hehe... berarti mas sudah memaafkan aku kan?"
" Tidak semudah itu!" Jawabnya dengan cepat.
" Bee... He is not friends, not enemy, just some stranger with some memories."
( Dia bukan teman, bukan musuh, hanya orang asing dengan beberapa memory)
Gemintang mulai beraksi, dia mengusap dadaa bidang Chris dengan penuh kelembutan, dia juga menyelipkan sebuah senyuman dan tatapan indah dari kedua matanya hanya untuk Chris.
" Eherm.."
Namun Chris masih mencoba untuk tidak mudah terbujuk dan menyerah begitu saja.
" Dia hanya masa laluku, tapi mas adalah masa depanku, walau seribu kalipun dia mencoba merayuku dan mengajakku untuk kembali bersamanya, namun hatiku sudah bukan lagi untuknya."
" Ngomong aja gampang kamu!"
" Yang lain mas boleh nggak percaya, tapi yang satu ini trust me, please?"
" Kamu ingin aku percaya?"
" Tentu mas."
" Menikahlah denganku!"
Degh!
" Mas..."
Bukannya tidak ingin, namun Gemintang seolah masih belum siap untuk menikah lagi secepat itu.
" PULANG SANA!"
Chris langsung membuang arah, saat Gemintang seolah banyak berfikir, Chris langsung menyimpulkan bahwa lamarannya seolah tidak diterima.
Dia tidak percaya apapun selain bukti Gemintang mau dia ajak menikah, karena menurutnya sebuah keseriusan itu bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata, tapi dengan Buku Nikah.
" Mas... aku.."
" Kalau kamu tidak mau, aku tidak akan memaksamu, silahkan pergi, pintuku juga masih terbuka lebar disana!" Chris menunjuk arah pintu kamarnya.
" Mas aku bukannya mau menolak, tapi mas tau masa iddah nggak?"
" Nggak mau tahu!"
" Tapi mas harus tahu, masa iddah itu adalah masa dimana seorang perempuan yang telah diceraikan oleh suaminya, baik diceraikan karena suaminya meninggal atau karena dicerai ketika suaminya hidup, untuk menunggu dan menahan diri dari menikahi laki-laki lain."
" Untuk apa?"
" Tujuannya adalah untuk menjaga hubungan darah suaminya. Dikhawatirkan, seorang wanita sedang mengandung saat akan menikah lagi sehingga anaknya menjadi anak pria yang dia nikahi."
" Apa itu harus?"
" Iya dong, Iddah diwajibkan untuk memastikan apakah perempuan tersebut rahimnya sedang mengandung atau tidak, hal tersebut adalah penyebab kenapa seorang perempuan harus menunggu dalam masa yang telah ditentukan."
" Benarkah, kamu tidak sedang membohongiku kan?"
" Astaga... ya enggaklah mas, apabila ia menikah dalam masa iddah, sedangkan kita tidak mengetahui apakah perempuan tersebut sedang hamil atau tidak dan ternyata dia hamil maka akan timbul sebuah pertanyaan “Siapa bapak dari anak ini?” dan ketika anak tersebut lahir maka dinamakan “anak syubhat”, yakni anak yang tidak jelas siapa bapaknya dan apabila anaknya adalah perempuan maka ia tidak sah, karena ia tidak dinikahkan oleh walinya."
" Jadi berapa lama aku harus menunggumu?"
" Satu tahun." Jawab Gemintang sambil tersenyum penuh makna.
" HAH, LAMA SEKALI." Umpat Chris yang langsung protes keras.
" Ceileh... udah ngebet banget ini ceritanya? bercanda kali mas, emm... mungkin tinggal dua mingguan lagi kurang lebihnya, sabar ya Bee..?"
" Hmm..."
Chris tidak menjawab dengan kata-kata, namun senyuman diwajahnya sudah bisa menggambarkan bahwa dia sangat bahagia, karena akhirnya lamarannya tidak ditolak mentah-mentah oleh kekasih hatinya.
Ambil jeda untuk mengistirahatkan pikiran yang kusut, ambil jarak agar yang terjalin tak jadi retak.
__ADS_1
Kepala jangan terus di paksa agar tak gila, perlu sesekali memberi tawa pada diri, agar tak hilang waras diri.
APAPUN ITU JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, VOTE DAN HADIAHNYA BESTIKUH🥰