
...Happy Reading...
Cahaya sinar mentari pagi sudah mulai masuk kedalam kamar Sabrina, kasur yang empuk, selimut yang tebal dengan fasilitas AC didalam kamar itu, mampu membuat tidur Sabrina terasa nyenyak, memang beda sekali rasanya dengan tempat tidurnya di kontrakan yang memang serba apa adanya.
Tadi malam, awalnya memang dia masih kesulitan untuk memejamkan mata, karena selain adaptasi dengan tempat dan suasana, otaknya pun seolah masih tern○dai dengan penampakan yang terlihat sangat jelas di kedua bola matanya.
Sebagai istri yang baik, pagi ini dia terfikir untuk membuatkan sarapan pagi, karena hari ini Peter dan dirinya sudah masuk kerja di tempat masing-masing, karena tidak ada gunanya juga cuti lama-lama, jangankan bulan madu, untuk bisa duduk berdua romantis saja itu seolah mustahil bagi Sabrina, jadi memang dia tidak berani berharap terlalu banyak tentang itu.
Tidak banyak bahan yang tersedia didalam kulkas dirumah itu, tapi kalau hanya memasak nasi goreng saja, tidak akan membutuhkan banyak bahan, sisa nasi tadi malam sama telor dan bumbu racik saja sudah enak rasanya.
" Nak... kamu sudah buat sarapan?" Ibu langsung tersenyum saat melihat aku sudah menghidangkan tiga piring nasi goreng di meja makan.
" Kalau begitu kalian berdua sarapan dulu ya, ibu pengen jalan-jalan keluar sebentar, pengen menghirup udara pagi di kota." Ucap Ibu Sabrina yang sebenarnya hanya ingin memberikan kesempatan bagi sepasang pengantin baru itu agar bisa sarapan berdua.
" Jangan jauh-jauh buk, nanti ibuk ilang loh."
" Ibu sudah tua, kulit juga sudah keriput, siapa juga yang mau nyomot ibuk, rugilah dia!"
Ibu Sabrina langsung membenahi jacketnya dan berlalu pergi meninggalkan Sabrina yang terheran sendiri melihat emaknya, apa enaknya udara pagi di kota, hanya ada polusi saja, lain lagi kalau dikampung, tapi Sabrina membiarkan saja, asalkan ibunya bahagia, dia pun ikut bahagia.
" Pak... ehh, mas... sarapan dulu, aku sudah buatin nasi goreng ini." Saat melihat Peter turun dari kamarnya, Sabrina langsung berjalan mendekatinya.
" Buat kamu sama ibuk saja, aku tidak terbiasa sarapan yang berat-berat." Jawab Peter yang langsung melenggang pergi ke dapur.
" Mau buat apa? kopi? biar aku buatkan saja." Sabrina langsung mengikuti Peter kembali ke dapur.
" Nggak usah, nanti takarannya beda, jadi lain rasanya."
Peter memang sudah terbiasa membuat kopinya sendiri saat ingin berangkat kerja, jadi dia menolak di buatkan oleh Sabrina, karena mungkin dia juga belum terbiasa memiliki seorang pendamping dadakan seperti ini.
Wah... mungkin dia memang tidak membutuhkan seorang wanita dihidupnya, apa mungkin aku adalah sebuah kesalahan di hidupnya?
" Jadi mas sarapannya apa, biar aku buatkan, jangan biarkan aku menjadi istri yang tidak bisa melayani suaminya dengan baik dan benar." Sabrina masih berada di mode sabar, karena memang dulu Peter adalah atasannya, jadi sedikit banyak tentangnya dia tahu.
" Kamu tidak perlu berusaha berperan menjadi seorang istri, cukup lakukan kegiatanmu seperti biasa saja." Jawabnya dengan tenang.
Lihatlah bu... andai ayah melihat ini, apa almarhum akan sedih atas pilihannya?
" Tapi mas...?"
" Jadilah wanita modern, yang nggak ribet jadi orang." Ucap Peter sambil membawa kopi buatannya kedalam ruang kerja dirumahnya, untuk mengambil berkas-berkas yang akan dia bawa ke kantor.
Apa? jadi aku ngribetin gitu?
" Ckk... pria yang satu ini memang menyebalkan, entah apa salahkah Tuhan? kenapa nasipku begini, sebenarnya nggak mau ngeluh, tapi menjadi istri dia sungguh menjadi ujian berat didalam hidupku."
Walau terdengar biasa, namun perkataan Peter tadi cukup membuat hati Sabrina sakit, dia lebih memilih kerja capek, namun hasil kerjanya dihargai daripada disuruh santai tapi seolah tidak dianggap keberadaannya.
" Akan aku coba bertahan beberapa hari lagi, kalau memang tidak ada perubahan, lebih baik aku menyerah saja, masih banyak pria tampan yang berhati baik didunia ini, lagian juga kalau aku pisah dari dia statusku di KTP juga masih gadis, ngapain juga pusing-pusing."
" Stel kendo, loossske wae bos!"
Akhirnya Sabrina memilih memakan nasi goreng buatannya sendiri dan memasukkan nasi goreng porsi satunya, kedalam kotak bekal dan membawanya ke Kantor, dia tidak mau membuat ibunya sedih jika melihat sarapan yang dia buat tidak disentuh oleh suami Siri nya itu.
Pamit nggak ya sama dia? ehh... aku kan disuruh jadi wanita yang nggak ribet, nanti salah paham lagi dia, dikira aku ngemis-ngemis cinta dengannya, ya sudahlah sadar diri saja, aku ini siapa...
Karena kantor mereka sekarang sudah berbeda, jadi Sabrina memilih pergi kerja menggunakan angkutan umum seperti biasa, walau dia harus jalan kaki agak jauh untuk mencari kendaraan umum, karena rumah Peter masuk dalam kawasan elit yang tidak dilewati angkutan umum, beda dengan kontrakannya yang tinggal keluar rumah saja sudah dapat kendaraan umum.
Saat memasuki ruangannya, semangat kerja pun hilang, baru melihat tumpukan berkas diatas meja kerjanya pun sudah terasa lelah, padahal dia belum menyentuhnya sama sekali.
Mood dalam diri seseorang memang sangat berpengaruh dalam segala hal, kalau sedang tidak enak hati, ngalamat kerjaan pun terasa membosankan.
" Fuuuh... ternyata menikah tidak seenak seperti dalam dunia drama, yang hanya melihat sisi kebahagiaannya saja."
__ADS_1
" Aku bahkan lebih merasakan kenyamanan saat masih gadis."
" Maunya nggak mau ngeluh, tapi kalau begini ceritanya siapa yang nggak mletre boskuh."
" Ultramen saja kalau disakiti musuhnya, lampu didadaanya langsung menyala berkedip-kedip, apalagi aku yang hanya Balungan Kere, yo mengkis-mengkis too bestie..."
Sabrina langsung meletakkan kepalanya diatas tumpukan berkas-berkasnya, setelah uring-uringan sendiri, sambil merenungi nasipnya yang seolah jungkir balik setelah menikah.
" Piwwitt... pengantin baru sudah datang rupanya, gimana rasanya, bisa goal berapa ronde sob?"
Gemintang yang melihat meja Sabrina sudah berpenghuni langsung mendekat kearahnya, hari ini dia mampir ke kantor terlebih dulu, baru pergi ke kantor Chris, karena ada rapat pemegang saham tahunan di kantornya.
" Sopo wonge sing ora loro ati, wes ngancani tekan semene, tapi kabeh ora ono artine, ra ono ajine..."
Sabrina malah melantunkan lagu Jawa yang seolah menceritakan tentang kegalauan hatinya pagi ini.
" Hobaaaaahh."
Gemintang langsung menaikkan kedua jempol tangannya ke udara dan menggoyangkannya dengan asyik saat mendengarnya.
" Wong ko ngene kok dibanding-banding ke, saing-saing ke yo mesti kalah... tak oyak' o aku yo ora mampu, mung sekuatku mencintaimu..."
" Acie.. cie.. udah cinta ni ye?" Ledek Gemintang sambil cengengesan.
" Boro-boro cinta, gimana bisa cinta kalau kelakuannya kayak gitu, malah makan hati tiap hari yang ada." Umpat Sabrina sambil menekuk wajahnya.
" Kenapa? ada masalah apa sih Na, pengantin baru tuh harusnya kalau pagi gini fresh, walau tadi malam nglembur tapi paginya udah keramas, jadi enak lihatnya, lah ini malah ngedumel sendirian nggak jelas, sehat Na?" Gemintang langsung bersandar di meja Sabrina sambil bersidekap.
" Sakit Gem!" Ucap Sabrina sambil memasang wajah pilunya.
" Emang sakit kalau pertama kali di trobos, tapi lama kelamaan nikmatnya woi... tiada tandingannya coy." Gemintang langsung heboh menjawabnya, dia langsung teringat ganasnya malam pertama dirinya dengan suaminya dulu.
Brak!
" Woi... aku ini bosmu, berani-beraninya kamu melempar bos!" Gemintang terkejut dibuatnya.
" Ckk... biarin, siapa suruh otak kamu mesvm, bukan sakit yang itu Calon Janda!" Kalau sudah diruangan berdua, tidak ada lagi kata bos dan bawahan diantara mereka.
" Waduh... kalau ngomong ya, suka bener deh si istri Siri ini!" Gemintang ikut membalas dengan cibiran pedas.
" Eh Gem... kenapa nasip kita berdua gini-gini amat yak? perasaan dosa gue nggak banyak-banyak amat yak, selalu menuruti kemauan orang tua, baik hati, ramah tamah dan rajin menabung, walau nabung ke warung sih lebih tepatnya."
" Mana nabung, nge Bon iyalah kamu!" Ledek Gemintang tak ada habisnya.
" Hahaha... jangan keras-keras ngomongnya, nanti ketahuan, masak kerja kantoran ngutang diwarung." Selalu ada selipan canda tawa diantara mereka, walau ngobrol bertema kan sedih sekalipun.
" Sebenarnya ada apa, cerita lah Na, sudah lama kita nggak curhat-curhatan berdua." Gemintang langsung mengubah wajahnya ke mode serius, walau mereka sering bercanda, namun ada kalanya mereka juga bisa membahas masalah dengan serius.
" Gimana ya ngomongnya, aku bingung mau cerita dari mana dulu." Sabrina langsung menyandarkan kepalanya yang terasa berat.
" Masalah Peter?" Gemintang langsung bisa menebaknya, karena selama berteman dengannya dia tidak pernah melihat Sabrina se galau ini.
" Hmm."
" Maafin gue ya Na."
" Kenapa jadi eluu yang minta maaf, yang salah kan dia bukan kamu."
" Yaa.. gimana ya, aku dan mas Chris juga yang menyarankan dia agar menikahimu, bahkan sedikit agak memaksakan sih memang, tapi aku kira semua akan baik-baik saja, emangnya dia ngapain elu, nggak macem-macem kan, kalau dia kurang ajar aku bisa memberikan pelajaran nanti untuknya." Gemintang langsung siap menjadi garda terdepan jika Sabrina sampai terluka.
" Bukannya kurang ajar sih, bukan juga bermain fisik, tapi mulutnya itu loh, suka nyakitin banget kalau ngomong, udah gitu dingin dan cuek banget, pokoknya nyebelin banget deh." Dia langsung mengeluarkan unek-uneknya.
" Emm... atau mungkin kamu harus mengeluarkan jurus tertentu kali Na."
__ADS_1
" Jurus apaan?" Tanya Sabrina yang langsung menaikkan kedua alisnya.
" Ya.. katanya sih, kalau pria itu kelemahannya kan soal wanita, dia lebih mengutamakan penglihatan daripada pendengaran."
" Maksudnya?"
" Cobalah rayu dia, kamu dandan sedikit lebih seksih gitu, kamu jalan lenggak lenggok didepannya, sambil tebar-tebar pesona dikit dan keluarkan aura kecantikanmu itu, kan nggak papa, sama suami sendiri, kalian udah sah loh dimata agama, anggap saja itu ibadah okey?" Tiba-tiba terlintas ide gila di otak Gemintang.
" Dih... kok geli sendiri ya aku ngebayanginnya."
" Begini deh Na, bukannya aku mau belain si Peter nih, sory-sorylah ya aku belain laki loh yang emang nyebelin itu, tapikan memang tidak mudah menjalani pernikahan tanpa persiapan, apalagi tanpa cinta, orang aku yang nikah pake cinta segunung aja bisa kandas dengan sebuah perselingkuhan kok, ya kan?"
" Iya juga sih, sebenarnya aku juga nggak mau Gem, jadi beban buat dia, ya kalau memang dia emang nggak bisa, ya udah tinggal talak gue aja selesai kan, nggak harus ribet urus surat perceraian kayak elu juga, orang baru nikah siri, tapi ya.. nggak perlu terlalu dingin kek gitu juga kan, aku kan gampang masuk angin jadinya."
" Emangnya sudah benar-benar nggak bisa diperbaiki lagi ya Na, sampai harus ada kata pisah? kalau menurutku Peter itu bukan orang jahat kok, mas Chris pun bilang begitu, dia saja bisa jadi orang kepercayaannya, dalam rumah tangga itu, pasti ada masalah yang akan datang, kalau bukan soal pengkhianatan dan perselingkuhan, menurutku semua bisa dibicarakan secara baik-baik, yang penting komunikasi Na." Gemintang seolah memberikan petuah, menurut pengalaman yang dia punya.
" Gimana mau komunikasi Gem, aku mau buatin dia kopi aja nggak boleh, dia mau buat sendiri, katanya nggak mau takarannya beda, nanti bisa lain rasanya, aku masakin juga nggak mau makan, jadi aku harus mulai mengenal dia dari mana, sedangkan dia menutup setiap celah yang ada didalam dirinya."
" Hmm... begitu ya?" Gemintang jadi ikut pusing memikirkannya.
" Dia tuh seolah alergi gitu dengan wanita, dan satu lagi nih, dia itu masak takut banget kalau aku sentuh, gilak kan? entah wanita mana yang berhasil membuat dia benci dengan semua wanita, kenapa jadi aku korbannya." Sabrina merasa tidak terima, awalnya dia fikir ingin mencoba menerima dan membuka hati untuk Peter, namun semakin lama Peter semakin terlihat menutup diri.
" Emang kamu mau nyentuh apaan Na? peliharaannya gitu?"
" Ngawur aja kalau ngomong, gimana mau nyentuh, belum apa-apa dia sudah memberikan ultimatum duluan, tapi kalau lihat sih... opsh!" Sabrina hampir saja keceplosan menceritakan kisah kemarin.
" Hayoloo... kamu udah pernah ngintip dia ya? dia lagi apa, mandi ya? gimana sizenya okey nggak? okey dong ya, mantep pasti... bodynya aja gede, hahahay."
" Dasar Omes! gue nggak sengaja kali, tapi ehh... kata ibuk nggak boleh buka aib suami."
" Good... istri soleha memang harus begitu, tapi ngomong-ngomong berarti sekarang kamu masih ting-ting ini?"
" Ya iyalah."
" Wahaha... baru mau cerita yang endul-endul, eh.. kamu masih mampet!"
" Ngomong apaan sih luu, nggak jelas banget deh!" Sabrina langsung menoyor lengan Gemintang.
" Hei...kamu nggak tahu aja, sensasinya mendes@h malam-malam, kalau sudah coba, lupa luu sama dunia, apalagi sama utang, ahaha..."
" Lama-lama bisa ikut gendeng ini kalau ngobrol sama calon Janda."
Awas kamu Peter, akan aku buat kamu nanti sampai tergila-gila sama Sabrina, kamu nggak tahu aja the power of make up jaman sekarang, awas saja nanti kalau kamu sampai nangis karena takut kehilangan dia! Jangan main-main, sohib gue nih...
" Ya sudahlah... karena kamu sedang sedih, gimana kalau gue traktir makan?"
" Beneran nih?"
" Hmm... gue traktir makan di hotel berbintang, okey?"
" Tumben?"
" Skalian ikut rapat, biar yang bayarin perusahaan, let's go! haha..."
" Dasar bos sinto gendheng kamu ini!"
Akhirnya dua sahabat itu langsung berjalan berangkulan sambil becanda dan tertawa, untuk sekedar menghibur hati Sabrina yang sedikit merana.
Ketika kamu merasa sedih dan kesal, remember it...
Rasa sakit adalah bagian dari tumbuh, segala sesuatu dalam hidup ini hanya sementara, kekhawatiran dan mengeluh tidak akan merubah apapun.
Bekas luka adalah simbol kekuatan diri, setiap perjuangan kecil adalah langkah kedepan, dan hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah terus Maju tanpa mengenal rasa lelah.
__ADS_1