Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
34. Hanya Lelah


__ADS_3

...Happy Reading...


Butuh waktu beberapa saat untuk Gemintang kembali ke alam sadarnya, setelah untuk yang pertama kali dalam hidup Chris mengajak seorang wanita untuk menikah.


" Menikahlah denganku."


Bahkan untuk sekedar menelan ludah saja terasa sangat berat bagi Gemintang kali ini, apalagi dengan keadaan statusnya yang sekarang.


Apa aku salah dengar? dia bilang apa? menikahlah denganku? woi... aku ini masih istri orang ini.


" Wes... angél iki... angél tenan." Umpat Gemintang perlahan.


Gemintang masih memikirkan cara untuk menjelaskan semuanya, namun tiba-tiba Peter si musuh bebuyutannya itu langsung masuk ke dalam ruangan Chris tanpa permisi.


" Chris... kita harus segera pergi meeting sekarang, ada masalah yang harus kita handle sendiri di lokasi."


Peter terlihat sedang buru-buru dengan membawa beberapa berkas ditangannnya.


" Benarkah? kalau begitu kita berangkat langsung saja sekarang."


Jika ada kendala dalam masalah pekerjaan, Chris memang tidak pernah mau menunda-nunda penanganannya, karena bisa fatal akibatnya.


" Tunggu!"


Gemintang yang sudah kembali dalam lamunannya langsung tersadar.


" Nggak usah nolak, nanti malam kita dinner berdua, sampai jumpa disana, okey!" Chris langsung mengambil tas kerjanya dan bergegas ingin pergi.


" Tapi mas?" Gemintang ingin menjelaskan dulu semua tentangnya, namun sepertinya Chris langsung mengabaikannya begitu saja.


" Nggak ada tapi-tapian, kami harus segera pergi." Chris langsung angkat bicara dan memotong apa yang ingin Gemintang katakan.


" Nggak usah manja kau wahai Sumarni! masih tau arah jalan pulang sendiri kan, apa perlu gue gendong sampai ke rumah loe!" Peter langsung menatap Gemintang dengan tatapan mengejek.


" Dih... najis beud! bisa gatal-gatal lagi tangan mulusku ini kalau harus bersentuhan dengan kamu wahai Sumarno!" Umpat Gemintang tak kalah kesal.


Dan tanpa sadar Chris bahkan sampai terkekeh sendiri saat melihat perdebatan dua manusia yang kalau sudah bertemu seperti kucing dan tikus itu.


" Jangan Ge Er kamu! makan kedondong di pinggir kali, dih... amit-amit jabang bayi!" Peter langsung mengibaskan jas mahalnya didepan wajah Gemintang.


Asem..

__ADS_1


" Makan rujak pakai buah ketapel, hoerk... sory yaa nggak level!" Bukan Gemintang kalau tidak bisa membalasnya.


" Hahaha... sudahlah, ayo kita pergi!" Chris langsung merangkul bahu Peter yang sebenarnya ingin membalas ucapan Gemintang kembali.


" Woi... tapi denger dulu penjelasanku, aku itu sebenarnya sudah--"


" Simpan saja untuk obrolan dinner kita nanti malam." Ucap Chris yang kembali menoleh arah kebelakang.


" Bukan itu mas.." Gemintang gemas sendiri jadinya.


" Trus apa sayang?" Itu bukan suara yang keluar dari mulut Chris, melainkan dari si Peter yang seolah belum puas meledek Gemintang disana.


" Heh, jangan panggil dia sayang!" Chris langsung menoyor lengan Peter sambil melotot, seolah dia tidak terima akan hal itu.


" Dasar cowok, gampang banget ngobral kata sayang." Gemintang langsung melengos saat mendengarnya.


" Hehe... bercanda bos, gitu aja sewot kalian berdua, kompak amat?" Umpat Peter sambil melanjutkan langkahnya dan disusul oleh Chris dibelakangnya.


" Aduwh... kenapa jadi begini, pembahasan masalah ini juga terlalu panjang jika aku bicarakan sekarang, hmm... nanti sajalah?"


Gemintang langsung mengambil tas dan memilih pergi dari perusahaan itu, karena mobilnya ada di apartement Chris jadi dia memilih mencari taksi untuk kembali ke kantor menemui Sabrina.


" Sabrina... kemasi barang-barangmu!" Saat Gemintang sampai ke ruangan di kantornya dia langsung berteriak memanggil Sabrina.


" Kamu kembali saja bekerja di kantor mas Chris." Ucap Gemintang sambil mengacak rambut lurusnya dengan wajah yang semrawut, sepanjang perjalanannya kemari dia sudah memikirkan segalanya.


" Maksudnya gimana? kamu sudah membongkar kebusukan suami elu? jadi sudah selesai semua masalah kamu? alhamdulilah..." Sabrina malah tersenyum lebar sambil mengucap kata hamdalah.


" Selesai gundulmu itu, bukannya selesai tapi malah tambah rumit." Gemintang meletakkan kepalanya diatas meja kerjanya dengan lesu.


" Kenapa? lama nggak dicolok jadi lesu kah?"


" Berisik kamu!"


" Mau aku kasih solusinya nggak? kebetulan dirumah tadi aku baru belanja Terong, beuh... bentuknya mantep-mantep, sudah panjang, sizenya gede lagi, satu kilo cuma dapat dua batang, bisa kamu bayangin sendiri kan bentuknya seperti apa?" Sabrina mengibaratkan sebuah sayur Terong seperti benda berharga.


" Hei... mau apa gue kilo'in tuh mulut, ngasal aja kalau ngomong ya, kayak udah pernah lihat versi aslinya aja kamu!" Gemintang menatap jengah ke wajah Sabrina yang malah cengegesan.


" Hehe... habis datang-datang ngusir orang. Kamu itu mau ngomong apa? jelasin pelan-pelan, aku nggak ngerti deh?"


" Aaaaaaaa... Sabrina aku harus bagaimana?"

__ADS_1


" Bagaimana apanya?"


" Mas Chris ngajak aku nikah, coba bayangin deh? gilak nggak tuh?"


" Wadidaw... euy, senangnya dalam hati kalau bersuami dua, seakan dunia, ane yang punya." Bukannya sedih, namun Sabrina malah seolah menari ala tarian India didepan sahabatnya yang sudah prustasi itu.


" Dasar teman nggak ada akhlak, bukannya bantuin menyelesaikan masalah eh... malah bahagia dia!" Ingin sekali Gemintang menjambak rambut sahabatnya itu, namun dia tidak punya tenaga untuk sekarang.


" Gue nggak bisa bayangin deh Gem, kalau dalam semalam kamu melayani dua suami gilamu itu, woah... bisa remuk tubuhmu tiap malam?" Sabrina langsung mulai berkhayal sesuai dengan imajinasinya sendiri.


" Tapi tenang saja, kalau kamu menikah lagi, bukan hanya baju dinas malam yang aku berikan, tapi baju dinas pagi, siang dan sore juga skalian, biar hidupmu dipenuhi dengan jeritan des@h@n ya kan, uhuy!"


" Atau mungkin kamu gilir aja tiap malam kan, biar adil dan tidak ada yang kekurangan jatah?"


" Atau malah tidur satu ranjang bertiga saja, satu lawan dua gitu, woaaah... ngeri-ngeri suedep kayaknya sob, satu tahun mungkin bisa ganti ranjang dua belas kali, hahaha!"


Sabrina malah mengoceh sesuka hatinya, bahkan tanpa henti.


" Woah... lucu banget ya sob?" Gemintang bangkit dan mulai berjalan mengelilingi tubuh sahabatnya yang sedang exited membayangkan dirinya punya suami dua.


" Sudah banyak kah tabungan amalmu kawan? atau kamu sudah bisa menentukan kemana arahmu nanti pergi, surga atau dasar neraka?" Gemintang mendekatkan wajahnya dengan wajah yang sudah memerah.


" Ampun sob, kita kan teman bestie, hehe..." Sabrina menggoyangkan satu bahunya dengan sok imut.


" Gue nggak sedang main-main Sabrina, mau aku asingkan kamu ke Kutup Utara sekarang juga!" Teriak Gemintang langsung menjewer telinga sahabatnya itu.


" Yaelah... biar nggak spaneng kali sob! nanti cepet tua kita, ckk... sebenarnya sudah gue duga sih dari awal, tatapan mata pak Chris itu beda saat melihatmu, dan ternyata kecurigaanku itu benar adanya." Sabrina langsung kembali ke mode serius.


" Luu balik aja deh ke kantornya, biar gue batalin kerja sama kita, biar nanti urusanku akan aku selesaikan sendiri, puyeng gue kalau begini jadinya!" Gemintang kembali membahas ke topik utamanya.


" Emang elu nggak bilang kalau sebenarnya kamu itu masih jadi istri orang sekarang?"


" Orang dia nggak nanya kok?" Sanggah Gemintang.


" Harusnya kamu kasih info... info maszeh, aku sudah menikah gitu, biar nggak bikin orang salah paham, elu sih... sok masih gadis aja!"


" Mana gue tahu kalau akhirnya jadi begini, buat apa aku koar-koar kalau sudah menikah? orang suamiku aja nyeleweng, apa coba yang bisa aku banggakan dari hasil pernikahanku yang sudah bertahun-tahun tapi hancur karena orang ketiga, udah gitu selingkuhan suami gue itu kakak ipar gue sendiri lagi, malu-maluin banget kan? gue pun menjaga harga diri bang Lewis juga kali Na!"


Gemintang semakin prustasi dibuatnya, dia fikir Chris tidak akan pernah sampai ke tahap ini, apalagi sampai mengajak menikah, tidak pernah terlintas sedikitpun dibenaknya, karena semua yang terjadi diantara mereka hanya sebatas Sandiwara sahaja pada awalnya.


..." Nikmati saja hidup kita sekarang, jangan karena satu keinginan yang belum dikabulkan, kita melupakan berjuta nikmat yang Alloh berikan."...

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2