Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
131. Siapa dia?


__ADS_3

...Happy Reading...


Kamar kelas VIP room itu kini dipenuhi dengan suara de sahan, walau tidak ada suara jeritan ataupun cakaran, namun nyatanya mampu membuat pengantin pria merem melek karena mendapatkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Wuah.. sensasi Janda ternyata luar biasa.


Walau tendangan Chris tidak offside karena jalurnya sudah terbuka, namun dengan keahlian Gemintang mengoper tendangan ke kanan dan ke kiri sesuai irama gencatan senjata, nyatanya Chris mendapatkan service terbaik, karena dia mendapatkan pemain yang sudah lebih berpengalaman.


Dan saat Chris ingin menggiring bolanya lebih dalam lagi, tiba-tiba nama mantan suami sang istri menggema di gendang telinganya, membuat mood mereka langsung anjlok seketika.


" Mas?"


Gemintang lansung merasa bersalah karenanya, didalam hatinya dia langsung mengumpat habis mantan suaminya itu, kenapa harus sekarang pikirnya, disaat mereka masih bermain separuh perjalanan.


" Ckk!" Chris langsung berdecak dengan kesal.


" Emh... mamaskuh tersayang." Gemintang mencoba menggeluarkan rayuan mautnya, namun sepertinya sia-sia, karena raut wajah suaminya sudah berubah drastis.


" Haish!"


Chris langsung mencabut benda pusaka yang sebenarnya masih menancap dengan sempurna ditempat ternyamannya dan langsung bangkit dari tempat tidur king size ditempat itu.


" Mas? mau kemana?"


Gemintang langsung panik saat Chris langsung menggunakan kembali pakaiannya yang sudah tercecer dilantai, namun Chris hanya diam saja, dia masih sibuk mengancingkan kemeja miliknya.


" Kita baca dulu suratnya, jangan salah paham dulu dong mas?" Gemintang mencoba menahannya walau seolah tidak diperdulikan.


" Cih... tidak ada waktuku untuk membaca surat cinta dari mantan suamimu itu!" Umpat Chris yang langsung masa bodoh.


" Ya sudah... nggak usah dibaca juga nggak apa-apa, langsung buang saja, tidak usah diperdulikan lagi mas, kita lanjut aja okey."


" Terserah kamu saja, tapi mood ku sudah hilang entah kemana!"


" Mas, kenapa langsung dicabut sih, kan nanggung tadi, sini dong mas!" Gemintang menarik-narik lengan suaminya.


" Aku mau keluar!" Chris langsung bergegas mengambil ponsel dan dompetnya.


" Mas... kamu nggak percaya lagi denganku? bukannya sebelum pernikahan kita sudah sepakat kalau ada masalah kita bicarakan dulu berdua, secara terbuka, apa mas lupa? jangan ngomong gitu dong mas?" Gemintang jadi pusing sendiri, dia sebenarnya paham bagaimana perasaan Chris, sudah pasti dia kecewa tapi kan ini bukan kemauannya juga.


" Aku tuh sama kamu kayak smartphone sama charger tau nggak?" Chris langsung menjeling kearah istrinya.


" Bagus dong mas, berarti kita sama-sama saling membutuhkan, smartphone tanpa charger bisa mati, dan charger tanpa smartphone juga tak berguna, ya kan?"


" Tapi mantanmu itu bagai powerbank, yang setiap saat bisa muncul menjadi penyela dihubungan kita."


Dor!


Seolah Gemintang sulit menjawab perumpamaan yang diberikan oleh suaminya itu.


" Jangan ngomong gitu dong mas, kalau cas nya udah full kan nggak perlu lagi pakai powerbank, jangan pergi dong mas, please?"


" Aku tidak akan pergi darimu, aku cuma mau beli rokok aja!" Chris sebenarnya juga tidak ingin seperti ini, namun mau bagaimana lagi, terus dipaksakan dalam keadaan mood buruk juga pasti tidak akan nyaman pikirnya.


" Rokok? sejak kapan mas merokok? aku tidak pernah melihat mas suka merokok selama ini loh?"


" Sudahlah, aku mau cari angin dulu, sumpek kalau membahas soal mantan kamu yang tidak seberapa itu!" Chris langsung membuka pintu kamar itu dengan cepat.


" Mas... tunggu, aku ikut mas!" Teriak Gemintang yang sudah ingin meloncat mengejarnya.


" Kamu itu nggak pakai baju sehelai pun, jangan main-main kamu!" Chris langsung melotot kearah Gemintang, karena memang dia dalam keadaan polos saat itu.


" Mas... tapi?"


Mood Chris yang menggebu-gebu tadi seolah hilang seketika, entah kenapa bayangan mantan suami istrinya itu selalu menyesakkan dadaanya.


Dia ingin bersikap biasa saja, namun kenyataannya semua yang menyangkut tentang William selalu membuat dirinya kesal dan badmood.


" Ya ampun... gedhek gue lama-lama liat mas William ini, nggak paham bahasa apa bagaimana dia itu."


Gemintang langsung memunguti pakaiannya yang sudah melayang entah kemana-mana, dan dia memilih mandi saja terlebih dahulu.


Badan yang lengket dipenuhi dengan peluh dan bekas-bekas pemanasan mereka seolah masih menempel dibadan.


Lagi pula dalam keadaan kalut dan semrawut seperti ini juga sulit untuk berfikir secara tenang, jadi dia memutuskan untuk membersihkan diri saja terlebih dahulu.


" Emang apa sih isi suratnya itu?"


Setelah selesai mandi Gemintang ternyata penasaran juga dengan apa yang William tuliskan.


Degh!


" Astaga... tuh kan, mas Chris ini selalu salah paham, dia sudah melepasku begini kok?" Umpat Gemintang seelah membaca surat yang tergeletak dilantai itu.


" Sebenarnya kasihan juga melihat mas William seperti ini, tapi apa dayaku, hatiku sudah terlalu sakit karenanya, sedangkan ada pria sebaik mas Chris yang begitu tulus menyayangiku."


" Hanya manusia bodoh yang akan melepas mas Chris begitu saja, demi masa lalu yang pernah menorehkan luka untukku."


" Apalagi dapat perjaka lagi, beuh... rugi besar kalau nolak sih!"


" Hmm... pake cara apa ya buat merayu mas Chris? haish... cari aja dululah, kalau sudah ketemu tinggal tarik aja langsung kembali ke kamar, langsung kekepin dan ajak ninu-ninu yang lama, selesai semua permasalahan yang ada, hehe..."

__ADS_1


Gemintang langsung pergi keluar hotel untuk mencari keberadaan suaminya sambil membawa secarik kertas dari William tadi.


" Ya ampun... kemanalah dia pergi? mana masih pegel banget kaki gue seharian berdiri, masak iya aku harus keliling hotel sebesar ini? mana lagi asyik-asyiknya tadi, malah main cabut aja dia, kan jadi Bantat Kuenya!" Gemintang mengumpat sepanjang jalan sambil menoleh ke kanan dan kiri mencari keberadaan suaminya.


" Kamu sedang mencari seseorang?"


Tiba-tiba ada seorang wanita yang sudah berumur namun masih terlihat modis dengan penampilannya yang elegan dan berkelas menegur dirinya saat Gemintang duduk sebentar meluruskan kakinya dikursi taman.


" Eh... iya tante, kok tante bisa tahu sih?" Tanya Gemintang dengan wajah yang terlihat terkejut, apa wajahnya terlihat kalau dia sedang mencari seseorang pikirnya.


" Apa kamu sedang mencari pria diujung sana?" Wanita itu menunjuk seseorang dari kejauhan yang terlihat berjongkok sambil merokok dengan santainya.


" Heh? iya... kok tante bisa tahu sih? tante kenal mas Chris?" Gemintang sampai memiringkan wajahnya menatap wanita itu, dalam hatinya bertanya-tanya, siapa dia?


" Emm... gimana ya ngomongnya?" Jawabnya dengan senyum yang erlihat dipaksakan.


" Apa dia relasi bisnis tante juga?" Tanya Gemintang kembali yang berusaha mengkorek info.


" Bisa dibilang gitu sih."


" Owh... pantesan, kalau begitu saya permisi dulu yan tante, mau nyamperin mas Chris dulu." Gemintang langsung tidak ambil pusing dan ingin segera berlalu dari sana.


" Sebaiknya, kamu biarkan dia tenang dulu, beri dia waktu untuk berdiam diri, dia memang keras kepala, namun sebenarnya hatinya sangat lembut, jadi kamu harus sabar dan telaten ya dalam menghadapi setiap tingkah lakunya."


Ehh? tau apa dia tentang suamiku? apa sebagai relasi bisnis wajar jika tahu identitas secara mendetail?


" Nanti dia makin ngambek lagi Tante, kami sempat sedikit berdebat masalah kecil tadi."


" Tidak akan, kalau dia sayang sepenuhnya sama kamu, dia tidak akan marah hanya karena masalah kecil, percayalah."


Heran gue, kenapa wanita ini seolah tau banyak tentang mas Chris, kalau cuma setakat relasi bisnisnya saja masak sampai tahu sifat aslinya juga kan, aneh banget deh?


Gemintang memicingkan kedua matanya, ada yang janggal dari tatapan tante itu, walau dari kejauhan wanita itu menatap Chris dengan tatapan yang sendu, seolah ada semacam rindu yang tak terbalaskan.


" Tante tau makanan kesukaannya?"


" Kalau waktu kecil sih... ehh, maksud tante emm... kurang tau sih, kalau saat rapat sesama relasi begitu dia hanya minum kopi hitam saja."


Waktu kecil? dia salah bicara atau keceplosan sebenarnya tadi?


" Tante sering meeting dengan mas Chris?"


" Emm... secara tidak langsung, karena biasanya anak buah tante yang handle, tapi tante tetap memantaunya." Jawabnya dengan mencoba tetap santai.


Yakin deh gue... pasti ada sesuatu dengan tante ini? atau jangan-jangan dia naksir lagi sama suami gue, wah... nggak beres kalau begini sih, tidak bisa dibiarkan!


" Kalau begitu saya permisi dulu tante."


" Sepertinya suami saya sudah cukup untuk berdiam diri disana."


" Nantilah, baru sebentar dia disana, biarkan dia berpikir jernih dulu, jangan buru-buru." Wanita itu seolah melarangnya


" Nggak papa Tan, aku tahu cara membujuk dirinya, diakan suamiku." Jawab Gemintang dengan tingkat percaya diri penuh.


" Memang, tapi aku cuma..."


" Emm... aku takut nanti kalau kelamaan dia sendirian bisa-bisa ditikung sama pelakor lagi Tan, soalnya sekarang kan lagi ngetrend ya kan, gimana enggak, pekerjaan enak dapat duit banyaknya nggak kira-kira lagi kan?"


" Pfthhh... kamu ini ada-ada saja."


Bodo amatlah.. siapapun dia, kalau berusaha masuk menjadi orang ketiga dalam hubungan kami, tidak akan aku biarkan, lebih baik waspada ya kan, daripada kena tikung orang?


" Permisi tante."


" Hmm.."


Jawabannya pun sedikit tidak ikhlas, seolah dia tidak rela jika Gemintang ingin menemui suaminya sendiri.


" Mas..."


" Hmm.."


Chris langsung menginjak puntung rokok dari tangannya, walau masih separuh, dia tidak ingin istrinya terganggu dengan asap rokok itu, karena sudah setengah bungkus sendiri dia habiskan tadi disana.


" Mas nggak suka sama daun tua kan?" Tanya Gemintang yang sebenarnya mulai curiga tadi.


" Maksudnya?" Chris langsung mengerutkan keningnya, apalagi yang dimaksudkan oleh istrinya itu pikirnya.


" Mas nggak suka tante-tante kan?" Gemintang langsung mencecar pertanyaan yang muncul dibenaknya.


" Apaan sih, jangan mengalihkan perhatian karena kamu merasa bersalah, dan membuat seolah-olah mas yang menjadi inti dalam permasalahan kita!"


" Dih... siapa juga yang begitu, lagian juga aku bukan menjadi puncak permasalahnnya kali ini, mas itu salah paham duluan!" Gemintang mencoba menjelaskan duduk perkaranya yang sebenarnya.


" Salah paham apaan? jelas-jelas kamu dapat surat cinta kan? cih... jaman tahun berapa ini, masih pakai surat-suratan segala, memang ini era delapan puluhan apa? yang tulis-tulisan surat trus dibawahnya diberi note, burung Irian burung cenderawasih, cukup sekian dan terima kasih' atau kalau enggak 'Empat kali empat sama dengan enam belas; sempat nggak sempat harus dibalas', dieh... basi yank!" Chris langsung melengos kesal setelahnya.


" Jadi mas maunya aku chat an gitu sama mas William? atau video call an gitu biar kekinian?" Ledek Gemintang sambil tersenyum, mau marah tapi wajah suaminya malah terlihat imut kalau lagi cemburu seperti itu.


" Kamu ini nyebelin banget sih yank, ingat kamu ini sudah bersuami, jaga sikap dan kelakuan kamu dengan pria lain, mengerti!"


" Mengerti, tapi mas juga jangan memberikan harapan sama orang lain ya, jangan membuat orang berharap sama mas!"

__ADS_1


" Maksud kamu siapa!" Chris masih belum paham juga maksud dari istrinya.


" Noh.. ada tante-tante yang ngefans sama kamu!"


" Kalau ngefans itu biasa, apa kamu lupa kalau suamimu itu idola sayang?" Chris malah seolah membanggakan dirinya sendiri.


" Dih... idola lah konon!"


" Emang iya kan?"


" Idolanya para emak-emak aja bangga, nggak banget mas ini!"


" Kamu ini ngomong apa sih dari tadi, nggak jelas banget!"


" Mau kita samperin itu tante-tante? dia bahkan tau sifat mas katanya, aku aja yang sudah sah jadi istrinya mas masih mendalami kok."


" Mana?"


" Itu disana, ehh... kok udah nggak ada?" Gemintang menoleh kearah wanita paruh baya tadi, namun ternyata sudah hilang dari pandangan.


" Ngehalu kamu, bilang aja mau ngalihin masalah kan?"


" Beneran yank, tadi ada tante-tante yang seolah tahu kamu luar dalam, dia relasi kamu katanya."


" Relasiku cowok semua, jangan mengada-ngada kamu ini!"


" Anak buahnya katanya yang jadi relasi mas, dia hanya memantau saja."


" Jaman sekarang kok gampang percaya sama orang, apalagi baru dikenal, palingan juga kamu kena tipu!"


" Mas beneran deh!"


" Kamu itu cuma kena kibul, nggak percaya aku!"


" Tapi kali ini mah harus percaya denganku, mas William sudah rela melepasku dengan ikhlas loh."


" Bohong!"


" Seriusan mas, makanya budayakan membaca dahulu, baru protes setelahnya, ini belom apa-apa sudah salah paham duluan, baca dulu!"


" Malas mas baca tulisan tangannya!"


" Eh... mas mau tau nggak rasanya kalau mas posisinya dibawah?" Gemintang mulai menggoda suaminya kembali.


" Apa sih!"


" Nggak usah kerja tapi dapat enaknya!"


" Kamu ngomong apa!"


" Nanti aku ajarin, tapi baca dulu ini."


" Ogah!"


" Ya sudah kalau begitu... pulangkan saja... aku pada abangku juga asisten rumah tanggaku!" Gemintang langsung bernyanyi dengan asal.


" Ckk.. enak aja, dibeli mahal-mahal kok mau dipulangkan! rugi bandar mas!"


" Dih... mas ini itung-itungan banget deh, nggak aku kasih jatah baru tahu!"


" Ngancem aja terus kamu ini bisanya!"


" Baca dulu, nanti kita lanjut yang tadi okey?"


Chris dengan wajah malasnya membaca tulisan tangan William yang cukup panjang lebar disana, dia sempat mengeram kesal dipertengahan kalimat, namun lama kelamaan urat diwajahnya mulai mengendur dan tarikan nafas lega mengakhiri akhir kalimat yang dia baca.


" Gimana? masih mau ngambek lagi?"


" Masih!"


" Why?"


" Karena mas belum sempat ngucap Ahh tadi kan?"


" Dih?"


" Kita lanjut parkir mobil yuk, ban nya sudah okey sepertinya ini, nggak kempes lagi, gaasss banter pokoknya nanti!" Chris langsung kembali menerbitkan senyumannya.


" Ehh.. mas!"


Chris langsung saja membopong tubuh Gemintang ala bridal style, tanpa memperdulikan orang disekeliling hotel itu yang melihat kemesraan mereka berdua.


Dan para Jomblo hanya bisa melongo dan berdoa didalam hati, agar segera menemukan pasangan terbaiknya.


Kayak siapa hayo?


Banyak orang yang bilang, carilah tempat dimana kamu dihargai, bukan hanya dibutuhkan.


Bukannya tidak setuju, tapi terkadang dalam hidup kita, tidak semua yang berharga itu dibutuhkan untuk proses kehidupan.


Contohnya Emas, dia sangat berharga, tapi air putih yang terlihat sepele, ternyata lebih dibutuhkan.

__ADS_1


Setuju boskuh?


__ADS_2