Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
86. Kalah Saing


__ADS_3

...Happy reading...


Kejadian sebelumnya...


Saat Chris sudah pergi menemui Gemintang diatap kapal pesiar, kini giliran Peter untuk mencoba mendekati istrinya.


Walau dia belum bisa memastikan bagaimana perasaan yang sebenarnya, namun yang pasti saat ini dia tidak ingin ditinggal begitu saja oleh Sabrina.


Baru semalaman dia tidak mendengar suaranya saja, Peter tidak bisa tidur dengan nyenyak, karena wajah Sabrina selalu terngiang-ngiang di otaknya.


" Eherm... Nana, eh salah... Sabrina."


Hilang sudah kesombongan dan keangkuhan di diri Peter selama ini, bahkan untuk melihat kedua bola matanya saja dia tidak berani.


" Sama aja itu, ada apa? ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Sabrina dengan wajah datarnya.


" Jangan lah panggil pak lagi, kesannya itu jadi jauh gitu." Ucap Peter yang clingak-clinguk seperti orang yang kehilangan kepercayaan dirinya.


" Memang sejak kapan kita dekat?" Jawab Sabrina dengan cepat.


Aish... tuh kan, pedes banget ngomongnya, apa ucapanku kemarin-kemarin juga sepedas itu, kayaknya enggak deh!


" Sabrina... ayolah, jangan begini?"


" Lalu aku harus bagaimana? sudahlah... aku tidak ingin membahas itu lagi, hubungan kita memang sangat terburu-buru, hingga aku lupa berkaca seperti apa diriku ini." Ucap Sabrina yang langsung merasa sadar diri.


" Sabrina, mari kita duduk dulu disini." Peter menarik lengan Sabrina agar duduk disampingnya, sambil melihat suasana laut dari balik kaca.


" Ngapain, aku mau nyari Gemintang saja." Namun Sabrina langsung menghempaskan tangannya begitu saja.


Ya ampun, ternyata galak amat istriku!


" Jangan, mereka baru pede kate diatas sana."


" Cih.. biarkan saja."


" Na... kenapa sih kita nggak baikan saja, akur-akur gitu, atau mau bucin-bucinan juga boleh, sama kayak mantan CEO mu itu?"


" Dih... sejak kapan anda tau kata-kata bucin?" Ingin tertawa tapi Sabrina gengsi, selama ini yang dia tahu Peter ini orangnya lempeng, cuek dengan orang disekitar, tapi bagaimana dia bisa tahu kata bucin pikirnya.


" Duduk sini dulu sebentar, kita ngobrol dulu, kita bahas apa yang salah dengan kita, atau mungkin kamu mau cerita, katakan saja lelahmu, apa saja marahmu, apa saja kecewamu, atau mungkin kamu cemburu denganku begitu?"


" Cemburu? dengan siapa?" Sabrina langsung tersenyum miring karenanya, karena memang bukan orang ketiga yang menjadi permasalahan didalam hubungan mereka.


" Ya.. mana tahu kan, kalau perempuan kan katanya suka begitu, akan aku dengarkan kok, biar kita bisa saling terbuka gitu."


" Tumben bapak ngomong begitu?"


" Aku cuma tidak mau kamu memendam amarah, hingga semua terlihat aku yang bersalah, aku ingin semua kita bahas disini, di tempat ini, agar kita bisa sama-sama saling mengerti, tanpa berniat untuk mengganti, okey?"


Mengganti? maksud dia apa? aku dan dia begitu? wah... nggak boleh jadi ini, aku lemah kalau sudah begini, mending aku kabur sajalah, aku belum bisa memaafkan dia begitu saja, yang enaknya saja kan ?


" Eherm... aku... emm.. aku mau lihat-lihat dulu ke area dapur, permisi."

__ADS_1


Sabrina langsung berlalu begitu saja, melewati Peter yang terlihat semakin jengah karenanya.


" Sabrina, kamu ini nggak bisa ya diajak ngomong baik-baik, masak harus bertengkar dulu? nanti kamu mewek doang bisanya."


Peter langsung membuntuti langkah Sabrina yang mungkin sedang melakukan aksi balas dendam, dengan mengikuti gaya cueknya Peter selama ini.


Woah... Chef nya lumayan juga itu, pasti asyik buat manas-manasin mas Peter, eeh... tapi emang dia perduli denganku apa? lah... bodo amatlah, daripada boring mending gangguin mas koki aja, kita coba kasih sedikit gombalan, mleyot kagak kira-kira ya.. Tidak ada bang Lewis, tukang masak pun jadilah hehe..


Sabrina langsung berjalan mendekati sang juru masak yang Chris dan Peter pilih dari hotel berbintang langganan mereka.


" Hallo mas... masak apa kita hari ini?" Sabrina pura-pura sok kenal sok dekat, padahal dia baru pertama kali melihatnya.


" Dih... sama dia bisa bilang mas kamu, ternyata mas kamu imitasi ya, bisa diobral sana-sini." Umpat Peter yang langsung duduk diatas meja di sudut ruangan, entah mengapa dia begitu kesal karenanya.


" Emm... mau masak makanan seafood nona, atau anda ingin request masakan juga boleh, kami membawa bahan makanan yang komplit kok." Jawab Sang Koki dengan ramah dan sopan.


" Duh... mas nya baik banget deh, sudah ganteng, pandai masak lagi, udah nikah belum mas?" Sabrina tidak memperdulikan keberadaan Peter dibelakang sana.


" Dih... tampang gitu doang, biasa aja, masih tertinggal jauh lah sama asisten Bos!" Umpat Peter yang langsung melirik kearah Koki itu dengan tatapan penuh benci.


" Belom mbak, saya masih jomblo." Jawabnya dengan wajah malu-malu.


" Woah... beruntung banget nanti calon istrinya, bukan hanya diperhatikan dengan perilaku saja, tapi lidah pun dimanjakan, ya nggak mas?"


" Ehh... nona bisa aja deh."


Kampret.. menyesal aku memilih koki itu, tau gitu aku bawa yang sudah kakek-kakek tadi.


" Ceileh... ngapain capek-capek masak, tinggal delivery doang kan gampang, yang penting punya duit, semua beres." Peter kembali mengumpat perbincangan mereka.


" NGGAK! aku sudah kenyang makan angin!" Peter langsung melengos saat menanggapinya.


" Sudahlah, jangan perdulikan dia, mas masakin aku aja, emm.. gimana kalau menu spesial yang paling mas sukai."


" Kenapa yang saya sukai nona? kan nona yang mau makan?"


" Hmm... aku suka makan apa saja kok, aku yakin selera kita pasti sama." Senyum Sabrina semakin melebar saat melihat wajah Peter yang cemberut.


" Benarkah?"


" Hmm... mas tau nggak, sebagai negara maritim, Indonesia itu memiliki tujuh belas ribu pulau, seribu tiga ratus empat puluh suku budaya, tujuh ratus delapan belas keberagaman bahasa, yang terdiri dari tiga puluh empat provinsi dan satu makhluk MANIS seperti kamu, hehe." Sabrina langsung mengeluarkan gombalan mautnya.


" Ahaha... nona bisa saja, jangan gitu nona, aku kan jadi malu." Chef itu langsung tersenyum dan menutup wajahnya dengan celemek yang dia pakai.


" Hoerk... bagian mananya yang manis, lebay banget jadi perempuan!"


Amarah Peter seolah terbakar api yang membara, dia yang notabenya suaminya saja belum pernah dia gombali seperti itu pikirnya.


Haha... panas juga dia, semakin kamu kesal, semakin semangat aku menggodanya, mau ngomong apa, mau ngehujat apa suka-suka hatimulah, emang enak dicuekin?


Sabrina terlihat semakin bahagia saat mendengarnya, dia tidak perduli dengan celotehan Peter, dia terus saja menatap wajah chef muda yang berbakat itu tanpa menoleh kearah Peter sama sekali.


" Eh.. mas tau nggak?"

__ADS_1


" Apa itu?"


" Kalau garis khatulistiwa sanggup membelah dunia, Garis senyum mas bagiku adalah Karunia."


" Aaaaa... ternyata nona juga lebih manis dari gula ya? aku jadi ser-seran ini." Chef itu langsung salah tingkah Sabrina buat.


" Iyaa dong, kan biar samaan, kalau negara Belanda butuh tiga ratus lima puluh tahun untuk menjajah negara ini, kamu... cuma butuh lima detik buat nakhlukin orang seperti aku, eaaaa..." Ide gombalan didiri Sabrina seolah mengalir lancar begitu saja.


" Sudah.. cukup dong nona, nanti masakanku nggak mateng-mateng ini."


" Matenglah... kan sekalian aku nemenin kamu mas."


" Tapi aku jadi nggak konsentrasi nona, nahan senyum aja dari tadi."


" Jangan ditahan dong mas, owh iya... kalau Bondowoso bisa bikin candi, Senyum mas itu malah bisa jadi Candu bagiku."


" Astaga nona."


Ingin rasanya dia masuk kedalam panci wajan miliknya, karena tidak tahan dengan gombalan dari Sabrina.


Sialaan... masak iya aku kalah saing sama dia!


" SABRINA LARASATI BINTI AHMAD BASKORO, kamu bisa diam nggak!" Amarah Peter langsung meledak seketika.


" Enggak, why?" Jawab Sabrina dengan santainya.


" Dan kamu!" Peter menunjuk koki itu yang langsung menundukkan kepalanya.


" I.. iya pak." Jawab Chef itu dengan wajah ketakutan, saat suara Peter terdengar menggelegar disana.


" Setelah kita sampai di Destinasi pertama nanti, aku akan menukar chef, jadi kamu pulang sendiri saja, jangan naik kapal ini, mengerti!"


" Pak? apa-apan sih kamu?" Sabrina yang berulah, chef itu pula yang kena imbasnya.


" Aku suamimu, apa kamu lupa?"


" Iya, bahkan aku berniat melupakan bapak untuk seumur hidup aku." Jawab Sabrina tanpa rasa takut sama sekali.


" Sabrina!"


" Jangan coba-coba mengikutiku!" Sabrina meliriknya dengan tajam.


Apa aku ditolak?


" Heh... mau kemana kamu? haish... disini siapa yang salah? dia yang merayu pria lain didepan suaminya sendiri, tapi kenapa dia yang lebih marah, dasar wanita!" Umpat Peter sambil berkacak pinggang.


Sedangkan Sabrina memilih pergi ke ruangan lainnya, dengan senyum penuh kemenangan dan meninggalkan Peter yang masih uring-uringan sendiri.


" Kalau nggak mulai sayang sudah aku ceburin kamu ke dasar laut! opsh... ehh... ngomong apa sih aku ini, aish... bisa-bisanya dia mempermainkan aku, awas kamu Sabrina!"


Akhirnya Peter hanya bisa mengacak rambutnya sendiri dengan kesal, saat ini dia baru menyadari bahwa dia sungguh tidak rela, jika ada pria lain yang dekat dengan Istri Siri nya.


..."Wanita tidak ditempatkan di kepala untuk memimpin pria, tidak juga diinjak. Namun wanita diletakkan dibawah lengan, untuk dilindungi dan diletakkan dihati untuk di Cintai."...

__ADS_1


...****************...


Kita lanjut lagi ya besti, tapi jangan lupa relakanlah VOTE kalian yang berharga itu buat othor kalian yang lemah ini, hihihi😍


__ADS_2