Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang

Ketika Ranjangku Kembali Bergoyang
122. Calm Down


__ADS_3

...Happy Reading...


"Mertua bukan musuh. Hormati dan sayangi mertuamu, sebagaimana engkau menghormati ibu dan ayah kandungmu. Karena bagaimanapun mereka yang telah merawat dan membesarkan suamimu dulu. Keluarga itu seperti sebuah cabang di pohon, kita semua tumbuh ke arah yang berbeda, namun akar kita tetap satu."


Itulah salah satu pesan yang pernah disampaikan ibu Sabrina saat awal pernikahannya dulu. Kemarin dia tidak terlalu memikirkannya, karena belum pernah menjumpai mertuanya, namun sekarang saat dia menghadapi secara langsung, kata-kata itu seolah sulit dia praktekkan, karena ekspresi orang tua suaminya, sungguh sangat membuat Sabrina kecewa.


Tidak ada senyuman ataupun ucapan wellcome untuk dirinya yang sudah masuk menjadi anggota keluarga barunya itu, berbagai asumsi sudah bersarang di otak Sabrina, namun dia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir positif.


" Kamu hanya bercanda kan nak?" Ayah Peter langsung berjalan mendekati putranya yang tetap terlihat stay cool itu.


" Mana pernah saya bercanda dengan papa dan mama, apalagi soal pendamping hidup." Jawab Peter dengan nada datar dan tanpa ekspresi, membuat kedua orang tuanya malah menjadi semakin tambah ragu.


" Iya... tapi kenapa mendadak sekali nak?" Mama Peter seolah tidak percaya dengan semua yang terjadi.


" Kenapa? apa kalian tidak suka jika aku menikah? bukannya itu keinginan Papa dan mama sedari dulu lagi?"


" Bukan tidak suka, kami malah bersyukur akhirnya kamu mau menikah juga, tapi kapan kamu menikah? tega sekali kamu tidak memberitahukan hal besar seperti ini kepada orang tuamu?"


" Cuma belum aja ma, kami menikah masih secara siri, dan rencananya dalam waktu dekat ini akan kami resmikan, jadi memang Peter nunggu papa dan mama pulang dulu, kalian kan sibuk semua."


" Jadi kalian masih nikah siri ya?"


" Hmm... tapi kami sudah sah dimata agama ma, jadi memang kami sudah tinggal berdua, ya kan sayang?" Peter kembali merangkul bahu istrinya, bahkan meninggalkan kecvpan di keningnya dengan senyum yang merekah.


" Gimana ini pah?"


Mama Peter terlihat gelisah sendiri dan menoleh berulang kali kearah pintu apartement putranya itu.


" I don't know ma." Papa Peter pun langsung menaikkan kedua bahunya, dia pun terlihat bingung juga.


" Ada apa sih ma, pa? what happend? owh.. kalian belum berkenalan denan istriku ya kan? kasih salam dulu sayang sama papa dan mama."


Peter mengusap rambut istrinya agar Sabrina berjalan mendekati orang tuanya untuk memperkenalkan diri.


Haduh... kenapa wajah mereka seolah tidak bersahabat denganku? apa aku kelihatan kalau orang miskin? tapi bajuku udah branded loh ini, make up juga udah elegan begini, apa yang salah pada diriku sebenarnya?


" Pa.. ma, perkenalkan nama saya Sabrina Larasati."


Sabrina mencivm kedua tangan mertua nya secara bergantian dengan tangan yang sedikit basah karena rasa gugup yang mendera dirinya.


" Emm... sebenarnya ada seseorang yang... emm..." Papa Peter seolah ragu ingin mengutarakan apa yang ingin dia bicarakan.


" Assalamu'alaikum Aa Peter? apa kabar?"


Sebelum papa Peter memperkenalkan seseorang yang mereka tunggu, sosok wanita cantik, anggun dan berhijab itu masuk dan berhasil membuat semua yang ada disana menoleh kearahnya.

__ADS_1


" Wa'alaikum salam, Damia? itukah kamu?" Peter seolah terkejut juga saat melihatnya.


" Iya Aa, lama kita nggak bertemu ya?" Jawabnya dengan lembut dengan senyuman yang terukir dari wajah cantiknya.


Siapa Damia? kenapa semua tersenyum dengannya, bahkan mata mas Peter berbinar-binar melihatnya, awas aja kamu mas, entar malam nggak akan aku kasih jatah.


" Ehermm..." Sabrina langsung berdehem untuk menyadarkan sang suami dalam lamunannya.


" Eh... sayang, perkenalkan, dia adek sepupuku?" Peter langsung menoleh kearah istrinya.


Owh... tenyata cuma adek sepupunya.


" Hallo Damia, saya Sabrina, istrinya mas Peter." Dia langsung saja menjelaskan statusnya, bahwa pria disampingnya itu sudah dia miliki.


" Istri? bang Peter sudah menikah?" Damia langsung mengerutkan kening dan kedua alisnya.


" Iya dek, wah... ternyata kamu cepat sekali tumbuh besar ya, padahal dulu kita masih sering maen petak umpet ya kan?"


" Dan Aa selalu kalah, hehe." Jawabnya yang terlihat akrab dan berhasil membuat Sabrina memutarkan kedua bola matanya.


" Ahahaha... iya juga sih, tapi kamu tambah cantik loh, apalagi pakai hijab, cocok banget." Ucap Peter yang seolah memujinya.


Apaan sih mas Peter ini, masak muji wanita lain didepan istrinya? mau sepupuan juga nggak enak dengernya, huft... sabar Na, calm down..


" Kapan pulang dari luar negri Mia?"


" Baru aja sampai A, aku dan uncle juga aunty datang kemari bersamaan."


" Kalau begitu kita lanjut ngobrol didalam yuk, kalian pasti capek kan? sebentar lagi pesanan makanannya juga sudah datang, kita tunggu sambil minum dulu ya?" Peter langsung menajak mereka berpindah ke ruang tamu.


" Istrimu nggak masak nak?" Mama Peter hanya melirik Sabrina sekilas saja.


Tuh kan mas, anjlok deh martabat gue didepan orang tuamu, gara-gara mas nggak ngasih tahu aku dari awal?


" Enggak ma, memang aku yang nyuruh tadi, soalnya kami berdua biasanya juga kerja semua kan, siapa juga yang mau makan dirumah." Peter pun langsung melindungi harga diri istrinya.


" Walaupun kerja, setidaknya sarapan juga nggak harus delivery kan? ini hari libur kan, nggak masak juga? nggak baik loh nak makan makanan dari luar terus, kita kan nggak tahu kebersihan makanan itu, atau sehat enggaknya bahan masakan dari mereka, apalagi sekarang jaman MSG, nggak sehat nak, jangan dibiasakan."


Habis dah gue... belum lagi dia tahu gue berasal dari pelosok desa, wasalam deh nasi lu Sabrina.


Sabrina hanya bisa menunduk saja, seolah sudah hilang semangat hidupnya yang selama ini dia pupuk habis-habisan.


" Kalau begitu, boleh nggak kalau Mia yang buatkan sarapan buat kalian? Aa Peter masih suka bubur ayam buatan mommy aku nggak? aku udah diajarin loh resepnya apa saja, dan sudah sering membuatnya, rasanya dijamin sebelas dua belas deh." Jawab Damia dengan senyum yang terus mengembang.


" Wah... sudah pandai masak sekarang kamu Mia? bagus itu, bisa jadi calon istri yang baik kan?"

__ADS_1


Yaelah... bisa masak bubur ayam doang bangga, bisa masak Gudeg Jogja nggak? ayam betutu khas bali? rawon? atau rendang khas Padang gitu, yang lebih menantang, kalau cuma beras direbus doang mah anak sekolahan juga bisa kale..


Ingin sekali Sabrina berteriak lantang seperti itu, tapi sekarang nyalinya tinggal sebiji jagung doang.


" Maaf... persediaan ayam kami juga habis, tapi kalau berasnya masih banyak, cuma nanti jadinya bubur doang, nggak pake ayam."


Sudah jatuh, ndlosor aja sekalian pikir Sabrina, reputasinya sebagai anak menantu sudah hancur pada pertemuan pertama mereka, jadi dia hanya bisa pasrah saja akan seperti apa nantinya.


" Gimana sih, masak nggak punya bahan stok makanan sama sekali? jadi kulkas yang besarnya satu lemari itu kamu biarkan kosong begitu?" Mama Peter langsung menjeling kearah Sabrina.


" Maaf Ma, kami belum sempat belanja." Jawab Sabrina dengan wajah yang terlihat pasrah.


" Emm... sudahlah ma, kami sudah delivery makanan buat sarapan kok, lagian juga makanannya dari Restoran terbaik didaerah sini, sudah pasti dijamin rasa dan kualitasnya, jadi mama nggak usah risau okey."


Peter yang sudah melihat wajah pias istrinya, langsung menengahi perkataan mamanya yang seolah menyudutkan Sabrina.


" Kalau begitu saya permisi ke belakang dulu, biar saya buatkan minuman untuk kalian." Sabrina seolah sudah tidak tahan lagi berada ditengah-tengah mereka.


" Bisa buatin kopi nggak? papa Peter sukanya kopi." Mama Peter kembali berkomentar.


" Bisa Ma, tunggu sebentar ya?" Jawab Sabrina dengan sopan.


" Tau takaran yang enak buat kopi hitam nggak? lain racikan lain pula nanti loh rasanya."


" Mia tahu aunty, apa biar Mia saja yang buatkan?" Damia langsung mulai cari muka disana.


Yaelah, wajah aja sok alim, nggak cukup apa punya muka sebiji doang?


Sabrina hanya mampu menghela nafasnya saja, tanpa mau mencegahnya ataupun membanggakan dirinya sendiri.


" Baiklah Mia, kalau begitu sekalian buatin aunty teh hijau ya?"


" Iya aunty, teteh bisa tunjukkan aku dapurnya dimana?"


" Hmm."


Walau terasa pedih, Sabrina mencoba untuk diam, dia jadi teringat dengan perkataan Peter di awal pernikahannya dulu, saat menolak kopi buatannya, dengan alasan takaran kopinya pas atau tidak, namun Sabrina hanya bisa menghibur diri sendiri, untung saja sekarang Peter sudah berubah drastis dan selalu menyukai semua apa yang dia buat dan itu sudah lebih dari cukup baginya.


Akhirnya Sabrina memilih melenggang pergi ke dapur, diikuti Damia yang berjalan mengikutinya dari belakang.


..."Payung memang tidak bisa menghentikan hujan, tapi bisa membuatmu berdiri ditengah hujan. Percaya diri mungkin tidak bisa membuatmu sukses, tapi bisa memberimu kekuatan menghadapi tantangan kehidupan."...


TO BE CONTINUE...


JANGAN LUPA TINGGALKAN LIKE, VOTE DAN KOMENTAR KALIAN YA READER KU TERSAYANG🤩

__ADS_1


__ADS_2